Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
  • visibility 462
  • comment 0 komentar

M. Iqbal Dawami

Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga.

Saya coba sedikit demi sedikit mendekatkan buku kepada masyarakat maupun keluarga saya. Untuk masyarakat memang masih jauh dari bayangan, karena harus bersinergi dengan perangkat desa maupun para tokohnya. Untuk mengenalkan secara kultural masih butuh perjuangan. Saya pernah menawarkan kepada para tetangga apabila ada yang mau baca buku-buku koleksi saya yang letaknya di ruang tamu samping (bukan ruang tamu utama).

“Saya baca buku? Haha…” jawab salah satu dari mereka, seolah tak percaya kalau mereka mau baca buku. Karena membaca masih dianggap tabu. 

Sedangkan untuk keluarga, saya bisa mengontrolnya langsung, karena lebih mudah untuk diarahkan, tidak perlu orang luar. Berikut ini yang saya lakukan untuk keluarga, yakni sebuah ikhtiar dalam menghidupkan literasi di keluarga saya.

Perpustakaan Keluarga

Pertama yang saya lakukan adalah membuat perpustakaan keluarga. Saya buat rak buku yang berukuran 4 x 4 meter. Awalnya buat satu, tapi koleksi bukunya bertambah sehingga tidak bisa menampung lagi, maka saya buat satu rak lagi dengan ukuran yang sama. Koleksi buku yang saya kumpulkan sejak tahun 2007 hingga akhir tahun 2018 mencapai asdadva. Saya kira itu cukup untuk perpustakaan keluarga. Temanya juga beragam, termasuk buku anak-anak, sehingga bisa dibaca oleh kedua anak saya.

Kedua rak buku tersebut saya letakkan di ruang tamu bagian utara. Kebetulan ruangan tersebut tidak terlalu luas dan tidak pula terlalu sempit, sehingga cocok untuk aktivitas membaca dan menulis. Ruangan tersebut juga cukup strategis untuk dilihat anggota keluarga sehingga mudah terjangkau apabila ingin membaca buku-buku tersebut.

Selain itu, para tamu juga dapat meliriknya pada saat masuk ke dalam rumah dan duduk di ruangan tamu utama. Setidaknya letaknya yang strategis akan memudahkan siapapun bagi yang ingin melihat-lihat buku dan syukur-syukur mau membacanya. Hal ini lumayan efektif. Banyak tamu yang datang ke rumah kerap mengomentari koleksi buku tersebut yang katanya sangat banyak.

Bagi tamu yang berkomentar saya ajak mereka untuk melihat-lihat buku tersebut dan mempersilakan apabila mau membacanya, baik di tempat maupun dibawa pulang untuk dipinjam. Ada beberapa yang mau meminjamnya. Bahkan, ada yang berkali-kali meminjamnya untuk dibaca di rumahnya. Setelah dikembalikan, dia pinjam buku yang lainnya lagi.  

Istri dan kedua anak saya, setelah ada rak buku di situ, sering mainnya malah di situ. Ini menjadi satu langkah untuk mendekatkan mereka ke dalam dunia buku.

Mengakrabkan dengan Buku

Setelah selesai membuat rak buku dan menyulap ruang tamu mini sebelah utara dijadikan perpustakaan, langkah selanjutnya adalah mengakrabkan istri dan kedua anak saya dengan buku. Saya tata dengan rapi buku-bukunya. Saya ajak mereka untuk menata buku juga dengan memberikan petunjuk buku-buku mana saja yang disimpan di rak-rak bukunya.

Pada saat menata itu mereka sering menatap lama-lama buku yang dirasa menarik, baik judul maupun covernya. Kadang mereka juga sering bertanya soal isi buku yang judulnya menarik. Begitu juga dengan covernya yang menarik, mereka bertanya kepada saya soal isi bukunya, sambil mereka membuka-buka sendiri. Lambat laun mereka tahu buku-buku yang hendak mereka baca.

Sedangkan Khaira (pada usia 3 tahun), anak saya yang bungsu belum bisa baca, suka “menata” (tepatnya mengacak-acak) sendiri yang sudah saya tata. Saya tidak melarangnya atau menyuruhnya untuk merapikan kembali setelah dia acak-acak. Saya biarkan saja, dengan maksud agar menata buku ala dirinya adalah sebuah kesenangan baru yang tadinya belum dia dapatkan. Dia bongkar buku-buku yang terjangkau olehnya di rak buku. kemudian dia susun sendiri di lantai layaknya mainan.

Lambat laun seiring waktu, akhirnya mereka akrab sendiri dengan buku-buku tersebut. Terlebih setelah saya membeli dua kursi malas.

Memberi Teladan dalam Membaca

Keteladanan menjadi kunci penting sukses tidaknya menghidupkan literasi di keluarga. Saya menyadari itu. Oleh karena itu, saya tidak menyuruh mereka untuk membaca maupun menulis kepada istri dan anak saya. Saya hanya memberi contoh saja. Dengan memberi contoh, mereka akan memperhatikan apa yang sedang saya lakukan. Jadi, saya tidak perlu capek-capek untuk meneriaki dan menuruti saya agar mau membaca dan menulis.

Pada awalnya saya sering baca buku di ruang kerja saya, yakni di lantai atas. Karena tidak mau ada yang mengganggu saya pada saat membaca maupun menulis. Tapi, setelah ada perpustakaan keluarga, saya coba untuk membaca di situ, apapun keadaannya. Pada saat mereka sedang bermain di situ, saya tetap membaca buku dan kadang main bersama untuk selingan.

Saya juga baca buku sambil leyeh-leyeh di kursi malas. Ketika anak-anak saya sudah jenuh bermain, akhirnya mereka mencari buku di rak. Setelah menemukan yang menarik, mereka membacanya. Maghza yang sudah bisa membaca, dia membaca buku yang dipilihnya dengan bersuara nyaring. Kadang juga dengan suara dalam hati. Sedangkan, Khaira yang belum bisa membaca, dia sekadar membuka-buka buku yang banyak gambarnya. Dia tunjuk-tunjuk gambarnya sambil menyebutkan nama gambar tersebut.

Sedangkan istri saya paling suka membaca di kursi malas tersebut. Untuk membuat kursi malas sendiri memang ide darinya agar rajin baca buku, katanya. Dan dia membuktikannya. Kadang saya dan istri mendamping anak-anak pada saat membaca buku. Kami saling membacakan sebuah cerita yang terdapat dalam buku secara bergantian. Dengan melibatkan secara langsung, tanpa disuruh pun pada akhirnya Maghza sudah mau membaca sebuah buku.

Saya juga kerap membaca di kamar tidur maupun di ruang tamu utama, tepatnya di depan televisi. Saya letakkan begitu saja buku-buku yang saya baca di tempat-tempat tersebut. Biasanya, Maghza maupun istri saya iseng-iseng membuka-buka buku tersebut dan membacanya. Kadang saya mengajak Maghza untuk ke pinggir sawah sambil membawa buku. Di sana kami membaca buku sambil menikmati hawa sejuk dan hamparan sawah yang elok tak terpermanai.

Kini, budaya baca buku menjadi keseharian kami. Maghza sudah punya koleksi bacaannya yang saya beli baik online maupun offline. Kadang dia juga sering titip buku setiap kali saya ke Yogyakarta atau pun Semarang. Dan saya dengan senang hati membelikannya. 

Memberi Teladan dalam Menulis

Tak jauh beda dengan membaca, menulis pun demikian. Saya menulis bisa di mana saja, terutama di ruangan perpustakaan. Pada awalnya saya menulis di lantai atas, sebuah ruangan yang saya jadikan kantor untuk menulis dan membaca. Tapi setelah ada perpustakaan keluarga, saya sering menulis di sana. Apapun keadaannya. Menulis idealnya memang di tempat yang sunyi dan tidak ada suara orang mengobrol, agar bisa menjaga konsentrasi. Tapi di tengah keluarga yang ada anak-anak mencari situasi seperti itu sangat sulit didapatkan. Maka, mau tidak mau harus kompromi dengan keadaan.

Pada awalnya saya terganggu, nyaris tidak bisa konsentrasi membaca dan menulis di tengah-tengah anak-anak yang sedang bercanda dan bersuara keras. Tapi saya lama kelamaan saya bisa beradaptasi dengan situasi tersebut. Alih-alih melarang mereka berisik, malah saya ajak juga untuk menulis maupun membaca. Saya sediakan kertas dan pulpen buat mereka berdua.

Maghza saya beri saran agar menuliska ceritanya waktu di sekolah maupun di rumah. Sedangkan Khaira hanya mencorat-coret saja, karena memang belum bisa menulis dan membaca. Dengan menulis di hadapan mereka, ternyata membuat mereka terlibat. Mereka ingin juga menulis.

Begitu juga dengan istri saya, saya ajak dia menulis cerita yang kelak bisa dijadikan bahan untuk belajar membaca bagi anak didiknya di sekolah. Istri saya adalah seorang guru SD. Jadi, sekalian belajar menulis, sekalian pula berkarya. Saya berharap dengan aktvitas menulis sebagaimana yang sering lihat saya sedang menulis di dekat mereka, mereka juga turut menulis, dan membuktikannya bahwa menulis itu menyenangkan.

Kini, istri saya sudah menyelesaikan naskah pertamanya. Dan Maghza masih dalam proses penyelesaian untuk buku solonya, sedangkan buku antologinya sudah terbit.

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekskul et-Diversity MA Salafiyah Gelar Pelatihan Jurnalistik

    Ekskul et-Diversity MA Salafiyah Gelar Pelatihan Jurnalistik

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

      Angga, salah satu pemateri dari wartaphoto.com yang juga redaktur LTN NU Pati sedang semangat menyampaikan materi kepada para peserta pelatihan jurnalistik di MA Salafiyah Kajen MARGOYOSO – Ekstrakurikuler Jurnalistik Et-Diversity Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati adakan pelatihan jurnalistik dasar, Sabtu (30/10/2021) siang. Kegiatan itu bertempat di aula madrasah setempat.  Pada kesempatan […]

  • PCNU - PATI

    Nur Khoiriyah, Terpilih Menjadi Ketua KOPRI

    • calendar_month Rab, 6 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Pati. Nur Khoiriyah, terpilih sebagai Ketua KOPRI PC PMII Pati masa khidmah 2022-2023 pada Konferensi Cabang (Konfercab) XIV PMII Pati di aula bertempat di SMA Muria, 2/7 beberapa waktu lalu. Konfercab merupakan forum tertinggi di level kepengurusan cabang PMII yang meliputi penyampaian LPJ kepengurusan sebelumnya, merumuskan organisasi yang nantinya akan dibawa pemilihan ketua yang baru. […]

  • Menuju Amil Lazisnu yang Profesional dan Kreatif

    Menuju Amil Lazisnu yang Profesional dan Kreatif

    • calendar_month Ming, 1 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 358
    • 0Komentar

      KH MA Sahal Mahfudh (Mbah Sahal) dikenal berhasil dalam mengembangkan zakat, infaq serta sedekah yang berhasil membangun ekonomi warga Kajen, Pati dan sekitarnya. Hal itu menjadi salah satu alasan dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Pati, Jawa Tengah untuk menyelenggarakan pelatihan Madrasah Amil pada Ahad (1/11).     “Keberhasilan Mbah […]

  • PCNU-PATI

    SMA Negeri 02 Pati Salurkan Bantuan Gempa Cianjur Lewat LAZISNU Pati

    • calendar_month Sel, 29 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. Pengurus Cabang Lazisnu Pati menerima bantuan korban gempa Cianjur Jawa Barat, Selasa siang, 29/11/2022 Dalam hal misi kemanusiaan ini kepada korban gempa bumi Cianjur SMA Negeri 02 Pati turut menyumbangkan donasi sebesar 13.127.000.00 dari partisipasi siswa-siswi serta guru dan staf SMA Negeri 02 Pati.  Kepada Tim LAZISNU Pati donasi tersebut kami terima untuk nantinya […]

  • UPZIS MWCNU Tayu Studi Tiru ke Ranting Bae Kudus, Pelajari Pengelolaan Kaleng INUK

    UPZIS MWCNU Tayu Studi Tiru ke Ranting Bae Kudus, Pelajari Pengelolaan Kaleng INUK

    • calendar_month Sel, 6 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.226
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) MWCNU Tayu Pati, melaksanakan kegiatan studi tiru ke UPZIS Ranting Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Ahad (4/1/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Dalam kegiatan itu, rombongan disambut hangat oleh jajaran pengurus UPZIS Ranting Bae bersama pengurus […]

  • LTNNU Pati Dorong Hilirisasi Naskah Kuno untuk Rekonstruksi Identitas Daerah

    LTNNU Pati Dorong Hilirisasi Naskah Kuno untuk Rekonstruksi Identitas Daerah

    • calendar_month Kam, 16 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.072
    • 0Komentar

    ​pcnupati.or.id – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Pati mulai menggencarkan penelusuran naskah kuno di wilayah Bumi Mina Tani. Langkah ini diambil sebagai upaya menyelamatkan warisan budaya leluhur yang terancam hilang atau rusak dimakan usia. ​Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinarpus Kabupaten Pati, Sukardi, usai kegiatan Sosialisasi Identifikasi, Pendaftaran, dan Alih Media Naskah Kuno di […]

expand_less