Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
  • visibility 10.187
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ramadan tahun 2025 lalu, sekira h-3 Idulfitri saya nyetatus di WA. “Hidupnya di kota. Berbuat dosa di kota. Mudiknya ke desa. Meminta maafnya di desa.”

 

Ada sekira empat rekan mengomentari seingat saya. Komentarnya tidak ada yang serius. Malah tertawa semua. “Hahahahaha…..” ada yang agak panjang “Ha…. Benar, mas!.” That’s all. Ngono tok.

 

Karena tahun lalu belum sempat saya ketik, akhirnya di Ramadan 2026 ini saya ketik khusus di Pacnupati.or.id.

 

Mudik itu sebuah fenomena. Kok bisa? Jadi begini, mudik itu banyak yang meriset. Intinya, mudik menjadi fenomena unik, karena tak hanya urusan balek ndesa, mobilitas geografis, namun mudik mengandung dimensi sosiologis, psikologis, dan spiritual yang sebenarnya kompleks. Woalah!

 

Tapi, kembali ke narasi awal tulisan saya, kenapa kita harus mudik? Padahal kita (saya misal), itu hidupnya di kota, beranak-pinak, beli rumah, beribadah, ngenoni Arwana  juga di kota, tapi mengapa harus mudik dan meminta maaf di kampung halaman? Kan anomali namanya. Paradoks lah!

 

Anomali Mudik Lebaran

Para perantau menghabiskan sebagian besar waktunya selama setahun di kota, luar negeri, atau tanah rantau. Di sini, ruang yang keras, uyel-uyelen, sering kali transaksional, kompetitif, namun ketika momen reflektif seperti Lebaran Idulfitri tiba, mereka justru kembali ke desa, kampung halaman untuk meminta maaf dan melakukan rekonsiliasi batin. Inilah anomali Lebaran Idulfitri. Mengapa ruang yang secara ekonomi tak dominan justru menjadi pusat pemulihan moral dan spiritual?

 

Pertama, dalam pandangan sosiologis, ini adalah bentuk solidaritas dan reintegrasi sosial. Mudik Lebaran Idulfitri dalam perspektif sosiologi bisa dipahami sebagai mekanisme reintegrasi sosial. Lewat buku The Division of Labor in Society (1893), Émile Durkheim mengenalkan konsep solidaritas mekanik, yaitu bentuk kohesi sosial yang lahir dari kesamaan nilai, tradisi, dan keyakinan. Kampung halaman, desa, tanah kelahiran sebagai ruang sosial tradisional masih mempertahankan solidaritas jenis ini.

 

Dalam konteks ini, mudik Lebaran memliki fungsi sebagai bentuk “audit sosial”, yaitu proses refleksi sekaligus verifikasi relasi sosial individu dengan komunitas asalnya. Tak sekadar membawa cerita sukses atau kegagalan, perantau yang kembali ke kampung halaman juga membawa kebutuhan untuk diterima kembali secara sosial.

 

Pandangan Robert D. Putnam dalam bukunya Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000) juga memperkaya lewat teori social capital. Putnam berpandangan relasi sosial yang kuat adalah modal penting dalam kehidupan individu. Lewat mudik Lebaran, individu berupaya menjaga dan memperbarui modal sosial itu agar tak terputus oleh jarak dan waktu. Di kampung halaman, tanpa rekonsiliasi sosial tersebut, seorang perantau berpotensi mengalami keterasingan eksistensial. Apa itu? Yakni kondisi saat individu kehilangan akar sosialnya meskipun berhasil secara ekonomi. Wujudnya, ketika kembali ke desa, ia terasa asing, diasingkan, dan tidak diakui secara sosial. Hehehe

 

Kedua, perspektif teologis, mudik merupakan silaturahmi dan rekonsiliasi spiritual. Mudik dalam perspektif teologis Islam mempunyai dasar normatif kuat, terutama dalam konsep birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan silaturahim. Desa, kampung halaman, tempat lahir, menjadi lokus utama karena di sana relasi primordial manusia terbentuk.

 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 36:

 وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36).

 

Ayat ini menegaskan hubungan sosial, utamanya pada orang tua dan kerabat adalah bagian integral dari keberagamaan. Abu Hamid al-Ghazali (Imam Ghazali) dalam kajian etika Islam dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din menyatakan al-‘afwu (memaafkan) dan menjaga hubungan sosial merupakan bagian dari makarim al-akhlaq (akhlak mulia). Dosa kepada Allah Swt bisa dihapus lewat taubat, namun dosa pada manusia menyaratkan tindakan permohonan maaf secara langsung.

 

Mudik dalam konteks ini merupakan momentum menyelaraskan kembali relasi kepada Allah  (hablum minallah) dan relasi dengan manusia (hablum minannas). Di sini, desa memiliki fungsi sebagai “titik nol spiritual”, yaitu tempat manusia memulai ulang perjalanan moralnya dengan hati yang lebih bersih.

 

Ketiga, dalam pandangan psikologi, mudik Lebaran berfungsi sebagai back to the origin dan katarsis emosional. Maksudnya? Kampung halaman dalam perspektif psikologi bisa dipahami sebagai safe space  (ruang aman) bagi manusia dalam memulihkan identitas dirinya. Lingkungan kota cenderung menempatkan individu (perantau) dalam relasi impersonal. Sementara desa menghadirkan relasi bersifat personal dan afektif.

 

Konsep ini kompatibel dengan sebuah teori topophilia perspektif Yi-Fu Tuan dalam buku Topophilia: A Study of Environmental Perceptions, Attitudes, and Values (1974). Dalam buku ini, dipaparkan manusia mempunyai keterikatan emosional yang mendalam pada tempat asalnya, yang tidak hanya bersifat geografis, namun juga simbolik dan moral. Desa sebagai kampung halaman dan tempat kelahiran menjadi pusat nilai dan memori, tempat di mana seorang manusia merasa diterima secara utuh.

 

Proses mudik juga bisa dipahami sebagai bentuk katarsis. Apa itu? Yaitu pelepasan emosi dan pembersihan psikologis. Pandangan soal katarsis ini berasal dari Aristotle dalam Poetics (Halliwel, 1998). Konsep ini selanjutnya dikembangkan dalam psikologi modern sebagai mekanisme pelepasan tekanan batin bahkan menjadi semacam terapi seperti hipnotis juga. Lewat mudik kembali ke kampung halaman, individu seolah melakukan “detoksifikasi moral” dari beban kehidupan urban yang sangat kejam dan keras.

 

Erik Erikson dalam Identity: Youth and Crisis (1968), dalam kerangka psikologi identitas, memaparkan manusia senantiasa membutuhkan rekognisi pada identitas primernya. Desa sebagai kampung halaman merupakan ruang konfirmasi yang menegaskan identitas dasar sebagai anak, anggota keluarga, dan bagian komunitas di lingkungan desa, tetap melekat meski individu sudah mengalami mobilitas sosial, pindah KTP dan boyongan ke kota.

 

Mudik dengan segala macama tetekbengeknya mempertegas manusia tak bisa sepenuhnya hidup dalam logika materialisme di kota. Sejauh apa pun seseorang merantau di kota, luar pulau bahkan luar negeri selalu ada dorongan eksistensial untuk kembali ke akar. Apa bentuknya? Yaitu keluarga dan komunitas asalnya.

 

Desa tak hanya memiliki fungsi ruang geografis, namun menjadi ruang simbolik yang memuat memori, kenangan, cinta, nilai, dan kasih sayang otentik. Mudik tak sekadar ritual tahunan tiap Lebaran Idulfitri, namun menjadi perjalanan eksistensial, yaitu balik kepada diri sendiri, kembali ke pangkuan orang tua, merajut kembali makna kehidupan, menjemput pengampunan, dan lainnya.

 

Lalu, Anda mudik ke mana?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Lembaga Falakiyah PBNU Wafat, PCNU Pati Ungkapkan Duka Cita

    Ketua Lembaga Falakiyah PBNU Wafat, PCNU Pati Ungkapkan Duka Cita

    • calendar_month Rab, 19 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 301
    • 0Komentar

    PATI-Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ (PCNU) Kabupaten Pati menyatakan duka cita yang mendalam. Hal ini diungkapkan langsung oleh ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim Atas wafatnya KH. Ghozali Masruri. KH. Ghozali Masruri (kanan) saat didatangi Sekjend PBNU, Ahmad Helmy Faishal Zaini (kiri) di kantor Lembaga Falakiyah, PBNU.  Ketua Lembaga Falakiyah (astronomi) PBNU ini meninggal dunia Rabu […]

  • Meriahkan Kirab Santri, PC IPNU IPPNU Pati Gelar Lomba Kreasi Pelajar

    Meriahkan Kirab Santri, PC IPNU IPPNU Pati Gelar Lomba Kreasi Pelajar

    • calendar_month Sab, 22 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id.- Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2022, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati mengadakan Apel dan Kirab pada Sabtu (22/10/2022). Untuk menambah gairah semangat dalam mengikuti kirab, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama +(IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pati mengadakan Lomba Kreasi Pelajar. Peserta berasal dari Pimpinan Anak Cabang […]

  • PCNU-PATI

    NU Harus Berfungsi

    • calendar_month Sab, 31 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Jamal Makmur Asmani KH. M. Aniq Muhammadun, Rais Syuriyah PCNU Pati sekaligus Wakil Rais Syuriyah PBNU, mendorong pengurus NU untuk aktif menggerakkan potensi organisasi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi warga NU, warga negara, bangsa dan umat manusia. Jangan sampai keberadaan NU tidak punya manfaat apa-apa. Dawuh beliau, NU jangan sampai […]

  • M. Ngisom (baju hitam) saat menyampaikan materi seputar LTN di Gedung PCNU Kota Semarang

    Pimred NU Online Jateng Apresiasi LTN yang Aktif, Pati Masuk Daftar

    • calendar_month Kam, 14 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 209
    • 0Komentar

    SEMARANG – Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, menggelar FGD penangkalan Hoax, Kamis (14/7) siang ini. Forum diskusi ini diperuntukkab bagi pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) se-Jawa Tengah. Para peserta yang hadir dalam forum yang digelar di Gedung PCNU Kota Semarang tersebut mendapat pengarahan dari para pemantik. Salah satunya adalah M. Ngisom, Pimpinan […]

  • Pelantikan  MWCNU Margorejo

    Pelantikan MWCNU Margorejo

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2016
    • account_circle admin
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Pati. Kepengurusan baru Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecematan Margorejo masa khidmad 2015-2020 mengemban tanggung jawab yang besar. Karena di MWCNU ini akan berdiri lembaga pendidikan dan Perguruan tinggi. Pelantikan tersebut bertempat di  Ponpes Al-Akrom Pati Banyuurip Margorejo Pati (06/03)             Hal itu di ungkapkan oleh ketua NU Pati Drs. H. Ali Munfaat, saat […]

  • Kunjungan Syaikh Fadi Alamuddin Lebanon di MTs dan MA NU Miftahul Huda

    Kunjungan Syaikh Fadi Alamuddin Lebanon di MTs dan MA NU Miftahul Huda

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2017
    • account_circle admin
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Pati. Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya, akan tetapi ada sesuatu berbeda  di MTs dan MA NU Miftahul Huda  di desa Sugihrejo Kec. Gabus karena mendapatkan tamu istimewa yaitu Syaikh Fadi Alamuddin dari Global University Lebanon,13/8 kemarin, bertempat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Dukuh Pasinggahan, acara berlangsung mulai pukul 07.00 – 09.00 wib. Maka dari […]

expand_less