Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » PEMBERDAYAAN KEBANGSAAN DAN REALITA EKONOMI MIKRO NU

PEMBERDAYAAN KEBANGSAAN DAN REALITA EKONOMI MIKRO NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 30 Okt 2015
  • visibility 344
  • comment 0 komentar

   Bangsa Indonesia sedang menghadapi permasalahan krusial, seperti tingginya angka kemiskinan, korupsi yang merajalela, mafia hukum yang merebak dalam berbagai sisi kehidupan, dan konflik antar keyakinan agama. Permasalahan tersebut mau tak mau telah membuat proses keadaban bangsa kita menjadi lapuk dan terkikis sedikit demi sedikit. Kesadaran bangsa menjadi berkurang dimana kepentingan individu maupun golongan lebih diutamakan. Elemen bangsa kesulitan membangun kesadarannya berdasarkan moralitas, bukan kepentingan yang lain. peradaban bangsa ini sedang dipertaruhkan karena peradaban yang seyogyanya diagungkan dan dijaga eksistensinya kini terkikis dari ranah publik. Maka dari itu, kekuatan masyarakat memiliki peran yang besar untuk mengembalikan fitrah peradaban Indonesia, sehingga dapat mencegah degradasi keadaban yang lebih parah.

            Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kiprah NU tidak lepas dari tanggung jawab untuk memberikan kontribusinya secara nyata dalam membangun cita-cita peradaban bangsa yang luhur. NU bertanggungjawab tidak hanya memberikan kontribusinya yang dialamatkan kepada jamaah NU, tetapi organisasi ini mendorong tampuk perjuangan yang lebih besar, yaitu merangkul seluruh elemen bangsa yang ada di Indonesia untuk bersatu padu membangun sebuah peradaban yang digadang-gadang dari dulu. NU meyakini bahwa keruntuhan bangsa dimulai ketika keadaban bangsa dibelenggu oleh kepentingan pribadi maupun institusi. Moralitas berperan penting dalam membangun peradaban dan mengembalikan pemberdayaan masyarakat pada kodratnya.
            NU, yang sejak semula berlandaskan pada wawasan yang mendorong pembentukan ide kebangsaan, memberikan kontribusinya dalam ranah keagamaan yang berpegang pada tawassuth(moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan) , dan i’tidal ( keadilan).  Prinsip dasar tersebut seiring sejalan menjadi tonggak perjuangan dari NU untuk mengedepankan kehidupan suasana toleran dan moderat, jauh dari kekerasan yang akhir-akhir ini menjadi marak diperbincangkan. Sikap dasar NU tersebut mendorong generasi bangsa yang mengedepankan hidup toleran, dan merespons secara bijak mengenai isu-isu keagamaan di tanah air.
            NU pun meletakkan fondasi besar yang semestinya, ketika mempelopori penerimaan Pancasila sebagai asas bernegara dan bermasyarakat terhadap umat Islam. Pancasila sebagai konsepsi dasar bagi NU, merupakan titikbalik dalam memberikan kontribusi yang sesuai terhadap cita-cita luhur bangsa Indonesia. NU pun akan terus melontarkan ide-ide kebangsaannya, sesuai dan sejalan dengan cita-cita peradaban bangsa Indonesia, sejak NU digagas oleh K.H Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah.  Pencarian peradaban bangsa yang luhur terus menajdi cita-cita ideal dalam mengyongsong perubahan pada masyarakat, baik dalam skala nasional maupun Internasional.
            Secara konseptual, NU sebagai bagian dari kekuatan masyarakat merambah jalan keadaban dan pemberdayaan untuk meraih cita-cita Indonesia. Dengan jalan yang berliku, tidak mudah untuk membangun kekuatan masyarakat sehingga bersatu padu menapaki kesejahteraan yang digadang-gadang bersama oleh bangsa Indonesia. NU, dengan perspektif dan cita-citanya, telah membangun prinsip dasar umat terbaik yang bertumpu pada moralitas, tanggung jawab dan pembangunan keadaban bangsa dengan semangat kebersamaan lintas agama dan keyakinan. Keadaban bangsa Indonesia tidak lepas dari kekuatan masyarakat yang berperan mendorong kesejahteraan hidup yang ditopang kokoh dalam praktik kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Harapan untuk Kemajuan
            Harapan untuk perubahan dan kemajuan NU selalu digadang-gadang sejak dulu. NU, yang diwarnai oleh sejarahnya dan dinamika, tak luputdari ide-ide dari para ulama, akademisi, maupun aktivis NU. Pembangunan dan pemberdayaan menjadi tonggak utama, yang mana jika hal tersebut tidak dilakukan, maka sejumlah eksponen kultural NU dari berbagai penjuru tanah air akan mengkritik habis-habisan seperti pada kasus Hasyim Muzadi yang dianggap memanfaatkan NU dan lebih mementingkan kepentingannya sendiri. Kepemimpinan tersebut yang dikritik berbagai pihak menunjukkan keseimbangan NU secara kultural maupun secara struktural. NU bukanlah kendaraan politik yang bisa dengan mudah digunakan oleh perseorangan. NU adalah penyeimbang yang memberdayakan imat, dan NU memiliki kesistimewaannya tersendiri sebagai ormas dengan sejarah, budaya dan tradisinya yang secara turun temurun tercermin dalam pengambilan keputusan krusial untuk mencapai kemaslahatan bangsa.
            Reformasi NU, yang dikenal meletakkan NU jauh dari kepentingan politik elite, memformat beebrapa hal penting. Salah satunya adalah pandangan Khittah 1926, yang mana pandangan tersebut meniscayakan adanya wawasan keagamaan yang mampu menerjemahkan visi keulamaan dalam konteks pemberdayaan, pencerdasan dan penyejahteraan masyarakat. Kebangkitan tersebut tidak menunjukkan individu, akan tetapi lebih menitik beratkan pada sistem dan orientasi keulaamaan. Kebangkitan ulama, yang biasa kita kenal sebagai nahdlatul ‘ulamaharus sejalan dengan kebangkitan masyarakat yang biasa kita kenal sebagai nahdlatul ummah. Maka dari itu, tgas keulamaan tidak lain tidak bukan adalah mencerahkan dan mensejahterakan umat, melalui pemberdayaan masyarakat.
            Sikap Khittah 1926, yang menjadi topik hangat akhir-akhir ini merupakan kelanjutan dari penerjemahan dari pandangan khittah. Sikap khittah meniscayakan adanya upaya pemberdayaan dan pembebasan warga NU dari kemiskinan dan kelaparan. Para ulama menyetujui bahwa pengembangan ekonomi sejalan dengan pembangunan dan pengembangan tradisi keilmuan. Kebangkitan para ulama akan merespons adanya kebangkita para pedagang yang disebut sebagai Nahdhatut Tujjar. Fungsi dari keulamaan tidak hanya pada sekop yang kecil yaitu keilmuan, tetapi juga merangkul adanya sekop fungsi pemberdayaan ekonomi. Sikap khittah tersebut menandai adanya transformasi sosial dari kalangan masyarakat NU.
            Lebih jauh, sikap khittah dalam konteks sekarang menyimpan sebuah harapan adanya kehidupan ekonomi di tingkat mikro, yaitu ekonomi kerakyatan. NU menitikberatkan pada kehidupan dan penghidupan ekonomi kerakyatan atau ekonomi mikro, pada pemberdayaan petani, nelayan dan buruh. NU menaruh perhatian pada ekonomi kerakyatan, karena NU hakikatnya adalah organisasi kemasyarakatan yang diamanatkan dapat melakukan kerja pemberdayaan, khususnya pada bidang ekonomi.
Realita Pemberdayaan Ekonomi Mikro
            Dalam tradisi keilmuan, NU memiliki posisi sebagai garda terdepan. Wawasan keagamaan di tangan NU adalah wawasan moderat, dan NU dikenal sebagai komunitas muslim yang humanis dan pluralis. Abdurrahman Wahid terkenal sebagai sosok yang dapat mempertahankan dan mengembangkan kemoderatan Islam ala NU. Dalam hal pemberdayaan dan kesejahteraan sosial, NU berada pada shaf paling belakang dengan ormas lain. hal itu dikarenakan sikap khittah yang dicederai oleh politik praktis dan elite NU yang mengutamakan kepentingan diri sendiri.
            Ironis memang, namun itulah kenyataan yang terjadi, menilik pada ideologi yang berkembang sedemikian rupa dari para politik praktis. Pemberdayaan masyarakat yang digadang-gadang sebagai transformasi sosial penyeimbang ekonomi kerakyatan, menjadi pincang dalam hal praktik di masyarakat. NU semestinya menegakkan lagi eksistensi dirinya sebagai organisasi sosial keagamaan yang tidak berpolitik praktis serta mampu merawat masyarakatnya dalam menyongsong keberhasilan yang digadang bersama.(Niken Kinanti S.ST)
Daftar pustaka
Demoralisasi Khittah Nu dan pembaruan. Ahmad Nurhasim dan Nur Khalik Ridwan. 2004/ Pustaka Tokoh Bangsa: Yogyakarta
Nahdlatul Ulama Dinamika Ideologi Dan Politik Kenegaraan. 2010. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.
Ulama Perempuan Indonesia. Jajat Burhanudin. 2002. Gramedia. Jakarta.
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    PGMI INSINU Temanggung Kupas Tuntas Tantangan Profesonalitas Guru Abad 21

    • calendar_month Sel, 25 Jun 2024
    • account_circle admin
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Temanggung, 22 Juni 2024 – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung mengadakan webinar dengan tema “Tantangan Profesionalitas Guru pada Abad 21” pada Sabtu (22/6). Acara yang diselenggarakan melalui platform Zoom ini diikuti oleh lebih dari 70 peserta. Dalam kegiatan tersebut PGMI INISNU Temanggung berkolaborasi dengan UIN Saizu Purwokerto.  […]

  • Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.366
    • 0Komentar

    Aceh Timur — Banjir bandang itu datang tanpa memberi waktu. Dalam hitungan menit, air setinggi enam meter menyeret rumah, sawah, ternak, kendaraan, dan seluruh harta warga Dukuh Dataran Indah, Kecamatan Peunaron. Di antara ratusan korban, rumah milik Maslukin, Wagiran, Adnan, dan Efendy ikut tergeser puluhan meter dari tempat semula. Hari itu, Jumat 16 Januari 2026, […]

  • PCNU-PATI

    Ujian Munaqosah MANU Gembong, Kitab Kuning Menu Wajib

    • calendar_month Kam, 16 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id GEMBONG – Madrasah memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh sekolah lain, yaitu pendidikan agama yang mendalam.  Terlebih, madrasah di bawah naungan NU. Muatan Lokal (Mulok) kitab kuning seperti hal wajib. Inilah yang disampaikan Ali Sholahuddin, Kepala MANU Gembong di sela-sela ujian Munaqosah MANU tahun 2023, Rabu (15/3) pagi.  Pihaknya membuat standarisasi kelulusan dengan mengadakan […]

  • Man in Black Leather Jacket and Black Knit Cap Sitting on Brown Wooden Chair

    Pembakaran Kemenyan saat Manaqiban

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Pada saat membaca “ manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani “ ada sebagian masyarakat yang mempunyai adat  membakar kemenyan disamping jam’iyah manaqib tersebut. Asap tersebut sebagai penghormatan kehadiran beliau . Pertanyaan : Bagaimana hukumnya membakar kemenyan tersebut ? Jawaban : Boleh Referensi : Bulhoh at Thullab hal 53-54 2. Benarkah Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani hadir saat […]

  • Ma'arif NU Jateng Finalkan Pedoman Branding Madrasah/Sekolah Unggulan

    Ma’arif NU Jateng Finalkan Pedoman Branding Madrasah/Sekolah Unggulan

    • calendar_month Ming, 2 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Semarang – Bertempat di Parkit Room Hotel Muria Semarang, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar Lokakarya Pedoman Branding Madrasah/Sekolah Unggulan pada Ahad (2/7/2023). Dalam laporannya, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah menyempurnakan pedoman branding madrasah/sekolah unggulan yang sudah menjadi program prioritas. […]

  • PCNU-PATI

    Puasa setelah Puasa

    • calendar_month Sel, 2 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Kebanyakan orang memandang, memahami, menginterpretasi bahwa puasa ya hanya puasa Ramadan. Ya, benar kalau itu puasa wajib sebagai bagian dari rukun Islam. Namun, sebenarnya banyak puasa setelah puasa, puasa di atas puasa, puasa pasca puasa. Realitasnya, setelah bulan Ramadan yang penuh berkah berlalu, umat muslim di seluruh dunia seringkali berpikir tentang bagaimana […]

expand_less