Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan: Feels Like Home

Ramadan: Feels Like Home

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
  • visibility 9.331
  • comment 0 komentar

Ramadan: Feels Like Hom

‎Oleh Hamidulloh Ibda

 

Saya kirim pesan WhatsApp ke Mas Egi (Virgiawan Listanto) pada Senin 23 Februari 2026. Mas Egi adalah Ketua Panitia Ramadan: Feels Like Home 1447 / 2026 Masjid Baitul Mujahid. Saya tanya”Ramadan Feels Like Home sing menggagas siapa?” Dia menjawab “Saya mas, bagaimana?”

 

Begini jawaban lengkapnya: Dalam rangka menyemarakkan suasana Bulan Ramadan, menjaga semangat beribadah, dan mempererat tali silaturahmi di antara jemaah, kami mengajukan proposal rangkaian kegiatan dengan tema: “Ramadan Feels Like Home — Tempat Hati Kembali Pulang.

 

Tema ini terinspirasi dari filosofi bahwa sesibuk apa pun kita bekerja selama 11 bulan, kita akan selalu pulang ke rumah untuk bertemu keluarga dan membersihkan diri. Begitu pula dengan Ramadan; ia adalah “tempat pulang” bagi rohani kita untuk beribadah dan membersihkan jasmani serta rohani. Kami berkomitmen menjadikan masjid sebagai rumah yang aman dan nyaman bagi jemaah, terutama dalam menjalankan ibadah qiyamul lail di 10 hari terakhir Ramadan.

 

Lalu, ia juga mengirimkan meme bertulisan di bawah ini:

Sejauh apa pun kita melangkah,

sesibuk apa pun kita bekerja,

hati selalu tahu ke mana harus kembali.

Ibarat Rumah yang menyambut kita

dengan hangat di kala lelah,

Ramadan hadir sebagai pelukan untuk jiwa

yang rindu akan ketenangan.

Di sini, di Rumah Allah Masjid Baitul Mujahid,

mari kita bersihkan jasmani dan rohani

dalam rasa aman dan nyaman.

RAMADAN

Feels Like Home

– Tempat Hati Kembali Pulang –

Selamat datang kembali bulan Suci Ramadan.

Mari bersimpuh lebih lama,

beribadah lebih khusyuk.

*********

‎Feels Like Home. Tempat Hati Kembali Pulang. Narasi ini adalah produk pemuda yang dijadikan rangkaian tema kegiatan Ramadan 1447 H di Masjid Baitul Mujahid Perum Graha Mandiri Residence Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

‎Bukan “keminggris.” Bukan pula sok kebarat-baratan. Tapi, tema ini bagi saya merupakan bentuk kontekstualisasi spirit generasi muda dalam memakmurkan masjid. Jadi, jangan dipahami secara bahasa saja.

 

‎Ya, genap setahun saya ikut nimbrung meramaikan kegiatan di Masjid Baitul Mujahid. Kegiatan Ramadan 2026 pun beragam. Sesuai konsep panitia, kegiatan meliputi Salat Tarawih Berjamaah setiap malam, Tadarus Al-Qur’an (Bakda Tarawih & Subuh), Ramah Tamah (kudapan ringan bakda Tarawih), Buka Bersama setiap hari di masjid, Ramadan Cantik: Dekorasi masjid bertema Feels Like Home, Zakat Fitrah: pengumpulan dan pendistribusian, Malam Selikuran dan Halalbihalal, dan lainnya. Oh ya, Pengajian Ramadan Ahad Sore juga dijadwalkan dengan menghadirkan narasumber eksternal. Mulai dari KH. Muharno (Muchtar Abi Maya) (Pengasuh PP Assalafiyah Perbalan), Ust. Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I., M.Pd.I., (Pengasuh Pondok Pesantren An-Najma Bandarejo Semarang), H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A.,(Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo), dan Gus Mujib Jogo Roso (Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huda Getasan).

 

Mengapa Harus Kembali Pulang?

Hakikatnya, Ramadan menjadi momentum kembali pulang. Pertanyaannya, pulang ning endi? Ya, pulang dari kegaduhan dunia menuju ketenangan jiwa. Lalu, pulang dari keterpecahan sosial menuju kebersamaan, dan juga pulang dari kegersangan batin menuju rumah spiritual yang bernama iman dan takwa. Itu makna menurut saya.

 

Masjid Baitul Mujahid Perum Graha Mandiri Residence Patemon, Gunungpati, Kota Semarang, yang mengangkat tema “Ramadan: Feels Like Home (Tempat Hati Kembali Pulang)” tidak sekadar slogan yang ndakik-ndakik, adagium estetik, namun menjadi refleksi mendalam atas hakikat Ramadan yang dijadikan ruang spiritual, wadah kultural, dan media edukatif bagi umat Islam di sekitar masjid dan umumnya di Semarang.

 

Konsep baiti, home, ndalem, atau “rumah” sangat dekat dengan dimensi teologis. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 156, Allah berfirman yang artinya “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah, 156).

 

Intinya, kita (manusia) berasal dari Allah Swt dan akan kembali kepada-Nya (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Dalam konteks ini, Ramadan menjadi momentum simbolik merasakan kembali perjalanan pulang tersebut. Bukan saat tertimpa musibah, cobaan, ujian, atau halangan, namun kita kembali pulang saat Ramadan. Mengapa demikian? Sebab, Ramadan substansinya menghadirkan kondisi batin yang damai, tenang, suwung, sebagaimana rumah menghadirkan rasa aman. Baiti jannati. Ketika dunia sering terasa laiknya persinggahan melelahkan, maka Ramadan menjadi ruang istirahat rohani yang mendamaikan. Di sanalah hati menemukan orientasinya kembali. Jadi, saatnya kita feels like home!

 

Kembali pulang itu bermakna luas sekali. Narasi “kembali ke rumah” ketika kita analisis dengan teori habitus dari Pierre Bourdieu (1977) dalam buku Outline of a Theory of Practice. Bourdieu menyebut bahwa habitus merupakan sistem disposisi untuk membentuk cara berpikir dan bertindak seorang mengacu pengalaman sosial yang sudah terinternalisasi.

 

Dalam hal ini, Ramadan melahirkan habitus baru, lebih tepatnya, Ramadan membangkitkan kembali habitus religius yang mungkin tertidur lama. Sebab, Ramadan identik habitus religius yang kuat dan ketat sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Pola bangun tidur untuk sahur, tarawih, witir, iktikaf, tadarus, ngaji, berbuka puasa, sedekah, infak, zakat, zikir, memperbanyak ibadah, sampai memperkuat silaturahmi mengonstruksi struktur batin teratur dan disiplin.

 

Masjid Baitul Mujahid dengan mengusung tema ini memiliki idealisme bahwa Ramadan tak hanya agenda ritus religius tahunan, namun menjadi proses pembentukan karakter kolektif warga perumahan GMR maupun warga kampung di sekitar masjid, juga mahasiswa kos-kosan di sekitar masjid. Rumah spiritual tersebut dikonstruksi melalui repetisi amal saleh yang hilirisasinya melahirkan kesadaran etis.

 

Jürgen Habermas lewat buku The Theory of Communicative Action: Reason and The Rationalization of Society (1984) mempertegas bahwa masjid berfungsi sebagai ruang publik religius. Dalam teori tindakan komunikatif ini, dalam perspektif Habermas, Ramadan mengonstruksi dialog sosial, khotbah, kajian Jumat Subuh, Pengajian Ahad Sore, diskusi ringan di emperan masjid, hingga percakapan ringan selepas tarawih saat ramah tamah, mampu memperkuat rasionalitas komunikatif berbasis nilai.

 

Di sini, Masjid Baitul Mujahid (bisa masjid-masjid yang lain), menjadi ruang deliberatif wadah/tempat nilai keislaman didialogkan dan dinegosiasikan dalam konteks kehidupan warga sekitar. Feels Like Home bermakna bahwa masjid tidak hanya tempat singgah, namun ruang aman untuk berbagi cerita, masalah, kenangan, memori, keresahan, harapan, dan doa.

 

Emile Durkheim melalui buku The Elementary Forms of Religious Life (1995) memiliki pandangan berbeda, karena ia menegaskan agama memiliki fungsi membangun solidaritas kolektif melalui pengalaman sakral bersama. Durkheim melalui perspektif sosiologi agama ini menegaskan bahwa “rumah” tak hanya bangunan fisik, melainkan ruang penuh makna.

 

Masjid: Rumah Sosial dan Edukasi

Dalam konteks ini, bulan suci Ramadan maupun masjid menjadi “rumah sosial”, maksudnya sebagai tempat pribadi dapat merasakan kembali collective effervescence, sebuah getaran kebersamaan yang lahir dari salat tarawih-witir berjemaah, hangout bersama di masjid, ngabuburit bersama, buka puasa bersama, tadarus bersama, dan sedekah kolektif lewat takjil berbuka dan usai tarawih. Masjid di sini menjadi pusat integrasi sosial, yaitu masjid tidak sekadar tempat salat, melainkan ruang perjumpaan makna. Di Masjid Baitul Mujahid, warga perumahan Graha Mandiri Residence dan warga di luar perumahan di sekitar Patemon yang mungkin jarang berinteraksi dalam rutinitas harian, mereka kembali merasa satu keluarga dalam atmosfer sakral Ramadan.

 

Melalui teori pedagogi kritisnya, Paulo Freire dalam buku Education for Critical Consciousness (1974) memiliki pendapat pendidikan wajib membebaskan manusia dari “kesadaran semu”. Dalam konteks ini Ramadan hakikatnya membebaskan manusia dari belenggu perbudakan nafsu dan materialisme. Puasa Ramadan mengembalikan orientasi hidup pada nilai transendental. Dalam konteks Perum GMR dan sekitarnya, kegiatan Ramadan di Masjid Baitul Mujahid menjadi ruang pendidikan emansipatoris, ia membangun kesadaran kolektif tentang kepedulian sosial, keadilan, dan solidaritas terhadap sesama tanpa pandang bulu.

 

Ramadan juga menjadi kurikulum kehidupan. Ya, ini dalam perspektif pendidikan John Dewey dalam karya monumental Experience and Education (1938) menegaskan pendidikan hakikatnya menjadi pengalaman yang membentuk pertumbuhan. Ramadan merupakan experiential learning par excellence, pendidikan melalui praktik langsung. Nah, di sini saya memaknai puasa mengedukasi tentang empati sosial, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual lewat pengalaman konkret lapar dan dahaga. Puasa bukan menjadi teori moral, namun bentuk riil latihan eksistensial. Setiap hari salam bulan suci Ramadan, kita berpuasa menjadi wahana untuk laboratorium karakter.

 

Bagi Masjid Baitul Mujahid, tema Feels Like Home tersebut menjadi panggilan strategis. Masjid harus menjadi home base spiritual Jemaah sekalian, ia terbuka bagi remaja, mahasiswa, penghuni kos, perantua, ramah anak, akrab bagi warga, memberi makan yang lapar, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa ada syarat yang njelimet. Kegiatan Ramadan di Masjid Baitul Mujahid tak sekadar ritus seremonial tiap tahun, namun menjadi rekayasa sosial yang membangun ekosistem keimanan dan ketakwaan. Minimal guyub rukun. Ketika jemaah merasa “di rumah” sendiri, maka hakikatnya mereka akan kembali bukan karena kewajiban, tetapi karena treno.

 

Akhir tulisan, saya menyebut bahwa Ramadan: Feels Like Home menjadi metafora sekaligus visi janga panjang. Tema ini mengajak tiap hati untuk kembali kepada Allah, kepada keluarga, kepada yang fitri, kepada komunitas, dan kepada jati diri paling otentik.

 

Sebab, Ramadan tak hanya bulan yang datang dan pergi begitu saja tiap tahun. Namun Ramadan adalah rumah yang selalu menunggu untuk disinggahi, dimakmurkan, disucikan, dan menyatukan semua warga. Di Masjid Baitul Mujahid, rumah itu dibangun bersama, dengan doa, cinta, kasih sayang, ilmu, dan kebersamaan tanpa pamrin apapun. Bukankah demikian?

-Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikat

an Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Secangkir Kopi, Doa, dan Jalan Panjang Menuju Aceh

    Secangkir Kopi, Doa, dan Jalan Panjang Menuju Aceh

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.081
    • 0Komentar

      Malam belum sepenuhnya ramah ketika rombongan relawan NU Peduli PWNU Jawa Tengah kembali menghidupkan mesin. Di sebuah rest area sunyi, secangkir kopi hitam berpindah dari tangan ke tangan. Hangatnya sederhana, namun cukup untuk menjaga mata tetap terjaga dan hati tetap kuat. Di situlah, di antara lelah dan doa, perjalanan kemanusiaan menuju Aceh Timur terus […]

  • PCNUPati.or.id, Pati – Gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan menghantam hingga area Masjid Agung Baitunnur Pati saat demo 13 Agustus 2025, kemarin. LPBHNU Pati pun menyayangkan tindakan represif aparat. Beredar video, gas air mata ditembakkan hingga halaman Masjid Agung. Sejumlah warga pun menjadi korban. Naasnya, bukan hanya massa demo yang terkana imbas. Warga yang hendak jemaah pun menjadi korban. Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Pati Ahmad Shofwan angkat bicara. Menurutnya demo merupakan hak masyarakat. ”Menanggapi tindakan represif tindakan aparat yang sampai mengejar ke masjid agung. Yang pertama, demo itu hak dan sudah diatur dalam undang-undang, bahwa menyampaikan pendapat di muka umum itu boleh. Kemarin demo itu memang legal dan berizin masih batas waktu yang diperbolehkan,” ujar Shofwan, Kamis (14/8/2025). Ia pun menyayangkan tindakan kepolisian yang dinilai terlalu represif. Apalagi pihak kepolisian sampai menembakkan gas air mata ke halaman Masjid Agung Pati. ”Sementara tindakan aparat polisi mengejar para demonstran sampai masjid sangat disayangkan. Karena masjid itu tempat ibadah. Tidak boleh aparat itu represif sampai ke sana. Karena di sana bukan para pendemo. Ada masyarakat yang ingin ibadah,” tutur dia. Tindakan aparat ini membuat sejumlah masyarakat menjadi korban. Bahkan banyak masyarakat yang hendak jamaah, ibu-ibu dan anak-anak terkena imbasnya. ”Apalagi gas air mata itu memang diarahkan ke halaman parkir mobil (masjid) dan juga ke tempat wudlu. Itu saya sayang kan,” ungkap dia. Tak hanya itu, tindakan aparat juga dinilai terlalu berlebihan lantaran juga menembakkan gas air mata di gang-gang permukiman warga.Ia pun berharap kejadian semacam ini tak terjadi lagi. ”Pak Kapolda, Kapolres harus mengevaluasi dan berbenah kejadian tidak terulang lagi. Di gang sampai masyarakat kena. itu tidak boleh. Kalau menangkap pendemo yang rusuh silahkan. Saya pastikan pendemo yang rusuh itu didatangkan dari luar sengaja membikin rusuh. Bukan orang Pati. Orang Pati tidak seperti itu,” tandas dia. Sementara itu, Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto mengaku pihaknya sudah sesuai SOP. Meskipun, banyak ibu hingga anak yang menjadi korban. ”Oke, tentunya protap SOP yang dilakukan oleh pihak kepolisian sudah sesuai. Karena kita dari awal pada saat aksi unjuk rasa yang damai Itu berjalan dengan lancar dan kita menjamin keamanan dari para demonstran,” pungkasnya.

    Gas Air Mata Hantam Area Masjid Agung, LPBHNU Pati: Aparat Jangan Represif

    • calendar_month Kam, 14 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

      PCNUPati.or.id, Pati – Gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan menghantam hingga area Masjid Agung Baitunnur Pati saat demo 13 Agustus 2025, kemarin. LPBHNU Pati pun menyayangkan tindakan represif aparat. Beredar video, gas air mata ditembakkan hingga halaman Masjid Agung. Sejumlah warga pun menjadi korban. Naasnya, bukan hanya massa demo yang terkana imbas. Warga […]

  • 2 Tokoh Masuk 50 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

    2 Tokoh NU Masuk 50 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

    JAKARTA – Dua nama besar dalam Nahdlatul Ulama masuk dalam 50 besar World’s 500 Most Influential Muslim 2023. Ke dua nama tersebut adalah Habib Luthfi bin Yahyah, Ketua Idaroh Aliyah Jama’ah Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) dan KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua PBNU saat ini. Masing-masing tokoh tersebut menduduki peringkat ke-30 dan 19 dalam […]

  • PCNU-PATI

    Dosen INISNU Ajari Guru MI Buat Game GATEL

    • calendar_month Sel, 21 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-TEMANGGUNG – Bertempat di Ruang Rapat II Rektorat Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda melakukan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Peningkatan Kemampuan Guru MI dalam Mendesain Game GATEL melalui Program SAGU SAGA (Satu Guru Satu Game) pada Sabtu (18/3/2023). […]

  • PCNU-PATI

    Belajar Disiplin dari Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Sab, 5 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Kiai Sahal Mahfudh yang kita ketahui merupakan sosok ulama yang ‘alim dan faqih dari pelbagai fan keilmuan. Hal ini bisa dilihat dari kiprah beliau selama menjadi Rais ‘Aam PBNU, menjadi Direktur Pengururuan Islam Mathali’ul Falah (PIM), dan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati. Menunjukkan kalau beliau ‘alim dari pelbagai […]

  • Stadium General IPMAFA, Menatap Era 4.0 dengan Nilai-nilai Pesantren

    Stadium General IPMAFA, Menatap Era 4.0 dengan Nilai-nilai Pesantren

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 683
    • 0Komentar

    Dr. Tedy Kholiludin (kiri) saat memberikan kuliah umum di IPMAFA dengan didampingi moderator, M. Sofyan Alnashr MARGOYOSO-Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menggelar Stadium General pada Sabtu (21/9) pagi. Acara yang bertempat di Aula lantai 2 Gedung IPMAFA tersebut mengambil tema ‘Diversity in Unity; Membentuk Identitas Kolektif Mahasiswa Berdasarkan Nilai-nilai Pesantren’ dengan menghadirkan Sosiolog dan […]

expand_less