Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lailatul Qadar dan Teknologi Alquran

Lailatul Qadar dan Teknologi Alquran

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 10.364
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Al-Quran bagi saya adalah kitab teknologi. Agak aneh po kedengarannya? Ya, bisa jadi demikian. Nah, di dalam momentum akhir Ramadan ini, kita perlu mengkaji lagi Lailatul Qadar (baku: Lailatulqadar) sebagai “bonus” yang diberikan Allah Swt di bulan suci Ramadan.

 

Lazim kita jumpai, suasana spiritual umat Islam di dunia sering berubah menjadi lebih hening dan reflektif tiap 10 (sepuluh) malam terakhir Ramadan. Musala, masjid, pesantren, dan majelis-majelis dipenuhi orang bertadarus Al-Quran, iktikaf, zikir, dan memperbanyak doa. Zaman dulu, gambaran malam-malam tersebut sangat identik dengan mushaf yang terbuka di pangkuan dan lantunan ayat yang mengalun pelan dari bibir para pembaca.

 

Lalu bagaimana era digital saat ini? Tentu lanskap tersebut terjadi transformasi yang menarik. Artinya, di satu tangan masih terbuka mushaf, tetapi di tangan lain layar gawai menyala dengan aplikasi Azan, Al-Quran, audio murattal, atau fitur pengingat ibadah. Hal ini menegaskan bahwa kita sedang berada di persimpangan unik, yaitu antara pencarian Lailatulqadar bersifat metafisik dan pemanfaatan teknologi digital yang bersifat teknis.

 

Teknologi: Hanya Sekadar Alat

Teknologi bagi saya hanya alat. Tak hanya dalam ibadah, dalam pendidikan-pembelajaran pun riset disertasi saya Guru Sekolah Dasar Profesional dalam Pembelajaran berbasis Digital (2024) ya masih sekadar alat. Intinya, perubahan ini tak selalu wajib dipandang sebagai ancaman bagi kekhusyu’an ibadah. Ketika dimanfaatkan dengan bijaksana dan cerdas, teknologi justru bisa menjadi jembatan yang mempercepat akses manusia terhadap wahyu.

 

Malam Lailatulqadar dalam Kitab Suci Al-Quran dipaparkan adalah momen turunnya wahyu ilahi yang sangat agung. Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Qadr ayat 1 yaitu: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1).

 

Nah, ayat ini menandai peristiwa kosmis yang luar biasa. Di dalam tradisi tafsir, peristiwa tersebut dipahami sebagai proses transmisi wahyu dari alam ketuhanan menuju dunia manusia. Lailatulqadar dalam perspektif simbolik bisa dimaknai sebagai momentum komunikasi ilahi yang paling intens dalam catatan sejarah spiritual manusia.

 

Malam tersebut (Lailatulqadar) lebih baik daripada seribu bulan, menandakan betapa besar nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Ya, penegasan Kanjeng Nabi Muhammad Saw ini tentu memberikan impresi pada kita bahwa Lailatulqadar itu susah dicerna akal. Dalam konteks masyarakat modern, teknologi hakikatnya bisa membantu memperluas jangkauan interaksi manusia dengan Al-Quran.

 

Maksudnya bagaimana? Aplikasi Al-Quran digital, audio murattal, kitab kuning, sampai basis data tafsir dapat memungkinkan seorang mengakses teks Al-Quran kapan saja dan di mana saja tanpa sebuah kendala. Ketika dulu seorang harus membawa mushaf tebal dan kitab tafsir yang berat dan bisa jadi “ribet”, namun kini ratusan kitab bisa diakses hanya lewat satu perangkat kecil di saku.

 

Sebenarnya, pandangan intelektual atas pemahaman tersebut sudah muncul lebih duluan sebelum munculnya teknologi modern. Lewat Kitab Al-Itqan fi Ulumil Quran, Jalaluddin al-Suyuti memaparkan sejumlah dimensi kemukjizatan Al-Quran. Hal itu mulai dari aspek sastrawi, tata bahasa, mantiq, struktur makna, hingga kedalaman pesan spiritualnya. Nah, ikhtiar para ulama dalam menulis tafsir, klasifikasi tema, indeks ayat itu sebenarnya adalah bentuk teknologi intelektual yang monumental pada zamannya. Artinya, mereka telah berusaha keras di tengah keterbatasan teknologi untuk mempermudah generasi berikutnya dalam memahami wahyu secara lebih sistematis. Ini kan keren namanya!

 

Sistem Temu Kembali Informasi

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Tafsir Marāhul Labīd li Kasyfi Ma`na al-Qur’ān al-Majīd (Jilid I dan Jilid II) menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan sangat teliti, detail, dan eksplisit lewat rujukan beragam kitab-kitab tafsir klasik. Ketika masa itu ulama harus membuka banyak manuskrip untuk menemukan relasi antarayat, kini teknologi digital memungkinkan proses yang sama dilakukan dengan hitungan detik pencarian saja. Tentu hal ini membuktikan teknologi modern merupakan kelanjutan dari tradisi intelektual ulama dalam mempermudah akses terhadap wahyu. Hanya saja, tentu teknologi bukan tujuan utama, namun sekadar alat saja.

 

Teknologi hakikatnya dapat membantu memperdalam pengalaman spiritual seorang. Ini adalah  dari perspektif psikologi kognitif. Riset soal neuropsikologi dalam buku The Quran and Modern Science (1976), Maurice Bucaille mengungkap mendengarkan bacaan Al-Quran dalam suasana tenang dapat memicu gelombang otak alpha dan theta yang berkaitan dengan kondisi relaksasi dan meditasi yang mendalam. Kondisi seperti ini sangat mendukung munculnya rasa khusyuk dalam ibadah. Murattal Al-Quran ewat teknologi audio digital kini bisa didengarkan kapan saja, sambal rebahan, sambal nunggu bukar bersama, bahkan ketika seorang berada di perjalanan, mudik, atau sebelum tidur pada malam-malam Lailatulqadar.

 

Fenomena tersebut dapat dipaparkan lewat sebuah teori information retrieval atau sistem temu kembali informasi. Pandangan dalam kajian ilmu komputer ini ditulis dalam buku Introduction to Information Retrieval (2008) oleh Christopher D. Manning. Menurutnya, perkembangan teknologi pencarian informasi memungkinkan umat manusia mencari dan menemukan data relevan dengan cepat. Fitur pencarian ayat atau tema, dalam konteks Al-Quran bisa memudahkan seorang pembaca menemukan relasi makna yang sebelumnya membutuhkan waktu agak lama. Proses belajar Al-Quran dengan teknologi ini menjadi lebih efisien tanpa harus mengurangi kedalaman dan keluasan refleksinya.

 

Meski begitu, teknologi tetap dipahami sebagai alat bukan tujuan. Artinya, teknologi hanya tools yang membantu umat Islam dalam menebalkan ketakwaan dan keimanan pada Allah Swt. Dalam kaidah fikih dikenal prinsip kaidah fikih

الوَسِيْلَةُ لَهَا أَحْكَامُ المَقَاصِدِ

Secara bahasa, Al-Wasilatu laha Hukmul Maqasid” berarti “Perantara/sarana itu memiliki hukum yang sama dengan tujuan (maqasid)”. Artinya, suatu sarana mendapatkan hukum yang mengikuti tujuannya. Ketika teknologi dipakai, digunakan, dimanfaatkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dengan Al-Quran, maka ia menjadi sarana ibadah yang bernilai mulia. Namun ketika teknologi justru mengalihkan perhatian seorang dari kekhusyukan ibadah, semisal karena gangguan notifikasi atau distraksi medsos, maka fungsi spiritualnya menjadi kabur dan hilang.

 

Kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi selama malam-malam Lailatulqadar dalam aspek ini menjadi urgen. Artinya, aplikasi Al-Quran, murattal, kitab-kitab kuning seperti dalam Maktabah Syamilah dan Maktabah Syumila NU Fiha (MSNU) dapat membantu membaca, mencari tafsir, download, mengatur target tilawah. Namun usai ayat dibaca dan dipahami, manusia tetap perlu menutup layar dan membuka ruang sunyi dalam hatinya. Sebab, pengalaman spiritual pada akhirnya, tak terjadi di layar perangkat digital, namun ada dalam kesadaran batin manusia yang berinteraksi langsung dengan wahyu.

 

Lailatulqadar hakikat menjadi momen koneksi paling intim antara manusia dan Allah Swt. Sehebat-hebat teknologi yang bisa membantu menemukan jalan menuju malam tersebut, namun ia tak bisa menggantikan pengalaman spiritual yang hakiki. Maka, ayo gunakan teknologi sebagai jembatan alat, media, wahana menuju Allah Swt, bukan sebagai penghalang bagi cahaya ilahi. Pasalnya, cahaya Lailatulqadar tak turun pada layar dengan resolusi tinggi dan Iphone 17, namun pada hati yang bersih dan terbuka untuk menerima pesan langit. Jadi, apapun brand dan tipe gawaimu, bukan menjadi penentu mendapatkan Lailatulqadar. Benar nggak?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

    Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

    • calendar_month Rab, 1 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Kedalaman ilmu, kebeningan hati, keagungan moral, dan kearifan hidup tidak lahir tiba-tiba. Ia membutuhkan asupan ilmu, bimbingan rohani, dan pancaran cahaya Ilahi dari orang-orang di sekitarnya. Peran keluarga dan lingkungan sangat vital untuk membentuk pribadi agung di atas. Salah pribadi agung tersebut adalah KH. Ahmad Nafi’ Abdillah. Beliau lahir dari lingkungan keluarga yang sangat religius, […]

  • PCNU - PATI

    Pengurus PAC IPNU IPPNU Resmi Dilantik

    • calendar_month Sel, 5 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 388
    • 0Komentar

    KAYEN – Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU Tlogowungu Periode 2022–2024 telah resmi dilantik pada Ahad (3/7/2022), di Gedung Serbaguna Balai Desa Trimulyo Kecamatan Kayen. Sebanyak 80 Pengurus telah berikrar pada kesempatan tersebut, 34 IPNU dan 46 IPPNU. Acara tersebut dihadiri oleh MWC NU Kayen, Camat, Anggota Polsek Tlogowungu, Fatayat dan Muslimat sekitar. Tema […]

  • Ada Nama Perempuan di Daftar Pengurus Besar NU, Ini Susunan Lengkapnya

    Ada Nama Perempuan di Daftar Pengurus Besar NU, Ini Susunan Lengkapnya

    • calendar_month Rab, 12 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 625
    • 0Komentar

    Kantor PBNU, tempat bernaung para pengurus NU di tingkat Nasional JAKARTA – Muktamar PBNU NU yang telah dilaksanakan 21 sampai 25 Desember 2021 lalu melahirkan pemimpin baru untuk NU luma tahun ke depan.  KH. Yahya Cholil Staquf, terpilih sebagai Ketua Umum PBNU menggantikan KH. Said Aqil Siradj. Sementara, posisi Ro’is Aam masih diduduki oleh KH. […]

  • Peraih Umroh PGSI: Hadiah Ini untuk Ibu Agar Bisa ke Baitullah

    Peraih Umroh PGSI: Hadiah Ini untuk Ibu Agar Bisa ke Baitullah

    • calendar_month Ming, 18 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 663
    • 0Komentar

    JAKEN-Sri Muhsinah, guru RA yang mendapatkan doorprize umroh berencana menghadiahkan paket umroh tersebut untuk ibu tercinta. Sehingga Sang Ibu tercinta dapat menunaikan ibadah umroh ke Baitullah. Paket umroh ini merupakan hadiah utama dalam acara Jalan Sehat yang digelar oleh Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) pada Minggu (18/8) kemarin. Sebagaimana diberitakan pcnupati.or.id sebelumnya, Persatuan Guru Seluruh Indonesia […]

  • Gus Rozin: Wisuda Bukan Akhir, Tapi Awal Pengabdian kepada Masyarakat

    Gus Rozin: Wisuda Bukan Akhir, Tapi Awal Pengabdian kepada Masyarakat

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.414
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, KH Abdul Ghafar Rozin memberikan sambutannya pada Wisuda Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Arab 2025 yang diselenggarakan pada di Aula 2 Kampus IPMAFA, Sabtu (8/11/25). Dalam sambutannya, Gus Rozin sapaan akrabnya menyampaikan bahwa wisuda tidak boleh dimaknai hanya sebagai ajang pemberian ijazah tanpa makna yang mendalam. […]

  • Hukum Mengusap Tangan Setelah Berdoa

    Hukum Mengusap Tangan Setelah Berdoa

    • calendar_month Sen, 26 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 812
    • 0Komentar

    Pertanyaan : Ada salah satu praktik orang – orang ketika berdoa mereka mengangkat kedua tangan dan setelah selesai, mereka mengusapkannya ke wajah. akan tetapi setelah doa qunut di saat sholat subuh mengapa ada yang mengusapkan tanganya ke wajah dan ada yang tidak, mohon dijelaskan cara yang benar itu bagaimana ?   Jawaban :Setelah berdo`a dianjurkan […]

expand_less