Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pancasila Sebagai Pilar Penanggulangan Terorisme

Pancasila Sebagai Pilar Penanggulangan Terorisme

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 10 Des 2022
  • visibility 482
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Baru-baru kita digegerkan dengan adanya aksi bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar Kota Bandung. Aksi bom bunuh diri ini, sebagai dikutip melalui detik.news setidak memakan 12 korban. Adapun korban yang meninggal dunia pertama, atas nama Agus sujatno (pelaku), kedua, anggota polisi atas nama Sofyan Didu, dan 10 korban lainnya mengalami luka-luka diakibatkan terkena pecahan serpihan ledak.

Dari kejadian di atas tentunya mengundang banyak pihak untuk berfikir dan bertindak, supaya aksi terorisme yang terjadi di pengujung akhir tahun ini tidak terulang kembali. Mengingat bentuk kekerasan terorisme,  ekstremisme, dan radikalisme tidak dibenarkan dalam bentuk apa pun. Maka, sudah seharusnya seluruh elemen masyarakat untuk bersatu bahu-membahu dalam menanggulangi aksi terorisme.

Salah satu bentuk strategi untuk menanggulangi aksi terorisme antara lain yaitu menanamkan falsafah pancasila kepada para pelaku serta melakukan deradikalisasi, supaya para pelaku sadar dan berubah. Dan kembali meyakini kalau pancasila sebagai falsafah hidup, cita-cita moral, dan ideologi bagi kehidupan berbangsa.

Selain itu, pancasila diyakini mampu menyaring berbagai pengaruh ideologi yang masuk ke Indonesia sebagai konsekuensi logis dari sebuah masyarakat dan bangsa yang majemuk (bhinneka). Bangsa Indonesia tidak menafikkan kehadiran budaya luar maupun ideologi luar, tapi melalui pancasila negara dapat memilah pengaruh mana yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima seuai dengan kebutuhan bangsa yang berlandaskan nilai-nilai moral, falsafah, dan ideologi bangsa.

Adapun penanggulanan terorisme melalui pendekatan lunak memerlukan landasan idiil yang komprehensif. Pancasila diyakini sebagai salah satu pendekatan lunak yang selaras dengan perwujudan program deradikalisasi yang diimplementasikan dalam lima sila. Dari lima sila tersebut sebagaimana dikutip dalam buku Deradikalisasi (Muhammad A.S. Hikam) dijabarkan secara komprehensif dalam kehidupan bernegara yang dapat dijadikan landasan melawan ancaman radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Pertama, sila pertama. Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini mengandung makna tauhid, toleransi, kemajemukan, dan moderat yang seimbang. Dalam konteks hubungan antarumat beragama, pancasila menolak pemaksaan kehendak oleh pribadi maupun kelompok terhadap satu sama lain berdasarkan penafsiran agama yang dianggap paling benar. Pernyataan kebenaran yang obsolute seperti itu akan merusak tatanan masyarakat, bangsa, dan negara yang memiliki ciri pluralis.

Kedua, sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila ini mengandung makna pengakuan terhadap hak asasi manusia, termasuk hak sipil, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan demikian, pemaksaan kehendak oleh kelompok radikal secara hakiki bertentangan dengan Pancasila. Karena jelas melanggar HAM yang menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga, sila ketiga. Persatuan Indonesia. Sila ini mengandung makna, bahwa Indonesia adalah negara yang dibentuk berdasarkan asas kebangsaan, bukan atas dasar, ras, suku, agama, atau etnis tertentu. Kelompok fundamentalis radikal yang ingin mengganti asas kebangsaan dengan asas yang lain, berarti ingin mengubah dasar NKRI dari negara kebangsaan menjadi negara Islam. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan landasan ideologi nasional pancasila.

Keempat, sila keempat. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sila ini mengandung arti,bahwa sistem kemasyarakatan dan kenegaraan di Indonesia harus berlandaskan pada prinsip demokrasi. Kedaulatan berada di tangan rakyat yang jelas bertentangan dengan sistem totaliter yang ingin didirikan oleh kelompok fundamentalis radikal. Pada umumnya ideologi agama radikal menolak kedaulatan rakyat dan hanya mengakui kedaulatan Tuhan yang dilaksanakan melalui sistem teokrasi.

Kelima, sila kelima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila ini mengandung makna, bahwa kesejahteraan menjadi hak warga negara Indonesia. Pemerintah sebagai penyelenggara negara mempunyai kewajiban untuk menciptakan kesejahteraan bagi warga negaranya. Hal ini berarti sistem totaliter yang eksploitatif bertentangan dengan pancasila. Karena ia tidak mengakui adanya hak bagi warga negara untuk memperoleh kesejahteraan sebagai hak dasar mereka.    

Dengan demikian, apabila limapilar pancasila di atas bisa diterapkan dan diaplikasikan. Niscaya bentuk-bentuk radikalisme, ekstremisme, dan terorisme  bisa terkikis dan tidak menjangkiti lagi kepada para pelaku teror.  

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Berbukalah yang Manis, Bukan Janji Manis

    • calendar_month Ming, 17 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    Berbukalah yang Manis, Bukan Janji Manis Oleh Hamidulloh Ibda   Kita bikin kue lapis//bikin puding yang manis//sambil menunggu buka//nyalakan api//air direbus//berbukalah yang manis//bukan janji manis//sambil bikin cemilan//mari siapkan//gorengan tahu.   Lagu parodi “Kita Bikin Romantis” yang dibawakan Teuku Mail dari lagu “Kita Bikin Romantis” (2024) karya MALIQ & D’Essentials ini viral di TikTok, Youtube, dan […]

  • white and blue paper on pink surface

    Kirim Doa Sebuah Emot Icon: Antara Simbol dan Makna

    • calendar_month Sab, 3 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 944
    • 0Komentar

      Perkembangan teknologi dalam era komunikasi digital yang serba cepat, pesan-pesan singkat, simbol, dan emoticon menjadi bagian tak terpisahkan dari cara manusia berinteraksi. Salah satu fenomena menarik yang berkembang belakangan ini adalah penggunaan ikon doa seperti contoh seringkali disertai tulisan “Al-Fatihah” atau emoji tangan berdoa — sebagai bentuk simpati dan empati di WhatsApp, terutama saat […]

  • PCNU Pati Temukan Siswa Mokel Puasa dengan Menu MBG

    PCNU Pati Temukan Siswa Mokel Puasa dengan Menu MBG

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.242
    • 0Komentar

      Pati – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menemukan sejumlah siswa mokel atau membatalkan puasa Ramadan dengan menu makan bergizi gratis (MBG). Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim mengatakan temuan ini terjadi di beberapa sekolahan di Kabupaten Pati. Mulai dari tingkatan SD, SMP hingga SMA. Para siswa makan setelah mendapatkan menu MBG. ”Mohon […]

  • Pelantikan IPNU IPPNU dengan Tema Budaya Berlangsung Gahar

    Pelantikan IPNU IPPNU dengan Tema Budaya Berlangsung Gahar

    • calendar_month Sen, 11 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 432
    • 0Komentar

      Para pengurus IPPNU Ranting Desa Gabus GABUS – PR IPNU IPPNU Desa Gabus sukses menggelar pelantikan di Gedung Serbaguna Kecamatan Gabus, Minggu (10/10). Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Gabus, tokoh masyarakat, tanfidziah, pembina, fatayat, muslimat, dan perwakilan dari PAC IPNU IPPNU Gabus. Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan beberapa penampilan bakat seni musik dari anggota […]

  • Pantik Nalar Kritis Kader, IPNU IPPNU Pati Bedah Film "Pesta Babi"

    Pantik Nalar Kritis Kader, IPNU IPPNU Pati Bedah Film “Pesta Babi”

    • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 14.324
    • 0Komentar

      ​pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati menggelar acara nonton bareng (nobar) film dokumenter di halaman Gedung PCNU Pati, Sabtu (16/5/2026) malam. ​Film yang diputar adalah karya terbaru dari sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. […]

  • a close up of a book with writing on it

    Kitab Kuning Zamani

    • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.725
    • 0Komentar

      Oleh: Dr. Jamal Makmur Asmani, M.A.* Identitas utama pesantren adalah pengajian kitab kuning. “Jika tidak ada pengajian kitab kuning, maka esensi pesantren hilang”, tegas Jamal Ma’mur Asmani, Pengamat Kepesantrenan dan penulis sejumlah buku dalam Talkshow Hari Santri Nasional tahun 2025 dengan tema “Kitab Kuning Sebagai Identitas Utama Santri” yang diadakan Masjid Sirojul Anam Wonokerto […]

expand_less