Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Masjid Memakmurkan Masyarakat

Masjid Memakmurkan Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
  • visibility 9.301
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Saya dulu sempat jengkel karena mau salat, tapi masjid digembok. Hal itulah yang melatarbelakangi saya menulis Ketika Masjid Digembok pada Alif.id terbit Kamis 17 Mei 2018. Pada 9 Juni 2018, sebenarnya saya juga sudah nulis di Islami.co berjudul Saatnya Masjid Memakmurkan Masyarakat. Pada tulisan kali ini bukan mengulang, tapi mencoba mengulik dari perspektif berbeda.

Saya sebenarnya hanya sekadar hendak bercerita. Ini soal masjid dan masjid. Sebab, saya ingin bernostalgia saat kuliah S1 dulu, aktivitas saya full di masjid yaitu Masjid At-Taqwa Perum Karonsih, di Jl. Karonsih Utara V No.192, Ngaliyan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang,. Di rumah pun, saya juga ngrumati Musala Nurussalam dan TPQ Nurussalam. Di kampus, sekarang saya juga jadi Penanggungjawab Takmir Masjid Al-Ittihad Kampus INISNU Temanggung. Di kampus di kasih jadwal khutbah juga.

Saya diminta juga membantu kepengurusan Masjid Baitul Mujahid Perum GMR, Patemon, Gunungpati, Kota Semarang. Dikasih jadwal khutbah, jadwal ngisi kajian. Halah mbuh. Wis, pokoke ra isa menghindar. Haha

Sudah ya ceritanya. Jadi begini, di sudut depan Perum Graha Mandiri Residence, Patemon, Gunungpati, Semarang, berdiri sebuah rumah ibadah yang tak hanya memanggil orang untuk salat, tetapi juga menghidupkan denyut sosial warganya. Masjid itu bernama Masjid Baitul Mujahid yang kini Ketua Takmirnya adalah Achmad Safuan, SE., MM. Di Ramadan 1447 H ini, Masjid Baitul Mujahid mengusung tema Ramadan: Feels Like Home.

Masjid Memakmurkan Masyarakat?

Ramadan di sini tak sebatas rangkaian ibadah ritual, namun bagi saya menjadi peristiwa sosial yang memakmurkan masyarakat. Mulai dari takjil gratis menjelang waktu magrib, dan buka puasa bersama, santap hangat usai tarawih dan witir, hingga ramah tamah setelah tadarus malam, masjid menjelma ruang berbagi yang sangat akrab dan egaliter.

Tiap senja usai asyar, warga berdatangan. Orang tua, anak-anak, pendatang baru, pekerja yang baru pulang dari kantor, dan utamanya mahasiswa kos-kosan sekitar masjid duduk bersama menikmati buka puasa. Tak ada sekat status sosial. Makanan terhidang di depan masjid merupakan simbol kesetaraan.

Nanti usai salat tarawih dan salat witir, ramah tamah dengan kudapan ringan memperpanjang percakapan para jemaah salat tawarih dan salat witir. Malam belum usai, sebagian jemaah kembali duduk melingkar membaca Al-Quran bersama-sama dikomandoi Mbah Kiai Rohman. Bahkan selepas tadarus, panitia masih menyiapkan hidangan sederhana bagi para peserta tadarus. Ramadan terasa seperti “rumah besar” yang menaungi semua kalangan tanpa pandang sekat dan profesi: dari karyawan swasta, ASN, TNI, Polri, dosen, guru, pensiunan, pengusaha, dan semuanya.

Dalam teori solidaritas sosial, Émile Durkheim lewat buku The Elementary Forms of Religious Life (2001) dapat menjadikan saya menganalisis fenomena ini. Dalam pandangan Durkheim, ritus keagamaan (termasuk Islam) tak sebatas media relasi vertikal dengan Tuhan (Allah), namun menjadi mekanisme pembentukan solidaritas kolektif. Artinya, saat jemaah Masjid Baitul Mujahid berbuka bersama dan salat berjemaah tiap malam, mereka semua hakikatnya sedang membangun apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence, yaitu sebuah “getaran kebersamaan” yang menguatkan identitas sosial. Nah, lebih khusus lagi di Ramadan ini menjadi energi pemersatu yang hadir tiap tahun.

Dalam konteks Ramadan 1447 H, program Ramadan di Masjid Baitul Mujahid dirancang sistematis. Bukan sekadar formalitas. Misal, salat tarawih berjemaah tiap malam Ramadan menjadi poros spiritual. Tadarus Al-Quran bakda salat tarawih dan selepas subuh menjadi harmoni. Buka bersama diselenggarakan setiap hari menjadi motivasi, Ramah tamah menghadirkan suasana hangat.

Ada pula program “Ramadan Cantik” melalui dekorasi bertajuk Ramadan: Feels Like Home atau Feels Like Home yang menjadikan para jemaah merasa memiliki dan betah di sana. Pengumpulan dan pendistribusian zakat fitrah berjalan terorganisasi dengan baik. Acara-acara lain seperti Malam Selikuran sampai nanti Halalbihalal menjadi rangkaian dengan nuansa spiritual sekaligus sosial.

Pengajian Ramadan Ahad Sore menghadirkan narasumber kompeten, yaitu KH. Muharno (Muchtar Abi Maya) Pengasuh PP Assalafiyah Perbalan, Ust. Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I., M.Pd.Gr., Pengasuh Pondok Pesantren An-Najma Bandarejo Semarang, H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A., Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo, dan Gus Mujib Jogo Roso, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huda Getasan. Kehadiran para tokoh tersebut memperluas cakrawala intelektual jemaah masjid dan mempertemukan dimensi keilmuan dengan praksis sosial.

Robert D. Putnam dalam buku Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000) mengajak kita untuk menganalisis fenomena ini lewat teori modal sosial. Artinya, kegiatan-kegiatan di masjid ini membangun bonding social capital (ikatan internal antarwarga) dan bridging social capital (jembatan dengan komunitas dan narasumber eksternal). Ramah tamah bersama, tadarus kolektif, dan kegiatan distribusi zakat tak sebatas fenomena agama, namun menjadi investasi kepercayaan sosial. Nah, kepercayaan ini menguatkan kohesi lingkungan perumahan GMR.

Dalam buku lawas bertajuk The Sociology of Religion (1922), Max Weber mempertgeas tindakan keagamaan bisa menjadi kekuatan rasional berorientasi nilai. Dalam konteks Masjid Baitul Mujahid, ibadah bukan saja berhenti pada dimensi ritual, namun menguatkan tindakan sosial nyata, yaitu berupa pelayanan takjil, pelayanan ramah tamah/makanan, pengelolaan zakat, forum ilmu (pengajian dan kajian). Dalam konteks ini, Islam bertransformasi menjadi etos pelayanan, bukan sekadar doktrin.

Jika kita analisis perspektif Pierre Bourdieu melalui bukunya Outline of a Theory of Practice (1977), maka praktik Ramadan yang berulang membentuk habitus keagamaan. Tradisi berbagi takjil, duduk bersama tanpa hierarki dan sekat, guyon gayeng bersama, dan mendengar pengajian rutin menciptakan pola disposisi menetap dalam diri para jemaah. Artinya, Ramadan tak sekadar peristiwa sesaat, namun proses pembentukan karakter kolektif. Masjid di sini menjadi arena produksi nilai dan etika sosial.

Pelayanan masjid yang melimpah di Ramadan 1447 H menjadi bukti manajemen partisipatif berbasis masjid yang matang. Panitia tak sebatas menjadi penyelenggara, namun menjadi fasilitator partisipasi warga sekitar masjid. Tiap orang terlibat dalam bentuk apapun, ada yang menyumbang dana, makanan, tenaga, pikiran, ada yang mendekorasi, ada yang membersihkan, dan semua terlibat. Di sinilah masjid menjadi pusat pemberdayaan komunitas.

Nah, ini tentu fenomena menarik. Sebab, dalam konteks masyarakat urban yang lebih dominan individualistik, masjid seperti Masjid Baitul Mujahid maupun masjid-masjid yang lain menghadirkan kembali ruang komunal. Artinya, masjid menjadi counter-culture pada isolasi sosial. Dalam momentum Ramadan dapat mengubah ruang ibadah menjadi ruang perjumpaan, ruang distribusi kesejahteraan, ruang pembentukan solidaritas, ruang edukasi, dan ruang-ruang lainnya.

Konsep dan fakta “masjid memakmurkan masyarakat” tak sebatas lantaran bangunannya megah atau lampunya terang benderang. Lebih dari itu, karena denyut kemanusiaan hidup di dalamnya tanpa ada sekat. Saat para jemaah merasa pulang tiap kali melangkahkan kaji ke masjid, saat warga merasakan manfaat nyata dari zakat, infak, dan sedekah, saat anak-anak tumbuh dalam atmosfer kebersamaan, nah saat itulah masjid benar-benar makmur dan memakmurkan. Begitu!

Di Masjid Baitul Mujahid, bagi saya Ramadan kali ini mengungkap bahwa ibadah kolektif yang dikelola dengan visi sosial dapat melahirkan masyarakat (komunitas) lebih peduli, lebih berdaya, dan lebih terhubung. Secara substansial, masjid tak hanya menjadi tempat sujud. Masjid merupakan pusat peradaban kecil yang menyalakan lentera kebersamaan di tengah lingkungan. Di sanalah kita kembali “pulang”.

Ada pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa dari Godaan Hiburan

    Puasa dari Godaan Hiburan

    • calendar_month Ming, 9 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 338
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga saat yang tepat untuk membersihkan hati, pikiran, dan kebiasaan sehari-hari. Salah satu fenomena modern yang kini banyak menyita waktu dan perhatian adalah kecanduan game online. Para santri, mahasiswa, hingga masyarakat umum, banyak yang terjerumus dalam dunia virtual hingga lupa […]

  • Lagi, Pelajar NU Giatkan Pelatihan Public Speaking

    Lagi, Pelajar NU Giatkan Pelatihan Public Speaking

    • calendar_month Ming, 19 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Salah satu sesi pelatihan Public Speaking yang diadakan oleh Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Kadilangu, Trangkil TRANGKIL – Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Desa Kadilangu menyelenggarakan Pelatihan Public Speaking di Aula Madrasah Diniyah Mansyaul Ulum pada Jum’at (17/12). Kegiatan dimulai pada pukul 18.30 WIB.  Setidaknya ada 18 peserta dari anggota IPNU IPPNU Desa Kadilangu yang mengikuti agenda ini. […]

  • Berikan Dukungan Penuh, Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein Apresiasi Penyelenggaraan PORSEMA XIII Wonosobo

    Berikan Dukungan Penuh, Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein Apresiasi Penyelenggaraan PORSEMA XIII Wonosobo

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Wonosobo – Kegiatan Pekan Olah Raga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII 2025 pada 10-13 September -2025 telah selesai. Berbagai apresiasi kesuksesan disampaikan oleh berbagia pihak di antaranya disampaikan oleh Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein. “Saya bersyukur Wonosobo dipercaya menjadi tuan rumah Porsema XIII. Alhamdulillah, kegiatan ini mampu menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kunjungan wisata. Semoga Wonosobo […]

  • Pandemi, Ini Rencana NU Kayen Peringati Tahun Baru Islam

    Pandemi, Ini Rencana NU Kayen Peringati Tahun Baru Islam

    • calendar_month Kam, 5 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Rapat terbatas MWC NU bersama Lazisnu Kayen dalam untuk menyambut tahun baru hijriyah KAYEN-MWCNU menggandeng Lazisnu Kayen melaksanakan rapat terbatas, Rabu (4/8) malam. Dalam pertemuan yang dihadiri hanya pengurus harian MWCNU dan Lazisnu tersebut, pembahasan mengerucut pada peringatan tahun baru, Muharrom, 1443 Hijriyah.  “Kami carikan solusi, merayakan tahun baru tapi dengan tetap menaati protokol,” Ungkap […]

  • 300 Sembako Lazisnu Didistribusikan untuk Marbot dan Yatama di Trangkil

    300 Sembako Lazisnu Didistribusikan untuk Marbot dan Yatama di Trangkil

    • calendar_month Sen, 20 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    PC Lazisnu memberikan paket sembako kepada anak-anak yatim. Tentu targetnya bukan hanya untuk anak yatim, namun lebih kepada wali yang merawat anak yatim tersebut. TRANGKIL-PC Lazisnu Kabupaten Pati kembali memberikan paket sembako. Kali ini Lazisnu beraksi di Kecamatan Trangkil. Dengan ditemani Pengurus Lazisnu tingkat MWC, Minggu (19/4) kemarin PC Lazisnu menghabiskan 300 paket sembako untuk […]

  • 100 Santri Pesantren Karang Santri Kedu Temanggung Ikuti GLM Ramadan

    100 Santri Pesantren Karang Santri Kedu Temanggung Ikuti GLM Ramadan

    • calendar_month Sen, 17 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 290
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id-Temanggung – Program Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Ramadan zona 4 terlaksana di Pondok Pesantren Karang Santri Bendosari, Bandunggede, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Senin (17/3/2025). Kegiatan ini diikuti 100 santri dalam kegiatan bertema Gerakan Murid Ma’arif Menulis Kreatif Selama Ramadan (GEMUKKAN). Dalam pembuka, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU […]

expand_less