Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
  • visibility 339
  • comment 0 komentar

M. Iqbal Dawami

Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga.

Saya coba sedikit demi sedikit mendekatkan buku kepada masyarakat maupun keluarga saya. Untuk masyarakat memang masih jauh dari bayangan, karena harus bersinergi dengan perangkat desa maupun para tokohnya. Untuk mengenalkan secara kultural masih butuh perjuangan. Saya pernah menawarkan kepada para tetangga apabila ada yang mau baca buku-buku koleksi saya yang letaknya di ruang tamu samping (bukan ruang tamu utama).

“Saya baca buku? Haha…” jawab salah satu dari mereka, seolah tak percaya kalau mereka mau baca buku. Karena membaca masih dianggap tabu. 

Sedangkan untuk keluarga, saya bisa mengontrolnya langsung, karena lebih mudah untuk diarahkan, tidak perlu orang luar. Berikut ini yang saya lakukan untuk keluarga, yakni sebuah ikhtiar dalam menghidupkan literasi di keluarga saya.

Perpustakaan Keluarga

Pertama yang saya lakukan adalah membuat perpustakaan keluarga. Saya buat rak buku yang berukuran 4 x 4 meter. Awalnya buat satu, tapi koleksi bukunya bertambah sehingga tidak bisa menampung lagi, maka saya buat satu rak lagi dengan ukuran yang sama. Koleksi buku yang saya kumpulkan sejak tahun 2007 hingga akhir tahun 2018 mencapai asdadva. Saya kira itu cukup untuk perpustakaan keluarga. Temanya juga beragam, termasuk buku anak-anak, sehingga bisa dibaca oleh kedua anak saya.

Kedua rak buku tersebut saya letakkan di ruang tamu bagian utara. Kebetulan ruangan tersebut tidak terlalu luas dan tidak pula terlalu sempit, sehingga cocok untuk aktivitas membaca dan menulis. Ruangan tersebut juga cukup strategis untuk dilihat anggota keluarga sehingga mudah terjangkau apabila ingin membaca buku-buku tersebut.

Selain itu, para tamu juga dapat meliriknya pada saat masuk ke dalam rumah dan duduk di ruangan tamu utama. Setidaknya letaknya yang strategis akan memudahkan siapapun bagi yang ingin melihat-lihat buku dan syukur-syukur mau membacanya. Hal ini lumayan efektif. Banyak tamu yang datang ke rumah kerap mengomentari koleksi buku tersebut yang katanya sangat banyak.

Bagi tamu yang berkomentar saya ajak mereka untuk melihat-lihat buku tersebut dan mempersilakan apabila mau membacanya, baik di tempat maupun dibawa pulang untuk dipinjam. Ada beberapa yang mau meminjamnya. Bahkan, ada yang berkali-kali meminjamnya untuk dibaca di rumahnya. Setelah dikembalikan, dia pinjam buku yang lainnya lagi.  

Istri dan kedua anak saya, setelah ada rak buku di situ, sering mainnya malah di situ. Ini menjadi satu langkah untuk mendekatkan mereka ke dalam dunia buku.

Mengakrabkan dengan Buku

Setelah selesai membuat rak buku dan menyulap ruang tamu mini sebelah utara dijadikan perpustakaan, langkah selanjutnya adalah mengakrabkan istri dan kedua anak saya dengan buku. Saya tata dengan rapi buku-bukunya. Saya ajak mereka untuk menata buku juga dengan memberikan petunjuk buku-buku mana saja yang disimpan di rak-rak bukunya.

Pada saat menata itu mereka sering menatap lama-lama buku yang dirasa menarik, baik judul maupun covernya. Kadang mereka juga sering bertanya soal isi buku yang judulnya menarik. Begitu juga dengan covernya yang menarik, mereka bertanya kepada saya soal isi bukunya, sambil mereka membuka-buka sendiri. Lambat laun mereka tahu buku-buku yang hendak mereka baca.

Sedangkan Khaira (pada usia 3 tahun), anak saya yang bungsu belum bisa baca, suka “menata” (tepatnya mengacak-acak) sendiri yang sudah saya tata. Saya tidak melarangnya atau menyuruhnya untuk merapikan kembali setelah dia acak-acak. Saya biarkan saja, dengan maksud agar menata buku ala dirinya adalah sebuah kesenangan baru yang tadinya belum dia dapatkan. Dia bongkar buku-buku yang terjangkau olehnya di rak buku. kemudian dia susun sendiri di lantai layaknya mainan.

Lambat laun seiring waktu, akhirnya mereka akrab sendiri dengan buku-buku tersebut. Terlebih setelah saya membeli dua kursi malas.

Memberi Teladan dalam Membaca

Keteladanan menjadi kunci penting sukses tidaknya menghidupkan literasi di keluarga. Saya menyadari itu. Oleh karena itu, saya tidak menyuruh mereka untuk membaca maupun menulis kepada istri dan anak saya. Saya hanya memberi contoh saja. Dengan memberi contoh, mereka akan memperhatikan apa yang sedang saya lakukan. Jadi, saya tidak perlu capek-capek untuk meneriaki dan menuruti saya agar mau membaca dan menulis.

Pada awalnya saya sering baca buku di ruang kerja saya, yakni di lantai atas. Karena tidak mau ada yang mengganggu saya pada saat membaca maupun menulis. Tapi, setelah ada perpustakaan keluarga, saya coba untuk membaca di situ, apapun keadaannya. Pada saat mereka sedang bermain di situ, saya tetap membaca buku dan kadang main bersama untuk selingan.

Saya juga baca buku sambil leyeh-leyeh di kursi malas. Ketika anak-anak saya sudah jenuh bermain, akhirnya mereka mencari buku di rak. Setelah menemukan yang menarik, mereka membacanya. Maghza yang sudah bisa membaca, dia membaca buku yang dipilihnya dengan bersuara nyaring. Kadang juga dengan suara dalam hati. Sedangkan, Khaira yang belum bisa membaca, dia sekadar membuka-buka buku yang banyak gambarnya. Dia tunjuk-tunjuk gambarnya sambil menyebutkan nama gambar tersebut.

Sedangkan istri saya paling suka membaca di kursi malas tersebut. Untuk membuat kursi malas sendiri memang ide darinya agar rajin baca buku, katanya. Dan dia membuktikannya. Kadang saya dan istri mendamping anak-anak pada saat membaca buku. Kami saling membacakan sebuah cerita yang terdapat dalam buku secara bergantian. Dengan melibatkan secara langsung, tanpa disuruh pun pada akhirnya Maghza sudah mau membaca sebuah buku.

Saya juga kerap membaca di kamar tidur maupun di ruang tamu utama, tepatnya di depan televisi. Saya letakkan begitu saja buku-buku yang saya baca di tempat-tempat tersebut. Biasanya, Maghza maupun istri saya iseng-iseng membuka-buka buku tersebut dan membacanya. Kadang saya mengajak Maghza untuk ke pinggir sawah sambil membawa buku. Di sana kami membaca buku sambil menikmati hawa sejuk dan hamparan sawah yang elok tak terpermanai.

Kini, budaya baca buku menjadi keseharian kami. Maghza sudah punya koleksi bacaannya yang saya beli baik online maupun offline. Kadang dia juga sering titip buku setiap kali saya ke Yogyakarta atau pun Semarang. Dan saya dengan senang hati membelikannya. 

Memberi Teladan dalam Menulis

Tak jauh beda dengan membaca, menulis pun demikian. Saya menulis bisa di mana saja, terutama di ruangan perpustakaan. Pada awalnya saya menulis di lantai atas, sebuah ruangan yang saya jadikan kantor untuk menulis dan membaca. Tapi setelah ada perpustakaan keluarga, saya sering menulis di sana. Apapun keadaannya. Menulis idealnya memang di tempat yang sunyi dan tidak ada suara orang mengobrol, agar bisa menjaga konsentrasi. Tapi di tengah keluarga yang ada anak-anak mencari situasi seperti itu sangat sulit didapatkan. Maka, mau tidak mau harus kompromi dengan keadaan.

Pada awalnya saya terganggu, nyaris tidak bisa konsentrasi membaca dan menulis di tengah-tengah anak-anak yang sedang bercanda dan bersuara keras. Tapi saya lama kelamaan saya bisa beradaptasi dengan situasi tersebut. Alih-alih melarang mereka berisik, malah saya ajak juga untuk menulis maupun membaca. Saya sediakan kertas dan pulpen buat mereka berdua.

Maghza saya beri saran agar menuliska ceritanya waktu di sekolah maupun di rumah. Sedangkan Khaira hanya mencorat-coret saja, karena memang belum bisa menulis dan membaca. Dengan menulis di hadapan mereka, ternyata membuat mereka terlibat. Mereka ingin juga menulis.

Begitu juga dengan istri saya, saya ajak dia menulis cerita yang kelak bisa dijadikan bahan untuk belajar membaca bagi anak didiknya di sekolah. Istri saya adalah seorang guru SD. Jadi, sekalian belajar menulis, sekalian pula berkarya. Saya berharap dengan aktvitas menulis sebagaimana yang sering lihat saya sedang menulis di dekat mereka, mereka juga turut menulis, dan membuktikannya bahwa menulis itu menyenangkan.

Kini, istri saya sudah menyelesaikan naskah pertamanya. Dan Maghza masih dalam proses penyelesaian untuk buku solonya, sedangkan buku antologinya sudah terbit.

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 712 Orang Donorkan Darahnya di Salafiyah

    712 Orang Donorkan Darahnya di Salafiyah

    • calendar_month Kam, 31 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Menumbuhkan sikap peduli dan peka terhadap kesehatan masyarakat, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan melaksanakan donor darah. Hal tersebut ditunjukkan para siswa dan guru yang berada di bawah naungan Yayasan Salafiyah Kajen yang meliputi MA, SMK dan MTs Salafiyah. Mereka tampak antusias sebagai pendonor dalam kegiatan  yang di selenggarakan oleh Palang Merah Remaja […]

  • Gus Muwaffiq Hadir di Gembong? Ini Jawaban Panitia

    Gus Muwaffiq Hadir di Gembong? Ini Jawaban Panitia

    • calendar_month Kam, 25 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

    GEMBONG-Isyu akan hadirnya seorang kiai nyentrik, Gus Muwaffiq di Gembong kian menggema. Beberapa pecinta Gus asal Jogja ini mulai mempertanyakan kebenaran kabar burung ini. Namun tidak seorangpun bisa memberikan jawabab pasti. Entah darimana info ini beredar, yang jelas masyarakat menginginkan kejelasan akan berita ini. Dari kiri : K. Sholikhin (ketua MWC-NU Gembong), M. Subhan (ketua […]

  • Pagar Nusa akan Meriahkan HSN dengan Atraksi

    Pagar Nusa akan Meriahkan HSN dengan Atraksi

    • calendar_month Kam, 3 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 290
    • 0Komentar

    PATI-Rangkaian peringatan Hari SantriNasional (HSN) Kabupaten Pati akan dimulai Sabtu (12/10). Kendati demikian, acara puncak tetap akan dilaksanakan Selasa (22/10) mendatang. Flyer kegiatan HSN PCNU Pati Setidaknya ada dua agenda yang akan dilaksanakan dalam rangkaian acara yang diselenggarakan oleh PCNU Pati tersebut. Pertama, gema selawat bersama Habib Ali Zainal Abidin dari Jepara yang berlokasi di […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa Bukan Bulan Kapital

    • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.109
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ibadah yang hanya dipandang kayak dodolan, dagang, untung-rugi, oleh ganjaran pira, kayaknya itu menjadi bentuk riil cara berpikir kita itu kapitalistik. Maksude pimen? Ya, simpelnya kita beribadah hanya mengejar keuntungan pahala saja, tanpa memastikan puasa kita itu sakjane ya agar kita bertakwa dan menuju Allah Swt.   Realitas lain, tiap […]

  • PR IPNU IPPNU Tlutup Sholawatan Bareng Dalam Rangka Peringati Maulid Nabi dan HSN

    PR IPNU IPPNU Tlutup Sholawatan Bareng Dalam Rangka Peringati Maulid Nabi dan HSN

    • calendar_month Sab, 23 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 324
    • 0Komentar

    TRANGKIL – Dalam rangka memperingati maulid Nabi dan HSN, Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Tlutup menggelar sholawatan pada kamis (21/10).  Acara tersebut merupakan wujud rasa syukur karena telah menjadi umat Nabi Muhammad SAW., serta diharapkan acara tersebut dapat membangun silaturahmi antar umat.  Acara bertempat di rumah Rekan Lukman Anggota yang hadir sangat antusias mengikuti acara.  “Alhamdulillah, […]

  • PCNU-PATI

    Spirit Nuzulul Quran

    • calendar_month Kam, 28 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 324
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Nuzulul Quran atau turunnya Quran menjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam yang diperingati sebagai momen ketika wahyu pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT melalui perantaraan Malaikat Jibril. Kejadian ini memulai proses pengungkapan wahyu ilahi yang kemudian dikumpulkan dalam bentuk Al-Quran, kitab suci umat Islam. Sementara momen tersebut secara […]

expand_less