Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » NgAllah Suluk Maleman; Refleksi Kemerdekaan untuk Kedaulatan, Kemerdekaan di Mulai dari Pikiran

NgAllah Suluk Maleman; Refleksi Kemerdekaan untuk Kedaulatan, Kemerdekaan di Mulai dari Pikiran

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 19 Agu 2026
  • visibility 17.997
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id.Pada momen bulan kemerdekaan, Suluk Maleman kembali mengajak untuk merenung. Budayawan Anis Sholeh Ba’asyin menyebut merdeka harus diartikan mandiri atau berdaulat.
Anis menyebut bahwa istilah merdeka dalam konteks geopolitik adalah terjemahan dari kata independen, yakni tidak bergantung pada yang lain. Dalam kaitan proklamasi kemudian diartikan sebagai pernyataan terlepas dari cengekeraman penjajah.
“Jika kemerdekaan hanya dimaknai demikian, muncul kekhawatiran bahwa kemerdekaan hanya sekadar perpindahan dari penguasa lama ke penguasa baru. Dan kekhawatiran semacam itu pernah diungkap oleh Tan Malaka,” terang Anis.
Apa yang dikhawatirkan Tan Malaka, semakin ke sini terasa semakin nyata. Berbeda dengan fase awal kemerdekaan dimana semangat kerakyatan para tokoh bangsa masih sangat kental, sehingga tidak mencari kepentingan diri sendiri.
“Al Qur’an menyebut para syuhada itu terus hidup dan tidak mati. Kita tahu mereka yang gugur saat berjuang melawan penjajah adalah syuhada. Karena masih hidup, mereka pasti marah melihat negara yang dibentuk atas pengorbanan mereka ternyata berubah menjadi ajang kenduri sekelompok elite seperti ini? Tampaknya faktor ini tidak pernah diperhitungkan,” imbuh dia.
Anis kemudian menyoroti makna kata ‘rakyat’. Kata diserap dari bahasa Arab ra’iyah yang berarti: yang digembalakan, yang dipelihara, yang dijaga. Dalam kaitan ini, menjadi pemimpin artinya menjadi pemelihara, pengurus dan penjaga rakyatnya.
“Dari sisi ini, penggunaan istilah ‘pemerintah’ pada dasarnya tidak tepat, dan cenderung bias karena tekanannya pada sisi memberi perintah. Ini berkemungkinan membuat para pemegang kuasa merasa bebas memerintah, sementara rakyat hanya wajib mematuhinya.”
Dalam khasanah Jawa, Anis meneruskan, dikenal istilah pamong praja dan pangreh praja. Kalau istilah pemerintah dipahami dalam konteks pangreh praja, titik beratnya memang pada sisi memerintahnya.
“Seharusnya istilah yang tepat dipakai adalah pamong praja, karena titik beratnya adalah mengasuh dan melayani rakyat, bukan sisi sebagi pemberi perintah,” sambungnya.
“Kita harus ingat ada hadis yang menyebut bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya akan yang dipimpinnya,” ujar Anis mengingatkan.
Dari satu sisi, hadits ini menyiratkan bahwa kemerdekaan harus di mulai dari pribadi-pribadi yang merdeka mengelola dirinya, pribadi-pribadi yang merdeka sejak dari pikirannya.
“Hal ini penting untuk ditekankan, karena banyak bekas negara jajahan mengalami apa yang bisa disebut Stockholm syndrome, jatuh cinta pada penyandera atau penjajahnya. Sehingga gagal mengenali dan merealisasi peradabannya sendiri,” jelasnya.
Kecuali makna kata rakyat, Anis juga menjelaskan makna masyarakat. Masyarakat diserap dari kosa kata Arab ‘syaraka’, yang artinya artinya ikut serta atau berpartisipasi dalam dalam suatu ikatan dan kesepakatan bersama.
“Bila rakyat adalah posisi politik, maka masyarakat adalah posisi budaya atau peradaban, atau dalam kata lain lebih dekat dengan makna society dalam bahasa Inggris, atau masyarakat sipil,” kelas Anis.
“Kita seharusnya melihat masyarakat sebagai suatu entitas yang terikat dalam kepentingan bersama. Fungsi pemimpin adalah menjalankan kebijakan sesuai kesepakatan bersama tersebut. Bukan membuat kebijakan berdasar kemauan sendiri,” ungkap dia.
Konteks keterikatan antar suku dan bangsa itu juga tercermin dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Baik sejak era kerajaan, hingga perjuangan dalam meraih kemerdekaan.
“Era kerajaan Demak melalui ratu Kalinyamat sudah memiliki kesadaran untuk mengirim pasukan ke Malaka untuk menghadang Portugis. Perlawanan Diponegoro walaupun dilakukan di Jawa tapi banyak dibantu pasukan dari Bugis, Ambon, dan berbagai daerah lainnya. Sehingga tidak hanya memperjuangkan kedaerahan saja,” terang dia.
Anis menambahkan, jejaring ulama di nusantara juga semakin menguatkan perjuangan terhadap kemerdekaan. Sehingga dia tak melihat perlawanan itu secara parsial melainkan memiliki keterkaitan yang cukup kuat.
“Narasi tanpa ada penjajahan Belanda tidak akan terbentuk negara Indonesia adalah narasi sesat. Karena sejak awal Indonesia bukan negara kosong. Ada banyak kerajaan dan ulama yang sudah saling terhubung menjadi suatu ikatan masyarakat yang kuat. Sehingga boleh dikatakan, Indonesia secara peradaban sudah terbentuk sebelum Belanda masuk. Belanda hanya menegaskan bahkan mereduksi wilayah,” imbuh dia.
Kerajaan-kerajaan yang tersebar di Indonesia itu bahkan dengan sukarela menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan dan penderian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini menunjukkan bagaimana jejaring nusantara sudah terbangun dengan begitu kuat.
“Harus diingat, para raja itu punya wilayah dan kekuasaan nyata. Tapi ketika kemerdekaan, mereka semua mendukung Indonesia. Kalau belum ada jejaring yang kuat, pasti Indonesia tidak akan terbentuk. Mereka menghindari ego sektoral kerajaan sendiri meski bisa mendeklarasikan kerajaannya masing-masing,” imbuh dia.
Peran jejaring ulama juga tak kalah pentingnya dalam sejarah kemerdekaan. Resolusi jihad dari Kiai Hasyim Asyhari memberi semangat besar dalam perlawanan melawan penjajah.
“Aceh baru mendengar proklamasi satu bulan kemudian. Setelah mendengar berita tersebut, para ulama segera berkumpul dan bersepakat mendukung proklamasi. Ini terjadi di semua daerah,” ujar dia.
Oleh karena itulah dengan semangat keterikatan masyarakat yang kuat itulah, Anis mengajak agar bangsa ini harus berani berdaulat. Sehingga apa yang dicita-citakan lewat kemerdekaan dapat benar-benar terwujud.
Topik yang menggugah semangat itu sendiri kian hangat dengan iringan musik dari Sampak GusUran. Ratusan masyarakat tampak khidmat menyaksikan baik secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia atau melalui berbagai media sosial Suluk Maleman.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lazisnu Pati Serius Melayani Umat

    Lazisnu Pati Serius Melayani Umat

    • calendar_month Sel, 20 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Serah-terima bantuan Lazisnu kepada Angga PATI-Angga beserta istrinya mendatangi kantor Lazisnu Pati guna meminta bantuan atas kondisi yang di alaminya beberapa waktu lalu. Angga bercerita bahwa ia sebenarnya bukan orang Pati, melainkan dari Batam. Ia menikah dengan perempuan kelahiran Pati yang ia temui pada saat bekerja waktu itu.  “Dulu saya bertemu istri itu pada saat […]

  • Launchig & Bedah Buku Infografis Masjid Kajen

    Launchig & Bedah Buku Infografis Masjid Kajen

    • calendar_month Sen, 16 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Pati. Perpustakaan Mutamakkin Kajen Pati mengadakan bedah buku Buku Infografis Masjid Kajen karya M. Zuli Rizal acara bertempat di gedung perputakaan Mutamakkin Kajen Pati, 10/10 kemarin. Dalam kesempatan ini penulis bercerita tentang mengenai latar belakang dan tujuan penciptaan karya Buku Infografis Masjid Kajen bersama para santri dan pelajar Kajen. “ Melalui buku ini, kami mewedar […]

  • Aktivis Muslimat itu Berpulang ke Rahmatullah

    Aktivis Muslimat itu Berpulang ke Rahmatullah

    • calendar_month Sel, 26 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Hj Yuhanidz Fayumi Munji, Ibunda Dra Badriyah Fayumi, Abdullah Umar Fayumi, Ismail Fayumi, dan putra putri beliau yg lain, kembali ke hadirat Allah SWT pada Selasa, 7 Rabiul Akhir 1439 H./ 26 Desember 2017. pukul 04.00 Wib. Istri KH Ahmad Fayumi Munji ini adalah aktivis NU tulen. Beliau pernah menjadi Ketua Muslimat NU Pati dan […]

  • PCNU-PATI

    NU Harus Berfungsi

    • calendar_month Sab, 31 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 496
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Jamal Makmur Asmani KH. M. Aniq Muhammadun, Rais Syuriyah PCNU Pati sekaligus Wakil Rais Syuriyah PBNU, mendorong pengurus NU untuk aktif menggerakkan potensi organisasi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi warga NU, warga negara, bangsa dan umat manusia. Jangan sampai keberadaan NU tidak punya manfaat apa-apa. Dawuh beliau, NU jangan sampai […]

  • Gandeng Rotary International, IPNU IPPNU Mojoagung Adakan Go to Pondok Baca

    Gandeng Rotary International, IPNU IPPNU Mojoagung Adakan Go to Pondok Baca

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Galeri kegiatan Pengurus Ranting IPNU IPPNU Mojoagung bersama Rotary Internasional TRANGKIL – PR IPNU IPPNU Desa Mojoagung sukses mengadakan Go to Pondok Baca Mojoagung di basecamp setempat, Kamis (7/10). Kegiatan tersebut digelar bekerja sama dengan Rotary International. Ketua PR IPNU Mojoagung Rekan Bagus Suripto mengatakan, pengadaan pondok baca tersebut sebetulnya sudah direncanakan sejak lama. Namun, […]

  • GP Ansor Pati Dukung Muktamar Digelar Tahun Ini

    GP Ansor Pati Dukung Muktamar Digelar Tahun Ini

    • calendar_month Ming, 26 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

       Itqonul Hakim, ketua GP Ansor Kabupaten Pati PATI – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati Itqonul Hakim menyatakan mendukung penuh jika Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 digelar tahun ini. Ia menyebut forum tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tertunda satu tahun kini telah memungkinkan digelar mengingat pandemi Covid-19 cukup berhasil […]

expand_less