Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 10 Apr 2022
  • visibility 376
  • comment 0 komentar

(Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta)

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan agar anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Hal ini juga dipraktekkan oleh  Wali Songo dalam menyebarkan agama Allah dengan cara penuh kasih sayang dan kedamaian. Sehingga, Islam bisa masuk ke Nusantara tidak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat, melainkan Wali Songo mendakwahkan Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan. Melalui  strategi kebudayaan  itulah Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah.

Dari wayang kulit di atas, ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Ritual doa-doa, jampi-jampi, dan mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa kala itu, pelan-pelan diganti oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk kalimah syahadat. Melalui kalimah syahadat tersebut, pelan-pelan masyarakat Jawa masuk Islam tanpa ada paksaan, dan pelan-pelan kalimah syahadat menjelma menjadi mantera keseharian masyarakat saat melakukan ritual.

Dengan demikian, dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif dalam mengubah mindset masyarakat adalah dengan cara kebudayaan masyarakat yang di dalamnya dikemas dan disisipkan nilai-nilai Islam dalam suatu budaya.

Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, budaya yang baik akan dipertahankan, sedangkan budaya yang tidak baik akan diganti dengan budaya yang bermanfaat dan dibenarkan.

Maka dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna mengamalkan firman Allah, ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmah wal maw’idhatil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Artinya: “ Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik.” Dengan cara dan startegi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang. Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13. Tetapi, benar-benar dianut dan dipilih oleh warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali Songo. Sehingga dari itu, Jawa bisa diislamkan tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat memeluk agama Islam tanpa ada paksaan, kekerasan, dan intimidasi. (Siswanto)

Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil alamin

(Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta)

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan agar anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Hal ini juga dipraktekkan oleh  Wali Songo dalam menyebarkan agama Allah dengan cara penuh kasih sayang dan kedamaian. Sehingga, Islam bisa masuk ke Nusantara tidak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat, melainkan Wali Songo mendakwahkan Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan. Melalui  strategi kebudayaan  itulah Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah.

Dari wayang kulit di atas, ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Ritual doa-doa, jampi-jampi, dan mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa kala itu, pelan-pelan diganti oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk kalimah syahadat. Melalui kalimah syahadat tersebut, pelan-pelan masyarakat Jawa masuk Islam tanpa ada paksaan, dan pelan-pelan kalimah syahadat menjelma menjadi mantera keseharian masyarakat saat melakukan ritual.

Dengan demikian, dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif dalam mengubah mindset masyarakat adalah dengan cara kebudayaan masyarakat yang di dalamnya dikemas dan disisipkan nilai-nilai Islam dalam suatu budaya.

Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, budaya yang baik akan dipertahankan, sedangkan budaya yang tidak baik akan diganti dengan budaya yang bermanfaat dan dibenarkan.

Maka dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna mengamalkan firman Allah, ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmah wal maw’idhatil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Artinya: “ Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik.” Dengan cara dan startegi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang. Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13. Tetapi, benar-benar dianut dan dipilih oleh warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali Songo. Sehingga dari itu, Jawa bisa diislamkan tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat memeluk agama Islam tanpa ada paksaan, kekerasan, dan intimidasi. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Muwaffiq Hadir di Gembong? Ini Jawaban Panitia

    Gus Muwaffiq Hadir di Gembong? Ini Jawaban Panitia

    • calendar_month Kam, 25 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    GEMBONG-Isyu akan hadirnya seorang kiai nyentrik, Gus Muwaffiq di Gembong kian menggema. Beberapa pecinta Gus asal Jogja ini mulai mempertanyakan kebenaran kabar burung ini. Namun tidak seorangpun bisa memberikan jawabab pasti. Entah darimana info ini beredar, yang jelas masyarakat menginginkan kejelasan akan berita ini. Dari kiri : K. Sholikhin (ketua MWC-NU Gembong), M. Subhan (ketua […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Gelar Orientasi Pengurus Harian

    PC IPNU IPPNU Pati Gelar Orientasi Pengurus Harian

    • calendar_month Ming, 3 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Suasana orientasi pengurus harian PC IPNU IPPNU Pati PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati menggelar orientasi bagi pengurus harian di Sendang Sani, Kecamatan Tlogowungu, Sabtu-Minggu (2-3/10). Kegiatan ini dalam rangka merumuskan dan menata strategi organisasi selama satu periode. Ahmad Khoirul Anam Ketua Panitia Orientasi menuturkan, dalam kegiatan ini mengundang sejumlah alumni untuk memberikan pandangannya […]

  • Jepara Juara Umum Persimanu I Ma'arif NU Jateng

    Jepara Juara Umum Persimanu I Ma’arif NU Jateng

    • calendar_month Ming, 16 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 681
    • 0Komentar

    Purbalingga – Perkemahan Prestasi Ma’arif NahdlatuI Ulama (Persimanu) I Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU (Sakoma NU) JawaTengah telah berakhir pada Sabtu (15/7/2023) di Bumi Perkemahan Munjulluhur Kabupaten Purbalingga yang dimulai pada pada Rabu (12/7/2023). Ketua Sakoma NU Jawa Tengah Kak H. Shobirin mengatakan, bahwa kegiatan Persimanu I Jawa Tengah tahun 2023 berlangsung lancar sampai penutupan […]

  • PCNU- PATI

    Ketua PCNU Cerita Pengalaman Haji : Tidak Bisa Mencium Hajar Aswad (2-habis)

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 501
    • 0Komentar

    WINONG – Cerita haji dari ketua PCNU Pati belum usai. Bahkan untuk menceritakan seputar pelayanan pemerintah, KH. Yusuf Hasyim memaparkannya selama hampir dua jam.  Banyak servis pemerintah yang sangat memuaskan, mulai dari kesehatan, makanan dan bahkan tempat menginap.  Pelayanan lain yang juga sangat membekas adalah servis lapangan. Menurutnya, disepanjang jalan, ada petugas PPIH yang memberikan […]

  • PCNU-PATI Photo by Malik Skydsgaard

    Fenomena Prostitusi dalam Perspektif Fiqih Sosial Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Sab, 26 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prostitusi didefinisikan sebagai pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan atau pelacuran. Aktifitas seksual yang terjadi dalam prostitusi bukan lahir karena hubungan sah suami-istri, melainkan karena adanya transaksi “penjual” dan “pembeli”. Dari sini sudah jelas sekali, bahwa prostitusi merupakan praktik bisnis perzinaan berbayar […]

  • Bersama KKN IAIN Kudus, PAC IPNU IPPNU Dukuhseti Sosialisasikan Pendirian Komisariat

    Bersama KKN IAIN Kudus, PAC IPNU IPPNU Dukuhseti Sosialisasikan Pendirian Komisariat

    • calendar_month Sab, 11 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    Para Pengurus Anak Cabang IPNU dan IPPNU Dukuhseti berpose bersama mahasiswa KKN IAIN Kudus DUKUHSETI – Bekerjasama dengan tim KKN IAIN Kudus, PAC IPNU IPPNU Kecamatan Dukuhseti akan melakukan sosialisasi terkait pendirian komisariat di MTs dan MA se-Kecamatan Dukuhseti. Untuk menyiapkan segala sesuatunya, PAC IPNU IPPNU Dukuhseti dan tim KKN IAIN Kudus mengadakan rapat terkait […]

expand_less