Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
  • visibility 10.365
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ramadan tahun 2025 lalu, sekira h-3 Idulfitri saya nyetatus di WA. “Hidupnya di kota. Berbuat dosa di kota. Mudiknya ke desa. Meminta maafnya di desa.”

 

Ada sekira empat rekan mengomentari seingat saya. Komentarnya tidak ada yang serius. Malah tertawa semua. “Hahahahaha…..” ada yang agak panjang “Ha…. Benar, mas!.” That’s all. Ngono tok.

 

Karena tahun lalu belum sempat saya ketik, akhirnya di Ramadan 2026 ini saya ketik khusus di Pacnupati.or.id.

 

Mudik itu sebuah fenomena. Kok bisa? Jadi begini, mudik itu banyak yang meriset. Intinya, mudik menjadi fenomena unik, karena tak hanya urusan balek ndesa, mobilitas geografis, namun mudik mengandung dimensi sosiologis, psikologis, dan spiritual yang sebenarnya kompleks. Woalah!

 

Tapi, kembali ke narasi awal tulisan saya, kenapa kita harus mudik? Padahal kita (saya misal), itu hidupnya di kota, beranak-pinak, beli rumah, beribadah, ngenoni Arwana  juga di kota, tapi mengapa harus mudik dan meminta maaf di kampung halaman? Kan anomali namanya. Paradoks lah!

 

Anomali Mudik Lebaran

Para perantau menghabiskan sebagian besar waktunya selama setahun di kota, luar negeri, atau tanah rantau. Di sini, ruang yang keras, uyel-uyelen, sering kali transaksional, kompetitif, namun ketika momen reflektif seperti Lebaran Idulfitri tiba, mereka justru kembali ke desa, kampung halaman untuk meminta maaf dan melakukan rekonsiliasi batin. Inilah anomali Lebaran Idulfitri. Mengapa ruang yang secara ekonomi tak dominan justru menjadi pusat pemulihan moral dan spiritual?

 

Pertama, dalam pandangan sosiologis, ini adalah bentuk solidaritas dan reintegrasi sosial. Mudik Lebaran Idulfitri dalam perspektif sosiologi bisa dipahami sebagai mekanisme reintegrasi sosial. Lewat buku The Division of Labor in Society (1893), Émile Durkheim mengenalkan konsep solidaritas mekanik, yaitu bentuk kohesi sosial yang lahir dari kesamaan nilai, tradisi, dan keyakinan. Kampung halaman, desa, tanah kelahiran sebagai ruang sosial tradisional masih mempertahankan solidaritas jenis ini.

 

Dalam konteks ini, mudik Lebaran memliki fungsi sebagai bentuk “audit sosial”, yaitu proses refleksi sekaligus verifikasi relasi sosial individu dengan komunitas asalnya. Tak sekadar membawa cerita sukses atau kegagalan, perantau yang kembali ke kampung halaman juga membawa kebutuhan untuk diterima kembali secara sosial.

 

Pandangan Robert D. Putnam dalam bukunya Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000) juga memperkaya lewat teori social capital. Putnam berpandangan relasi sosial yang kuat adalah modal penting dalam kehidupan individu. Lewat mudik Lebaran, individu berupaya menjaga dan memperbarui modal sosial itu agar tak terputus oleh jarak dan waktu. Di kampung halaman, tanpa rekonsiliasi sosial tersebut, seorang perantau berpotensi mengalami keterasingan eksistensial. Apa itu? Yakni kondisi saat individu kehilangan akar sosialnya meskipun berhasil secara ekonomi. Wujudnya, ketika kembali ke desa, ia terasa asing, diasingkan, dan tidak diakui secara sosial. Hehehe

 

Kedua, perspektif teologis, mudik merupakan silaturahmi dan rekonsiliasi spiritual. Mudik dalam perspektif teologis Islam mempunyai dasar normatif kuat, terutama dalam konsep birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan silaturahim. Desa, kampung halaman, tempat lahir, menjadi lokus utama karena di sana relasi primordial manusia terbentuk.

 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 36:

 وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36).

 

Ayat ini menegaskan hubungan sosial, utamanya pada orang tua dan kerabat adalah bagian integral dari keberagamaan. Abu Hamid al-Ghazali (Imam Ghazali) dalam kajian etika Islam dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din menyatakan al-‘afwu (memaafkan) dan menjaga hubungan sosial merupakan bagian dari makarim al-akhlaq (akhlak mulia). Dosa kepada Allah Swt bisa dihapus lewat taubat, namun dosa pada manusia menyaratkan tindakan permohonan maaf secara langsung.

 

Mudik dalam konteks ini merupakan momentum menyelaraskan kembali relasi kepada Allah  (hablum minallah) dan relasi dengan manusia (hablum minannas). Di sini, desa memiliki fungsi sebagai “titik nol spiritual”, yaitu tempat manusia memulai ulang perjalanan moralnya dengan hati yang lebih bersih.

 

Ketiga, dalam pandangan psikologi, mudik Lebaran berfungsi sebagai back to the origin dan katarsis emosional. Maksudnya? Kampung halaman dalam perspektif psikologi bisa dipahami sebagai safe space  (ruang aman) bagi manusia dalam memulihkan identitas dirinya. Lingkungan kota cenderung menempatkan individu (perantau) dalam relasi impersonal. Sementara desa menghadirkan relasi bersifat personal dan afektif.

 

Konsep ini kompatibel dengan sebuah teori topophilia perspektif Yi-Fu Tuan dalam buku Topophilia: A Study of Environmental Perceptions, Attitudes, and Values (1974). Dalam buku ini, dipaparkan manusia mempunyai keterikatan emosional yang mendalam pada tempat asalnya, yang tidak hanya bersifat geografis, namun juga simbolik dan moral. Desa sebagai kampung halaman dan tempat kelahiran menjadi pusat nilai dan memori, tempat di mana seorang manusia merasa diterima secara utuh.

 

Proses mudik juga bisa dipahami sebagai bentuk katarsis. Apa itu? Yaitu pelepasan emosi dan pembersihan psikologis. Pandangan soal katarsis ini berasal dari Aristotle dalam Poetics (Halliwel, 1998). Konsep ini selanjutnya dikembangkan dalam psikologi modern sebagai mekanisme pelepasan tekanan batin bahkan menjadi semacam terapi seperti hipnotis juga. Lewat mudik kembali ke kampung halaman, individu seolah melakukan “detoksifikasi moral” dari beban kehidupan urban yang sangat kejam dan keras.

 

Erik Erikson dalam Identity: Youth and Crisis (1968), dalam kerangka psikologi identitas, memaparkan manusia senantiasa membutuhkan rekognisi pada identitas primernya. Desa sebagai kampung halaman merupakan ruang konfirmasi yang menegaskan identitas dasar sebagai anak, anggota keluarga, dan bagian komunitas di lingkungan desa, tetap melekat meski individu sudah mengalami mobilitas sosial, pindah KTP dan boyongan ke kota.

 

Mudik dengan segala macama tetekbengeknya mempertegas manusia tak bisa sepenuhnya hidup dalam logika materialisme di kota. Sejauh apa pun seseorang merantau di kota, luar pulau bahkan luar negeri selalu ada dorongan eksistensial untuk kembali ke akar. Apa bentuknya? Yaitu keluarga dan komunitas asalnya.

 

Desa tak hanya memiliki fungsi ruang geografis, namun menjadi ruang simbolik yang memuat memori, kenangan, cinta, nilai, dan kasih sayang otentik. Mudik tak sekadar ritual tahunan tiap Lebaran Idulfitri, namun menjadi perjalanan eksistensial, yaitu balik kepada diri sendiri, kembali ke pangkuan orang tua, merajut kembali makna kehidupan, menjemput pengampunan, dan lainnya.

 

Lalu, Anda mudik ke mana?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Pati Bagikan Takjil Selama Bulan Ramadhan

    NU Pati Bagikan Takjil Selama Bulan Ramadhan

    • calendar_month Jum, 16 Apr 2021
    • account_circle admin
    • visibility 321
    • 0Komentar

      Ratusan takjil dibagikan kepada Pengguna jalan yang melintas di depan kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati selama Ramadhan. Aksi sosial itu bagian dari program NU Peduli yang selama ini gencar menyentuh kalangan kurang beruntung. “Sebelum Ramadhan setiap Jumat kami membagikan nasi bungkus. Kami bagikan kepada warga kurang mampu yang sedang berada di pinggir […]

  • NU Peduli dan Lazisnu Berbagi

    NU Peduli dan Lazisnu Berbagi

    • calendar_month Jum, 22 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pati melalui LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Nahdlatul Ulama) mendistribusikan bantuan kepada posko-posko NU Peduli dibeberapa MWC (Majelis Wakil Cabang), Jumat (22/03). Pemberian bantuan tersebut dalam rangka mensupport kebutuhan yang diperlukan untuk warga yang terdampak bencana di sejumlah titik. Syaiful Huda selaku manajer fundrising PC Lazisnu Pati mengatakan pemberian […]

  • Dua Santri Wahid Hasyim Persembahkan dua Piala Di Bidang Tilawah

    Dua Santri Wahid Hasyim Persembahkan dua Piala Di Bidang Tilawah

    • calendar_month Kam, 30 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Agus Sukari, Kepala Yayasan Wahid Hasyim  Pati bersama dua santrinya yang berprestasi di bidang tilawah usai MTQ Pelajar dan Umum Kemenag Kabupaten Pati, Rabu (29/9) kemarin. PATI – Dua santri Pondok Pesantren Wahid Pati menyabet gelar juara dalam ajang MTQ Pelajar dan Umum yang diselenggarakan oleh Kemenag Kabupaten Pati. Dalam lomba yang berlangsung Rabu (29/9) […]

  • PCNU PATI - Peserta Mengeluh, Proses Registrasi Kongres IPNU Dinilai Amburadul

    Peserta Mengeluh, Proses Registrasi Kongres IPNU Dinilai Amburadul

    • calendar_month Jum, 12 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 332
    • 0Komentar

    JAKARTA – Panitia Pelaksana Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNI) ke-XX dinilai kurang persiapan. Sehingga, selama proses registrasi terkesan ambiradul. Diketahui, panitia mengumumkan peserta kongres diwajibkan registrasi ulang pada hari kamis (11/8) malam setelah tiba di lokasi kongres di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Namun, realita di lapangan registrasi peserta baru dibuka pada jum’at […]

  • Peran Enterprenuer Bagi Stabilitas Roda Organisasi

    Peran Enterprenuer Bagi Stabilitas Roda Organisasi

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Jika melihat berdirinya NU dari segi sisi ekonomi yaitu bisa dilihat dari lahirnya Nahdatut tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) pada tahun 1918. Gagasan ini berawal dari kecerdasan seorang KH. Wahab Chasbulah karena melihat NU akan bisa maju dan mempunyai kemandirian Embrio berdirinya NU berasal dari tiga organisasi. Masing-masing bergerak dalam bidang yang berbeda, Nahdlatut Tujjar pada […]

  • PCNU-PATI Photo by ronymichaud

    Air Doa

    • calendar_month Kam, 8 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 382
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Masaru Emoto, profesor air asal Jepang pada tahun 1990-an mealukan uji coba memukau. Pak Prof ini memasukkan air ke dalam beberapa botol dan melabelinya dengan pesan positif dan negatif, lalu ia memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Botol air yang ditempel dengan pesan positif (terimakasih, cinta, wa akhowatiha) kristalnya menjadi lebih indah […]

expand_less