Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Masjid Memakmurkan Masyarakat

Masjid Memakmurkan Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
  • visibility 9.609
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Saya dulu sempat jengkel karena mau salat, tapi masjid digembok. Hal itulah yang melatarbelakangi saya menulis Ketika Masjid Digembok pada Alif.id terbit Kamis 17 Mei 2018. Pada 9 Juni 2018, sebenarnya saya juga sudah nulis di Islami.co berjudul Saatnya Masjid Memakmurkan Masyarakat. Pada tulisan kali ini bukan mengulang, tapi mencoba mengulik dari perspektif berbeda.

Saya sebenarnya hanya sekadar hendak bercerita. Ini soal masjid dan masjid. Sebab, saya ingin bernostalgia saat kuliah S1 dulu, aktivitas saya full di masjid yaitu Masjid At-Taqwa Perum Karonsih, di Jl. Karonsih Utara V No.192, Ngaliyan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang,. Di rumah pun, saya juga ngrumati Musala Nurussalam dan TPQ Nurussalam. Di kampus, sekarang saya juga jadi Penanggungjawab Takmir Masjid Al-Ittihad Kampus INISNU Temanggung. Di kampus di kasih jadwal khutbah juga.

Saya diminta juga membantu kepengurusan Masjid Baitul Mujahid Perum GMR, Patemon, Gunungpati, Kota Semarang. Dikasih jadwal khutbah, jadwal ngisi kajian. Halah mbuh. Wis, pokoke ra isa menghindar. Haha

Sudah ya ceritanya. Jadi begini, di sudut depan Perum Graha Mandiri Residence, Patemon, Gunungpati, Semarang, berdiri sebuah rumah ibadah yang tak hanya memanggil orang untuk salat, tetapi juga menghidupkan denyut sosial warganya. Masjid itu bernama Masjid Baitul Mujahid yang kini Ketua Takmirnya adalah Achmad Safuan, SE., MM. Di Ramadan 1447 H ini, Masjid Baitul Mujahid mengusung tema Ramadan: Feels Like Home.

Masjid Memakmurkan Masyarakat?

Ramadan di sini tak sebatas rangkaian ibadah ritual, namun bagi saya menjadi peristiwa sosial yang memakmurkan masyarakat. Mulai dari takjil gratis menjelang waktu magrib, dan buka puasa bersama, santap hangat usai tarawih dan witir, hingga ramah tamah setelah tadarus malam, masjid menjelma ruang berbagi yang sangat akrab dan egaliter.

Tiap senja usai asyar, warga berdatangan. Orang tua, anak-anak, pendatang baru, pekerja yang baru pulang dari kantor, dan utamanya mahasiswa kos-kosan sekitar masjid duduk bersama menikmati buka puasa. Tak ada sekat status sosial. Makanan terhidang di depan masjid merupakan simbol kesetaraan.

Nanti usai salat tarawih dan salat witir, ramah tamah dengan kudapan ringan memperpanjang percakapan para jemaah salat tawarih dan salat witir. Malam belum usai, sebagian jemaah kembali duduk melingkar membaca Al-Quran bersama-sama dikomandoi Mbah Kiai Rohman. Bahkan selepas tadarus, panitia masih menyiapkan hidangan sederhana bagi para peserta tadarus. Ramadan terasa seperti “rumah besar” yang menaungi semua kalangan tanpa pandang sekat dan profesi: dari karyawan swasta, ASN, TNI, Polri, dosen, guru, pensiunan, pengusaha, dan semuanya.

Dalam teori solidaritas sosial, Émile Durkheim lewat buku The Elementary Forms of Religious Life (2001) dapat menjadikan saya menganalisis fenomena ini. Dalam pandangan Durkheim, ritus keagamaan (termasuk Islam) tak sebatas media relasi vertikal dengan Tuhan (Allah), namun menjadi mekanisme pembentukan solidaritas kolektif. Artinya, saat jemaah Masjid Baitul Mujahid berbuka bersama dan salat berjemaah tiap malam, mereka semua hakikatnya sedang membangun apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence, yaitu sebuah “getaran kebersamaan” yang menguatkan identitas sosial. Nah, lebih khusus lagi di Ramadan ini menjadi energi pemersatu yang hadir tiap tahun.

Dalam konteks Ramadan 1447 H, program Ramadan di Masjid Baitul Mujahid dirancang sistematis. Bukan sekadar formalitas. Misal, salat tarawih berjemaah tiap malam Ramadan menjadi poros spiritual. Tadarus Al-Quran bakda salat tarawih dan selepas subuh menjadi harmoni. Buka bersama diselenggarakan setiap hari menjadi motivasi, Ramah tamah menghadirkan suasana hangat.

Ada pula program “Ramadan Cantik” melalui dekorasi bertajuk Ramadan: Feels Like Home atau Feels Like Home yang menjadikan para jemaah merasa memiliki dan betah di sana. Pengumpulan dan pendistribusian zakat fitrah berjalan terorganisasi dengan baik. Acara-acara lain seperti Malam Selikuran sampai nanti Halalbihalal menjadi rangkaian dengan nuansa spiritual sekaligus sosial.

Pengajian Ramadan Ahad Sore menghadirkan narasumber kompeten, yaitu KH. Muharno (Muchtar Abi Maya) Pengasuh PP Assalafiyah Perbalan, Ust. Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I., M.Pd.Gr., Pengasuh Pondok Pesantren An-Najma Bandarejo Semarang, H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A., Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo, dan Gus Mujib Jogo Roso, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huda Getasan. Kehadiran para tokoh tersebut memperluas cakrawala intelektual jemaah masjid dan mempertemukan dimensi keilmuan dengan praksis sosial.

Robert D. Putnam dalam buku Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000) mengajak kita untuk menganalisis fenomena ini lewat teori modal sosial. Artinya, kegiatan-kegiatan di masjid ini membangun bonding social capital (ikatan internal antarwarga) dan bridging social capital (jembatan dengan komunitas dan narasumber eksternal). Ramah tamah bersama, tadarus kolektif, dan kegiatan distribusi zakat tak sebatas fenomena agama, namun menjadi investasi kepercayaan sosial. Nah, kepercayaan ini menguatkan kohesi lingkungan perumahan GMR.

Dalam buku lawas bertajuk The Sociology of Religion (1922), Max Weber mempertgeas tindakan keagamaan bisa menjadi kekuatan rasional berorientasi nilai. Dalam konteks Masjid Baitul Mujahid, ibadah bukan saja berhenti pada dimensi ritual, namun menguatkan tindakan sosial nyata, yaitu berupa pelayanan takjil, pelayanan ramah tamah/makanan, pengelolaan zakat, forum ilmu (pengajian dan kajian). Dalam konteks ini, Islam bertransformasi menjadi etos pelayanan, bukan sekadar doktrin.

Jika kita analisis perspektif Pierre Bourdieu melalui bukunya Outline of a Theory of Practice (1977), maka praktik Ramadan yang berulang membentuk habitus keagamaan. Tradisi berbagi takjil, duduk bersama tanpa hierarki dan sekat, guyon gayeng bersama, dan mendengar pengajian rutin menciptakan pola disposisi menetap dalam diri para jemaah. Artinya, Ramadan tak sekadar peristiwa sesaat, namun proses pembentukan karakter kolektif. Masjid di sini menjadi arena produksi nilai dan etika sosial.

Pelayanan masjid yang melimpah di Ramadan 1447 H menjadi bukti manajemen partisipatif berbasis masjid yang matang. Panitia tak sebatas menjadi penyelenggara, namun menjadi fasilitator partisipasi warga sekitar masjid. Tiap orang terlibat dalam bentuk apapun, ada yang menyumbang dana, makanan, tenaga, pikiran, ada yang mendekorasi, ada yang membersihkan, dan semua terlibat. Di sinilah masjid menjadi pusat pemberdayaan komunitas.

Nah, ini tentu fenomena menarik. Sebab, dalam konteks masyarakat urban yang lebih dominan individualistik, masjid seperti Masjid Baitul Mujahid maupun masjid-masjid yang lain menghadirkan kembali ruang komunal. Artinya, masjid menjadi counter-culture pada isolasi sosial. Dalam momentum Ramadan dapat mengubah ruang ibadah menjadi ruang perjumpaan, ruang distribusi kesejahteraan, ruang pembentukan solidaritas, ruang edukasi, dan ruang-ruang lainnya.

Konsep dan fakta “masjid memakmurkan masyarakat” tak sebatas lantaran bangunannya megah atau lampunya terang benderang. Lebih dari itu, karena denyut kemanusiaan hidup di dalamnya tanpa ada sekat. Saat para jemaah merasa pulang tiap kali melangkahkan kaji ke masjid, saat warga merasakan manfaat nyata dari zakat, infak, dan sedekah, saat anak-anak tumbuh dalam atmosfer kebersamaan, nah saat itulah masjid benar-benar makmur dan memakmurkan. Begitu!

Di Masjid Baitul Mujahid, bagi saya Ramadan kali ini mengungkap bahwa ibadah kolektif yang dikelola dengan visi sosial dapat melahirkan masyarakat (komunitas) lebih peduli, lebih berdaya, dan lebih terhubung. Secara substansial, masjid tak hanya menjadi tempat sujud. Masjid merupakan pusat peradaban kecil yang menyalakan lentera kebersamaan di tengah lingkungan. Di sanalah kita kembali “pulang”.

Ada pendapat lain?

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Menu Berbuka yang Dianjurkan Rasulullah SAW

    • calendar_month Jum, 22 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 498
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Menu berbuka puasa yang dianjurkan Rasulullah SAW sangat sederhana dan harus kita sesuaikan dengan kondisi negara masing-masing. Selain perintah Nabi Muhammad, sebenarnya kita sendiri jika mengacu ilmu medis dan anjuran Islam, banyak sekali makanan sehat dan berkhasiat yang bisa dikonsumsi saat berpuasa. Sebab, jika memakan makanan haram dan tidak menyehatkan tentu selain […]

  • PCNU-PATI

    LKNU bekerjasama dengan Optik Mitra Aulia Puncel, adakan Pemeriksaan Mata Gratis

    • calendar_month Sen, 24 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. Dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2022 beberapa waktu lalu, Lembaga Kesehatan Nahdaltul Ulama Kabupaten Pati bekerjsama dengan Optik Mitra Aulia mengadakan kegiatan kegiatan  pemeriksaan mata secara gratis serta pemberian kaca mata secara  gratis, 14/10 kemarin. “ Kegiatan ini di sponsori oleh NFG dan Essilor Group merupakan produksen kaca mata yang […]

  • PGMI IPMAFA Gelar Pelatihan Computational Thinking

    PGMI IPMAFA Gelar Pelatihan Computational Thinking

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 525
    • 0Komentar

      Para guru MI antusias mengikuti Pelatihan Computational Thinking di aula IPMAFA  MARGOYOSO – Puluhan guru Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Pati Utara mengikuti Pelatihan Computational Thinking pada Pembelajaran Tematik Berbasis Kearifan Lokal. Kegiatan yang diadakan pada Rabu (10/11) di aula 1 lantai 2 kampus IPMAFA merupakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari dosen PGMI Fakultas Tarbiyah […]

  • PCNU-PATI

    Puncak Peringatan 1 Abad NU, PCNU Pati Bakal Gelar Sholawat Bareng Habib Ali Zainal Abidin

    • calendar_month Sel, 21 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 519
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. PATI  – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati bakal menggelar Sholawatan bareng Habib Ali Zainal Abidin, di Alun-alun Simpang 5 Pati, Rabu (22/2/2023) malam. Kegiatan itu merupakan rangkaian peringatan 1 Abad NU.  Sholawatan itu juga bakal dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU, KH Zulfa Mustofa dan Penjabat Bupati Pati, Henggar Budi Anggoro. Kegiatan yang […]

  • Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah. Photo by RU Recovery Ministries on Unsplash.

    Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 533
    • 0Komentar

    M. Iqbal Dawami Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga. Saya coba sedikit […]

  • Menjawab sholawat dalam Khotbah Jumah

    Menjawab sholawat dalam Khotbah Jumah

    • calendar_month Sel, 27 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 621
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Bagaimana hukumnya membaca/menjawab sholawat ketika khotbah sedang berlangsung, padahal kita tahu bahwa disaat Khotib khutbah hukumnya harom berbicara?   Jawaban :Hukumnya membaca sholawat tersebut hukumnya sunnah selama tidak dengan suara yang berlebihan, walaupun menurut pendapat ulama’ yang berpendapat haram berbicara diwaktu khutbah, karena sholawat tersebut termasuk pengecualian.   Referensi : & Ibânat al-Ahkâm, […]

expand_less