Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Celoteh » Dari Generasi Rumah, Hingga Generasi Cafe

Dari Generasi Rumah, Hingga Generasi Cafe

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
  • visibility 357
  • comment 0 komentar

Pagi ini saat saya sedang bersantai dikamar setelah melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga, saya mendengar percakapan paman saya dengan saudara jauh didepan rumah. Yang dibicarakan adalah tentang anak zaman sekarang.

Cerita bermula saat saudara jauh kami bertanya pada paman tentang siapa pemilik motor terparkir didepan teras rumah saya. Paman saya menjawab bahwa itu motor keponakannya yang habis dipakai mengambil tebu (pohon tebu yang masih muda) untuk makanan sapi peliharaannya.

Saudara jauh kami pun kembali bertanya dimana keponakan yang dimaksud paman saya tersebut. Karena diteras rumah tak ada siapapun kecuali paman saya. Paman kembali menjawab dengan mengatakan bahwa keponakannya masih tidur dikamar adik saya. Karena tadi malam dia main kerumah dan menginap disini.

Lantas, paman ingin membenarkan apa yang ia sampaikan kepada saudara jauh kami dengan mengecek ke kamar adik saya. Dan benar saja, ia mengatakan keponakannya masih tertidur pulas dengan adik saya disampingnya. Saudara jauh kami lalu berkata, “Enak ya anak zaman sekarang. Jam segini masih tidur, sedangkan kita para orang tua sudah kesana kemari.”

Sontak saya merasa hal itu sebagai tamparan. Saya menangkap makna tersirat dari apa yang disampaikan saudara jauh kami yaitu tentang kemalasan anak zaman sekarang. Maunya enak saja. Tak mau susah payah. Apa saja keinginannya tinggal minta ke orang tua. Kalau tak dituruti, jurusnya adalah murung atau mogok makan lah atau puasa bicara biasanya. Seperti yang digambarkan pada tayangan televisi.

Dua hari yang lalu saat saya sedang menemani kawan saya membuat project untuk konten youtube di sebuah Cafe, saya melihat ada gerombolan anak-anak SMA sedang belajar kelompok disana. Batin saya wah hedon sekali mereka. Kerja kelompok saja di Cafe. Berbeda dengan zaman saya saat masih menjadi siswa dulu. Kerja kelompok ya di rumah salah satu teman kami. Hingga  terjalin keakraban  antara saya dengan orang tua teman saya.

Pemandangan dua hari lalu tampak berbeda. Meski tak semua siswa zaman sekarang yang hedonis. Pasti ada yang masih sederhana layaknya saya pada era dulu. Saya melihat mereka sedang berdiskusi dan sesekali tertawa sambil menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Saya melihat makanan yang tersaji bukanlah makanan yang sederhana, karena bila ditaksir semua, saya kira sampailah seratus ribuan.

Setelah mereka selesai mengerjakan tugas, saya kembali melihat apa yang mereka lakukan. Bukan karena kepo, tapi meja kami tak jauh jaraknya. Jadi kegaduhan mereka saya bisa mendengar dan melihat. Mereka lantas membuat video pada aplikasi yang tengah boming sekarang ini  Tik Tok namanya. Mereka berjoget-joget didepan kamera, dan sesekali tertawa. Selain video, mereka juga berselfi dengan satu orang naik diatas meja. Barangkali karena kamera hp tak bisa menangkap wajah mereka semua. Teman saya yang sejak tadi disamping saya menggerutu melihat tingkah anak-anak berseragam abu-abu tersebut.

Perkembangan zaman sangat mempengaruhi perkembangan anak didik dan masyarakat kita. Ya salah satu contohnya ini. Saya membayangkan apa pekerjaan masing-masing orang tuanya dan berapa uang saku yang diberikan per harinya. Jika saja pekerjaannya hanya serabutan dengan gaji yang tak tetap dan tak banyak, tentu sangat memprihatinkan. Jelas, sang orang tua akan lebih mementingkan keinginan anaknya dibanding dirinya sendiri. Orang tua mana yang tega melihat anak kesayangannya menangis dan sedih karena keinginannya tak terkabul.

Saya cuma berpesan kepada adik-adik saya dan khususnya pada diri saya sendiri tentunya bahwa kehidupan ini tak hanya ada yang enak saja. Kadang ya ada yang tak enak, kadang ada yang menyusahkan. Selalu ada dua sisi. Karena kesemuanya itu untuk berkesalingan. Kita tak tahu bahagia, jika tak pernah merasakan sedih. Begitu sebaliknya. Jadi, sebagai generasi muda yang nantinya akan menggantikan peran generasi tua terutama orang tua kita. Mari untuk saling memahami. Bukan sebab keinginan lantas kita bisa seenaknya saja. Ingat, apa yang kita tanam, akan menuai hasilnya kelak. (Inayatun Najikah)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PMH Al-Kautsar Gandeng LTN NU Gelar Training Jurnalistik

    PMH Al-Kautsar Gandeng LTN NU Gelar Training Jurnalistik

    • calendar_month Jum, 26 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 566
    • 0Komentar

    Pesantren Mathali’ul Huda Al-Kautsar mengadakan Training of Journalism untuk pengelola media pesantren pada Jumat (26/7) di Gedung PDF PMH Al-Kautsar. Training tersebut menghadirkan M. Sofyan Alnashr dan Arwani dari LTN NU Pati sebagai trainer. Acara training diawali dengan materi pengantar jurnalistik, tehnik reportase dan wawancara. Kemudian sesi kedua dilanjutkan dengan manajemen redaksional dan praktik penerbitan […]

  • GP Ansor Pati Minta Bangungan di LI Segera Dirobohkan

    GP Ansor Pati Minta Bangungan di LI Segera Dirobohkan

    • calendar_month Jum, 27 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 530
    • 0Komentar

      Koordinasi Pengurus GP Ansor Pati dengan Satpol PP Pati. Ansor meminta bangunan LI segera dirobohkan  PATI – Belum lama ini Pemerintah Kabupaten Pati menutup beberapa tempat prostitusi, salah satunya Lorok Indah / Lorong Indah (LI) yang berada di Kecamatan Margorejo. Di LI sendiri, para penghuni sudah mengosongkan lokasi. Mereka telah kembali ke kampung halaman […]

  • a table topped with lots of papers on top of a wooden table

    Penulis dan Pejalan Kaki

    • calendar_month Sen, 26 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Aku, yang selalu terpaku pada layar dan tumpukan buku, menyulam kata demi kata, sering kali lupa bahwa tubuh ini juga butuh gerak dan ruang untuk bernapas. Hari demi hari, aku terjebak dalam rutinitas yang sama: duduk berjam-jam, mengolah pikiran yang tak pernah berhenti berputar, mencoba menerjemahkan kerumunan ide menjadi kalimat-kalimat yang […]

  • Jakenan Awali Peringatan Hari Santri dengan Kirab Santri

    Jakenan Awali Peringatan Hari Santri dengan Kirab Santri

    • calendar_month Ming, 20 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 398
    • 0Komentar

    JAKENAN – Mengawali rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2019, MWCNU Kecamatan Jakenan bekerja sama dengan berbagai kalangan menggelar kegiatan Kirab Santri 2019. Kirab Santri yang dilangsungkan pada Ahad (20/10/2019) ini diikuti oleh sekurangnya 40 lembaga dan organisasi se-Kecamatan Jakenan. Kirab Santri Se-Kecamatan Jakenan dimulai pukul 13.45. Camat Jakenan, Aglis Muljana, SH, memimpin langsung pemberangkatan Kirab Santri […]

  • Awali Semester Genap, Ratusan Siswa YPI Monumen Mujahidin Bageng Ikuti Istigasah

    Awali Semester Genap, Ratusan Siswa YPI Monumen Mujahidin Bageng Ikuti Istigasah

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.847
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Yayasan Perguruan Islam (YPI) Monumen Mujahidin Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengadakan istigasah dalam mengawali semester genap tahun ajaran 2025/2026, Ahad (4/1/2026). Kegiatan ini berlangsung di Masjid Al-Masyhur Desa Bageng dan diikuti oleh seluruh elemen yayasan. Mulai dari jajaran pengurus, guru, hingga ratusan murid dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), […]

  • Hanya Se Tinggi Lutut tapi Membunuh Harapan. Photo by Ny Menghor on Unsplaash.

    Hanya Se Tinggi Lutut tapi Membunuh Harapan

    • calendar_month Kam, 5 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Karim Sholikhin* “Halah, cuma banjir ndak sampai se lutut,” celetuk seorang kawan di antara riuh hujan. Seketika telinga penulis memanas. Belum usai gemuruh dalam dada akibat ungkapan nyelekit itu, ternyata masih berlanjut. “Media terlalu membesar-besarkan.” Nah, kalau yang ini sudah ndak bisa di biarkan. Uraian ‘khotbah’ unfaedah itu harus segera di sliding […]

expand_less