Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Inspirasi KH. Abdul Karim Lirboyo dan KH. Abdussalam Kajen

Inspirasi KH. Abdul Karim Lirboyo dan KH. Abdussalam Kajen

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
  • visibility 15.186
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
Dosen IPMAFA

Ulama adalah inspirasi utama para santri dan warga Nahdlatul Ulama. Para santri dan warga NU harus termotivasi untuk meneladani para ulama sebagai lentera kehidupan dunia akhirat. Ada dua contoh ulama yang penuh inspirasi keteladanan. Dua contoh tersebut adalah KH. Abdul Karim, perintis pondok pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, dan KH. Abdussalam, pendiri Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen. Kedua ulama ini adalah sumber inspirasi dan motivasi.
Ada beberapa teladan kedua ulama tersebut.
Pertama, tafaqquh fiddin
Sebelum kembali ke masyarakat, mengajar, bergumul, dan memberdayakan masyarakat, kedua ulama tersebut menghabiskan waktunya untuk thalabul ilmi. Thalabul ilmi menjadi spirit sepanjang hayat.
KH. Abdul Karim Lirboyo tidak pernah puas terhadap ilmu yang diperoleh. Setelah belajar di berbagai pesantren di Jawa, beliau meneruskan kaki ke Bangkalan untuk mulazamah kepada Syaichana Chalil bin Abdul Lathif selama lebih dari dua puluh tahun. Tidak cukup dengan itu, KH. Abdul Karim tabarrukan dengan Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Puasa adalah tirakat KH. Abdul Karim yang dilakukan secara istiqomah.
KH. Abdussalam meskipun sudah dikenal faqih fiddin (mendalam ilmu agamanya), tapi beliau di masa senjanya justru menghafalkan al-qur’an. Sebuah spirit yang luar biasa. Ahlul qur’an inilah yang kemudian melekat kepada beliau dan keturunannya sampai sekarang.
Kedua, berani meninggalkan zona aman
KH. Abdul Karim Lirboyo diboyong mertuanya Kiai Sholeh ke desa Lirboyo yang masih abangan dan terkenal dengan budaya molimo (madon, madad, maling, mateni, lan mabuk). Semua ini beliau hadapi dengan tawakkal kuat kepada Allah, keyakinan total, dan ikhtiyar maksimal dalam mendidik santri dan masyarakat dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
KH. Abdussalam Kajen tidak meneruskan estafet pesantren ayahnya (KH. Abdullah sepuh), tapi membuka lahan khidmah baru dengan mendirikan mushalla yang menjadi cikal bakal berdirinya PIM. Madrasah ini berhasil bi idznillah melahirkan tokoh besar yang memberikan kontribusi maksimal bagi agama, masyarakat, bangsa dan umat manusia.
Kedua ulama ini berani meninggalkan zona aman dengan keyakinan akan pertolongan Allah bagi hambaNya yang berjuang di jalanNya.
Allah berfirman:
ان تنصروا الله ينصركم
Jika kamu menolong Allah, pasti Allah menolong kamu
Ketiga, mempunyai quwwah ruhiyyah (kekuatan spiritual)
Kedua ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang luar biasa sehingga mampu menghadapi berbagai macam tantangan, rintangan, dan cobaan yang datang silih berganti.
I’timad kepada Allah yang kuat menjadikan jiwa kedua ulama ini selalu bertadzakkur (mengingat Allah), bertafakkur (merenung-berpikir), dan bertadabbur (refleksi kritis) sehingga Allah menurunkan sakinatul qalbi (ketenangan hati) dalam menghadapi apapun. Totalitas proses ini menghasilkan kemantapan hati, keyakinan melangkah, dan kebahagiaan hakiki, lahir-batin.
Keduanya selalu memanfaatkan waktu malam untuk bermunajat kepada Allah dengan khusyu’, memohon pertolongan dan kemudahan dalam mendidik santri dan membimbing masyarakat.
Keempat, kaderisasi yang sukses
Kaderisasi menjadi ujung tombak kesuksesan sebuah perjuangan. Kaderisasi memastikan bahwa perjuangan berjalan secara kontinu, konsisten, dan dinamis, tidak stagnan, pasif, dan dekaden.
KH. Abdul Karim Lirboyo berhasil mengembangkan Pondok Lirboyo dan mengharumkan nama desa Lirboyo lewat kaderisasi yang sukses. KH. Marzuqi dan KH. Mahrus Ali adalah santri yang kemudian diambil menantu yang meneruskan estafet keilmuan dan kepemimpinan pondok Lirboyo.
KH. Abdussalam Kajen berhasil mengkader putra dan para santrinya menjadi penerus perjuangan. KH. Mahfudh Salam, KH. Abdullah Zain Salam, dan KH. Ali Mukhtar Salam adalah putra KH. Abdussalam yang menjadi kader penerus perjuangan. Kaderisasi Pondok Pesantren Lirboyo dan PIM Kajen sampai sekarang berjalan dengan sukses dengan prestasi yang gemilang.
Keempat, mempunyai bidang keahlian khusus
KH. Abdul Karim Lirboyo adalah faqih fiddin (menguasai dan mendalami semua ilmu agama). Namun, Pondok Lirboyo lebih dikenal sebagai pondok nahwu. Kepakaran nahwu KH. Abdul Karim diperoleh selama puluhan tahun menimba ilmu di Bangkalan Madura bersama Syaichana Chalil bin Abdul Lathif.
KH. Abdussalam Kajen juga faqih fiddin. Namun beliau lebih dikenal sebagai ahlul qur’an. Akhirnya al-qur’an inilah identitas utama KH. Abdussalam yang diteruskan oleh keturunan beliau sampai sekarang.
Keahlian khusus atau dalam bahasa sekarang ‘skill profesional’ sangat dibutuhkan supaya seseorang tahqiq dalam satu bidang yang membuka jalan bagi cabang ilmu yang lain.
Ulama dawuh:
من تبحر في علم واحد تبحر جميع العلوم
Orang yang menguasai betul satu ilmu, maka Allah bukakan jalan baginya untuk memahami dan menguasai semua ilmu
Kata guru penulis:
Be professional one, every body will see you
Jadilah profesional dalam satu bidang, semua orang akan menjadikan kamu rujukan
Kelima, mempunyai relasi yang luas
KH. Abdul Karim Lirboyo adalah sosok santri pengelana dari satu pondok ke pondok yang lain, sehingga relasinya sangat luas. Begitu juga KH. Abdussalam yang mempunyai relasi luas, baik kepada para kiai, santri dan masyarakat. Kedua ulama ini mempunyai relasi luas sehingga bisa istifadah untuk tazkiyatun nafsi (pembersihan jiwa) dan tabarrukan (menambah kebaikan).
Keenam, ta’dhim kepada guru dan keluarganya
KH. Abdul Karim Lirboyo dan KH. Abdussalam adalah sosok kiai yang sangat ta’dhim kepada gurunya. Kisah yang masyhur adalah ketika KH. Abdul Wahid Hasyim, putra Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, nyantri di Lirboyo, maka beliau benar-benar membimbing total kepada Gus Wahid sehingga dalam waktu singkat mampu mendalami berbagai macam ilmu, lahir dan batin.
Ketujuh, khumul (menghindari popularitas)
KH. Abdul Karim Lirboyo dan KH. Abdussalam Kajen adalah dua sosok kiai yang hidupnya total untuk khidmah agama, santri, dan masyarakat. Keduanya membentuk karakter, mengajari ilmu, dan mencerahkan kalbu santri dan masyarakat dengan tulus sehingga namamya harum. Setiap dawuh keduanya menancap kuat dalam kalbu dan menyinari kehidupan semua yang mendengar. Perilakunya menjadi ‘oase’ yang tidak pernah kering dikaji dan diteladani.
Ingat dawuh Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari:
ادفن وجودك في أرض الخمول
فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه
Tanamkan wujudmu di bumi yang tidak dikenal,
Karena buah yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam, tidak akan sempurna hasilnya

Tujuh inspirasi keteladanan dari kedua ulama ini menjadi bekal santri dan warga NU dalam menggerakkan perubahan yang positif konstruktif di tengah masyarakat dengan tekat yang kuat, keyakinan tinggi dan totalitas tawakkal-ikhtiyar dengan tujuan menggapai ridla Allah dunia-akhirat.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelajar NU Sumur Sambut Tahun Baru Hijriyah

    Pelajar NU Sumur Sambut Tahun Baru Hijriyah

    • calendar_month Ming, 1 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 538
    • 0Komentar

    CLUWAK-IPNU-IPPNU Ranting Sumur, Cluwak sambut Tahun Baru dengan tahlil dan diba’an. Banyak cara positif yang bisa dilakukan umat Islam untuk menyambut Tahun Baru 1441 H. Salah satunya  yang dilakukan Pengurus Ranting IPNU IPPNU desa Sumur, tersebut. Para pengurus IPNU/IPPNU sedang melakukan mahalul qiyam dalam acara tahlil dan diba’an bersama untuk menyambut tahun baru hujriyah  Acara […]

  • Angkat Tema Cinta, IPPNU Wedarijaksa Gelar Forum Khusus Pelajar Putri

    Angkat Tema Cinta, IPPNU Wedarijaksa Gelar Forum Khusus Pelajar Putri

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 319
    • 0Komentar

      Para Pelajar Putri Wedarijaksa berpose penuh semangat usai melaksanakan FLBRR WEDARIJAKSA – PAC IPPNU Kecamatan Wedarijaksa menggelar acara rutinan yang pertama pada periode baru, yakni Forum Lingkar Bambu Runcing Rekanita (FLBRR). Acara diikuti oleh Ketua PAC IPPNU Wedarijaksa, Waka Kaderisasi PAC IPPNU Wedarijaksa, serta seluruh rekanita se-Wedarijaksa, Jum’at (8/10/2021). FLBRR merupakan forum khusus rekanita […]

  • Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Peradaban Islam adalah “peradaban buku”. Tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu, mengingat Al-Qur’an—sebagai kitab suci—dapat disebut sebagai teks sentral dalam sejarah peradaban Islam. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Penanda pertama ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan […]

  • Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

    Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

    • calendar_month Kam, 16 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.154
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Semarak bola Indonesia tengah gundah gulana. Kisah-kisah manis Shin Tae-yong terpaksa harus segera menjadi kenangan. Sedangkan nakhoda baru, Patrick Kluivert datang berlapis tuxedo dan berjalan diatas karpet merah bermerk PSSI dengan penuh kepercayaan diri. Self confident seorang Kluivert jelas nampak saat berhadapan dengan Najwa Shihab dalam sebuah wawancara. Meski sesekali […]

  • PCNU-PATI

    Puasa Kok Rebahan?

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Ketika ada rekan bertanya, puasa kok rebahan? Saya bilang, “ya orang rebahan itu banyak motif. Ada yang karena keshet (malas), sakit, atau sekadar istirahat melepas penat dan lelah”. Ya, beragam motif tersebut tentu banyak sekali perspektif kita sajikan agar kita tetap produktif di bulan Ramadan. Sebagai bagian dari Rukun Islam, puasa merupakan […]

  • Fix, Muktamar NU Dilaksanakan Akhir Oktober 2020

    Fix, Muktamar NU Dilaksanakan Akhir Oktober 2020

    • calendar_month Sel, 5 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 267
    • 0Komentar

    JAKARTA-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengumumkan pelaksanaan Muktamar NU 2020 mendatang. Berdasarkan rapat pengurus yang digelar di aula lantai 8 Gedung PBNU, Senin (4/11) kemarin, PB menegaskan bahwa Muktamar NU 2020 dilaksanakan di Lampung. Para pengurus PBNU (foto : NU Online)  “Muktamar akan dilaksanakan di Lampung pada 22 sampai 27 Oktober 2020” tandas Robikin […]

expand_less