Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU, Nasionalisme dan Bernegara

NU, Nasionalisme dan Bernegara

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 28 Des 2023
  • visibility 403
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini kita kenal sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia,bahkan tersebar dunia merupakan salah satu ormas yang sudah tidak diragukan lagi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai ormas terbesar di dunia tentunya NU memiliki sumbangsih yang juga besar di masyarakat. Adapun bentuk sumbangsih yang dirasakan masyarakat antara lain yaitu, adanya dakwah dengan nilai-nilai yang humanis dan rahmatan lil-alamin, lembaga pendidikan (formal dan informal), dan adanya koin NU untuk kesejahteraan umat.

Dari beberapa sumbangsih di atas menggambarkan,bahwa kontribusi NU dalam membangun bangsa sangat tinggi dan tidak diragukan kredebilitasnya. Hal ini tidak lepas dari faunding fanthers kita yang memiliki cita-cita besar dalam membangun NKRI. Sehingga, NU hingga sekarang menjadi barometer dunia sebagai ormas yang konsen dalam mengawal dan membangun NKRI.

Selain itu, NU sebagai bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, saat ini dituntut harus mampu mempertahakan keutuhan negara. Bukan tanpa sebab, pada zaman edan saat ini, pola pikir dan gaya hidup ibarat sebuah pertempuran ide atau gagasan-gagasan yang mempertaruhkan identitas ideologi dan tradisi sebuah bangsa. Dalam medan peperangan pun perangkat yang digunakan tidak lagi berbentuk senjata fisik, melainkan lebih mengedepankan sebuah metodologi abstrak yang oleh karenanya pihak lawan akan runtuh oleh anak sejarahnya sendiri.

Oleh sebab itu, NU harus mampu hadir untuk menjaga anak bangsa agar tidak kehilangan identitas kebangsaannya, sekaligus memastikan bahwa moralitas keagamaan dapat dientitaskan untuk semua rakyat Indonesia.

Sedangkan dalamhal ini untuk mengidentifikasi terma nationalism haruslah berangkat dari bentuk dasarnya, yakni nation. Nation sendiri menurut Christophe Jaffrelot berarti orientasi sebuah negara (state oriented), dimana nasionalisme (nationalism) secara sederhana merupakan ideologi jati diri bangsa itu sendiri.  Anthony Smith, sebagaiama dinukil oleh Lowell W. Barrington, beranggapan bahwa bangsa (nation) adalah sebuah nama populasi manusia yang berbagi dalam wilayah sejarah yang sama, mitos yang sama, memiliki berbagai budaya, bahkan konsep ekonomi dan hak-hak hukum untuk semua membernya.  Adapun nasionalisme, masih menurutnya, adalah seperangkat ideologi yang berakar pada rasa solidaritas sebuah bangsa.

Berbicara mengenai bangsa (nation) dan orientasi ideologi gerakannya (nationalism) dalam sebuah negara (state) berarti juga membincang eksistensi manusia di dalamya. Ini berarti bahwa: “The people are the nation and the state exists as the expression of the national will.”

Eksistensi manusia yang tidak bisa lepas dari ruang (space) dan waktu (time) menegaskan bahwa keberadaannya pada suatu masa senantiasa terikat dengan sebuah tempat (place) dalam satu wilayah (region) sebagai wadah untuk menjalani kehidupan sosialnya. Jika konstruksi sosial tersebut baik dan benar, maka wadah inilah yang kelak akan menciptakan berbagai macam laku politik yang terilhami dari sama rasa, sama cinta, dan kepedulian terhadap pengalaman yang sama.

 

Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa nasionalisme sendiri setidaknya memiliki dua jenis tipologi. Pertama, Nasionalisme Ekspansif, yakni sebuah paham ideologi yang mengkultuskan kampung halaman, suku, kabilah dan bangsa tertentu dengan lantas menundukkan bangsa-bangsa lainnya. Kedua, Nasionalisme Formatif, sebuah paham ideologi perlawanan terhadap sistem penjajahan dan penindasan.

Jika kita cermati, tentu jenis yang pertama tidaklah sesuai dengan nilai keislaman. Mengingat sikap fanatisme (at-ta’ashub) menjadi ujung tombak perpecahan kedaulatan antar bangsa, bahkan juga negara. Adapun yang kedua justru mampu bersinergi dengan ajaran Islam. Sebab kecintaan terhadap tanah air (hubb al-wathan), pembebasan (al-hurriyah) dari segala bentuk penindasan dan penjajahan, serta mempererat tali persaudaran (al-ukhwah) justru merupakan bagian penting dari ajaran universal Islam itu senidiri. Sebab Islam dan Nasionalisme adalah entitas eklusif yang saling berhubungan.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Pati Berharap Pembahasan Raperda Pesantren Segera Dituntaskan

    PCNU Pati Berharap Pembahasan Raperda Pesantren Segera Dituntaskan

    • calendar_month Rab, 26 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

    PATI – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati berharap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren yang tengah dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, segera disahkan.  Hal itu diungkap oleh Ketua PCNU Pati, KH Yusuf Hasyim. Pihaknya mendesak agar Raperda tersebut segera dibahas dan diselesaikan. Pihaknya juga akan mengadakan audiensi dengan […]

  • PCNU Pati Lantik Pengurus KBIH ZAM-ZAM NU

    PCNU Pati Lantik Pengurus KBIH ZAM-ZAM NU

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 571
    • 0Komentar

    Berdasarkan  hasil keputusan KBIH Zam-Zam NU Pati Pada 16 Oktober 2015 bertempat di Gemilang Resto Juwana yang telah menetapkan ketua terpilih mengantikan ketua lama yaitu H. Sa’dullah dengan menyusun Pengurus KBIH Zam-Zam NU yang baru Periode II Tahun 2015-2019, maka terpilihlah H. Mustamaji sebagai Ketua yang baru.             “Harapan saya ketua yang baru ini akan […]

  • Pemimpin Tegas Pemberani

    Pemimpin Tegas Pemberani

    • calendar_month Jum, 21 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 615
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Jamal Makmur Salah satu kader terbaik NU Pati telah berpulang ke rahmatullah, yaitu KH. Imam Shofwan. Beliau pernah menduduki posisi puncak sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Pati periode 2009-2013. Beliau terpilih bersama KH. Asmui Syadzali dalam konferensi NU di Pondok Ar-Roudloh At-Thohiriyyah asuhan KH. A. Mu’adz Thohir Kajen Margoyoso Pati. Beliau menggantikan KH. […]

  • Rutinan Fatayat NU Desa Tegalarum Dihadiri Dokter RSI

    Rutinan Fatayat NU Desa Tegalarum Dihadiri Dokter RSI

    • calendar_month Ming, 5 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id MARGOYOSO-PAC Fatayat NU Kecamatan Margoyoso bekerjasama dengan Pimpinan Ranting Desa Tegalarum menggelar pertemuan rutin di Desa Tegalarum. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (3/3). Pesertanya terdiri dari semua anggota PAC Fatayat NU Margoyoso. Bukan hanya itu, perwakilah masing-masing pengurus ranting juga hadir. Namun, dalam pertemuan rutin tersebut ada yang istimewa. Pasalnya, selain kader Fatayat setempat, […]

  • Ini Cara GP Ansor Lahar Ramaikan Hari Santri

    Ini Cara GP Ansor Lahar Ramaikan Hari Santri

    • calendar_month Ming, 24 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 413
    • 0Komentar

      Ruang ‘studio’ talk show yang diselenggarakan oleh PR GP Ansor Desa Lahar, Tlogowungu PATI – Pengurus Ranting Ansor Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati,  gelar Talk Show bertema “Reorientasi SDM Unggul untuk Mencegah Lost Generation”, Sabtu, (23/1) malam. Kegiatan yang dilakukan secara virtual melalui google meet ini diadakan dalam rangka memperiangati Hari Santri Nasional […]

  • Semarak Hari Santri, MA Manahijul Huda Ngagel Adakan Lomba Baca Kitab Kuning

    Semarak Hari Santri, MA Manahijul Huda Ngagel Adakan Lomba Baca Kitab Kuning

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 3.763
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Santri 2025, MA Manahijul Huda Ngagel, Dukuhseti, Pati, menggelar berbagai lomba, salah satunya Lomba Baca Kitab Kuning yang berlangsung pada Rabu (22/10/2025). Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Ah. Nasyith, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud karakteristik madrasah sebagai lembaga pendidikan yang menanamkan ilmu agama dan melestarikan tradisi intelektual para […]

expand_less