Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 10 Apr 2022
  • visibility 344
  • comment 0 komentar

(Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta)

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan agar anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Hal ini juga dipraktekkan oleh  Wali Songo dalam menyebarkan agama Allah dengan cara penuh kasih sayang dan kedamaian. Sehingga, Islam bisa masuk ke Nusantara tidak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat, melainkan Wali Songo mendakwahkan Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan. Melalui  strategi kebudayaan  itulah Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah.

Dari wayang kulit di atas, ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Ritual doa-doa, jampi-jampi, dan mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa kala itu, pelan-pelan diganti oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk kalimah syahadat. Melalui kalimah syahadat tersebut, pelan-pelan masyarakat Jawa masuk Islam tanpa ada paksaan, dan pelan-pelan kalimah syahadat menjelma menjadi mantera keseharian masyarakat saat melakukan ritual.

Dengan demikian, dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif dalam mengubah mindset masyarakat adalah dengan cara kebudayaan masyarakat yang di dalamnya dikemas dan disisipkan nilai-nilai Islam dalam suatu budaya.

Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, budaya yang baik akan dipertahankan, sedangkan budaya yang tidak baik akan diganti dengan budaya yang bermanfaat dan dibenarkan.

Maka dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna mengamalkan firman Allah, ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmah wal maw’idhatil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Artinya:Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik.” Dengan cara dan startegi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang. Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13. Tetapi, benar-benar dianut dan dipilih oleh warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali Songo. Sehingga dari itu, Jawa bisa diislamkan tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat memeluk agama Islam tanpa ada paksaan, kekerasan, dan intimidasi. (Siswanto)

Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil alamin

(Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta)

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan agar anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Hal ini juga dipraktekkan oleh  Wali Songo dalam menyebarkan agama Allah dengan cara penuh kasih sayang dan kedamaian. Sehingga, Islam bisa masuk ke Nusantara tidak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat, melainkan Wali Songo mendakwahkan Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan. Melalui  strategi kebudayaan  itulah Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah.

Dari wayang kulit di atas, ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Ritual doa-doa, jampi-jampi, dan mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa kala itu, pelan-pelan diganti oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk kalimah syahadat. Melalui kalimah syahadat tersebut, pelan-pelan masyarakat Jawa masuk Islam tanpa ada paksaan, dan pelan-pelan kalimah syahadat menjelma menjadi mantera keseharian masyarakat saat melakukan ritual.

Dengan demikian, dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif dalam mengubah mindset masyarakat adalah dengan cara kebudayaan masyarakat yang di dalamnya dikemas dan disisipkan nilai-nilai Islam dalam suatu budaya.

Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, budaya yang baik akan dipertahankan, sedangkan budaya yang tidak baik akan diganti dengan budaya yang bermanfaat dan dibenarkan.

Maka dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna mengamalkan firman Allah, ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmah wal maw’idhatil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Artinya:Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik.” Dengan cara dan startegi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang. Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13. Tetapi, benar-benar dianut dan dipilih oleh warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali Songo. Sehingga dari itu, Jawa bisa diislamkan tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat memeluk agama Islam tanpa ada paksaan, kekerasan, dan intimidasi. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LPPNU Pati Turut Serta dalam Penanaman Pohon di Pegunungan Kendeng

    LPPNU Pati Turut Serta dalam Penanaman Pohon di Pegunungan Kendeng

    • calendar_month Sel, 18 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 668
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Dalam rangka penghijauan di Pegunungan Kendeng, Laskar Lereng Muria (LLM) bekerja sama dengan beberapa organisasi kemasyarakatan, termasuk Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Pati, melakukan penanaman seribu pohon. Penanaman itu tepatnya di wilayah Desa Kedungwinong, Kecamatan Sukolilo, Pati, Selasa (18/2/2025). Ketua LPPNU Kabupaten Pati, Sutrisno mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian […]

  • Launching Menara Masjid, Hadirkan Az-Zahir

    Launching Menara Masjid, Hadirkan Az-Zahir

    • calendar_month Rab, 8 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

    WEDARI JAKSA – Masjid Baiturrahman Desa Tlogoharum, Kecamatan Wedarijaksa meresmikan, melaunching menara masjid dengan menggelar tasyakuran bertajuk sholawatan menghadirkan Habib Ali Zainal Abidin Assegaf dari Pekalongan. Acara tersebut dihadiri Bupati Pati, H. Haryanto didampingi oleh Forkopimcam, ada Kapolsek dan Komandan Koramil Kecamatan Wedarijaksa (Selasa malam, 7/06/2022). Bupati Pati, H. Haryanto mengatakan, “Selamat atas berdirinya Menara […]

  • Instruktur Kaderisasi IPNU-IPPNU Kabupaten Turun Gunung

    Instruktur Kaderisasi IPNU-IPPNU Kabupaten Turun Gunung

    • calendar_month Kam, 18 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Instruktur kaderisasi PC IPNU IPPNU KAB. PATI lakukan breefing untuk memaksimalkan kader IPNU IPPNU di tingkatan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) PATI-Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) adalah salah satu pendidikan kaderisasi tingkatan awal atau pintu masuk untuk menjadi anggota IPNU dan IPPNU. Madrasah Miftahul Huda (MMH) Tayu adalah salah satu madrasah yang memiliki Pimpinan komisariat IPNU IPPNU […]

  • Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

    Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

    • calendar_month Kam, 16 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.736
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Semarak bola Indonesia tengah gundah gulana. Kisah-kisah manis Shin Tae-yong terpaksa harus segera menjadi kenangan. Sedangkan nakhoda baru, Patrick Kluivert datang berlapis tuxedo dan berjalan diatas karpet merah bermerk PSSI dengan penuh kepercayaan diri. Self confident seorang Kluivert jelas nampak saat berhadapan dengan Najwa Shihab dalam sebuah wawancara. Meski sesekali […]

  • Fenomena FOMO Ramadan

    Fenomena FOMO Ramadan

    • calendar_month Ming, 23 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda*   Apa to sakjane FOMO kuwi? Fear of Missing Out atau FOMO pada intinya perasaan cemas ketinggalan pengalaman atau aktivitas tertentu yang sering muncul saat Rmadan. Fenomena Ramadan intinya perasaan cemas atau takut ketinggalan momen-momen berharga selama bulan Ramadan. Fenomena ini seringkali dipicu oleh media sosial, ya Facebook, Instagram, TikTok, X, di […]

  • PCNU-PATI Photo by Angèle Kamp

    Puisi-Puisi Eska Mariska

    • calendar_month Ming, 4 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Hembusan Masa Lalu hembusan cerita masa lalu sampai di telinga angin membawanya begitu cepat luka, kecewa, dan patah berulang kembali tak berarah menggiring keputusasaan mendekap kepiluan merusak kepercayaan hadirnya tak lagi menggenggam terganti untuk dilepaskan 26 September 2022 Tentang Kamu Kamu adalah bagian dari masa lalu Sekejap terasa indah dalam ingatan Kemudian terasa sakit untuk […]

expand_less