Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ziarah Ke Yerusalem

Ziarah Ke Yerusalem

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Jan 2023
  • visibility 441
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Muslim yang mampu di setiap negara berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima. Tentu, banyak kalangan muslim bercita-cita bisa berhaji ke tanah suci itu. Tak terkecuali kedua orangtua saya. Pada suatu ketika saat pulang kampung, saya bincang-bincang dengan mereka. Dari pembicaraannya, saya tahu bahwa mereka begitu ingin sekali menunaikan ibadah haji, sekali seumur hidup. Ada rasa sedih mendengarnya. Sedih karena turut merasakan apa yang mereka rasakan. Sedih, lantaran sebagai anak, saya belum bisa membantu mereka, yakni dapat membiayai mereka berhaji.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mendengar doa orangtuaku dan doa-doa yang mendoakan kedua orangtuaku. Siapa tahu Tuhan mengabulkannya, entah dengan jalan apa. Kami tidak tahu. Mungkin Tuhan punya rencana. Tuhan Maha Kuasa. Boleh jadi Tuhan sedang menguji orangtuaku, seberapa kuat azzam mereka. Tuhan memberi pelajaran, menuju perbuatan baik membutuhkan niat dan usaha yang kuat. Mungkin Tuhan hendak “bercanda” sampai mana kedua orangtuaku bisa menjaga niatnya dengan ikhlas dan seberapa besar persiapan dan usaha mereka dalam meraih mimpinya?

Saya teringat sebuah cerpen karya Leo Tolstoy berjudul “Ziarah” dalam buku Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu (2011). Diceritakan, awal abad ke-19 di sebuah desa di Rusia, ada dua orang lelaki tua (Efim dan Eliyah) yang telah merencanakan untuk pergi berziarah ke Yerusalem (Palestina). Nahasnya, rencana tersebut sulit diwujudkan. Selalu saja ada alasan untuk menundanya, baik soal materi maupun pekerjaannya. Efim, misalnya, dia selalu disibukan oleh pekerjaannya yang segunung, di samping ingin konsentrasi membangun rumah barunya.

Sedang Eliyah, selalu terbelit oleh uang, lantaran penghasilannya pas-pasan. Namun, kehidupan keluarganya yang pas-pasan tersebut, justru dialah kemudian yang meyakinkan Efim untuk berangkat ziarah pada musim semi tahun itu juga. Tidak boleh ditunda-tunda lagi, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, menurutnya. Tentu saja karena usia mereka yang semakin uzur. Bisa dibayangkan, pada waktu itu perjalanan ke Yerusalem dari Rusia membutuhkan waktu berbulan-bulan. 

Musim semi tiba, mereka pun berangkat menuju Yerusalem. Dalam perjalanan, Eliyah kehabisan air. Dia kehausan. Dia kemudian bermaksud berkunjung ke sebuah rumah untuk meminta air minum. Sedang Efim disuruhnya untuk melanjutkan perjalanan, tidak perlu menunggunya. Nanti Eliyah akan menyusulnya dan mereka akan bertemu di suatu tempat. Ketika Eliyah mendatangi suatu rumah, dia melihat keluarga di rumah tersebut sedang sekarat dan kelaparan. Alih-alih hendak meminta air, dia malah harus menolong keluarga tersebut yang sedang menderita.

Eliyah pun memutuskan untuk membantu keluarga tersebut. Dia merawat mereka dengan penuh keikhlasan. Berhari-hari Eliyah hidup di situ. Dia membelanjakan uangnya yang sudah dia kumpulkan sekian lama untuk membeli makanan, menebus tanah mereka yang tergadai, membelikan seekor sapi, kuda, dan lain-lain. Akhirnya keluarga itu dapat hidup normal kembali. Sadar dengan uangnya yang tinggal sedikit, Eliyah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Dia memilih kembali ke desanya.

Sedang Efim menunggu di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati. Lama ia menunggu. Pikirnya mungkin Eliyah sudah mendahuluinya yang tidak dia ketahui. Akhirnya ia melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Yerusalem. Sesampainya di sana, dia melihat Eliyah di tengah kerumunan orang yang sama-sama sedang berziarah. Tampak Eliyah sedang khusyuk berdoa. Awalnya ia tak yakin itu Eliyah, sahabatnya. Tapi, begitu tahu ciri-ciri dan gerak-geriknya, dia akhirnya yakin itu adalah Eliyah. Anehnya, saat Efim hendak menghampirinya, tiba-tiba Eliyah menghilang. Begitu juga saat di tempat ziarah lainnya, Efim melihat Eliyah, dan pada saat mendekatinya, dia kehilangan jejak. 

Setelah semua tempat peziarahan dikunjungi, Efim kemudian kembali ke desanya. Dalam perjalanan dia melewati rumah yang dulu disinggahi Eliyah. Desa tersebut kondisinya lain pada saat ia pertama kalinya melihatnya, yakni pada saat menuju Yerusalem. Efim dijamu dengan baik di rumah tersebut. Tuan rumah di situ menceritakan seorang musafir yang telah menolong mereka, hingga akhirnya mereka dapat hidup makmur. Pada saat mereka menceritakan ciri-ciri musafir tersebut, yakinlah bahwa dia adalah Eliyah, sahabatnya.

Cerita itu lumayan membingungkan Efim tentang sahabatnya itu. Sebenarnya Eliyah pergi tidak sih ke Yerusalem? Bukankah Efim melihatnya di sana? Tapi, katanya dia berada di sini selama Efim di Yerusalem. Pertanyaan itu dibawanya pulang. Ketika sampai di desanya, Efim diberitahu keluarganya bahwa Eliyah sudah berada di rumahnya sejak lama. Dia lalu pergi menuju rumah Eliyah.

Keduanya bercengkrama layaknya dua sahabat lama tidak bertemu. Namun, Efim tidak menceritakan bahwa dirinya melihat sahabatnya itu di Yerusalem. Semua pertanyaannya dia pendam. Begitu juga Eliyah, tidak menceritakan usahanya saat dia membantu sebuah keluarga di sebuah desa yang sedang kelaparan. 

Kisah di atas mengajarkan bahwa hakikat ibadah, temasuk ibadah haji, adalah memberi efek positif bagi individu maupun sosial. Ya, ada aspek sosial dari ibadah haji, bukan semata-mata aspek individual. Niat dan keikhlasan dalam melakukannya adalah dua hal terpenting. Apabila keduanya sudah benar, maka berhasil tidaknya untuk bisa beribadah haji bukanlah hal utama lagi. Itu urusan Tuhan. Seseorang yang dapat melakukannya, namun niatnya sudah tidak benar—misalnya karena prestise—maka tidak ada nilainya di mata Tuhan.

Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang sesungguhnya mampu melaksanakan ibadah haji, namun belum bisa berangkat, karena, misalnya, dananya dialokasikan untuk keperluan keluarga atau saudaranya, maka itu sesungguhnya bernilai sangat tinggi di mata Tuhan, karena dia lebih mementingkan orang banyak ketimbang dirinya sendiri.

Boleh jadi kedua orangtuaku sudah mempunyai bekal ongkos, tapi mereka mempunyai keperluan lain untuk anak-anaknya, seperti biaya pernikahan, pendidikan, atau biaya kehidupan sehari-hari, dimana usaha mereka itu mengesampingkan sementara keinginannya naik haji, dan harus menabung kembali. Tentu apa yang dilakukan kedua orangtuaku dicatat Tuhan sebagai sebuah kebaikan yang besar, karena sudah berkorban untuk keluarganya, dengan mengorbankan (sementara) keinginannya naik haji.

Di akhir cerita Efim berujar: “Bahwa di dunia ini Tuhan memerintahkan kepada setiap orang agar bekerja menebus utang kewajiban hidupnya dengan jalan kasih sayang dan pekerjaan-pekerjaan yang baik, sampai ia mati.”[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sambut Hari Santri 2022, PCNU Pati Ziarah ke Makam Gus Hasyim

    Sambut Hari Santri 2022, PCNU Pati Ziarah ke Makam Gus Hasyim

    • calendar_month Jum, 21 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati beserta perwakilan dari Lembaga dan Badan Otonomnya menziarahi pusara Gus Muhammad Hasyim Mahfudh di Taman Makam Pahlawan Giri Dharma, Jumat (21/10/2022) sore.  Hadir juga pada kegiatan itu, Penjabat Bupati Pati, Henggar Budi Anggoro. Kegiatan ziarah ke makam Gus Hasyim dilakukan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2022. Diketahui, […]

  • Respon Kekeringan, MAN 1 Pati Salurkan 10 Tangki Air Bersih Bagi Warga Terdampak

    Respon Kekeringan, MAN 1 Pati Salurkan 10 Tangki Air Bersih Bagi Warga Terdampak

    • calendar_month Rab, 23 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.907
    • 0Komentar

    PATI- Merespon kekeringan ekstrim dampak kemarau panjang di Pati, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pati menyalurkan sebanyak 10 tangki air bersih bagi warga terdampak di wilayah Kabupaten Pati pada Rabu, (23/9/2026). Aksi kemanusiaan tersebut, difokuskan pada satu desa yakni Desa Pecangaan Kecamatan Batangan. Berdasarkan informasi setidaknya sudah hampir 3 bulan warga mengalami kekurangan air dampak […]

  • PCNU-PATI

    Habis Gelap Terbitlah Terang

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 686
    • 0Komentar

    Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, sedangkan penerjemahannya (dari versi bahasa Belanda ke bahasa Melayu) pertama kali dilakukan pada 1922 oleh Bagindo Dahlan Abdullah, Zainudin Rasad, Sutan Muhammad Zain, dan Djamaloedin Rasad (mereka menyebut diri Empat Saudara).[1] Proses pengumpulan surat-surat yang pernah dikirimkan […]

  • Keistiqamahan Mbah Dullah Salam Kajen

    Keistiqamahan Mbah Dullah Salam Kajen

    • calendar_month Kam, 15 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 653
    • 0Komentar

                                                      KH. Abdullah Zain Salam  KH Abdullah Zain Salam dikenal dengan panggilan Mbah Dullah Salam memiliki teladan-teladan yang mulia. Mulai dari kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan, memiliki kebiasaan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan, dan keteladanan lain. Penulis buku ‘Keteladanan […]

  • Ketua MWC NU Gembong : Pengurus NU Jangan 'Omdo'

    Ketua MWC NU Gembong : Pengurus NU Jangan ‘Omdo’

    • calendar_month Ming, 19 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 575
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id. – Pengurus Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah (Lazisnu) MWC-NU Gembong menggelar Diskusi Upzis – Lazisnu di MI Hidayatul Islam (MHI). Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad (19/1) siang. Shodiq, Ketua Lazisnu Gembong, dalam pengantarnya pengantar menyatakan bahwa, agenda ini dilaksanakan untuk me-refresh kepengurusan Upzis di tingkat Ranting NU. “Maka kami hadirkan para Pengurus […]

  • Halal Bihalal Akbar, NU dan Muhamadiyyah

    Halal Bihalal Akbar, NU dan Muhamadiyyah

    • calendar_month Jum, 26 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 588
    • 0Komentar

    Pati. NU dan Muhammadiyah sudah lama berada di kabupaten Pati, kedua ormas adalah organisasi terbesar di Pati.  Pada kesempatan ini mengadakan  acara akbar halal bihalal bersama di Pendopo Kabupaten Pati dengan tema, Penanggulang Radikalisme dan Terorisme menuju Pati yang Damai(5/8) kemarin. Perpedaan akan terus ada apabila kita tonjolkan, akan tetapi untuk amar ma’ruf nahi mungkar […]

expand_less