Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 1 Jun 2015
  • visibility 511
  • comment 0 komentar
Oleh: Faiz Aminuddin*                                                                                 Warga di kawasan Asia Tenggara sebentar lagi akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang akan dimulai pada tanggal 31 Desember 2015, atau awal tahun 2016. Secara ekonomis, ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan perekonomian nasional melalui pengembangan basis ekonomi ke negara-negara Asean lainnya. Mengingat MEA merupakan komunitas kerjasama perdagangan bebas yang mencakup SDM (tenaga kerja terlatih), investasi, barang dan jasa yang sudah tidak ada batasan atau hambatan lagi.
Di sisi lain, MEA ini juga menjadi tantangan karena dari sisi kualitas SDM di Indonesia secara umum masih di bawah negara-negara Asean yang lain. Tenaga kerja Indonesia yang tidak memiliki keahlian atau keterampilan akan kalah bersaing di pasaran, dampaknya mereka akan semakin terpinggirkan dan tidak terpakai (terpuruk).
Masalahnya, meskipun kehadiran MEA sudah di depan mata tetapi belum ada gerakan nyata dari pengurus NU di semua level baik dari pusat sampai cabang untuk mempersiapkan warganya menghadapi MEA. Selama ini, gerakan yang terlihat masih berkutat dalam wacana di forum-forum diskusi, seminar, sarasehan, atau tulisan-tulisan di berbagai buku dan media. Kalaupun beberapa gerakan sudah mulai muncul, hal itu masih dalam skala kecil.
Padahal, nantinya terdapat puluhan juta warga NU di seluruh Indonesia yang akan terkena dampak langsung ataupun tidak langsung dari MEA. Secara struktur, di NU memiliki Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) yang sudah terbentuk di semua tingkatan. Hanya saja, sentuhannya dalam mengedukasi, melatih, dan mendampingi belum begitu dirasakan di tengah-tengah masyarakat terutama dalam kaitannya menghadapi MEA (tanpa bermaksud mengecilkan upaya LPNU selama ini).
Waktu tersisa yang tinggal hitungan bulan harus dipakai sebaik mungkin untuk secepatnya mendorong semua pengurus NU di semua level agar secepatnya merumuskan strategi dan gerakan aksi yang sistematis, terukur dan berkelanjutan. Karena bagaimanapun juga ini merupakan tanggungjawab moral, sosial, sekaligus panggilan nurani, mengingat terdapat jutaan warga NU yang menggantungkan hidupnya dari usaha mikro atau buruh yang sebentar lagi terancam habis digulung produk dan tenaga kerja dari luar.
Sekarang ini (belum dibukanya kran pasar bebas), di pasar-pasar tradisonal sudah dibanjiri produk asing. Belum lagi, munculnya kompetitor dua waralaba ternama yang sudah berdiri hampir di setiap kecamatan atau bahkan di pedesaan, itu saja sudah cukup membuat para pengusaha kecil ngos-ngosan mengimbanginya. Pertanyaannya, sampai kapan mereka akan mampu bertahan?
Dengan realitas demikian, maka dapat dibayangkan bagaimana nasib UMKM (usaha mikro kecil menengah) 10 atau 20 tahun kemudian apabila tidak dipersiapkan dari mulai sekarang. Jangan sampai nantinya bangsa Indonesia khususnya warga NU hanya menjadi penonton dalam pasar bebas Asean maupun pasar bebas dunia, atau bahkan menjadi kuli di negeri sendiri.
Tantangan demikian hendaknya mulai dibaca oleh semua elemen NU. Apabila kondisi ekonomi warga NU di akar rumput lemah berpotensi melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya seperti lunturnya jati diri ke-NU-annya. Merasa menjadi NU tapi tidak pernah merasa dibela oleh NU.
Oleh karena itu, NU tidak boleh “santai” (karena terlihat masih adem ayem) dalam merespon MEA yang tinggal beberapa bulan lagi. NU juga tidak boleh hanya menggantungkan peran dari pemerintah, terlebih dengan kondisi politik dan ekonomi yang belum stabil seperti saat ini, maka berat jika harus menunggu gebrakan dari pemerintah.
Justru NU yang harus membuat gebrakan sendiri dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki guna melindungi dan membela jutaan warga NU yang bergerak di usaha mikro. Sebagai ormas terbesar dan salah satu ormas tertua di Indonesia, jelas NU sudah memiliki semuanya, dan itu tinggal menggerakkannya.

Sejarah telah mencatat, NU mampu melewati masa-masa sulit di zaman kolonial, zaman pemberontakan (PKI) dan orde baru dengan gemilang. Pengalaman itu tentunya dapat ditransfer untuk membuat sebuah solusi reel dalam menghadapi MEA. Sudah waktunya NU menunjukkan sikap profesionalisme dan kedewasaannya dalam menata organisasi maupun dalam memberdayakan jama’ahnya. Saatnya NU turun dan mengayomi warga nahdliyin, karena masyarakat rindu kehadiran NU. Wallahu ‘a’lam.

*Alumnus S2 Psikologi Sosial UGM dan Sekretaris LTN NU
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belajar dari Jenderal Nobunaga

    Belajar dari Jenderal Nobunaga

    • calendar_month Sen, 13 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 606
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Jenderal Jepang yang sangat dikenal, Nobunaga, memutuskan untuk maju berperang meskipun jumlah prajuritnya hanya sepersepuluh dari pasukan musuh. Keyakinannya tak tergoyahkan, tapi wajar saja kalau para prajuritnya ragu. Di tengah perjalanan menuju medan perang, mereka berhenti di sebuah kuil Shinto. Setelah berdoa, Nobunaga keluar dengan wajah tenang dan berkata kepada prajuritnya: […]

  • Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual di IPMAFA dalam Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

    Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual di IPMAFA dalam Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

    • calendar_month Sel, 24 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) IPMAFA bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat Islam (HMPS PMI) IPMAFA menggelar program sosialisasi bertajuk Bimbingan Remaja untuk Pencegahan Kekerasan Seksual. (Jumat, 20/12/24). Program ini merupakan salah satu inisiatif dari tim PKM dosen IPMAFA yang terdiri dari Ibu Umdah […]

  • PCNU-PATI

    Peserta Belum Paham Beda Baca dan Deklamasi Puisi

    • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 629
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Semarang – Juri Lomba Baca Puisi Religi Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah memberikan catatan bermakna dan menarik. Sastrawan Mirza Sastroatmodjo Juri Lomba Baca Puisi Religi memberikan beberaba catatan terkait perlombaan tersebut. “Hanya catatan singkat. Sebelumnya, kami sangat mengapresiasi seluruh peserta dan pendamping yang telah memberikan […]

  • MMH Tayu Cetak 90 Calon Anggota IPNU-IPPNU

    MMH Tayu Cetak 90 Calon Anggota IPNU-IPPNU

    • calendar_month Sab, 4 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Suasana pembukaan Makesta IPNU IPPNU MMH Tayu, Kamis (2/9) TAYU – MA Miftahul Huda  mengadakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta merupakan tahap kaderisasi pertama dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Agenda ini diharapkan mampu mencetak kader yang mampu menjalankan tugas di tengah-tengah masyarakat dengan memegang ajaran Islam […]

  • Menunggu Jamaah sambil I’tikaf

    Menunggu Jamaah sambil I’tikaf

    • calendar_month Ming, 11 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Bolehkah bagi seseorang, setiap menunaikan sholat jama’ah sekalian berniat i’tikaf dimasjid? Apakah ketika ia keluar (pulang) dari masjidseketika itu i’tikafnya langsung dihukumi batal? Jawaban :Hukum I’tikaf adalah sunah muakkadah jika kita tidak bernadzar untuk melakukannya, dan disayogyakan bagi kita untuk melakukan i’tikaf ketika kita memasuki masjid untuk melakukan semisal membaca al-quran, belajar, berdzikir […]

  • FKPT Jateng Gelar FGD Hasil Penelitian Mandiri dan Buka Bersama

    FKPT Jateng Gelar FGD Hasil Penelitian Mandiri dan Buka Bersama

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.885
    • 0Komentar

    ‎ ‎ ‎SEMARANG – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT)Jawa Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Hasil Penelitian Mandiri bertajuk Survei Pendidikan Damai di Jawa Tengah yang dirangkai dengan acara buka bersama pada Jumat (6/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Delman Resto dan dihadiri seluruh pengurus FKPT Jateng. ‎ ‎Ketua FKPT Jateng, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menjelaskan […]

expand_less