Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Genghis Khan dan Rajawalinya

Genghis Khan dan Rajawalinya

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 26 Sep 2022
  • visibility 567
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Gengis Khan, seorang raja bengis dan kejam dari Mongolia, mempunyai burung Rajawali. Suatu ketika burung Rajawalinya menumpahkan cawan yang berisi air yang hendak diminum Gengis Khan. Ketika cawan itu diisi kembali, pada saat itu pula Rajawali menumpahkannya. Gengis Khan kesal bukan main. Sekali lagi menumpahkan air yang hendak diminumnya, Rajawalinya akan dia bunuh, ujar Gengis Khan. Dan betul saja, ketika Gengis Khan mengisi cawannya lagi, si Rajawali itu menumpahkannya, dan pada saat itu Gengis Khan menghunuskan pedangnya, memenggal leher Rajawali.

Ketika air yang ada dalam cawannya hendak diminum, rupanya air itu bau bangkai. Dan ketika menelusuri aliran sungai yang diambilnya ternyata di hulu ada bangkai binatang. Gengis Khan berpikir sejenak, rupanya Rajawali hendak menyelamatkan dirinya dari penyakit. Gengis Khan menyesal bukan main. Dia kembali ke perkemahannya dengan burung Rajawali yang sudah mati itu dalam pelukannya. Dia memerintahkan kepada prajuritnya supaya dibuatkan patung emas burung itu, dan di salah satu sayapnya dia mengukirkan kata-kata berikut ini:

Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu.

Dan di sayap satunya lagi, dia mengukirkan kata-kata:

Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.

Pembaca yang budiman, hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas? Barangkali adalah kita tidak boleh tergesa-gesa “mengeksekusi” tuduhan terhadap sesuatu yang negatif. Banyak motif yang menyelutinya. Seorang kawan, misalnya, berbuat buruk kepada kita, kemudian kita dengan serta merta memutus tali persahabatan, tentu itu merupakan tindakan yang tidak kalah buruk juga dengan yang dilakukan temannya. Mestinya kita tidak perlu sejauh itu bereaksi.

Dalam Cacing dan Kotoran Kesayangannya (2011), Ajahn Brahm bercerita perihal dua bata jelek. Suatu ketika dia memasang batu bata untuk membangun vihara. Sebagai amatiran, dia berusaha sebaik mungkin menata batu bata hingga menjadi sebuah bangunan. Dia tidak peduli berapa lama waktu yang hendak dia habiskan, asalkan dia bisa menata bata secara baik.

Dengan kesabaran yang tinggi Brahm dapat menyelesaikan satu tembok pertamanya. Dia kagum melihatnya. Sekilas terlihat rapi. Tapi, ketika diperhatikan secara seksama, rupanya ada dua batu bata yang tampak miring. Jelek sekali kelihatannya. Kedua bata itu merusak kerapian tembok. Dan sialnya, dua batu bata itu sudah tidak bisa dirapikan karena semennya sudah mengeras.

Tak ada cara lain, Brahm dan biksu lainnya harus membongkar kembali tembok tersebut. Namun, usaha itu dicegah oleh kepala Vihara. Biarkan saja, ujarnya. 

Ketika Ajahn Brahm membawa tamunya berkeliling di wiharanya yang baru setengah jadi, dia selalu menghindarkan para tamu dari tembok itu. Ajahn Brahm tidak suka jika ada orang lain yang melihatnya. Hingga 3-4 bulan berlalu, ada seorang pengunjung yang melihatnya.

“Itu tembok yang indah,” komentar seorang pengunjung dengan santai.

“Pak,” Ajahn Brahm menjawab dengan terkejut, ”apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”

Sang pengunjung pun berkata ”Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus”. Lalu Ajahn Brahm pun tertegun. Dia seolah tak percaya ada yang memandang dengan cara lain. Mungkin dia bertanya-tanya dalam hati, ‘iya juga, kenapa aku hanya berfokus pada batu bata yang jelek dan tidak melihat yang lainnya’. Itu membuat pelajaran berharga baginya yang dapat diterapkan dalam bidang lainnya. 

Pelajaran dari batu bata itu bisa kita seret ke dalam kehidupan kita. Misalnya, kita seringkali melihat keburukan/kelemahan kita terus bukan kelebihan kita. Hal itu membuat kita rendah diri, penuh rasa bersalah, dan tidak percaya diri. Padahal, di luar itu ada banyak kelebihan yang kita punya. Hanya saja lantaran kita fokus pada kekurangan, akhirnya kelebihan itu tidak terlihat. Jadi jangan cemaskan “dua bata” jelek yang ada dalam diri kita, maka kita pun hidup akan akan baik-baik saja. Kita akan mudah menerima diri sendiri dari segala kekurangan yang melekat dalam diri.   

Persahabatan kadangkala dihinggapi hal demikian juga. Ini masih terkait dengan kisah di atas perihal pemutusan persahabatan. Tidak sedikit orang terjebak demikian sehingga membuat banyak orang memproduksi permusuhan alih-alih penguatan perkariban. Hanya orang-orang yang menyadari tamsil batu bata itulah yang akan selamat dari permusuhan dan segala kebencian. Karena, dia akan terus menjaga perspektif bahwa segala kekurangan temannya tidak akan menghilangkan rasa cinta terhadapnya.

Karena nila setitik rusa susu sebelanga, begitu peribahasa mengatakan. Gara-gara  melakukan sebuah peristiwa keburukan hancurlah segala kebaikan kita. Semua orang menghukum kita dengan pelbagai cara mereka masing-masing. Mungkin itu akan menyakitkan kita. Tapi lihatlah orang yang benar-benar tulus mencintai kita, mereka akan tetap setiap kepada kita. Mereka tetap mencoba menghubungkan tali silaturahmi. Mereka itu bisa keluarga, sahabat, maupun orang lain yang tahu diri kita yang sesungguhnya.

Sepasang suami-istri akan tetap rukun dan setia apabila memegang prinsip “tembok indah di antara 2 bata jelek”. Keduanya akan memaklumi segala kekurangan yang tidak seberapa dalam diri pasangan mereka masing-masing. Mereka lebih melihat kepada kelebihannya yang begitu banyak ketimbang keburukannya yang sedikit. Kalau sudah begitu “dua bata jelek” itu akan menjadi “penghias dan hiburan” yang membuat mereka selalu dinamis dalam menjalankan biduk rumah tangga. Mereka akan sama-sama menertawakan “dua bata jelek” itu. 

 “Dua bata jelek” juga menjadi tanda bahwa kita adalah manusia yang selalu mempunyai kekurangan (di samping kelebihannya). Maka, sudah sepantasnyalah kekurangan-kekurangan  yang ada dalam diri kita disikapi secara wajar. Al-Insanu mahalill khatha’ wan nisyan, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ribuan Guru di Pati Kampanye Anti Bullying

    Ribuan Guru di Pati Kampanye Anti Bullying

    • calendar_month Ming, 9 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 559
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Ribuan guru di Kabupaten Pati kampanyekan anti bullying (perundungan) terhadap anak. Aksi ini dikemas dalam acara jalan sehat, yang berpusat di Gedung Olah Raga (GOR) Pesantenan, Minggu (8/7/2023) pagi. Pada jalan sehat itu, juga terdapat sejumlah Doorprize bagi para peserta yang beruntung. Ada hadiah umroh, sepeda motor elektrik, dua ekor kambing, televisi, dan ratusan […]

  • Instruktur Kaderisasi IPNU-IPPNU Kabupaten Turun Gunung

    Instruktur Kaderisasi IPNU-IPPNU Kabupaten Turun Gunung

    • calendar_month Kam, 18 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 543
    • 0Komentar

    Instruktur kaderisasi PC IPNU IPPNU KAB. PATI lakukan breefing untuk memaksimalkan kader IPNU IPPNU di tingkatan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) PATI-Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) adalah salah satu pendidikan kaderisasi tingkatan awal atau pintu masuk untuk menjadi anggota IPNU dan IPPNU. Madrasah Miftahul Huda (MMH) Tayu adalah salah satu madrasah yang memiliki Pimpinan komisariat IPNU IPPNU […]

  • 2000 Bibit Mangrove Ditanam di Pesisir Bulumanis Kidul

    2000 Bibit Mangrove Ditanam di Pesisir Bulumanis Kidul

    • calendar_month Ming, 8 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Seorang mahasiswa sedang menanam bibit mangrove di bibir antai Bulumanis Kidul PATI-Kabupaten Pati memiliki pantai sepanjang 60 kilometer yang membentang dari wilayah Kecamatan Dukuhseti hingga Batangan. Namun demikian, masih terdapat beberapa titik  lokasi yang perlu diperhatikan karena masih banyak kawasan pesisir yang rusak akibat abrasi serta akresi. Salah satu upaya pelestarian di kawasan yang telah […]

  • PCNU-PATI

    Mencetak Kader Kiai Sahal; Pusat Fisi Adakan Sekolah Fiqh Sosial

    • calendar_month Sen, 17 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pusat Studi Pesantren dan Fiqh Sosial (PUSAT FISI) kembali menyelenggarakan Sekolah Fiqh Sosial, Kamis (23/04/2023) kemarin. Acara yang telah diadakan untuk ketiga kalinya ini bertempat di aula 2 lantai 2 kampus Institut Pesantren Mathali’ul Falah Pati. Acara ini diikuti oleh 27 peserta, terdiri dari mahasiswa IPMAFA lintas prodi dan beberapa santri dari berbagai pesantren […]

  • PCNU-PATI Photo by Pawel Czerwinski

    Pernikahan Kritis Part 2

    • calendar_month Ming, 24 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 460
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Najila segera menegakkan punggung. Baru pukul setengah tiga dini hari. Para santri Al-Mukmin pasti sudah banyak yang bangun jam segini. Ada yang mengerjakan tugas kuliah, tahajud, atau melakukan hal lain. Dia juga harus bergegas, mengenyahkan rasa malas. Jika terus-terusan memeluk guling seperti ini, hanya akan membuatnya terjebak oleh rasa sedih berkepanjangan. […]

  • Bedah buku “Sing Penting Nulis Terus”

    Bedah buku “Sing Penting Nulis Terus”

    • calendar_month Sab, 25 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 440
    • 0Komentar

    Pati. Serangkaian acara dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-85, Yayasan Pendidikan Islam Manahijul Huda (YAPIM) kemarin,  LPS Cendekia mengadakan acara bedah buku dengan judul “Sing Penting NUlis Terus” karya Hamidullah Ibda M.Pd. Acara ini dibuka resmi oleh H. Baidlowi Ahmad S. Pd.I dan ditutup dengan do’a oleh H. Ali Makhtum di Aula MA […]

expand_less