Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ziarah Ke Yerusalem

Ziarah Ke Yerusalem

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Jan 2023
  • visibility 388
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Muslim yang mampu di setiap negara berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima. Tentu, banyak kalangan muslim bercita-cita bisa berhaji ke tanah suci itu. Tak terkecuali kedua orangtua saya. Pada suatu ketika saat pulang kampung, saya bincang-bincang dengan mereka. Dari pembicaraannya, saya tahu bahwa mereka begitu ingin sekali menunaikan ibadah haji, sekali seumur hidup. Ada rasa sedih mendengarnya. Sedih karena turut merasakan apa yang mereka rasakan. Sedih, lantaran sebagai anak, saya belum bisa membantu mereka, yakni dapat membiayai mereka berhaji.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mendengar doa orangtuaku dan doa-doa yang mendoakan kedua orangtuaku. Siapa tahu Tuhan mengabulkannya, entah dengan jalan apa. Kami tidak tahu. Mungkin Tuhan punya rencana. Tuhan Maha Kuasa. Boleh jadi Tuhan sedang menguji orangtuaku, seberapa kuat azzam mereka. Tuhan memberi pelajaran, menuju perbuatan baik membutuhkan niat dan usaha yang kuat. Mungkin Tuhan hendak “bercanda” sampai mana kedua orangtuaku bisa menjaga niatnya dengan ikhlas dan seberapa besar persiapan dan usaha mereka dalam meraih mimpinya?

Saya teringat sebuah cerpen karya Leo Tolstoy berjudul “Ziarah” dalam buku Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu (2011). Diceritakan, awal abad ke-19 di sebuah desa di Rusia, ada dua orang lelaki tua (Efim dan Eliyah) yang telah merencanakan untuk pergi berziarah ke Yerusalem (Palestina). Nahasnya, rencana tersebut sulit diwujudkan. Selalu saja ada alasan untuk menundanya, baik soal materi maupun pekerjaannya. Efim, misalnya, dia selalu disibukan oleh pekerjaannya yang segunung, di samping ingin konsentrasi membangun rumah barunya.

Sedang Eliyah, selalu terbelit oleh uang, lantaran penghasilannya pas-pasan. Namun, kehidupan keluarganya yang pas-pasan tersebut, justru dialah kemudian yang meyakinkan Efim untuk berangkat ziarah pada musim semi tahun itu juga. Tidak boleh ditunda-tunda lagi, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, menurutnya. Tentu saja karena usia mereka yang semakin uzur. Bisa dibayangkan, pada waktu itu perjalanan ke Yerusalem dari Rusia membutuhkan waktu berbulan-bulan. 

Musim semi tiba, mereka pun berangkat menuju Yerusalem. Dalam perjalanan, Eliyah kehabisan air. Dia kehausan. Dia kemudian bermaksud berkunjung ke sebuah rumah untuk meminta air minum. Sedang Efim disuruhnya untuk melanjutkan perjalanan, tidak perlu menunggunya. Nanti Eliyah akan menyusulnya dan mereka akan bertemu di suatu tempat. Ketika Eliyah mendatangi suatu rumah, dia melihat keluarga di rumah tersebut sedang sekarat dan kelaparan. Alih-alih hendak meminta air, dia malah harus menolong keluarga tersebut yang sedang menderita.

Eliyah pun memutuskan untuk membantu keluarga tersebut. Dia merawat mereka dengan penuh keikhlasan. Berhari-hari Eliyah hidup di situ. Dia membelanjakan uangnya yang sudah dia kumpulkan sekian lama untuk membeli makanan, menebus tanah mereka yang tergadai, membelikan seekor sapi, kuda, dan lain-lain. Akhirnya keluarga itu dapat hidup normal kembali. Sadar dengan uangnya yang tinggal sedikit, Eliyah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Dia memilih kembali ke desanya.

Sedang Efim menunggu di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati. Lama ia menunggu. Pikirnya mungkin Eliyah sudah mendahuluinya yang tidak dia ketahui. Akhirnya ia melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Yerusalem. Sesampainya di sana, dia melihat Eliyah di tengah kerumunan orang yang sama-sama sedang berziarah. Tampak Eliyah sedang khusyuk berdoa. Awalnya ia tak yakin itu Eliyah, sahabatnya. Tapi, begitu tahu ciri-ciri dan gerak-geriknya, dia akhirnya yakin itu adalah Eliyah. Anehnya, saat Efim hendak menghampirinya, tiba-tiba Eliyah menghilang. Begitu juga saat di tempat ziarah lainnya, Efim melihat Eliyah, dan pada saat mendekatinya, dia kehilangan jejak. 

Setelah semua tempat peziarahan dikunjungi, Efim kemudian kembali ke desanya. Dalam perjalanan dia melewati rumah yang dulu disinggahi Eliyah. Desa tersebut kondisinya lain pada saat ia pertama kalinya melihatnya, yakni pada saat menuju Yerusalem. Efim dijamu dengan baik di rumah tersebut. Tuan rumah di situ menceritakan seorang musafir yang telah menolong mereka, hingga akhirnya mereka dapat hidup makmur. Pada saat mereka menceritakan ciri-ciri musafir tersebut, yakinlah bahwa dia adalah Eliyah, sahabatnya.

Cerita itu lumayan membingungkan Efim tentang sahabatnya itu. Sebenarnya Eliyah pergi tidak sih ke Yerusalem? Bukankah Efim melihatnya di sana? Tapi, katanya dia berada di sini selama Efim di Yerusalem. Pertanyaan itu dibawanya pulang. Ketika sampai di desanya, Efim diberitahu keluarganya bahwa Eliyah sudah berada di rumahnya sejak lama. Dia lalu pergi menuju rumah Eliyah.

Keduanya bercengkrama layaknya dua sahabat lama tidak bertemu. Namun, Efim tidak menceritakan bahwa dirinya melihat sahabatnya itu di Yerusalem. Semua pertanyaannya dia pendam. Begitu juga Eliyah, tidak menceritakan usahanya saat dia membantu sebuah keluarga di sebuah desa yang sedang kelaparan. 

Kisah di atas mengajarkan bahwa hakikat ibadah, temasuk ibadah haji, adalah memberi efek positif bagi individu maupun sosial. Ya, ada aspek sosial dari ibadah haji, bukan semata-mata aspek individual. Niat dan keikhlasan dalam melakukannya adalah dua hal terpenting. Apabila keduanya sudah benar, maka berhasil tidaknya untuk bisa beribadah haji bukanlah hal utama lagi. Itu urusan Tuhan. Seseorang yang dapat melakukannya, namun niatnya sudah tidak benar—misalnya karena prestise—maka tidak ada nilainya di mata Tuhan.

Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang sesungguhnya mampu melaksanakan ibadah haji, namun belum bisa berangkat, karena, misalnya, dananya dialokasikan untuk keperluan keluarga atau saudaranya, maka itu sesungguhnya bernilai sangat tinggi di mata Tuhan, karena dia lebih mementingkan orang banyak ketimbang dirinya sendiri.

Boleh jadi kedua orangtuaku sudah mempunyai bekal ongkos, tapi mereka mempunyai keperluan lain untuk anak-anaknya, seperti biaya pernikahan, pendidikan, atau biaya kehidupan sehari-hari, dimana usaha mereka itu mengesampingkan sementara keinginannya naik haji, dan harus menabung kembali. Tentu apa yang dilakukan kedua orangtuaku dicatat Tuhan sebagai sebuah kebaikan yang besar, karena sudah berkorban untuk keluarganya, dengan mengorbankan (sementara) keinginannya naik haji.

Di akhir cerita Efim berujar: “Bahwa di dunia ini Tuhan memerintahkan kepada setiap orang agar bekerja menebus utang kewajiban hidupnya dengan jalan kasih sayang dan pekerjaan-pekerjaan yang baik, sampai ia mati.”[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan - PCNU PATI. Photo by Openverse.

    Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

    • calendar_month Ming, 10 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 323
    • 0Komentar

    (Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta) Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi […]

  • Bulan Depan PCNU Pati Turba ke Tiap Kawedanan

    Bulan Depan PCNU Pati Turba ke Tiap Kawedanan

    • calendar_month Sen, 26 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 455
    • 0Komentar

    PATI – Bulan September besok, PCNU Kab. Pati mengagendakan melakukan turba (turun bawah) ke masing-masing MWC NU di Kabupaten Pati. Meski, untuk efektivitas pelaksanaannya, turba tersebut dilakukan per-eks kawedanan. Kepastian pelaksanaan turba pengurus cabang NU Kabupaten Pati ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi antara PCNU dengan MWC NU se kabupaten Pati, Ahad (25/08) siang kemarin. Wakil […]

  • Seribuan Jemaah Haji Pati Sampai di Kampung Halaman

    Seribuan Jemaah Haji Pati Sampai di Kampung Halaman

    • calendar_month Jum, 19 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.833
    • 0Komentar

    Pati – Seribuan jemaah haji asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah telah sampai di kampung halaman. Mereka dari kloter 43, kloter 49, kloter 50, kloter 51 dan kloter 52. Rinciannya kloter 43 yang berjumlah 2 jemaah sampai di Kabupaten Pati pada Selasa(16/6/2026) malam lalu, 143 jemaah haji Kloter 49 pulang pada Kamis (18/6/2026) malam, 348 jemaah […]

  • PAC IPNU IPPNU Tambakromo sukses MAKESTAkan 51 anggotanya

    PAC IPNU IPPNU Tambakromo sukses MAKESTAkan 51 anggotanya

    • calendar_month Ming, 31 Jan 2021
    • account_circle admin
    • visibility 336
    • 0Komentar

      Pati- Langkah awal dan sekaligus pembekalan organisasi, PAC IPNU IPPNU Kec. Tambakromo sukses rekrut 51 anggotanya untuk mengikuti MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) Kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam  itu di mulai sejak tgl 28-29 Januari 2020.  dengan melibatkan seluruh kepnitiaan dan beberapa Instruktur yang bertugas, berhasil membuat peserta merasakan kemistri yang luar […]

  • Jejak Gus Dur

    Jejak Gus Dur

    • calendar_month Kam, 19 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Tokoh Ulama ; Selama menjadi Ketua Umum PBNU selama 15 tahun, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak mengunjungi daerah, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun 1985, Gus Dur diundang berceramah oleh Rektor IKIP Makassar, Gubernur Prof. Dr. H. A. Amiruddin.Waktu itu, Gus Dur berangkat ke IKIP dan dijamu sarapan pagi. Di meja makan, […]

  • Penutupan, Ma’arif NU Kudus Juara Umum Porsema XIII 2025

    Penutupan, Ma’arif NU Kudus Juara Umum Porsema XIII 2025

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar

    WONOSOBO – Kontingen LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Kudus akhirnya resmi dinobatkan sebagai Juara Umum Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Tahun 2025. Penetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Panitia Penyelenggara Porsema XIII Nomor: 137/PJ.W.11/IX/2025, yang diumumkan pada penutupan Porsema XIII di Gedung Sasana Adipura Kencana, Wonosobo, Sabtu […]

expand_less