Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
  • visibility 491
  • comment 0 komentar

M. Iqbal Dawami

Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga.

Saya coba sedikit demi sedikit mendekatkan buku kepada masyarakat maupun keluarga saya. Untuk masyarakat memang masih jauh dari bayangan, karena harus bersinergi dengan perangkat desa maupun para tokohnya. Untuk mengenalkan secara kultural masih butuh perjuangan. Saya pernah menawarkan kepada para tetangga apabila ada yang mau baca buku-buku koleksi saya yang letaknya di ruang tamu samping (bukan ruang tamu utama).

“Saya baca buku? Haha…” jawab salah satu dari mereka, seolah tak percaya kalau mereka mau baca buku. Karena membaca masih dianggap tabu. 

Sedangkan untuk keluarga, saya bisa mengontrolnya langsung, karena lebih mudah untuk diarahkan, tidak perlu orang luar. Berikut ini yang saya lakukan untuk keluarga, yakni sebuah ikhtiar dalam menghidupkan literasi di keluarga saya.

Perpustakaan Keluarga

Pertama yang saya lakukan adalah membuat perpustakaan keluarga. Saya buat rak buku yang berukuran 4 x 4 meter. Awalnya buat satu, tapi koleksi bukunya bertambah sehingga tidak bisa menampung lagi, maka saya buat satu rak lagi dengan ukuran yang sama. Koleksi buku yang saya kumpulkan sejak tahun 2007 hingga akhir tahun 2018 mencapai asdadva. Saya kira itu cukup untuk perpustakaan keluarga. Temanya juga beragam, termasuk buku anak-anak, sehingga bisa dibaca oleh kedua anak saya.

Kedua rak buku tersebut saya letakkan di ruang tamu bagian utara. Kebetulan ruangan tersebut tidak terlalu luas dan tidak pula terlalu sempit, sehingga cocok untuk aktivitas membaca dan menulis. Ruangan tersebut juga cukup strategis untuk dilihat anggota keluarga sehingga mudah terjangkau apabila ingin membaca buku-buku tersebut.

Selain itu, para tamu juga dapat meliriknya pada saat masuk ke dalam rumah dan duduk di ruangan tamu utama. Setidaknya letaknya yang strategis akan memudahkan siapapun bagi yang ingin melihat-lihat buku dan syukur-syukur mau membacanya. Hal ini lumayan efektif. Banyak tamu yang datang ke rumah kerap mengomentari koleksi buku tersebut yang katanya sangat banyak.

Bagi tamu yang berkomentar saya ajak mereka untuk melihat-lihat buku tersebut dan mempersilakan apabila mau membacanya, baik di tempat maupun dibawa pulang untuk dipinjam. Ada beberapa yang mau meminjamnya. Bahkan, ada yang berkali-kali meminjamnya untuk dibaca di rumahnya. Setelah dikembalikan, dia pinjam buku yang lainnya lagi.  

Istri dan kedua anak saya, setelah ada rak buku di situ, sering mainnya malah di situ. Ini menjadi satu langkah untuk mendekatkan mereka ke dalam dunia buku.

Mengakrabkan dengan Buku

Setelah selesai membuat rak buku dan menyulap ruang tamu mini sebelah utara dijadikan perpustakaan, langkah selanjutnya adalah mengakrabkan istri dan kedua anak saya dengan buku. Saya tata dengan rapi buku-bukunya. Saya ajak mereka untuk menata buku juga dengan memberikan petunjuk buku-buku mana saja yang disimpan di rak-rak bukunya.

Pada saat menata itu mereka sering menatap lama-lama buku yang dirasa menarik, baik judul maupun covernya. Kadang mereka juga sering bertanya soal isi buku yang judulnya menarik. Begitu juga dengan covernya yang menarik, mereka bertanya kepada saya soal isi bukunya, sambil mereka membuka-buka sendiri. Lambat laun mereka tahu buku-buku yang hendak mereka baca.

Sedangkan Khaira (pada usia 3 tahun), anak saya yang bungsu belum bisa baca, suka “menata” (tepatnya mengacak-acak) sendiri yang sudah saya tata. Saya tidak melarangnya atau menyuruhnya untuk merapikan kembali setelah dia acak-acak. Saya biarkan saja, dengan maksud agar menata buku ala dirinya adalah sebuah kesenangan baru yang tadinya belum dia dapatkan. Dia bongkar buku-buku yang terjangkau olehnya di rak buku. kemudian dia susun sendiri di lantai layaknya mainan.

Lambat laun seiring waktu, akhirnya mereka akrab sendiri dengan buku-buku tersebut. Terlebih setelah saya membeli dua kursi malas.

Memberi Teladan dalam Membaca

Keteladanan menjadi kunci penting sukses tidaknya menghidupkan literasi di keluarga. Saya menyadari itu. Oleh karena itu, saya tidak menyuruh mereka untuk membaca maupun menulis kepada istri dan anak saya. Saya hanya memberi contoh saja. Dengan memberi contoh, mereka akan memperhatikan apa yang sedang saya lakukan. Jadi, saya tidak perlu capek-capek untuk meneriaki dan menuruti saya agar mau membaca dan menulis.

Pada awalnya saya sering baca buku di ruang kerja saya, yakni di lantai atas. Karena tidak mau ada yang mengganggu saya pada saat membaca maupun menulis. Tapi, setelah ada perpustakaan keluarga, saya coba untuk membaca di situ, apapun keadaannya. Pada saat mereka sedang bermain di situ, saya tetap membaca buku dan kadang main bersama untuk selingan.

Saya juga baca buku sambil leyeh-leyeh di kursi malas. Ketika anak-anak saya sudah jenuh bermain, akhirnya mereka mencari buku di rak. Setelah menemukan yang menarik, mereka membacanya. Maghza yang sudah bisa membaca, dia membaca buku yang dipilihnya dengan bersuara nyaring. Kadang juga dengan suara dalam hati. Sedangkan, Khaira yang belum bisa membaca, dia sekadar membuka-buka buku yang banyak gambarnya. Dia tunjuk-tunjuk gambarnya sambil menyebutkan nama gambar tersebut.

Sedangkan istri saya paling suka membaca di kursi malas tersebut. Untuk membuat kursi malas sendiri memang ide darinya agar rajin baca buku, katanya. Dan dia membuktikannya. Kadang saya dan istri mendamping anak-anak pada saat membaca buku. Kami saling membacakan sebuah cerita yang terdapat dalam buku secara bergantian. Dengan melibatkan secara langsung, tanpa disuruh pun pada akhirnya Maghza sudah mau membaca sebuah buku.

Saya juga kerap membaca di kamar tidur maupun di ruang tamu utama, tepatnya di depan televisi. Saya letakkan begitu saja buku-buku yang saya baca di tempat-tempat tersebut. Biasanya, Maghza maupun istri saya iseng-iseng membuka-buka buku tersebut dan membacanya. Kadang saya mengajak Maghza untuk ke pinggir sawah sambil membawa buku. Di sana kami membaca buku sambil menikmati hawa sejuk dan hamparan sawah yang elok tak terpermanai.

Kini, budaya baca buku menjadi keseharian kami. Maghza sudah punya koleksi bacaannya yang saya beli baik online maupun offline. Kadang dia juga sering titip buku setiap kali saya ke Yogyakarta atau pun Semarang. Dan saya dengan senang hati membelikannya. 

Memberi Teladan dalam Menulis

Tak jauh beda dengan membaca, menulis pun demikian. Saya menulis bisa di mana saja, terutama di ruangan perpustakaan. Pada awalnya saya menulis di lantai atas, sebuah ruangan yang saya jadikan kantor untuk menulis dan membaca. Tapi setelah ada perpustakaan keluarga, saya sering menulis di sana. Apapun keadaannya. Menulis idealnya memang di tempat yang sunyi dan tidak ada suara orang mengobrol, agar bisa menjaga konsentrasi. Tapi di tengah keluarga yang ada anak-anak mencari situasi seperti itu sangat sulit didapatkan. Maka, mau tidak mau harus kompromi dengan keadaan.

Pada awalnya saya terganggu, nyaris tidak bisa konsentrasi membaca dan menulis di tengah-tengah anak-anak yang sedang bercanda dan bersuara keras. Tapi saya lama kelamaan saya bisa beradaptasi dengan situasi tersebut. Alih-alih melarang mereka berisik, malah saya ajak juga untuk menulis maupun membaca. Saya sediakan kertas dan pulpen buat mereka berdua.

Maghza saya beri saran agar menuliska ceritanya waktu di sekolah maupun di rumah. Sedangkan Khaira hanya mencorat-coret saja, karena memang belum bisa menulis dan membaca. Dengan menulis di hadapan mereka, ternyata membuat mereka terlibat. Mereka ingin juga menulis.

Begitu juga dengan istri saya, saya ajak dia menulis cerita yang kelak bisa dijadikan bahan untuk belajar membaca bagi anak didiknya di sekolah. Istri saya adalah seorang guru SD. Jadi, sekalian belajar menulis, sekalian pula berkarya. Saya berharap dengan aktvitas menulis sebagaimana yang sering lihat saya sedang menulis di dekat mereka, mereka juga turut menulis, dan membuktikannya bahwa menulis itu menyenangkan.

Kini, istri saya sudah menyelesaikan naskah pertamanya. Dan Maghza masih dalam proses penyelesaian untuk buku solonya, sedangkan buku antologinya sudah terbit.

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Kebangkitan Nahdlatut Tujjar 

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 569
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Jamal Makmur Asmani Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, tantangan terbesar NU adalah nahdlatut tujjar, kebangkitan ekonomi.  Tashwirul afkar sudah dipresentasikan tafaqquh fiddin di pesantren, madrasah, perguruan tinggi, madin, dan TPQ. Sedangkan nahdlatul wathan sudah menjadi ‘karakter inhern’ NU dalam kiprah kebangsaan dan kemanusiaan. Maka, nahdlatut tujjar masih menjadi bidang yang harus […]

  • Ansor Pati Khataman Quran di Makam Ki Ageng Penjawi

    Ansor Pati Khataman Quran di Makam Ki Ageng Penjawi

    • calendar_month Kam, 19 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 458
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pati menggelar acara 100 Khataman Al Quran di Makam Ki Ageng Penjawi, pagi ini, Kamis (19/9/2019). Acara ini merupakan pembuka dari rangkaian acara Selametan Bumi Pesantenan yang akan dilaksanakan selama dua hari berturut-turut. Anggota Ansor Pati sedang melakukan khataman Al Quran bil ghoib di makan Ki Ageng Penjawi, […]

  • PCNU-PATI

    Lekas PC IPNU IPPNU Pati bakal Pasok 500 Cup Kopi Gratis dalam Peringatan Harlah

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PATI – Lembaga Ekonomi dan Kwirausahaan (Lekas) PC IPNU IPPNU Pati akan memberikan kopi gratis pada puncak Harlah IPNU ke-69 dan IPPNU ke-68 yang digelar di halaman Kantor PCNU setempat, Rabu (8/3/2023). Direktur Lekas PC IPNU Pati Muhammad Azka mengatakan, pihaknya akan menyediakan ratusan cup kopi gratis kepada para jamaah dan kader yang menghadiri […]

  • PCNU-PATI

    LKNU bekerjasama dengan Optik Mitra Aulia Puncel, adakan Pemeriksaan Mata Gratis

    • calendar_month Sen, 24 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. Dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2022 beberapa waktu lalu, Lembaga Kesehatan Nahdaltul Ulama Kabupaten Pati bekerjsama dengan Optik Mitra Aulia mengadakan kegiatan kegiatan  pemeriksaan mata secara gratis serta pemberian kaca mata secara  gratis, 14/10 kemarin. “ Kegiatan ini di sponsori oleh NFG dan Essilor Group merupakan produksen kaca mata yang […]

  • Ansor Pati Komitmen Kawal Pilkada Damai 

    Ansor Pati Komitmen Kawal Pilkada Damai 

    • calendar_month Kam, 26 Sep 2024
    • account_circle admin
    • visibility 547
    • 0Komentar

      PATI – Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pati Abdullah Syafiq menegaskan, bahwa pihaknya berkomitmen mengawal Pilkada damai. Penegasan tersebut disampaikan saat Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) PC GP Ansor Pati di Hotel Safin, Rabu (25/9/2024). Muskercab digelar dengan mengundang jajaran Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Pati. Di dalamnya termasuk jajaran […]

  • Fatayat dan DLH Pati Bersatu Perangi Sampah

    Fatayat dan DLH Pati Bersatu Perangi Sampah

    • calendar_month Sel, 27 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    PATI – Menjaga lingkungan merupakan kewajiban bagi seluruh umat manusia. Bagaimanapun, manusia membutuhkan lingkungan yang baik untuk hidup yang sehat. Dalam konteks islam, hal ini disebut dengan konsep rahmatan lil alamin. Islam yang menjadi payung bagi semesta alam. PC Fatayat NU bersama dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pati, Ir. Purwadi (17/8). Foto: Fatayat NU Alam […]

expand_less