Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kejahatan Seksual Bukan Milik Ormas

Kejahatan Seksual Bukan Milik Ormas

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 7 Mei 2026
  • visibility 13.696
  • comment 0 komentar

 

Oleh: Maulana Karim Shalikhin*

“Saya memilih keluar dari Islam,” kata bapak tua bau tanah kepada seorang remaja bau kencur. Lantas remaja yang masih labil itupun antusias dan menyambar dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Mengapa, mbah? Bukankah Islam itu rahmat? Bukannya mbah sudah Islam dari lahir? Kok tiba-tiba banget, Mbah?.”

Pria tua itupun menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan nada bass agar terdengar bijak nan wibawa. “Perhatikanlah, wahai anak muda, setiap ada kejahatan di negara kita, pasti pelakunya adalah ummat islam. Jadi aku putuskan untuk pindah agama.”

Jawaban ini tak membuat sang remaja kaget. Ia bahkan–kini–mengetahui kapasitas kepala lawan bicaranya. Ya, dia tak mau mendebat apalagi menyanggah, sebab keputusan itu telah menjadi pilihan bapak tua tadi.

Setelah menyerutup kopinya dengan gegas, ia berpamitan. Dirinya tak mau adu mekanik dengan orang yang bukan levelnya.

Di atas laju sepeda motor BeAt karbu, isi kepala pamuda bijak itu mengingat kembali pelajaran Sosiologi tempo hari. Menurut guru Sosiologi, apa yang dilakukan bapak tua tadi adalah stereotipe. Rekaman itu masih menempel betul di benaknya.

Kejahatan, sama sekali tidak memikliki agama, setidaknya tidak ada sangkut pautnya dengan perkara sesakral agama. Semua agama melarang tindak kriminal.

Ia lahir dari nafsu, yang didorong oleh keinginan, kebutuhan atau bahkan kesempatan. Kalaupun pelakunya beragama islam, kristen, katholik, atau atheis sekalipun, itu hanya kebetulan semata.

Sekilas, pilihan bapak tua tadi ada benarnya, namun itu hanyalah stereotip yang referensinya sesempit daun petai cina. Ia tak melihat konteks yang lebih lapang dengan kaca mata yang lebih terang.

Konteks kejahatan yang melulu dilakukan oleh oknum umat Islam, hanya karena agama ini memang mayoritas di Indonesia. Coba bandingkan, kriminal-kriminal di Amerika, Bandar Narkoboy di Meksiko, pencopet di India atau bahkan penjahat kemanusiaan di Israel. Apa agama mereka? Islam kah?. Sekali lagi, hal ini nir-koneksi dengan agama (titik).

Oknum Kiai Cabul

Ditengah maraknya kabar pengasuh, ustadz atau kiai pesantren cabul, NU selalu menjadi bidikan tumbal pelampiasan. Ya, khalayak memang cenderung mengambinghitamkan seseorang atau organisasi agar terlihat ada yang bersalah di satu sisi, dan ada patriot di sisi lainnya.

“Itu pasti pesantren NU!” Kata seorang netizen di kolom komentar salah satu postingan Instagram terkait kasus oknum kiai cabul di Pati. Jika kita mampu dan mau berfikir jernih layaknya remaja bijak tadi, maka akan kita temukan oase hikmah yang sama.

RMI NU (Lembaga NU yang mengurus Pondok Pesantren) merilis data yang menunjukkan bahwa ada sekitar 23.000-28.000 pesantren milik NU. Sementara itu, per September 2025 kemarin, data Kemenag menyatakan bahwa total pesantren di Indonesia Raya ini berjumlah 42.391 sampai 42.433 unit yang memiliki beragam latar ormas.

Bayangkan, dari total empat puluh dua ribu sekian, separo lebih milik NU atau beraviliasi dengan NU. Artinya kembali dengan prinsip tadi, tidak satupun Ormas Islam di Indonesia mengajarkan kejahatan seksual. Mereka adalah oknum yang bukan hanya merugikan Ormas, mencoreng nama baik pesantren, tapi membunuh masa depan bangsa.

Andaikan mereka mengaku diri sebagai Nahdliyyin, bukankan NU yang paling dirugikan? Sudah jatuh tertimpa tangga, dihinakan nama baiknya, jadi sasaran massa di Sosial Media pula.

Dalam kondisi semacam ini, terlepas pesantren terkait memiliki hubungan organisasi dengan NU atau tidak, sudah selayaknya semua Ormas khususnya Nahdlatul Ulama turun tangan bukan hanya dalam penegakan hukumnya, namun juga trauma healling bagi para korban. Sebab, menyediakan masa depan cerah bagi generasi berikutnya adalah tanggung jawab kita semua. Akhirul kalam, semoga kejadian asusila semacam ini tidak terjadi lagi terutama di lingkungan pesantren, dan di lingkungan manapun pada umumnya.

*Penulis adalah Sekretaris LTN NU Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI Photo by Utsman Media

    Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

    • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Rasulullah SAW bersabda, “Ahabbul a’mali illallahi adwamuha wa in qalla—Amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin, meski hanya sedikit.” Hadis tersebut mengisyaratkan satu hal, yakni tentang kebiasaan (habits). Kebiasaan adalah hal yang penting dalam melakukan sesuatu sehingga menjadi konsisten. Namun, kebiasaan itu mempunyai posisi yang netral. Artinya, ia […]

  • Remaja Cerdas Halau Radikalisme di Zaman Digital

    Remaja Cerdas Halau Radikalisme di Zaman Digital

    • calendar_month Jum, 29 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 478
    • 0Komentar

     Pada tanggal 30 Januari nanti, bertempat di Gedung Lantai 2 Pon Pes Shofa Az-Zahro Gembong Pati. LTN NU akan mengadakan Road Show ke pesantren dan sekolah-sekolah perihal Jihad Cyber.             “ Di Pon Pes Az-Zahro ini merupakan putaran ke- 3, berhubung ini bertepatan dengan Harlah NU ke 90 LTN NU ikut serta memeriahkan dengan memberikan […]

  • Rembuk Merah Putih, FKPT Jawa Tengah Ajak Suarakan Anti Radikalisme dan Terorisme Melalui Narasi Damai

    Rembuk Merah Putih, FKPT Jawa Tengah Ajak Suarakan Anti Radikalisme dan Terorisme Melalui Narasi Damai

    • calendar_month Rab, 1 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

      SEMARANG,-Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah menyelenggarakan Forum Rembuk Merah Putih di Wisma Perdamaian Semarang, Rabu (1/10/2025). Kegiatan ini mengangkat tema mewujudkan pemuda cerdas, kritis dan cinta tanah air. Ketua FKPT Jawa Tengah Hamidullah Ibda mengatakan Rembuk merah putih merupakan program mandatori Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) melalui FKPT khusus bidang media/humas dan […]

  • Foto: Suasana takbir keliling di Desa Pancasila Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati.

    Potret Takbir Keliling di Desa Pancasila Pati, Non IsIam Ikut Menikmati

    • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 665
    • 0Komentar

      Pati – Takbir Keliling di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Jawa Tengah berjalan meriah, Minggu (30/3/2025). Kaum non IsIam atau nonis ikut menikmati takbir keliling di desa yang berjuluk Desa Pancasila itu. Desa Jrahi dijuluki Desa Pancasila lantaran keanekaragaman agama yang dianut warganya. Desa Jrahi memiliki warga yang menganut tiga agama. Yakni IsIam, […]

  • Berawal dari YouTube, Eks Santri Kajen Sukses Rintis Bisnis Kue Balok Lumer di Kayen

    Berawal dari YouTube, Eks Santri Kajen Sukses Rintis Bisnis Kue Balok Lumer di Kayen

    • calendar_month Sel, 23 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.164
    • 0Komentar

      PATI ‐ Aroma sedap cokelat dan pandan akan menyapa siapa saja yang berhenti atau melintas di lampu lalu lintas tepi Jalan Raya Pati-Purwodadi, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. ​Aroma manis nan menggugah selera itu bersumber dari lapak dagangan milik Hendri Irawan. Di lapak sederhana tersebut, pemuda 27 tahun ini berupaya membangkitkan kembali geliat […]

  • PCNU Pati selenggarakan Muskercab

    PCNU Pati selenggarakan Muskercab

    • calendar_month Kam, 10 Jul 2014
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

    PCNU PATI (26/6/14). Dalam sejarah yang panjang dan monumental, NU memiliki catatan-catatan historiografis. Dengan massa organisasi yang tersebar di berbagai wilayah, NU memiliki agenda strategis untuk membantu bangsa ini keluar dari keterpurukan dan kemiskinan. Nahdlatul Ulama merupakan sebuah organisasi keagamaan  dibentuk oleh masyarakat tetapi  dalam melaksanakan pengabdian ke masyarakat harus bekerja sama dengan semua pihak […]

expand_less