Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU ‘Wali Nikah’ Budaya – Agama

NU ‘Wali Nikah’ Budaya – Agama

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 9 Feb 2023
  • visibility 462
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Perkawinan adalah langkah membangun beradaban. Mengawinkan dua sijoli yang berbeda genre hingga latar belakang lingkungan akan menghasilkan generasi melalui proses romantisme dalam naungan gerimis malam-malam yang penuh kenikmatan. Semua karena di dasari cinta.

Maka, cinta adalah prinsip nomor dua. Sebab, prinsip pertamanya adalah perbedaan.

Kita dilarang menikah dengan sesama jenis, meski sama-sama cinta. Karena, hubungan semacam ini tak akan menghasilkan generasi penerus peradaban. Bisa di bilang, ini adalah prinsip berikutnya.

Namun, bukankah kita bisa memproduksi generasi tanpa pernikahan? Balik, apakah kita mau generasi penerus bangsa dicetak di kebun singkong yang sepi atau rumah pacar yang ditinggal bapak-ibunya?

Apa yang kita banggakan jika generasi penerus kita bikin lewat jalur gelap, menentang norma dan pastinya tanpa didahului doa, Allahumma jannibnaa assyaithaan??

Jadi jelas!, prinsip pernikahan adalah perbedaan, cinta, kesucian, melanggengkan eksistensi dan membawa kebahagiaan.

NU ‘Wali Nikah’ Budaya-Agama

Selama seratus tahun, NU telah menunjukkan kiprah organisasi. Namun jika berbicara kultur, nyatanya ulama-ulama model kiai NU sudah eksis di gelanggang dakwah Nusantara sejak zaman bahelak.

Mereka mengawinkan (lebih tepatnya mengakulturasi) kultur dengan agama. Selamatan yang sarat animisme, digubah dengan memasukkan nilai-nilai islami, macam doa, wirid, tahlil dan lainnya.

Pun ranah seni tak lepas dari tangan halus para wali. Pewayangan, hingga seni musik, semua bisa dijadikan media dakwah. Bahkan beberapa wali songo juga dikenal sebagai komposer, sutradara bahkan pencipta lagu.

Dengan pemdekatan ramah ini, dakwah telah kembali ke fitrahnya, mengajak, bukan membentak bahkan ‘memperkosa’ kehendak.

Bayangkan jika para pendakwah timur tengah dulu datang dan tiba-tiba bilang, “antum bi’ah, kafir, musyrik, neraka, jahannam!.” Bisa pulang dalam keadaan hidup saja sudah alhamdulillah.

Namun, para wali tidak melakukannya. Mereka mencintai perbedaan, melakukan ‘perkawinan’ budaya-agama dan melaksanakan misi islamisasi dengan tetap menjaga kesucian nilai.

Terpenting, para wali tersebut juga membawa kebahagiaan, hingga diteruskan oleh para pendiri NU, generasi hasil ‘hubungan sah’, suci nan harmonis antara agama dan Budaya Nusantara.[]

*Penulis adalah Pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Pati Akan Mendirikan Perguruan Tinggi

    NU Pati Akan Mendirikan Perguruan Tinggi

    • calendar_month Sel, 11 Agu 2015
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 0Komentar

    Kabar NU:  Senin 10 Agustus 2015, bertempat di gedung NU lantai 3. Pengurus Cabang nahdlatul Ulama dan Panitian Penyelenggara Pengadaan Tanah Untuk Kampus Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama, mengadakan pertemuan dengan MWC NU dan Alumni PKPNU Angkatan 1 Se-Kab Pati. Dengan agenda utamanya yaitu para warga Nahdaltul Ulama di ajak bergotong royong untuk ikut serta dalam […]

  • Lakpesdam Torehkan Tinta Emas NU

    Lakpesdam Torehkan Tinta Emas NU

    • calendar_month Rab, 15 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 642
    • 0Komentar

    Batam, NU OnlineWakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyampaikan ceramah khusus dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakpesdam NU di Asrama Haji Kota Batam, Selasa (14/4) malam. Menurut As’ad, Lakpesdam yang dirintis oleh Ketua Umum PBNU Gus Dur waktu itu hadir sebagai trobosan yang […]

  • Lazisnu Kayen Helat Pelatihan dan Pelantikan Sekaligus

    Lazisnu Kayen Helat Pelatihan dan Pelantikan Sekaligus

    • calendar_month Jum, 24 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 440
    • 0Komentar

    Proses pelantikan pengurus Lazisnu ranting se-Kecamatan Kayen KAYEN – Lazisnu Kayen baru saja menjalankan hajat akbar. Dua agenda dihelat sekaligus di Gedung MWC NU Kayen Kamis (23/9) lalu. Keduanya merupakan program untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat, infaq dan sedekah. Agenda pertama ialah pelatihan Upzis Lazisnu Ranting se-Kecamatan Kayen, dialnjutkan dengan pelantikan pengurus Upzis ranting.  Pelantikan dipimpin […]

  • c

    Twibbonize Hari Santri Nasional 2022

    • calendar_month Kam, 20 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar
  • Periode Depan 98 Persen Pelajar NU Pati, Hendaki Kembangkan Literasi

    Periode Depan 98 Persen Pelajar NU Pati, Hendaki Kembangkan Literasi

    • calendar_month Sab, 10 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    PATI – Sebanyak 98 persen lebih responden menginginkan kepengurusan PC IPNU IPPNU Periode 2021-2023 lanjutkan kembangkan literasi yang sudah dimulai oleh periode sebelumnya. Hal ini nampak terlihat dari hasil survey bursa calon ketua PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati periode 2021-2023. Survey tersebut dilakukan oleh Badan Student Crisis Center (BSCC) PC IPNU Kabupaten Pati pada 28 […]

  • PCNU-PATI

    Kenapa Keberadaan Tuhan Perlu Pembuktian?

    • calendar_month Ming, 9 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 564
    • 0Komentar

    Dari sekian banyak perbedaan, perbedaan soal akidah menyumbangpaling banyak terhadap pertumpahan darah, meskipun lebih sering disusupikepentingan politik kekuasaan semata. Perbedaan akidah ini bahkanmerupakan perbedaan yang pertama kali muncul di antara umat Islam padamasa Sahabat, sehingga terjadilah peristiwa pembunuhan terhadap duakhalifah terakhir dari Khulafaurrasyidin, Sayyidina Usman dan Sayyidina Ali.Dari sini kita menyaksikan betapa vitalnya masalah akidah […]

expand_less