Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 1 Jun 2015
  • visibility 585
  • comment 0 komentar
Oleh: Faiz Aminuddin*                                                                                 Warga di kawasan Asia Tenggara sebentar lagi akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang akan dimulai pada tanggal 31 Desember 2015, atau awal tahun 2016. Secara ekonomis, ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan perekonomian nasional melalui pengembangan basis ekonomi ke negara-negara Asean lainnya. Mengingat MEA merupakan komunitas kerjasama perdagangan bebas yang mencakup SDM (tenaga kerja terlatih), investasi, barang dan jasa yang sudah tidak ada batasan atau hambatan lagi.
Di sisi lain, MEA ini juga menjadi tantangan karena dari sisi kualitas SDM di Indonesia secara umum masih di bawah negara-negara Asean yang lain. Tenaga kerja Indonesia yang tidak memiliki keahlian atau keterampilan akan kalah bersaing di pasaran, dampaknya mereka akan semakin terpinggirkan dan tidak terpakai (terpuruk).
Masalahnya, meskipun kehadiran MEA sudah di depan mata tetapi belum ada gerakan nyata dari pengurus NU di semua level baik dari pusat sampai cabang untuk mempersiapkan warganya menghadapi MEA. Selama ini, gerakan yang terlihat masih berkutat dalam wacana di forum-forum diskusi, seminar, sarasehan, atau tulisan-tulisan di berbagai buku dan media. Kalaupun beberapa gerakan sudah mulai muncul, hal itu masih dalam skala kecil.
Padahal, nantinya terdapat puluhan juta warga NU di seluruh Indonesia yang akan terkena dampak langsung ataupun tidak langsung dari MEA. Secara struktur, di NU memiliki Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) yang sudah terbentuk di semua tingkatan. Hanya saja, sentuhannya dalam mengedukasi, melatih, dan mendampingi belum begitu dirasakan di tengah-tengah masyarakat terutama dalam kaitannya menghadapi MEA (tanpa bermaksud mengecilkan upaya LPNU selama ini).
Waktu tersisa yang tinggal hitungan bulan harus dipakai sebaik mungkin untuk secepatnya mendorong semua pengurus NU di semua level agar secepatnya merumuskan strategi dan gerakan aksi yang sistematis, terukur dan berkelanjutan. Karena bagaimanapun juga ini merupakan tanggungjawab moral, sosial, sekaligus panggilan nurani, mengingat terdapat jutaan warga NU yang menggantungkan hidupnya dari usaha mikro atau buruh yang sebentar lagi terancam habis digulung produk dan tenaga kerja dari luar.
Sekarang ini (belum dibukanya kran pasar bebas), di pasar-pasar tradisonal sudah dibanjiri produk asing. Belum lagi, munculnya kompetitor dua waralaba ternama yang sudah berdiri hampir di setiap kecamatan atau bahkan di pedesaan, itu saja sudah cukup membuat para pengusaha kecil ngos-ngosan mengimbanginya. Pertanyaannya, sampai kapan mereka akan mampu bertahan?
Dengan realitas demikian, maka dapat dibayangkan bagaimana nasib UMKM (usaha mikro kecil menengah) 10 atau 20 tahun kemudian apabila tidak dipersiapkan dari mulai sekarang. Jangan sampai nantinya bangsa Indonesia khususnya warga NU hanya menjadi penonton dalam pasar bebas Asean maupun pasar bebas dunia, atau bahkan menjadi kuli di negeri sendiri.
Tantangan demikian hendaknya mulai dibaca oleh semua elemen NU. Apabila kondisi ekonomi warga NU di akar rumput lemah berpotensi melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya seperti lunturnya jati diri ke-NU-annya. Merasa menjadi NU tapi tidak pernah merasa dibela oleh NU.
Oleh karena itu, NU tidak boleh “santai” (karena terlihat masih adem ayem) dalam merespon MEA yang tinggal beberapa bulan lagi. NU juga tidak boleh hanya menggantungkan peran dari pemerintah, terlebih dengan kondisi politik dan ekonomi yang belum stabil seperti saat ini, maka berat jika harus menunggu gebrakan dari pemerintah.
Justru NU yang harus membuat gebrakan sendiri dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki guna melindungi dan membela jutaan warga NU yang bergerak di usaha mikro. Sebagai ormas terbesar dan salah satu ormas tertua di Indonesia, jelas NU sudah memiliki semuanya, dan itu tinggal menggerakkannya.

Sejarah telah mencatat, NU mampu melewati masa-masa sulit di zaman kolonial, zaman pemberontakan (PKI) dan orde baru dengan gemilang. Pengalaman itu tentunya dapat ditransfer untuk membuat sebuah solusi reel dalam menghadapi MEA. Sudah waktunya NU menunjukkan sikap profesionalisme dan kedewasaannya dalam menata organisasi maupun dalam memberdayakan jama’ahnya. Saatnya NU turun dan mengayomi warga nahdliyin, karena masyarakat rindu kehadiran NU. Wallahu ‘a’lam.

*Alumnus S2 Psikologi Sosial UGM dan Sekretaris LTN NU
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 100 Santri Pesantren Karang Santri Kedu Temanggung Ikuti GLM Ramadan

    100 Santri Pesantren Karang Santri Kedu Temanggung Ikuti GLM Ramadan

    • calendar_month Sen, 17 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id-Temanggung – Program Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Ramadan zona 4 terlaksana di Pondok Pesantren Karang Santri Bendosari, Bandunggede, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Senin (17/3/2025). Kegiatan ini diikuti 100 santri dalam kegiatan bertema Gerakan Murid Ma’arif Menulis Kreatif Selama Ramadan (GEMUKKAN). Dalam pembuka, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU […]

  • Muqoddimah Sebelum Adzan

    Muqoddimah Sebelum Adzan

    • calendar_month Rab, 14 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 596
    • 0Komentar

      Seorang mu`adzin, sebelum ia melakukan adzan terlebih dahulu memberi muqoddimah berupa bacaan : سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ….. إلخ Pertanyaan : Bagiamana hukumnya memberi muqoddimah (pendahuluan) tersebut ?   Jawaban : Termasuk bid`ah makruhah apabila mu`adzin memberi muqoddimah dengan maksud […]

  • Ulama dan Umaro’ Jalani Shalat Istisqo’

    Ulama dan Umaro’ Jalani Shalat Istisqo’

    • calendar_month Sel, 8 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    GEMBONG-Pemerintah Desa Bermi, Kecamatan Gembong menyelenggarakan Shalat Istisqo’ di Lapangan Bermi, Selasa (8/10) siang. Agenda ini merupakan inisiatif para ulama setempat setelah kemarau panjang yang tak kunjung usai di tahun ini. Dengan menggandeng Ranting NU dan para pengasuh pondok pesantren yang ada di desa ini, pemerintah desa berupaya memfasilitasi keinginan warga untuk melaksanakan shalat memohoh […]

  • Turba ke Gembong, Ketua Lazisnu Cabang Senggol Transparansi dan Digitalisasi

    Turba ke Gembong, Ketua Lazisnu Cabang Senggol Transparansi dan Digitalisasi

    • calendar_month Ming, 19 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Diskusi Upzis – Lazisnu yang digelar oleh Lazisnu MWC NU Gembong dihadiri oleh PC Lazisnu Kabupaten Pati, Ahad (19/1). Agenda yang dilangsungkan di MI Hidayatul Islam Gembong tersebut, dihadiri langsung oleh Edi Kiswanto, Ketua Lazisnu PCNU Pati. Edi, didampingi tiga rekannya menyapa para pengurus Upzis se-Kecamatan Gembong. Selain memperkenalkan kepengurusan baru Lazisnu […]

  • Bupati Haryanto (baju hitam) memberikan sambutan dalam sambangannya di Masjid Besar Baitul Muttaqin Gembong

    Safari ke Gembong, Bupati Disambut Mustasyar PCNU

    • calendar_month Sen, 11 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 416
    • 0Komentar

    GEMBONG – Bupati Pati, Haryanto menyambangi Masjid Besar Baitul Muttaqin Gembong pada Senin (11/4) bertepatam dengan hari ke-sembilan Ramadhan. Kehaditannya kali ini dalam rangka safari ramadhan dengan kegiatan inti, Shalat Tarawih berjama’ah. Kehadiran Bupati, disambut langsung oleh Ketua Takmir, yang juga Mustasyar PCNU Pati, KH. Imam Shofwan serta ketua MWC NU Gembong, K. Sholikhin, sekaligus […]

  • Mengoptimalkan Peran NU Untuk Kesejahteraan Sosial

    Mengoptimalkan Peran NU Untuk Kesejahteraan Sosial

    • calendar_month Sel, 24 Jan 2017
    • account_circle admin
    • visibility 482
    • 0Komentar

    Penduduk Indonesia mayoritas memeluk agama Islam dan masih banyak yang berfikiran bahwa masalah sosial adalah kehendak Tuhan atau dalam bahasa agamanya disebut taqdir. Kita tidak bisa menghindari istilah taqdir karena istilah tersebut sudah popular di kalangan umat Islam. Jika ada masalah muncul yang sulit untuk diatasi, maka itu kehendak Tuhan atau taqdir. Jadi, peran Tuhan […]

expand_less