Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lailatul Qadar dan Teknologi Alquran

Lailatul Qadar dan Teknologi Alquran

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 10.272
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Al-Quran bagi saya adalah kitab teknologi. Agak aneh po kedengarannya? Ya, bisa jadi demikian. Nah, di dalam momentum akhir Ramadan ini, kita perlu mengkaji lagi Lailatul Qadar (baku: Lailatulqadar) sebagai “bonus” yang diberikan Allah Swt di bulan suci Ramadan.

 

Lazim kita jumpai, suasana spiritual umat Islam di dunia sering berubah menjadi lebih hening dan reflektif tiap 10 (sepuluh) malam terakhir Ramadan. Musala, masjid, pesantren, dan majelis-majelis dipenuhi orang bertadarus Al-Quran, iktikaf, zikir, dan memperbanyak doa. Zaman dulu, gambaran malam-malam tersebut sangat identik dengan mushaf yang terbuka di pangkuan dan lantunan ayat yang mengalun pelan dari bibir para pembaca.

 

Lalu bagaimana era digital saat ini? Tentu lanskap tersebut terjadi transformasi yang menarik. Artinya, di satu tangan masih terbuka mushaf, tetapi di tangan lain layar gawai menyala dengan aplikasi Azan, Al-Quran, audio murattal, atau fitur pengingat ibadah. Hal ini menegaskan bahwa kita sedang berada di persimpangan unik, yaitu antara pencarian Lailatulqadar bersifat metafisik dan pemanfaatan teknologi digital yang bersifat teknis.

 

Teknologi: Hanya Sekadar Alat

Teknologi bagi saya hanya alat. Tak hanya dalam ibadah, dalam pendidikan-pembelajaran pun riset disertasi saya Guru Sekolah Dasar Profesional dalam Pembelajaran berbasis Digital (2024) ya masih sekadar alat. Intinya, perubahan ini tak selalu wajib dipandang sebagai ancaman bagi kekhusyu’an ibadah. Ketika dimanfaatkan dengan bijaksana dan cerdas, teknologi justru bisa menjadi jembatan yang mempercepat akses manusia terhadap wahyu.

 

Malam Lailatulqadar dalam Kitab Suci Al-Quran dipaparkan adalah momen turunnya wahyu ilahi yang sangat agung. Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Qadr ayat 1 yaitu: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1).

 

Nah, ayat ini menandai peristiwa kosmis yang luar biasa. Di dalam tradisi tafsir, peristiwa tersebut dipahami sebagai proses transmisi wahyu dari alam ketuhanan menuju dunia manusia. Lailatulqadar dalam perspektif simbolik bisa dimaknai sebagai momentum komunikasi ilahi yang paling intens dalam catatan sejarah spiritual manusia.

 

Malam tersebut (Lailatulqadar) lebih baik daripada seribu bulan, menandakan betapa besar nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Ya, penegasan Kanjeng Nabi Muhammad Saw ini tentu memberikan impresi pada kita bahwa Lailatulqadar itu susah dicerna akal. Dalam konteks masyarakat modern, teknologi hakikatnya bisa membantu memperluas jangkauan interaksi manusia dengan Al-Quran.

 

Maksudnya bagaimana? Aplikasi Al-Quran digital, audio murattal, kitab kuning, sampai basis data tafsir dapat memungkinkan seorang mengakses teks Al-Quran kapan saja dan di mana saja tanpa sebuah kendala. Ketika dulu seorang harus membawa mushaf tebal dan kitab tafsir yang berat dan bisa jadi “ribet”, namun kini ratusan kitab bisa diakses hanya lewat satu perangkat kecil di saku.

 

Sebenarnya, pandangan intelektual atas pemahaman tersebut sudah muncul lebih duluan sebelum munculnya teknologi modern. Lewat Kitab Al-Itqan fi Ulumil Quran, Jalaluddin al-Suyuti memaparkan sejumlah dimensi kemukjizatan Al-Quran. Hal itu mulai dari aspek sastrawi, tata bahasa, mantiq, struktur makna, hingga kedalaman pesan spiritualnya. Nah, ikhtiar para ulama dalam menulis tafsir, klasifikasi tema, indeks ayat itu sebenarnya adalah bentuk teknologi intelektual yang monumental pada zamannya. Artinya, mereka telah berusaha keras di tengah keterbatasan teknologi untuk mempermudah generasi berikutnya dalam memahami wahyu secara lebih sistematis. Ini kan keren namanya!

 

Sistem Temu Kembali Informasi

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Tafsir Marāhul Labīd li Kasyfi Ma`na al-Qur’ān al-Majīd (Jilid I dan Jilid II) menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan sangat teliti, detail, dan eksplisit lewat rujukan beragam kitab-kitab tafsir klasik. Ketika masa itu ulama harus membuka banyak manuskrip untuk menemukan relasi antarayat, kini teknologi digital memungkinkan proses yang sama dilakukan dengan hitungan detik pencarian saja. Tentu hal ini membuktikan teknologi modern merupakan kelanjutan dari tradisi intelektual ulama dalam mempermudah akses terhadap wahyu. Hanya saja, tentu teknologi bukan tujuan utama, namun sekadar alat saja.

 

Teknologi hakikatnya dapat membantu memperdalam pengalaman spiritual seorang. Ini adalah  dari perspektif psikologi kognitif. Riset soal neuropsikologi dalam buku The Quran and Modern Science (1976), Maurice Bucaille mengungkap mendengarkan bacaan Al-Quran dalam suasana tenang dapat memicu gelombang otak alpha dan theta yang berkaitan dengan kondisi relaksasi dan meditasi yang mendalam. Kondisi seperti ini sangat mendukung munculnya rasa khusyuk dalam ibadah. Murattal Al-Quran ewat teknologi audio digital kini bisa didengarkan kapan saja, sambal rebahan, sambal nunggu bukar bersama, bahkan ketika seorang berada di perjalanan, mudik, atau sebelum tidur pada malam-malam Lailatulqadar.

 

Fenomena tersebut dapat dipaparkan lewat sebuah teori information retrieval atau sistem temu kembali informasi. Pandangan dalam kajian ilmu komputer ini ditulis dalam buku Introduction to Information Retrieval (2008) oleh Christopher D. Manning. Menurutnya, perkembangan teknologi pencarian informasi memungkinkan umat manusia mencari dan menemukan data relevan dengan cepat. Fitur pencarian ayat atau tema, dalam konteks Al-Quran bisa memudahkan seorang pembaca menemukan relasi makna yang sebelumnya membutuhkan waktu agak lama. Proses belajar Al-Quran dengan teknologi ini menjadi lebih efisien tanpa harus mengurangi kedalaman dan keluasan refleksinya.

 

Meski begitu, teknologi tetap dipahami sebagai alat bukan tujuan. Artinya, teknologi hanya tools yang membantu umat Islam dalam menebalkan ketakwaan dan keimanan pada Allah Swt. Dalam kaidah fikih dikenal prinsip kaidah fikih

الوَسِيْلَةُ لَهَا أَحْكَامُ المَقَاصِدِ

Secara bahasa, Al-Wasilatu laha Hukmul Maqasid” berarti “Perantara/sarana itu memiliki hukum yang sama dengan tujuan (maqasid)”. Artinya, suatu sarana mendapatkan hukum yang mengikuti tujuannya. Ketika teknologi dipakai, digunakan, dimanfaatkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dengan Al-Quran, maka ia menjadi sarana ibadah yang bernilai mulia. Namun ketika teknologi justru mengalihkan perhatian seorang dari kekhusyukan ibadah, semisal karena gangguan notifikasi atau distraksi medsos, maka fungsi spiritualnya menjadi kabur dan hilang.

 

Kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi selama malam-malam Lailatulqadar dalam aspek ini menjadi urgen. Artinya, aplikasi Al-Quran, murattal, kitab-kitab kuning seperti dalam Maktabah Syamilah dan Maktabah Syumila NU Fiha (MSNU) dapat membantu membaca, mencari tafsir, download, mengatur target tilawah. Namun usai ayat dibaca dan dipahami, manusia tetap perlu menutup layar dan membuka ruang sunyi dalam hatinya. Sebab, pengalaman spiritual pada akhirnya, tak terjadi di layar perangkat digital, namun ada dalam kesadaran batin manusia yang berinteraksi langsung dengan wahyu.

 

Lailatulqadar hakikat menjadi momen koneksi paling intim antara manusia dan Allah Swt. Sehebat-hebat teknologi yang bisa membantu menemukan jalan menuju malam tersebut, namun ia tak bisa menggantikan pengalaman spiritual yang hakiki. Maka, ayo gunakan teknologi sebagai jembatan alat, media, wahana menuju Allah Swt, bukan sebagai penghalang bagi cahaya ilahi. Pasalnya, cahaya Lailatulqadar tak turun pada layar dengan resolusi tinggi dan Iphone 17, namun pada hati yang bersih dan terbuka untuk menerima pesan langit. Jadi, apapun brand dan tipe gawaimu, bukan menjadi penentu mendapatkan Lailatulqadar. Benar nggak?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masjid Sebagai Center of Literasi. Photo by Dhru J on Unsplash.

    Masjid Sebagai Center of Literasi

    • calendar_month Sab, 29 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Oleh: Siswanto Setiap kali mendengar kata “masjid”, biasanya nalar pikir kita langsung tertuju pada sebentuk bangunan yang mempunyai ciri khas tersendiri dengan mihrab yang menonjol ke depan dan kubah yang menjulang tinggi ke atas. Sebuah bangunan unik yang menjadi salah satu ciri utama dan pertama Islam sekaligus sebagai wahana penggodokan umatnya. Selain itu, masjid juga […]

  • PCNU-PATI Photo by Haidan

    Haji dan Transformasi Manajemen Kerumunan Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Oleh : Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag. _Rektor UIN Walisongo Semarang_ Haji merupakan ibadah multidimensional, dan multisektoral. Secara multidimensional, haji merupakan ibadah yang utuh, melibatkan hati dalam menata niat, emosi, dan spiritual; optimalisasi fisik dalam ibadah yang membutuhkan mobilitas seperti tawaf, sai,  mabit dan jumrah. Dalam perkembangannya, dimensi ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan tiga […]

  • Dari Kendal, Kick Off Rakerdin Ma’arif NU Jateng Resmi Digelar

    Dari Kendal, Kick Off Rakerdin Ma’arif NU Jateng Resmi Digelar

    • calendar_month Sab, 11 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 442
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id- Kendal – Setelah melaksanakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I pada Sabtu (19/10/2024) lalu, pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029 menggelar Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) yang akan dimulai Sabtu (11/1/2025) di Kabupaten Kendal. “Kita resmi kick off atau memulai Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Lembaga Pendidikan Maarif NU PWNU Jawa […]

  • PCNU - PATI

    K. Ahmad Rozi Nahkodai MWC NU Pucakwangi

    • calendar_month Rab, 6 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 408
    • 0Komentar

    Pucakwangi – Sah! MWC NU Kecamatan Pucakwangi resmi ganti pemimpin setelah melakukan konferensi pada Ahad (3/7) bertempat di gedung IPHI Pucakwangi beberapa waktu lalu. MWC NU Pucakwangi di bawah kepemimpinan KH. Yasin telah berakhir tahun ini.  Dan  K. Ahmad Rozi yang menjadi penerus perjuangan pengurus sebelumnya memaparkan bahwa pihaknya akan fokus pada tiga poin penting. […]

  • PCNU-PATI Photo by Harmoni Widiya

    (Ter)bedah Buku

    • calendar_month Rab, 14 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Oleh: Niam At Majha Hari ini, sejak malam tadi adalah jadwal saya untuk menulis di setiap Rabu. Sebuah aktifitas sederhana untuk mengejawantahkan segala renik-renik pemikiran yang bersarang di kepala. Dan soal buah pemikirannya nanti bagus atau pun tak tergantung siapa yang membaca dan mengomentarinya. Terpenting yaitu rutinitas di hari Rabu harus tetap berjalan, bagaimana pun, […]

  • Ribuan Warga Hadiri Haul Mbah Sahal di Kajen

    Ribuan Warga Hadiri Haul Mbah Sahal di Kajen

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Pati, NU OnlineSuasana kediaman almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/1), tampak khidmat meski hujan megguyur desa setempat dan sekitarnya sejak pagi. Ribuan warga antusias menghadiri peringatan haul pertama atau satu tahun wafatnya Rais Aam PBNU itu. Hadir dalam tahlil umum tersebut perwakilan PBNU, antara lain […]

expand_less