Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Suami yang Menulis untuk Kesembuhan Sang Istri

Suami yang Menulis untuk Kesembuhan Sang Istri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 27 Feb 2023
  • visibility 333
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Ini memang hanya sebuah film. Tapi, film ini mampu meresap ke dalam jiwa dan pikiranku. Ia mampu mengaduk-aduk emosiku dengan sedemikian kuat. Mungkin karena film tersebut dekat dengan duniaku: suami, istri, buku, dan tulis-menulis. Otak bawah sadarku menuntun ke dalam film tersebut bahwa lelaki yang ada dalam film itu adalah aku. 

Bagiku film 1778 Stories of Me and My Wife bukanlah film biasa. Karena ia mampu membuat aku termenung dan menyentak relung kesadaranku. Karena pesan film ini menjadi semacam lonceng pengingat bagi seorang suami untuk selalu mencintai istri hingga nafas terakhir. Dan karena—tentu saja—film ini bagus untuk ditonton.

 Film ini adalah kisah tentang seorang suami yang berusaha mencoba “memperpanjang” usia istrinya yang terkena penyakit kanker rahim. Lantaran penyakitnya itu, sang istri terkena vonis mati tidak kurang dari satu tahun lagi. Seorang suami bernama Sakutaro yang berprofesi seorang penulis science fiction, dan istrinya bernama Setsuko seorang pegawai bank. Keduanya hidup normal dan bahagia. Setiap kali menulis, Sakutaro selalu menyerahkan hasil tulisannya terlebih dahulu ke istrinya untuk dibaca dan diberi masukan. Dengan kata lain, istrinya adalah pembaca pertama karya-karya Sakutaro sebelum diserahkan ke penerbit. 

 Suatu hari istrinya jatuh sakit. Saat diperiksa ke Rumah Sakit, rupanya terkena penyakit kanker usus besar. Saat konsultasi ke dokter, Sakutaro diberi tahu agar tidak membuatnya sedihdemi memperpanjang usia istrinya. Tertawa adalah satu-satunya “obat” alami yang paling manjur agar sang istri menjadi sembuh. Tertawa akan membawa sistem imun. Lantas, apa yang harus dirinya lakukan agar istrinya selalu tertawa? Dia hanyalah seorang penulis sci-fic yang cenderung serius dan “logis-ilmiah” cerita-ceritanya. Sempat dia putus asa dan kehilangan cara. Hingga suatu hari dia melihat boneka lucu yang selalu tertawa di toko loak. Dia membelinya. Aha, dia mendapatkan ide. Dia akan menulis cerita lucu sebanyak 3 halaman setiap hari. Dia yakin cara ini akan berhasil. Karena hanya ini satu-satunya yang bisa dia lakukan sebagai penulis.

Tapi, rupanya tidak semudah itu membuat cerita lucu. Istrinya kebingungan saat membaca cerita pertamanya. Tidak seperti biasanya, yakni tentang science fiction. Ceritanya sungguh tidak jelas. Istrinya menganggap tulisan tersebut tak lebih merupakan esai, alih-alih cerita lucu. Tapi, Setsuko menghargai usaha suaminya.

            “Sejak kapan kamu menulis esai?” tanya Setsuko.

            “Ini bukan esai. Ini fiksi. Tidak lucu ya?” ujar Sakutaro.

            Bukannya menjawab, Setsuko malah balik tanya, “Serial baru, ya?”

            “Ini bukan karya. Aku sedang menulis cerpen setiap hari.”

            “Untuk apa?” tanya Setsuko.

            “Untuk kamu.”

            Setsuko tersipu malu. “Hanya untuk aku?”

            “Ya, hanya untuk kamu.”

Sakutaro terus mencoba menulis cerita lucu. Berkali-kali ia gagal. Tapi, ia tidak patah semangat. Ia coba lagi, gagal lagi, coba lagi, gagal lagi, sampai suatu hari istrinya tertawa membaca ceritanya. Puji Tuhan, ia berhasil membuat cerita yang membuat istrinya tertawa. Kegigihannya membawa hasil. Setiap hari ia menulis satu cerita lalu diserahkan kepada istrinya. Saat membacanya, mereka berdua tertawa bersama. Selalu begitu.

 Tak terasa lima tahun sudah mereka lalui. Dan Setsuko masih hidup. Ini sebuah keajaiban. Mereka sudah mematahkan prediksi dokter soal batas maksimal orang yang terkena kanker usus besar, dimana biasanya tidak sampai lima tahun sudah meninggal. Suami istri ini senang bukan kepalang. Untuk merayakannya, mereka  jalan-jalan ke Hokkaido. Di sana ada sebuah tempat yang ingin mereka singgahi sejak lama.

Meski Setsuko bisa melewati waktu lima tahun, penyakit kankernya tetap tak dapat disembuhkan. Alih-alih sembuh, kanker tersebut malah mulai menyebar di sekujur tubuhnya. Setsuko kemudian dirawat di rumah sakit. Selama di rumah sakit, Sakutaro tetap menulis. Ia berjanji akan terus membuat cerita-cerita lucu untuk dibaca(kan) istrinya. Suatu ketika istrinya sudah tidak bisa membaca lagi, karena semua organ tubuh sudah sulit digerakkan. Ia hanya bisa tidur dan sesekali membuka matanya.

Tapi, Sakutaro tetap menulis. Bahkan ia bertekad untuk menulis 10 atau 50 tahun lagi. Namun, karena istrinya sudah tidak kuat membaca, bahkan membuka matanya, maka Sakutaro sendiri yang membacakan kisah-kisahnya. Tulisannya pun menjadi beragam, tidak melulu soal cerita lucu. Bahkan, kebanyakan kisahnya adalah tentang kenangan dan mimpi-mimpi mereka. Pada tulisan yang ke 1777, istrinya meninggal. Dan keesokan harinya pada saat keluarga dan kerabatnya mempersiapkan upacara terakhir, ia menulis untuk istrinya yang terakhir kali, tulisan yang ke 1778.

Pada akhirnya, bagi Sakutaro, menulis tidak hanya sebuah upaya memperpanjang usia istrinya, tetapi juga upaya penyelamatan dirinya dari segala keputusasaan. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai penulis. Dengan kata lain, menulis setiap hari adalah sebentuk doa harian bagi dia dan istrinya agar bisa diberi umur yang panjang dan dikuatkan dari segala cobaan.   

Bagiku film ini adalah sebuah inspirasi cinta sejati. Suami istri yang mencoba saling menghargai dan membahagiakan dengan caranya masing-masing. Banyak momen-momen menyentuh yang dapat dijadikan teladan. Konon, film ini diangkat dari kisah nyata dari seorang penulis bernama Taku Mayumura. Aku berdoa semoga Allah selalu merahmati dirinya dan almarhum istrinya. Semoga karyanya terus memberi pencerahan bagi pembacanya.    

Akhirul kalam, terpujilah untuk Tsuyoshi Kusanagi yang memerankan Sakutaro dan Yuko Takeuchi sang pemeran Setsuko. Kalian memerankannya dengan apik sekali. Terpujilah bagi orang-orang yang berada di belakang layar, seperti penulis skenario, sutradara, dan yang lainnya. Kalian telah berhasil menyuguhkan film bagus dan memberi pesan yang indah. Dan terpujilah seseorang yang sudah merekomendasikan film ini. Semoga hidupmu selalu dirahmati oleh Allah Swt.[]     

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lima Hari Sekolah di Pati Resmi Dibatalkan, PCNU Bergembira

    Lima Hari Sekolah di Pati Resmi Dibatalkan, PCNU Bergembira

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 541
    • 0Komentar

      PCNUPati.or.id, Pati – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati resmi membatalkan kebijakan lima hari sekolah, Jumat (8/8/2025). Alasan pembatalan kebijakan yang telah berjalan sebulan ini pun terungkap saat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati menyerahkan SK ke PCNU Pati. Keputusan ini tertuang dalam surat keputusan (SK) perihal penyesuaian hari sekolah dan penguatan karakter anak melalui kegiatan […]

  • PR Fatayat NU Desa Gembong Terbentuk, PAC : Kami Marathon

    PR Fatayat NU Desa Gembong Terbentuk, PAC : Kami Marathon

    • calendar_month Ming, 13 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    KH. Masruhin, menyaksikan penyerahan amanah jabatan Ketua Pimpinan Ranting Fatayat NU Gembong oleh ketua PAC Fatayat NU Gembong, Munfarichah (tengah) kepada Yeni Munifah GEMBONG – Setelah sekian lama vakum, Fatayat NU Ranting Desa Gembong resmi dibentuk pada Sabtu (12/3) kemarin. Peristiwa bersejarah tersebut dilaksanakan di Gedung MWC NU, Jalan Raya Gembong-Colo, Km. 1, Gembong.  KH. […]

  • Peringati Hari Santri dan Maulid, Pemuda Desa Asempapan Gelar Jalan Sehat

    Peringati Hari Santri dan Maulid, Pemuda Desa Asempapan Gelar Jalan Sehat

    • calendar_month Sab, 16 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 262
    • 0Komentar

    IPNU IPPNU memimpin barisan jalan sehat pemuda Desa Asempapan Jumat (15/10) kemarin TRANGKIL – Dalam rangka memperingati hari santri dan maulid Nabi Muhammad SAW, para pemuda Desa Asempapan menggelar kegiatan jalan sehat, Jumat (15/10). Aditya Setia Wardani, Sekretaris Panitia mengatakan, kegiatan ini terselenggara atas kerjasama IJMA’ (Ikatan Jamaah Masjid  Warotsatul Anbiya’), Karang Taruna Panji Satria […]

  • Wiwik Hartati Terima Pengharagaan Penulis Terbaik

    Wiwik Hartati Terima Pengharagaan Penulis Terbaik

    • calendar_month Sen, 24 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Temanggung –     Wiwik Hartati Kepala Madrasah MTs Ma’arif Nurul Huda Kaloran yang juga Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia Satu Pena Temanggung, mendapat penghargaan sebagai penulis terbaik (Best Writer) kategori Cerpen yang berjudul “Kekecewaan Jingga“. Penghargaan tersebut diberikan oleh Forum Pena Literasi Guru (FPLG) Kabupaten Temanggung, dalam peluncuran enam buku antologi karya guru, di Aula Ki […]

  • Penuh Khidmah Acara Naharul Ijtima’ di Kec Gembong

    Penuh Khidmah Acara Naharul Ijtima’ di Kec Gembong

    • calendar_month Sab, 28 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Kabar NU Pati: Naharul Ijtima’ PCNU Kabupaten Pati pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2015 berlangsung di Kecamatan Gembong. Sebagai tuan rumah MWC NU Gembong memilih Masjid Besar Baitul Muttaqin Kecamatan Gembong sebagai tempat berlangsungnya kegiatan. Hampir seluruh Pengurus MWC NU serta Pengurus Ranting se-Kecamatan hadir, seperti KH. Ahmad Jaelani, Kyai Sholikhin, Kyai Nur Hasyim. […]

  • Photo by Andrew varnum

    Pluralisme sebagai Pilar Kerukunan

    • calendar_month Sab, 11 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Dalam tataran empiris, kerukunan antar-umat beragama di Indonesia sudah mulai kelihatan progres perkembangnya dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Hal ini tidak lepas dari peran dari elemen masyarakat, lebih-lebih saat Gus Dur menjabat sebagai presiden. Dimana, beliau selalu memberikan contoh sikap yang menjunjung tinggi keadilan dan menghargai kemajemukan tanpa membedakan, agama,ras, etnik, adat-istiadat, dan […]

expand_less