Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Detik-Detik Kecelakaan di Kamar Hotel

Detik-Detik Kecelakaan di Kamar Hotel

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 31 Jul 2022
  • visibility 294
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Ruangan dengan puluhan lampu gantung bernuansa remang-remang dan eksotis itu sebenarnya sangat cocok untuk sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta. Namun sayang, seringkali hanya sebagai tempat membuang penat dan pelampiasan stress.

Seperti gadis yang saat ini duduk bersama lelaki di sudut bar lounge dekat bartender. Sepintas mereka seperti sepasang kekasih, tapi jika benar-benar diamati sang lelaki hanya berfungsi sebagai pengawal, bukan pacar. Meskipun sebetulnya sangat cocok menjadi kekasihnya.

“Gimana, Juan? Kamu mau tidur denganku? One night stand.”

Suara gadis itu beradu dengan suara Daniel Caesar yang sedang melantunkan lagu berjudul H.E.R. Namun masih bisa tertangkap jelas oleh sang lawan bicara. Lelaki dengan balutan kemeja coksu yang duduk dengan setia menemaninya. Entah sudah berapa kali mulut gadis itu meracau menyebut kalimat yang sama. Tapi tak diindahkan sama sekali oleh Juan.

“Stop, Manda. Cukup! Ayo aku antar pulang!”

Amanda. Gadis dengan outfit rok pendek kuning membakar mata dan blouse putih berenda itu mulai hilang keseimbangan setelah menenggak dua gelas vodka. Kini ia berada dalam fase euforia. Satu jam yang lalu, Juan masih bisa bersabar mendengar keluh kesah gadis itu. Tapi semakin kesini kelakuan Manda semakin tak terkendali. Alkohol telah menguasai separuh kesadarannya. Mulutnya terus meracau dan bicaranya ngelantur. Kadang menangis lalu tertawa seperti orang sinting. Kepercayaan diri gadis berambut panjang itu meledak-ledak.

“One more glass. Oke?” Manda mengerling sambil tersenyum menggoda.

“No!”

Juan berusaha menahan tangan Manda yang bergerak memberi isyarat ke bartender. Namun segera diabaikan gadis itu. Manda kembali melambaikan tangan dan segelas vodka tersaji dalam sekejap saja. Manda menyesap cairan berwarna putih bening dari cocktail glass miliknya. Ini adalah gelas vodka ketiga yang ditenggak secara brutal oleh gadis berkulit terang itu. Dan Juan hanya bisa kembali menghembuskan napas kasar melihat Manda meringis setelah menelan isi gelasnya.

“Manda!”

 Suara Juan sedikit meninggi saat Manda kembali meminta satu gelas lagi ke bartender. Ia tak tega melihat Manda menyakiti dirinya sendiri. Sudah lama ia mengenal Manda sebagai gadis independent yang ceria. Baru kali ini ia melihat gadis itu serapuh ini. Namun mengingat masalah yang dialami gadis itu Juan berusaha memaklumi. Mungkin kalau masalah itu membelitnya, ia juga akan sefrustasi Manda.

“Satu gelas lagi. Kalau tidak kamu harus mau tidur denganku, hem?” Manda terkekeh geli. Juan menatap gadis itu dengan sorot prihatin sekaligus kesal.

“Aku tahu ini berat. Tapi  bukan seperti ini penyelesaiannya. Ayo aku antar pulang.” 

“Jawab dulu! apa kau mau tidur denganku?”

Juan menatap Manda frustasi. “Kau tak mau menikah denganku tapi ingin tidur denganku? Kau pikir aku apa? Ayo kita menikah dulu. Setelah itu terserah kita mau apa.” Ditatapnya tajam gadis itu. Manda justru menyeringai.

“Juan … Aku harus menemukan pembunuh Sarah. Aku yakin dia dibunuh.” Manda kembali meracau. Sejak tadi bicaranya tidak terarah. Berbagai topik dicampur aduk seperti gado-gado.

“Tapi kau takkan bisa menemukan pembunuh adikmu kalau mabuk begini.”

Manda tertawa sumbang. Matanya yang sayu kini menerawang ke langit-langit.  Teringat lagi kenangan pahit dua bulan yang lalu—dimana Sarah adiknya ditemukan tewas di dasar jurang. Berita itu sontak menggegerkan warga dan menjadi trending topik dimana-mana. Bahkan masih viral di beberapa media sosial. Seorang gadis remaja mengenakan seragam bar waitress ditemukan tewas di jurang Keping daerah Binowo. Sebuah penggalan judul tragis menghiasi koran-koran langganan Surabaya dan menjadi caption pembuka sebuah video berita layar televisi maupun media sosial.

Tidak hanya itu yang membuat dirinya frustasi. Tapi juga kelakuan ayahnya yang suka main perempuan dan berperilaku kasar pada ibunya. Hingga membuat sang ibu tertekan lalu terkena serangan jantung. Manda bertambah hancur saat ibunya dinyatakan meninggal di rumah sakit Medika Kasih Jakarta Selatan dua hari yang lalu. Ia kehilangan satu-satunya tumpuan sekaligus pelipur lara.

Belum sembuh dari masa terpuruknya, ia kembali dihantam badai kehidupan. Sebuah berita datang dari sudut komplek Kamboja kemarin. Bahwa lelaki idamannya–Ustadz Alif baru saja melepas masa lajang. Lelaki soleh nan tampan itu mempersunting  seorang perempuan solihah pilihan orang tuanya—yang disinyalir anak seorang kiai dari daerah Ampel.

Para tetangga memanggil istri sang ustadz dengan sebutan “Ning.” Entah apa artinya “Ning” itu. Mungkin sama saja dengan “Mbak” tapi nada memanggilnya terdengar lebih terhormat seperti memanggil seorang putri raja. Manda tak begitu mengerti dan tak mau mengerti. Yang jelasl lengkap sudah penderitaannya.

“Jika aku dilahirkan lagi. Aku ingin jadi anaknya Kiai, juan. Aku tidak mau jadi anak si keparat Sutarman itu.” Manda kembali menyesap vodkanya yang tinggal separuh. Mulutnya tak berhenti mengumpat lelaki bergelar ayah dalam hidupnya.

“Jika aku anak kiai pasti Ustadz Alif maju menikah denganku. Iya kan?” Manda berusaha keras agar kepalanya tak membentur meja. Tangannya mencengkeram kaki gelas coctail miliknya.

“Belum tentu juga, Manda. Meskipun kau anak kiai jika dia bukan jodohmu maka kalian tidak akan bersatu. Yang menurutmu baik untukmu belum tentu baik dimata Tuhan.”

Manda mendecih, “Jangan sok ceramah. Kau takkan bisa menyaingi Ustadz Alif. Itulah mengapa aku tidak mau menikah denganmu. Dia hafal Alquran, tampan, mapan. Heeemm?”

Juan tersenyum miring. Ia malas menghitung jawaban penolakan Manda atas cinta tulusnya. Sepanjang hayat mungkin gadis itu hanya akan menganggapnya sebagai seorang sahabat. Sahabat yang perasaannya tak pernah dianggap serius. Terlebih setiap lelaki metroseksual itu mengungkapkan cinta. Manda pasti akan tertawa. Seolah kalimat Juan sebuah lelucon belaka. Juan sepenuhnya paham dengan alasan Manda yang secara terang-terangan menolaknya. Penghalang terbesar itu adalah karena ia seorang non muslim.

“Seandainya kau mau memberiku kesempatan dan mendengarku sekali saja, aku pasti rela meninggalkan kepercayaanku dan mengikuti agamamu,” gumam juan lebih terdengar seperti bicara pada dirinya sendiri. Lelaki itu akhirnya ikut menenggak segelas vodka.

“Jika kau bisa kembali ke masa lalu, kau mau jadi apa?”

“Jadi anak kiai juga.”

Mereka lalu tertawa bersama.

“Ya, mari jadi anaknya kiai, Juan.”

“Apa kau mau menikah denganku jika aku jadi anaknya ulama?”

“Akan aku pikirkan. Kau tahu, aku sudah cinta mati sama si jahanam Alif. Aku ingin balas dendam jika bisa kembali di masa lalu.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan belajar sungguh-sungguh dan jadi orang berguna. Aku juga akan bersama-sama dengan Sarah belajar Al-Quran. Kita akan dipanggil ning. Ning Nang Ning Gluuung. Hahahaha.” Juan terpaksa ikut tertawa meski ia semakin prihatin. Manda terbatuk-batuk dan Juan menepuk punggung gadis itu pelan.

“Orang sepertiku takkan punya masa depan cerah, Juan. Aku dan adikku akan selalu dipandang hina. Sampah masyarakat. Bahkan mamamu yang berkalung salib itu pun takkan mau menerimaku,” lanjutnya tersenyum getir. Kemudian tertawa sumbang sebentar, meningkahi alunan lagu Location Unknown oleh Honne dan Beka.

Ya, selain Juan adalah non muslim, ia juga memiliki seorang mama yang perfeksionis. Jangankan Manda yang merupakan gadis dari keluarga broken home. Yang dari keluarga baik-baik belum tentu ia terima menjadi menantu. Mungkin itu juga yang membuat Manda tak menganggap serius perasaan Juan. Di mata Manda, Juan adalah anak mama.

“Ayo pulang, Manda. Kau butuh istirahat.”

Juan menepuk lengan Manda dan bersiap membantu gadis itu berdiri. Alih-alih menuruti perkataan Juan, Manda justru terkekeh geli. Sudah gelas ketiga atau mungkin keempat. Alkohol semakin membakar kerongkongan Manda dan merenngut kesadarannya. Dia mabuk berat. Tubuhnya lunglai dengan menyisakan sedikit kesadaran. Dengan terpaksa Juan mengangkat tubuh Manda. Gadis itu berjalan sempoyongan dalam rengkuhan Juan. Ia terus saja mengoceh. Kadang bersenandung, tertawa, menangis, bersenandung lagi. Membuat Juan geleng-geleng kepala.

“Lihatlah, semandiri dan sekuat apa kamu. Kamu tetap butuh bahu orang lain untuk menumpahkan segala keluh kesah,” desah Juan sambil berjalan menuju lorong yang menghubungkan bar dengan hotel.

Demi melindungi kehormatan gadis itu, tak mungkin Juan mengantarnya pulang ke rumah. Lagipula di rumah ada seorang ayah yang tak bertanggung jawab. Juan takut Manda akan semakin jadi pelampiasan amarah seperti ibunya. Tak mungkin juga Juan membawanya pulang. Bagaimanapun sang mama takkan setuju ia membawa pulang seorang gadis yang sedang teler. Maka kaki-kaki panjangnya segera bergerak menuju resepsionis untuk memesan kamar. Rencananya ia akan segera meninggalkan Manda begitu gadis itu tidur di kamar hotel. Namun manusia biasanya hanya bisa berencana, Tuhan lah yang akan menentukan. Tergantung manusia itu akan melangkah kemana. Mengikuti seruan Tuhan atau malah mengikuti bujukan setan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Setelah Jepara, Giliran Lazisnu Grobogan Bantu Korban Bencana Pati

    • calendar_month Kam, 29 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id PATI – Di tengah maraknya bencana yang terjadi di Indonesia, tingkat kepedulian masyarakat menjadi meningkat. Bahkan sebagian masyarakat tergerak merogoh kocek lebih dalam untuk membantu sesamanya yang menjadi korban bencana.  Bantuan yang datang pun beragam, mulai dari uang, sembako, pakaian layak pakai. Justru, menurut pantauan Lazisnu Pati, bantuan non-tunai inilah yang dibutuhkan korban yang […]

  • NU dan Wirausaha Masyarakat

    NU dan Wirausaha Masyarakat

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Sejak berdirinya tahun 1926, Nahdlatul Ulama menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU mempunyai keunikan tersendiri karena berbasis di pedesaan (urban-based organization), unggul dalam mengembangkan pendidikan Islam tradisional, yaitu pesantren yang tersebar terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimatan Selatan, Sulawesi Selatan dan Mataram. Hal ini menyakinkan kita semua bahwa NU memang organisasi […]

  • Halalbihalal, Ma'arif NU Jateng Diharap Lanjutkan Program

    Halalbihalal, Ma’arif NU Jateng Diharap Lanjutkan Program

    • calendar_month Ming, 21 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 336
    • 0Komentar

    Halalbihalal, Ma’arif NU Jateng Diharap Lanjutkan Program Pcnupati.or.id- Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Tengah menggelar Halalbihalal dan Koordinasi Persimanu dan Bimtek SIMNU versi 2 pada Kamis (18/5/2023) di Hotel Muria Semarang. Hadir Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH. Muhammad Muzamil, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, […]

  • Katib Syuriyah NU Gembong Sebut Kriteria Aswaja

    Katib Syuriyah NU Gembong Sebut Kriteria Aswaja

    • calendar_month Rab, 5 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 416
    • 0Komentar

    GEMBONG – pcnupati.or.id – Safari Ramadhan Tarawih Keliling (Tarling) MWC-NU Gembong memasuki putaran ke tiga, Rabu (5/4) malam. Tarling kali ini dilaksanakan di Masjid Rohmatul Ummah, Desa Ketanggan. Dalam kesempatan tersebut, Katib Syuriyah MWC-NU Gembong, KH. Muzakki, menyampaikan beberapa ciri ahlus sunnah wal jama’ah. “Ada sepuluh kriteria Aswaja, tapi saya sampaikan salah satunya saja,” ungkap […]

  • Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

    Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

    • calendar_month Rab, 1 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Kedalaman ilmu, kebeningan hati, keagungan moral, dan kearifan hidup tidak lahir tiba-tiba. Ia membutuhkan asupan ilmu, bimbingan rohani, dan pancaran cahaya Ilahi dari orang-orang di sekitarnya. Peran keluarga dan lingkungan sangat vital untuk membentuk pribadi agung di atas. Salah pribadi agung tersebut adalah KH. Ahmad Nafi’ Abdillah. Beliau lahir dari lingkungan keluarga yang sangat religius, […]

  • Menunggu Jamaah sambil I’tikaf

    Menunggu Jamaah sambil I’tikaf

    • calendar_month Ming, 11 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Bolehkah bagi seseorang, setiap menunaikan sholat jama’ah sekalian berniat i’tikaf dimasjid? Apakah ketika ia keluar (pulang) dari masjidseketika itu i’tikafnya langsung dihukumi batal? Jawaban :Hukum I’tikaf adalah sunah muakkadah jika kita tidak bernadzar untuk melakukannya, dan disayogyakan bagi kita untuk melakukan i’tikaf ketika kita memasuki masjid untuk melakukan semisal membaca al-quran, belajar, berdzikir […]

expand_less