Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Apologi Non-Muslim untuk Merumat Persatuan

Apologi Non-Muslim untuk Merumat Persatuan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 1 Des 2021
  • visibility 268
  • comment 0 komentar

Oleh : Maulana Luthfi Karim*

1624432014-1472589
Foto : NU Online

Craig Considine, pendeta Nasrani berkebangsaan Amerika sempat berprasangka negatif terhadap islam. Bagaimanapun, citra islam terbentuk dari media massa yang menggiring opini publik untuk melakukan penilaian sepihak, terorisme.

Di barat, kecenderungan islamophobia telah berhasil mengintegrasi atau setidaknya menyejajarkan antara islam dengan ISIS, islam dengan Bin Leiden, dan islam dengan terorisme. Kamera media plus artikel-artikel yang mendukung asumsi ini bak penyedap rasa untuk kian meyakinkan masyarakat non muslim kontradiktif terhadap islam. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang benar adanya sekelompok golongan internal islam yang ‘sukses’ mencitrakan islam sebagai agama yang sangar, penuh kebencian dan non islam sama dengan halal darahnya. Redaksi-redaksi semacam ini menjadi pemicu kebencian barat terhadap islam. Apalagi, Amerika dan Eropa telah menjadi sasaran empuk bagi kalangan yang belakangan dikenal sebagai islam radikal ini untuk melakukan klaim kafir dan halal dibunuh. 

Craig, awalnya juga berfikir demikian, sebelum akhirnya ia menemukan secercah cahaya saat ia menjadi mahasiswa Prof. Akbar Ahmed di American University. Pandangan lamanya terhadap islam kian luntur seiring perkenalannya dengan sang profesor. 

Ia semakin tersadar bahwa keyakinannya selama ini hanyalah permukaan. Sementara, ada yang lebih dalam dari itu. 

Melalui proses ‘perkenalan’ yang panjang, pada akhirnya ia berani mendeklarasikan bahwa Muhammad adalah nabi cinta, dan golongan internal islam yang berdakwah dengan senjata hanyalah dampak dari kesalahfahaman tafsir. Lebih jauh, jika penulis boleh menambahkan, mereka adalah korban politisasi agama. 

Demi mengubah cara pandang barat terhadap islam, Craig merelakan dirinya menjadi tumbal kebenaran. Ketika ia memproklamirkan gerakan apologi islam, dua kubu sekaligus menghantam dirinya. 

Tak sedikit agamawan nasrani dan bangsa Eropa-Amerika lain yang menghujat Craig akibat langkah berani ini. Ia dinilai telah terlalu jauh membela islam. Sementara di mata muslim, statusnya sebagai seorang pendeta pun dipermasalahkan. Jika cinta dengan nabi, kenapa tak masuk islam saja? Namun Craig tetap bertahan. (Untuk mengetahui argumentasi Craig, silakan cari di buku Muhammad Nabi Cinta karya Craig Considine).

Kembali pada apologis islam. Craig menilai bahwa apologia mempunyai makna pembelaan. Artinya, gerakan yang sedang ia garap bukan hanya sebuah demo, namun kerja nyata. Melalui beragam karya, ia telah banyak menyadarkan sarjana barat untuk hijrah dari pandangan sempit terhadap islam, agama minoritas di Eropa dan Amerika. 

Membaca karya-karya Craig, penulis merasa semakin berdosa jika tidak melakukan hal serupa dalam konteks Indonesia. Apologis non muslim, misalnya. 

Penulis tidak sedang menuju perjalanan murtad, namun, pembelaan yang penulis maksud (sama halnya yang digagas oleh Craig), adalah pembelaan hak-hak non islam sebagai warga negara dan minoritas. 

Aqidah, secara paten mengajarkan tentang kebenaran mutlaq islam. Namun kita mungkin belum sempat membayangkan bahwa di agama lain juga mengimani ajaran serupa, sehingga kita sebagai mayoritas sering kelewatan dalam ‘menikmati’ hak beragama. 

Perobohan tempat ibdadah, diskriminasi agama, ujaran kebencian terhadap etnis atau pemeluk agama lain telah menjadi makanan sehari-hari yang dihidangkan secara uncontrolled di media sosial. 

Hal ini justru menjauhkan misi islam rahmatan lil alamin yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Semakin dihina dan dicaci orang akan semakin kabur dari kita.

Bukan sekadar kabur, namun metode dakwah semacam ini tentu akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Maka, dalan situasi genting ini, penulis berkeinginan untuk memotong mata rantai kebencian terhadap agama lain. 

Meminjam, istilah Gus Yaqut, kita memiliki hak beragama, namun hak kita juga dibatasi oleh hak orang lain. Dengan redaksi yang lebih konkret, sudah selayaknya kita tidak hanya menghargai hak orang lain, namun juga membela hak-hak mereka.

Sekali lagi, apologis non-muslim yang penulis gagas semata-mata untuk membela hak non islam, yang juga membela amanat UUD 1945, bukan membenarkan akidah mereka. Toh, dengan dakwah yang halus, bisa mengikis prahara diversitas religi diantara kita. Ahirul kalam, lakum diinukum waliya diin, wallahu a’lam bish showaab.

*Aktivis muda NU, owner AyamAyam

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Ruqyah Massal di Gembong, MWC Tepis Asumsi Negatif Warga

    Jelang Ruqyah Massal di Gembong, MWC Tepis Asumsi Negatif Warga

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    GEMBONG-Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) dan Tim Jolosutro Pati akan menggelar rukyah massal dalam waktu dekat. hal ini disampaikan oleh salah satu praktisi rukyah JRA, Fahruddin. “Sudah Kami agendakan untuk menggelar ruqyah massal di Gembong minggu ini” tuturnya singkat. Flyer Ruqyah Aswaja di SMK NU Gembong, Minggu (10/11) esok Dikonfirmasi dari panitia Ruqyah Massal Gembong, M. […]

  • Awas… Bahaya Laten HTI

    Awas… Bahaya Laten HTI

    • calendar_month Sel, 13 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

    Di antara keistimewaan syari’at Islam dari agama lainnya ialah adanya sanad atau mata rantai yang berkesinambungan hingga pembawa syari’at itu sendiri; Rasulullah. Karena itulah munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi. Sanad inilah yang kemudian menjadi tradisi di kalangan Ahlussunnah untuk selalu d ilestarikan, karena dengan terus membudayakannya […]

  • PAC Ansor Cluwak Dilantik, Ketua Harapkan Kemajuan

    PAC Ansor Cluwak Dilantik, Ketua Harapkan Kemajuan

    • calendar_month Kam, 10 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Ketua PC GP Ansor Pati, Itqonul Hakim (pegang map) melantik para pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Cluwak CLUWAK – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cluwak menyelenggarakan pelantikan pada Kamis (10/2) siang tadi.  Beberapa tokoh lokal, seperti Pengurus MWC NU, Muslimat NU, Fatayat NU dan petinggi banom lainnya tampak hadir dalam agenda dua […]

  • Hasil-Hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama

    Hasil-Hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Rab, 21 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Isi beserta uraian perincian sebagaimana dimaksud oleh keputusan ini terdapat dalam naskah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama beserta Muqaddimah al-Qanunil Asasy sebagai pedoman untuk melaksanakan tata organisasi dalam mencapai tujuan dan cita-cita Nahdlatul Ulama;

  • Mantan Ketua IPNU Pati Tulis Buku tentang Santri

    Mantan Ketua IPNU Pati Tulis Buku tentang Santri

    • calendar_month Ming, 4 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Pamflet acara book review Literasi Digital Santri Milenial yang akan diselenggarakan Minggu (4/7) pukul 15.30 WIB. Penulis buku tersebut merupakan ketua domisioner PC IPNU Kabupaten Pati masa bhakti 2009-2011 SURABAYA-Karya literer yang membahas dunia santri semakin banyak terbit akhir-akhir ini. Banyaknya santri yang mulai sadar literasi membuat martabat santri terangkat melalui beragam karya ilmiah berbasis […]

  • Tarekat vs Syariat. Photo by Fereshteh Ghazisaeedi on Unsplash.

    Tarekat vs Syariat

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 482
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Sering kita temukan, perdebatan sengit antara pengikut tarekat versus pengikut fikih sentris. Forum apapun bisa jadi medan laga siapa yang terbaik di antara mereka berdua. Follower tarekat terbiasa kultus akan amalan-amalan wirid yang mereka lakukan, tanpa mau didikte oleh syariat atau fikih (dalam batas tertentu). Sementara kubu sebelah bangga dengan fikih […]

expand_less