Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Suami yang Menulis untuk Kesembuhan Sang Istri

Suami yang Menulis untuk Kesembuhan Sang Istri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 27 Feb 2023
  • visibility 454
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Ini memang hanya sebuah film. Tapi, film ini mampu meresap ke dalam jiwa dan pikiranku. Ia mampu mengaduk-aduk emosiku dengan sedemikian kuat. Mungkin karena film tersebut dekat dengan duniaku: suami, istri, buku, dan tulis-menulis. Otak bawah sadarku menuntun ke dalam film tersebut bahwa lelaki yang ada dalam film itu adalah aku. 

Bagiku film 1778 Stories of Me and My Wife bukanlah film biasa. Karena ia mampu membuat aku termenung dan menyentak relung kesadaranku. Karena pesan film ini menjadi semacam lonceng pengingat bagi seorang suami untuk selalu mencintai istri hingga nafas terakhir. Dan karena—tentu saja—film ini bagus untuk ditonton.

 Film ini adalah kisah tentang seorang suami yang berusaha mencoba “memperpanjang” usia istrinya yang terkena penyakit kanker rahim. Lantaran penyakitnya itu, sang istri terkena vonis mati tidak kurang dari satu tahun lagi. Seorang suami bernama Sakutaro yang berprofesi seorang penulis science fiction, dan istrinya bernama Setsuko seorang pegawai bank. Keduanya hidup normal dan bahagia. Setiap kali menulis, Sakutaro selalu menyerahkan hasil tulisannya terlebih dahulu ke istrinya untuk dibaca dan diberi masukan. Dengan kata lain, istrinya adalah pembaca pertama karya-karya Sakutaro sebelum diserahkan ke penerbit. 

 Suatu hari istrinya jatuh sakit. Saat diperiksa ke Rumah Sakit, rupanya terkena penyakit kanker usus besar. Saat konsultasi ke dokter, Sakutaro diberi tahu agar tidak membuatnya sedihdemi memperpanjang usia istrinya. Tertawa adalah satu-satunya “obat” alami yang paling manjur agar sang istri menjadi sembuh. Tertawa akan membawa sistem imun. Lantas, apa yang harus dirinya lakukan agar istrinya selalu tertawa? Dia hanyalah seorang penulis sci-fic yang cenderung serius dan “logis-ilmiah” cerita-ceritanya. Sempat dia putus asa dan kehilangan cara. Hingga suatu hari dia melihat boneka lucu yang selalu tertawa di toko loak. Dia membelinya. Aha, dia mendapatkan ide. Dia akan menulis cerita lucu sebanyak 3 halaman setiap hari. Dia yakin cara ini akan berhasil. Karena hanya ini satu-satunya yang bisa dia lakukan sebagai penulis.

Tapi, rupanya tidak semudah itu membuat cerita lucu. Istrinya kebingungan saat membaca cerita pertamanya. Tidak seperti biasanya, yakni tentang science fiction. Ceritanya sungguh tidak jelas. Istrinya menganggap tulisan tersebut tak lebih merupakan esai, alih-alih cerita lucu. Tapi, Setsuko menghargai usaha suaminya.

            “Sejak kapan kamu menulis esai?” tanya Setsuko.

            “Ini bukan esai. Ini fiksi. Tidak lucu ya?” ujar Sakutaro.

            Bukannya menjawab, Setsuko malah balik tanya, “Serial baru, ya?”

            “Ini bukan karya. Aku sedang menulis cerpen setiap hari.”

            “Untuk apa?” tanya Setsuko.

            “Untuk kamu.”

            Setsuko tersipu malu. “Hanya untuk aku?”

            “Ya, hanya untuk kamu.”

Sakutaro terus mencoba menulis cerita lucu. Berkali-kali ia gagal. Tapi, ia tidak patah semangat. Ia coba lagi, gagal lagi, coba lagi, gagal lagi, sampai suatu hari istrinya tertawa membaca ceritanya. Puji Tuhan, ia berhasil membuat cerita yang membuat istrinya tertawa. Kegigihannya membawa hasil. Setiap hari ia menulis satu cerita lalu diserahkan kepada istrinya. Saat membacanya, mereka berdua tertawa bersama. Selalu begitu.

 Tak terasa lima tahun sudah mereka lalui. Dan Setsuko masih hidup. Ini sebuah keajaiban. Mereka sudah mematahkan prediksi dokter soal batas maksimal orang yang terkena kanker usus besar, dimana biasanya tidak sampai lima tahun sudah meninggal. Suami istri ini senang bukan kepalang. Untuk merayakannya, mereka  jalan-jalan ke Hokkaido. Di sana ada sebuah tempat yang ingin mereka singgahi sejak lama.

Meski Setsuko bisa melewati waktu lima tahun, penyakit kankernya tetap tak dapat disembuhkan. Alih-alih sembuh, kanker tersebut malah mulai menyebar di sekujur tubuhnya. Setsuko kemudian dirawat di rumah sakit. Selama di rumah sakit, Sakutaro tetap menulis. Ia berjanji akan terus membuat cerita-cerita lucu untuk dibaca(kan) istrinya. Suatu ketika istrinya sudah tidak bisa membaca lagi, karena semua organ tubuh sudah sulit digerakkan. Ia hanya bisa tidur dan sesekali membuka matanya.

Tapi, Sakutaro tetap menulis. Bahkan ia bertekad untuk menulis 10 atau 50 tahun lagi. Namun, karena istrinya sudah tidak kuat membaca, bahkan membuka matanya, maka Sakutaro sendiri yang membacakan kisah-kisahnya. Tulisannya pun menjadi beragam, tidak melulu soal cerita lucu. Bahkan, kebanyakan kisahnya adalah tentang kenangan dan mimpi-mimpi mereka. Pada tulisan yang ke 1777, istrinya meninggal. Dan keesokan harinya pada saat keluarga dan kerabatnya mempersiapkan upacara terakhir, ia menulis untuk istrinya yang terakhir kali, tulisan yang ke 1778.

Pada akhirnya, bagi Sakutaro, menulis tidak hanya sebuah upaya memperpanjang usia istrinya, tetapi juga upaya penyelamatan dirinya dari segala keputusasaan. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai penulis. Dengan kata lain, menulis setiap hari adalah sebentuk doa harian bagi dia dan istrinya agar bisa diberi umur yang panjang dan dikuatkan dari segala cobaan.   

Bagiku film ini adalah sebuah inspirasi cinta sejati. Suami istri yang mencoba saling menghargai dan membahagiakan dengan caranya masing-masing. Banyak momen-momen menyentuh yang dapat dijadikan teladan. Konon, film ini diangkat dari kisah nyata dari seorang penulis bernama Taku Mayumura. Aku berdoa semoga Allah selalu merahmati dirinya dan almarhum istrinya. Semoga karyanya terus memberi pencerahan bagi pembacanya.    

Akhirul kalam, terpujilah untuk Tsuyoshi Kusanagi yang memerankan Sakutaro dan Yuko Takeuchi sang pemeran Setsuko. Kalian memerankannya dengan apik sekali. Terpujilah bagi orang-orang yang berada di belakang layar, seperti penulis skenario, sutradara, dan yang lainnya. Kalian telah berhasil menyuguhkan film bagus dan memberi pesan yang indah. Dan terpujilah seseorang yang sudah merekomendasikan film ini. Semoga hidupmu selalu dirahmati oleh Allah Swt.[]     

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Menulis Artikel Scopus Boleh Pakai AI, Tapi Cek Syaratnya

    • calendar_month Kam, 4 Jul 2024
    • account_circle admin
    • visibility 528
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Salatiga – Bertempat di Auditorium Lt.3 Gd. K.H. Ahmad Dahlan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) FTIK UIN Salatiga menggelar kegiatan Pelatihan Penulisan Artikel Jurnal Ilmiah Bereputasi pada Rabu (3/7/2024) dari pukul 08.00 – 15.00 WIB. Narasumber kegiatan tersebut adalah dosen PGMI FTK INISNU Temanggung […]

  • Rodhiyah Mantab Pimpin Fatayat NU Pucakwangi Hingga 2025

    Rodhiyah Mantab Pimpin Fatayat NU Pucakwangi Hingga 2025

    • calendar_month Sel, 2 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    Suasana pembukaan Konferensi PAC Fatayat NU Pucakwangi PUCAKWANGI – Kepemimpinan PAC Fatayat NU Pucakwangi periode 2016-2021 resmi usai. Melalui forum tertinggi, Konferensi Fatayat NU tingkat PAC, Umi Kalsum sah demisioner pada Minggu (31/10) di Gedung Serbaguna Pucakwangi.  Acara yang pembukaannya dihadiri seluruh elemen NU tersebut menandai fase baru PAC Fatayat NU Pucakwangi. Sebagai kalimat pamungkas, […]

  • PCNU - PATI

    Tugas Mulia Pondok Pesantren

    • calendar_month Rab, 13 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 396
    • 0Komentar

    KH. A. Mustafa Bisri dalam mauidhoh hasanah di PP. Mansajul Ulum Cebolek Margoyoso Pati dalam rangka Haul Ibu Nyai Salamah Muhammadun, istri KH. Abdullah Rifa’i (selasa malam rabu, 12 Juli 2022) menjelaskan: di pesantren, tarbiyah (pendidikan) lebih dominan dari pada ta’lim (pengajaran). Tarbiyah sebagaimana keterangan Syaikh Mustafa Al-Ghulayaini dalam kitab ‘Iddhatun Nasyiin’ adalah menanam akhlak […]

  • Fakhruddin Karmani Tegaskan Ma'arif Selalu Hadir untuk Pendidikan Inklusi

    Fakhruddin Karmani Tegaskan Ma’arif Selalu Hadir untuk Pendidikan Inklusi

    • calendar_month Ming, 15 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 457
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id.Semarang – Model pengembangan pendidikan madrasah inklusi atau pendidikan inklusi yang diterapkan Kementerian Agama RI merupakan hasil dari adopsi dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah salahsatunya. “Pengembangan modul madrasah inklusif di Kementerian Agama salah satunya lahir dari modul yang dikembangkan oleh LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Lahirnya Forum Pendidik Madrasah Inklusif […]

  • Musim Hujan Tiba, LPBI NU: Air Bersih Masih Langka

    Musim Hujan Tiba, LPBI NU: Air Bersih Masih Langka

    • calendar_month Sel, 26 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 351
    • 0Komentar

    WINONG-Meskipun musim penghujan telah datang, namun kekeringan masih twrjadi di beberapa daerah. Kecamatan Winong misalnya. Selama awal musim penghujan ini, kebutuhan akan air bersih masih sukar terpenuhi. Pendistribusian air bersih di Winong kidul oleh Lazisnu, LPBI NU dan PMI Pati, Senin (25/11). Dihimpun dari LPBI NU Pati, penyebab utama fenomena ini merupakan dampak dari musim […]

  • Siswa MA Salafiyah Kajen Sabet Medali Emas dalam Ajang AISEEF 2024

    Siswa MA Salafiyah Kajen Sabet Medali Emas dalam Ajang AISEEF 2024

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 444
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Siswa Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, torehkan prestasi di tingkat internasional. Mereka adalah Tsalisa Chulaili Sahri Nova, Yoga Dimas Saputra, Dwi Erfiyan Sadewa, Achmad Najmi Zidan, dan Muhammad Jihaduddin Lathif. Lima siswa dari tim riset MA Salafiyah Kajen yang duduk di kelas XI dan XII itu baru saja […]

expand_less