Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Panggung Muharram Cup Ponpes Bunyanun Marsush Bulumanis Kidul Suguhkan Pentas Teater Edukatif Santri

Panggung Muharram Cup Ponpes Bunyanun Marsush Bulumanis Kidul Suguhkan Pentas Teater Edukatif Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 20 Jun 2026
  • visibility 15.809
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or id- Suasana malam penganugerahan Muharram Cup Pondok Pesantren Bunyanun Marsush, Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati, Jumat (19/6/2026), terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain penampilan kreasi santri seperti pembacaan puisi, khitobah bahasa Arab dan Inggris, rebana, serta pengumuman para juara, panggung tahun ini menghadirkan suguhan istimewa berupa pertunjukan teater dari Madrasatul Qur’an Salafiyah (MQ).

Kelompok Teater MQ yang baru berdiri pada April 2026 tampil dengan dua karya berbeda, yakni teater putri berjudul “Ritus Santri” dan teater putra berjudul “Ziarah”. Kedua pertunjukan tersebut mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan pesantren dan sarat nilai pendidikan karakter.

Ritus Santri, Potret Perjuangan Beradaptasi di Pesantren

Penampilan teater putri dibuka dengan teatrikal puisi berjudul Ritus Santri. Seorang santri baru digambarkan datang ke pesantren dengan langkah tergesa-gesa sambil menggendong tas dan membawa kardus besar bertuliskan kitab-kitab salaf. Di pundaknya juga terdapat dua kardus kecil bertuliskan “Harapan Ayah” dan “Harapan Ibu”, simbol amanah besar yang dibawanya.

Konflik mulai muncul ketika berbagai warna yang melambangkan sifat dan gejolak batin hadir di atas panggung. Warna merah memberikan semangat dan keberanian, hitam mengajak menyerah dan pulang, putih mengingatkan niat tulus untuk menuntut ilmu, sedangkan kuning menghadirkan sikap hati-hati. Masing-masing berusaha memengaruhi tokoh santri hingga membuatnya kebingungan.

Puncak adegan terjadi saat sang santri berteriak keras, “Tidaaaak!” hingga seluruh tokoh warna tersungkur. Setelah pergulatan batin yang panjang, ia akhirnya mampu menyatukan seluruh warna tersebut sebagai simbol keberagaman karakter yang saling menguatkan dalam proses pendewasaan diri.

Menjelang akhir pertunjukan, suasana semakin menyentuh melalui dialog singkat antara seorang ibu dan anak yang sedang menempuh pendidikan di pesantren. Sang ibu berpesan agar anaknya tetap sabar dan ikhlas menuntut ilmu sehingga kelak menjadi anak saleh yang dapat mengalirkan doa kepada kedua orang tuanya. Adegan tersebut diperkuat dengan nasihat dari tokoh Bu Nyai mengenai kehidupan pesantren yang penuh perjuangan namun sarat keberkahan.

Didukung musik pengiring yang selaras dengan suasana, penampilan perdana Teater MQ berhasil menghadirkan pesan mendalam tentang perjuangan, ketulusan, dan keteguhan seorang santri.

Ziarah, Mengingatkan Pentingnya Doa untuk Orang Tua

Suguhan berikutnya datang dari Teater MQ Putra melalui drama berjudul Ziarah. Pertunjukan diawali dengan suasana makam tua bertuliskan “Makam Mbah Bejo”. Dari balik makam, muncul sosok arwah yang menyampaikan keluh kesah kepada Tuhan karena anak-anaknya telah melupakan dirinya dan sibuk memperebutkan warisan.

“Ya Tuhan, mengapa nasibku seperti ini? Anak-anakku telah lupa padaku. Mereka sibuk berebut warisan. Bisakah Engkau hidupkan aku kembali?” tutur tokoh tersebut dalam adegan pembuka yang mengundang perhatian penonton.

Cerita kemudian berlanjut pada perebutan harta warisan oleh beberapa tokoh yang digambarkan melalui simbol warna merah dan hitam. Dalam kesibukan mengejar harta, mereka lupa bahwa orang tua yang telah meninggal justru lebih membutuhkan kiriman doa daripada pertikaian mengenai dunia.

Pada bagian akhir, pertunjukan menghadirkan dua adegan reflektif. Adegan pertama menampilkan seorang anak yang mengadu di makam ayahnya karena merasa tidak dilahirkan dalam keluarga kaya. Keluhannya kemudian dijawab oleh sang paman yang menjelaskan bahwa warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta benda, melainkan nilai-nilai kehidupan dan perjuangan.

Sementara itu, adegan kedua menampilkan seseorang yang datang ke makam dengan harapan memperoleh kekayaan dan kemenangan melalui jalan pintas. Kehadiran seorang kiai dalam adegan tersebut memberikan penegasan bahwa makam bukan tempat meminta keberuntungan, melainkan tempat mengingat kematian, mendoakan yang telah wafat, dan mengambil pelajaran hidup.

Menjadi Wadah Kreativitas Santri

Kepala Madrasatul Qur’an Salafiyah, Alwi Ahmad Sulthon, mengapresiasi perjuangan para pemain yang mampu tampil meski memiliki waktu persiapan yang sangat terbatas.

“Sejak pagi hingga menjelang magrib mereka berjibaku berlatih dan mempersiapkan penampilan. Alhamdulillah mereka tetap bisa tampil. Karena ini pengalaman pertama, tentu secara teknis masih ada banyak kekurangan, tetapi secara keseluruhan sudah sangat baik,” ujarnya.

Ia berharap ke depan terdapat momentum khusus bagi Teater MQ untuk menggelar produksi yang lebih matang sehingga dapat menjadi wadah pengembangan bakat dan minat santri di bidang seni pertunjukan.

Senada dengan itu, Pembina Teater MQ, Miftahur Rohim atau yang akrab disapa Pak Oim, mengaku masih menemukan berbagai kendala teknis selama pementasan berlangsung.

“Musik pengiring sempat mengalami kendala, beberapa adegan juga belum berjalan maksimal. Mungkin karena ini pengalaman pertama sehingga anak-anak masih mengalami demam panggung. Ditambah lagi waktu latihan yang sangat terbatas karena padatnya agenda madrasah,” tuturnya.

Meski demikian, menurutnya pengalaman tampil di atas panggung merupakan hal yang jauh lebih berharga bagi para santri.

Ia menjelaskan bahwa naskah Ritus Santri menggambarkan beratnya proses adaptasi seorang santri baru beserta berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk meraih kesuksesan. Sementara naskah Ziarah mengajak penonton memahami pentingnya mendoakan orang tua yang telah meninggal dunia.

“Orang yang telah meninggal tidak lagi membutuhkan harta ataupun jabatan. Mereka hanya membutuhkan kucuran doa dari anak-anak yang saleh dan salehah. Harapannya, tontonan ini bisa menjadi tuntunan bagi para santri agar terus berjuang dalam menuntut ilmu dan kelak menjadi anak yang membanggakan orang tua,” pungkasnya.

Penampilan perdana Teater MQ menjadi warna baru dalam rangkaian Muharram Cup tahun ini. Selain menghibur, kedua pertunjukan tersebut berhasil menyampaikan pesan moral yang dekat dengan kehidupan santri serta mengingatkan pentingnya perjuangan, bakti kepada orang tua, dan kesadaran akan kehidupan setelah kematian.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Memaknai Satu Abad NU

    Memaknai Satu Abad NU

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Tepat pada tanggal 7 Februari 2023 Nahdlatul Ulama (NU) berusia 100 tahun atau lebih tepatnya satu abad menurut kalender hijriyah. Tentunya di usia satu abad ini, NU memiliki kontribusi besar terhadap Indonesia dan dunia dalam hal dunia Islam. Dalam usia satu abad NU, ada tonggak-tonggak sejarah yang patut dicatat dan dikenang. Adapun […]

  • UNIK! Tiga Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS MTsN 5 Brebes Semuanya Perempuan, dan Berhasil Sukseskan P5P2RA Bertemakan "Demokrasi di Era Digitalisasi"

    UNIK! Tiga Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS MTsN 5 Brebes Semuanya Perempuan, dan Berhasil Sukseskan P5P2RA Bertemakan “Demokrasi di Era Digitalisasi”

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 498
    • 0Komentar

      Brebes – Dalam pengembangan kurikulum merdeka yang saat ini tengah berjalan, Kepala Madrasah MTsN 5 Brebes H. Ihda Syifai, S.Pd., M.M menyampaikan urgensi dari PP5RA dengan tema “Demokrasi di Era Digitalisasi” adalah memberikan pengalaman yang setara terhadap semua siswa untuk dapat memberikan suara dalam kesuksesan demokrasi pemilihan calon dan wakil ketua OSIS. Melalui kegiatan […]

  • PCNU - PATI Photo by StockSnap

    Pengantin di Rel Kereta

    • calendar_month Ming, 7 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Oleh: Elin Khanin Sore itu langit Pengapon tampak kelabu. Awan bergulung-gulung di atas sana. Menciptakan suasana kelam dan suram. Sesuram wajah gadis yang berjalan di atas kerikil tajam. Gadis itu tampak lesu, bibirnya pucat, matanya sembab dan sedikit bengkak. Menandakan ia banyak menangis. Mungkin seharian tanpa jeda, atau malah sudah lama ia menanggung kepedihan. Sendirian. […]

  • ​Tingkatkan Kreativitas Anak, YPMNU Pati Gelar Festival Drumband di Harlah Muslimat NU ke-80

    ​Tingkatkan Kreativitas Anak, YPMNU Pati Gelar Festival Drumband di Harlah Muslimat NU ke-80

    • calendar_month Sen, 20 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.136
    • 0Komentar

    ​PATI – GOR Pesantenan Pati menjadi saksi keceriaan dan semangat ribuan anak-anak dalam ajang Festival Drumband TK-RA yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) Kabupaten Pati, Ahad (19/4/2026). ​Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU ke-80 ini mengusung tema “Mengembangkan Keterampilan dan Kreativitas Menuju Kemandirian”. ​Ketua YPMNU Kabupaten Pati […]

  • PCNU-PATI Photo by Philip Oroni

    Demi Waktu

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    Oleh M. Iqbal Dawami Hari berganti menjadi penanda bahwa waktu bergulir tak pernah berhenti. Kita bisa menghentikan aktivitas dan menunda-nunda hal yang mesti kita lakukan, tapi waktu tak bisa ditunda. Waktu sekarang ya sekarang. Hari ini ya hari ini, bukan hari yang kemarin. Waktu yang sudah kita lewati menjadi masa lalu, tak bisa dikembalikan. Belum […]

  • Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

    Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

    • calendar_month Rab, 24 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.553
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, kemarin dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Tentu sangat layak Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional karena pemikiran dan perjuangannya yang luar biasa. Dalam konteks pemikiran, banyak sekali gagasan besar yang dilahirkan Gus Dur. Antara lain: Pertama, pribumisasi Islam. Islam adalah doktrin […]

expand_less