Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Genghis Khan dan Rajawalinya

Genghis Khan dan Rajawalinya

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 26 Sep 2022
  • visibility 430
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Gengis Khan, seorang raja bengis dan kejam dari Mongolia, mempunyai burung Rajawali. Suatu ketika burung Rajawalinya menumpahkan cawan yang berisi air yang hendak diminum Gengis Khan. Ketika cawan itu diisi kembali, pada saat itu pula Rajawali menumpahkannya. Gengis Khan kesal bukan main. Sekali lagi menumpahkan air yang hendak diminumnya, Rajawalinya akan dia bunuh, ujar Gengis Khan. Dan betul saja, ketika Gengis Khan mengisi cawannya lagi, si Rajawali itu menumpahkannya, dan pada saat itu Gengis Khan menghunuskan pedangnya, memenggal leher Rajawali.

Ketika air yang ada dalam cawannya hendak diminum, rupanya air itu bau bangkai. Dan ketika menelusuri aliran sungai yang diambilnya ternyata di hulu ada bangkai binatang. Gengis Khan berpikir sejenak, rupanya Rajawali hendak menyelamatkan dirinya dari penyakit. Gengis Khan menyesal bukan main. Dia kembali ke perkemahannya dengan burung Rajawali yang sudah mati itu dalam pelukannya. Dia memerintahkan kepada prajuritnya supaya dibuatkan patung emas burung itu, dan di salah satu sayapnya dia mengukirkan kata-kata berikut ini:

Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu.

Dan di sayap satunya lagi, dia mengukirkan kata-kata:

Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.

Pembaca yang budiman, hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas? Barangkali adalah kita tidak boleh tergesa-gesa “mengeksekusi” tuduhan terhadap sesuatu yang negatif. Banyak motif yang menyelutinya. Seorang kawan, misalnya, berbuat buruk kepada kita, kemudian kita dengan serta merta memutus tali persahabatan, tentu itu merupakan tindakan yang tidak kalah buruk juga dengan yang dilakukan temannya. Mestinya kita tidak perlu sejauh itu bereaksi.

Dalam Cacing dan Kotoran Kesayangannya (2011), Ajahn Brahm bercerita perihal dua bata jelek. Suatu ketika dia memasang batu bata untuk membangun vihara. Sebagai amatiran, dia berusaha sebaik mungkin menata batu bata hingga menjadi sebuah bangunan. Dia tidak peduli berapa lama waktu yang hendak dia habiskan, asalkan dia bisa menata bata secara baik.

Dengan kesabaran yang tinggi Brahm dapat menyelesaikan satu tembok pertamanya. Dia kagum melihatnya. Sekilas terlihat rapi. Tapi, ketika diperhatikan secara seksama, rupanya ada dua batu bata yang tampak miring. Jelek sekali kelihatannya. Kedua bata itu merusak kerapian tembok. Dan sialnya, dua batu bata itu sudah tidak bisa dirapikan karena semennya sudah mengeras.

Tak ada cara lain, Brahm dan biksu lainnya harus membongkar kembali tembok tersebut. Namun, usaha itu dicegah oleh kepala Vihara. Biarkan saja, ujarnya. 

Ketika Ajahn Brahm membawa tamunya berkeliling di wiharanya yang baru setengah jadi, dia selalu menghindarkan para tamu dari tembok itu. Ajahn Brahm tidak suka jika ada orang lain yang melihatnya. Hingga 3-4 bulan berlalu, ada seorang pengunjung yang melihatnya.

“Itu tembok yang indah,” komentar seorang pengunjung dengan santai.

“Pak,” Ajahn Brahm menjawab dengan terkejut, ”apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”

Sang pengunjung pun berkata ”Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus”. Lalu Ajahn Brahm pun tertegun. Dia seolah tak percaya ada yang memandang dengan cara lain. Mungkin dia bertanya-tanya dalam hati, ‘iya juga, kenapa aku hanya berfokus pada batu bata yang jelek dan tidak melihat yang lainnya’. Itu membuat pelajaran berharga baginya yang dapat diterapkan dalam bidang lainnya. 

Pelajaran dari batu bata itu bisa kita seret ke dalam kehidupan kita. Misalnya, kita seringkali melihat keburukan/kelemahan kita terus bukan kelebihan kita. Hal itu membuat kita rendah diri, penuh rasa bersalah, dan tidak percaya diri. Padahal, di luar itu ada banyak kelebihan yang kita punya. Hanya saja lantaran kita fokus pada kekurangan, akhirnya kelebihan itu tidak terlihat. Jadi jangan cemaskan “dua bata” jelek yang ada dalam diri kita, maka kita pun hidup akan akan baik-baik saja. Kita akan mudah menerima diri sendiri dari segala kekurangan yang melekat dalam diri.   

Persahabatan kadangkala dihinggapi hal demikian juga. Ini masih terkait dengan kisah di atas perihal pemutusan persahabatan. Tidak sedikit orang terjebak demikian sehingga membuat banyak orang memproduksi permusuhan alih-alih penguatan perkariban. Hanya orang-orang yang menyadari tamsil batu bata itulah yang akan selamat dari permusuhan dan segala kebencian. Karena, dia akan terus menjaga perspektif bahwa segala kekurangan temannya tidak akan menghilangkan rasa cinta terhadapnya.

Karena nila setitik rusa susu sebelanga, begitu peribahasa mengatakan. Gara-gara  melakukan sebuah peristiwa keburukan hancurlah segala kebaikan kita. Semua orang menghukum kita dengan pelbagai cara mereka masing-masing. Mungkin itu akan menyakitkan kita. Tapi lihatlah orang yang benar-benar tulus mencintai kita, mereka akan tetap setiap kepada kita. Mereka tetap mencoba menghubungkan tali silaturahmi. Mereka itu bisa keluarga, sahabat, maupun orang lain yang tahu diri kita yang sesungguhnya.

Sepasang suami-istri akan tetap rukun dan setia apabila memegang prinsip “tembok indah di antara 2 bata jelek”. Keduanya akan memaklumi segala kekurangan yang tidak seberapa dalam diri pasangan mereka masing-masing. Mereka lebih melihat kepada kelebihannya yang begitu banyak ketimbang keburukannya yang sedikit. Kalau sudah begitu “dua bata jelek” itu akan menjadi “penghias dan hiburan” yang membuat mereka selalu dinamis dalam menjalankan biduk rumah tangga. Mereka akan sama-sama menertawakan “dua bata jelek” itu. 

 “Dua bata jelek” juga menjadi tanda bahwa kita adalah manusia yang selalu mempunyai kekurangan (di samping kelebihannya). Maka, sudah sepantasnyalah kekurangan-kekurangan  yang ada dalam diri kita disikapi secara wajar. Al-Insanu mahalill khatha’ wan nisyan, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Pesantren dan Madrasah Diberi Pelatihan Kewirausahaan oleh BRI Kanca Pati

    • calendar_month Jum, 9 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Kemandirian melalui pengembangan kewirausahaan terus digalakkan di madrasah dan pondok pesantren. Sebab, lembaga pendidikan keagamaan tersebut mulai mengembangkan produk unggulannya agar bisa mendukung perekonomian sehingga menjadi lebih mandiri.  Demi mendukung kemandirian dan berkembangnya wirausaha di madrasah dan pesantren di wilayah Kabupeten Pati, BRI Kantor Cabang Pati mengadakan program Digitalisasi Pendidikan dan Kemandirian 1000 Madrasah […]

  • brown wooden chess piece on brown book

    Satu Banding Dua

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Dalam kajian ushul fiqh ada bab naskh (revisi atau amandemen hukum). Naskh adalah menghilangkan hukum lama dengan hukum baru dengan dasar dalil. Naskh hanya ada pada era Nabi. Pasca Nabi tidak lagi ada naskh, namun jika hukum tidak berlaku itu karena konteks yang belum mendukung. Sebab naskh ini adalah karena hukum […]

  • Kenang Mbah Moen, Santri PAATQ Gelar Shalat Ghaib

    Kenang Mbah Moen, Santri PAATQ Gelar Shalat Ghaib

    • calendar_month Sel, 6 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 369
    • 0Komentar

    GEMBONG-Ribuan Santri Ponpes Anak-Anak Tahfidhul Qur’an (PPATQ) Raudlatul Falah Bermi Gembong menggelar shalat ghaib. Shalat ghaib kali ini ditujukan untuk KH. Maimun Zubair yang tutup usia di Makkah Selasa (6/8) pagi waktu setempat. Sholat ghaib bersama di PPATQ Raudlatul Falah Bermi yang diikuti oleh santri PPATQ Shola ghoib yang diikuti oleh segenap santru dan asatidz […]

  • Hukum Mengirim Sticker Inna Lillah dan Copas Doa untuk Orang Meninggal

    Hukum Mengirim Sticker Inna Lillah dan Copas Doa untuk Orang Meninggal

    • calendar_month Ming, 18 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 604
    • 0Komentar

    Hadirnya media sosial sebagai media dalam memudahkan berbagai aktifitas, sudah menjadi realitas keseharian. Hal ini juga berlaku bagi orang yang hendak kirim al-fatihah atau doa. Biasanya kalau ada kabar duka orang meninggal dunia di grup Whatsapp, dalam hitungan detik setelah kabar duka muncul, langsung disambut balasan doa dan al-fatihah dalam bentuk stiker atau teks yang […]

  • SDN Petompon 02 Gelar IHT Penyusunan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam: Perkuat Kompetensi Guru Hadapi Tantangan Kurikulum

    SDN Petompon 02 Gelar IHT Penyusunan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam: Perkuat Kompetensi Guru Hadapi Tantangan Kurikulum

    • calendar_month Jum, 26 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 353
    • 0Komentar

      Semarang – SD Negeri Petompon 02 Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, menggelar kegiatan In House Training (IHT) bertajuk “Penyusunan RPP Pembelajaran Mendalam” pada Selasa (23/9/2025). Acara yang berlangsung di Ruang Kelas 6 C ini menghadirkan akademisi sekaligus pakar pendidikan dasar, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., sebagai narasumber utama. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB ini […]

  • PCNU-PATI

    Sedang Tuhan Pun Cemburu

    • calendar_month Sen, 12 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Sedang Tuhan pun Cemburu adalah sekumpulan esai-esai yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan. Mulai dari kritik-kritik sosial seperti permasalahan narkotika dan seks ; politik seperti korupsi yang merajalela *rupanya korupsi memang sudah menjamur sejak dulu hiks* ; agama tentang seni islami dan dakwah ; sampai budaya di bahas di sini. Semuanya ditulis secara bernas oleh […]

expand_less