Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa dari Ghibah

Puasa dari Ghibah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 16 Mar 2024
  • visibility 173
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Puasa kok masih ghibah? Ya, sakjane itu urusan personal. Tapi sebagai umat Islam yang waras dan masih peduli, kita harus mengingatkan bahwa ghibah (dalam KBBI: gibah), gosip, gunjing, gremingi, itu semua tidak baik. Gibah pada initnya membicarakan keburukan, keaiban, kejelekan orang lain, dan sebutan lainnya adalah bergunjing. Saat puasa Ramadan, atau hari biasa, hakikatnya gibah tidak boleh dilakukan. La apalagi dilakukan di bulan suci Ramadan.

Puasa sebagai praktik ibadah yang memiliki makna yang mendalam dalam agama Islam harus bebas dari gibah. Selain menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari, puasa juga mengajarkan nilai-nilai spiritual yang penting. Salah satu aspek yang seringkali ditekankan dalam puasa adalah menjaga lidah dari berkata-kata yang tidak baik, termasuk di antaranya adalah ghibah.

Dalam Islam, ghibah (menggunjing atau mencela orang lain di belakangnya) tetap dianggap sebagai perilaku yang tidak baik, baik saat berpuasa maupun di luar bulan Ramadan. Namun, saat berpuasa, hukum ghibah menjadi lebih serius karena puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala bentuk perilaku buruk, termasuk ghibah.

Sebagian besar ulama sepakat bahwa ghibah adalah haram dalam Islam dan bisa membatalkan pahala puasa seseorang. Rasulullah SAW sendiri telah memberikan peringatan keras tentang bahayanya menggunjing atau mencela orang lain. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: Tahukah kalian apa ghibah itu? Para sahabatnya menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda, ‘Ghibah adalah kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak sukai. Mereka bertanya lagi, Apakah jika yang saya katakan itu benar? Beliau bersabda, Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka itu adalah ghibah, dan jika tidak benar, maka itu adalah buhtan (fitnah).’”

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk menjaga lidah mereka dari ghibah, terutama saat berpuasa. Lebih baik untuk berbicara hal-hal yang bermanfaat atau diam daripada terjerumus dalam ghibah yang bisa merusak ibadah puasa seseorang. Sebagai gantinya, kita harus berusaha meningkatkan kesadaran diri dan menjaga perasaan orang lain.

 

Larangan Ghibah

Dalam Islam, larangan terhadap ghibah atau gosip sangatlah kuat. Ghibah didefinisikan sebagai mengungkapkan sesuatu tentang seseorang yang jika ia mendengarnya, tidak akan senang, meskipun apa yang dikatakan itu benar. Gosip sering kali merupakan bentuk ghibah yang lebih luas, di mana informasi atau cerita tentang seseorang tersebar tanpa kebenaran atau tujuan yang jelas.

Larangan terhadap ghibah dan gosip berdasarkan pada beberapa ayat Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah dalam Surat Al-Hujurat (49:12) yang berbunyi:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Hadis Nabi Muhammad SAW juga menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Apakah kalian ingin aku kabarkan tentang sesuatu yang lebih baik dari pada shalat, puasa dan sedekah? Menghindari bicara yang tidak berguna dan ghibah.” (HR. Tirmidzi)

Larangan terhadap ghibah dan gosip menekankan pentingnya menjaga mulut agar tidak menyakiti atau mencemarkan nama baik orang lain. Islam menekankan pentingnya menghormati hak-hak individu, termasuk hak untuk dihormati dan dijaga nama baiknya. Sebagai gantinya, Islam mendorong untuk berbicara yang baik, memberikan nasehat yang berguna, dan mempromosikan kebaikan.

Jadi, dalam Islam, penting untuk menghindari ghibah dan gosip serta menggantinya dengan perilaku yang baik dan produktif.

 

Puasa dari Ghibah?

Ghibah, dalam Islam, merujuk pada perbuatan menggunjing atau membicarakan orang lain secara tidak baik atau tanpa alasan yang jelas. Meskipun terkadang dianggap sebagai perbuatan sepele, ghibah memiliki dampak yang besar, baik pada diri pelakunya maupun pada orang yang dibicarakan. Dalam Al-Quran, ghibah dibandingkan dengan memakan daging saudara kandung yang sudah mati, sebuah analogi yang menggambarkan kekejaman perbuatan ini (QS Al-Hujurat [49]: 12).

Ketika seseorang berpuasa, tugas menjaga lidah dari ghibah menjadi lebih penting. Puasa mengajarkan kendali diri dan kesabaran, serta memperkuat kesadaran spiritual terhadap perbuatan dan perkataan kita. Saat kita menahan diri dari makan dan minum, kita juga seharusnya menahan diri dari menggunjing atau membicarakan orang lain dengan tidak baik.

Puasa dari ghibah bukan hanya tentang menahan diri dari berbicara tentang orang lain, tetapi juga mengajarkan untuk melihat kebaikan dalam setiap individu. Saat kita sadar bahwa kita tidak boleh mengucapkan sesuatu yang tidak baik tentang orang lain, kita cenderung mulai melihat mereka dengan mata yang lebih baik pula. Ini membantu membangun sikap saling menghormati dan saling mendukung di antara sesama.

Selain itu, puasa dari ghibah juga memperdalam hubungan kita dengan Tuhan. Dalam puasa, kita mencari keridhaan Allah, dan salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan menjaga lisan dari ucapan yang tidak baik. Ini adalah bentuk ibadah yang melampaui sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menuntut kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Menghindari ghibah bukanlah tugas yang mudah, terutama di tengah-tengah interaksi sosial yang kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Namun, puasa memberi kita kesempatan untuk melatih diri dan memperkuat kontrol diri kita terhadap lisan. Setiap kali kita menahan diri dari mengucapkan sesuatu yang tidak baik tentang orang lain, itu adalah bentuk pengorbanan yang diterima oleh Allah.

Dalam kesimpulannya, puasa dari ghibah bukanlah sekadar aturan formal dalam agama Islam, tetapi juga sebuah kesempatan untuk tumbuh secara spiritual. Ini mengajarkan kita untuk memperkuat kontrol diri, melihat kebaikan dalam sesama, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan melatih diri dalam menjaga lidah dari ghibah selama bulan Ramadan dan bahkan setelahnya, kita dapat membawa kebaikan dan kedamaian dalam hubungan sosial kita serta mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang bersih dan kesadaran yang sempurna.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., penulis lahir di Pati, 17 Juni. Saat ini menjadi dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2018-2023, Kabid Media, Hukum, dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2020-sekarang, pengurus Lembaga Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) PCNU Kabupaten Temanggung, aktif menjadi reviewer 17 jurnal internasional terindeks Scopus, reviewer 7 jurnal internasional, editor dan reviewer 25 jurnal nasional.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    4 Langkah yang Perlu Dilakukan Ketika Terjadi Banjir 

    • calendar_month Sel, 3 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Oleh : Angga Saputra Sejumlah wilayah di Kabupaten Pati tergenang banjir baru-baru ini. Ketinggian air pun bervariasi, bahkan ada yang mencapai satu meter lebih. Di beberapa desa, banjir merupakan bencana musiman yang hampir terjadi setahun sekali. Para warga rerdampak pastinya banyak yang mengalami kerugian materiil. Nah, kira-kira apa saja yang bisa kalian lakukan ketika banjir […]

  • Tanggulangi Covid 19, PCNU Pati Bagikan Bilik Antiseptik

    Tanggulangi Covid 19, PCNU Pati Bagikan Bilik Antiseptik

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menyerahkan sebuah bilik antiseptik kepada pengurus takmir Masjid Baiturrohim, Winong, Pati. PATI-Demi menunjang kenyamanan beribadah di tengah penyebaran covid 19, PCNU Pati segera ambil tindakan. Melalui berbagai lembaganya, pengurus  NU kabupaten Pati tersebut melakukan support upaya pencegahar penyebaran virus melalui bantuan moril dan materiil. Support moril dilaksanakan dengan […]

  • Pembahasan Raperda Pesantren Ditarget Selesai Pertengahan November

    Pembahasan Raperda Pesantren Ditarget Selesai Pertengahan November

    • calendar_month Sen, 31 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pesantren dikebut oleh Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati. Pembahasan ini ditargetkan rampung pada pertengahan November 2022. Ketua Komisi D DPRD Pati, Wisnu Wijayanto mengatakan, Komisinya akan menyelesaikan pembahasan Raperda tersebut paling lambat sampai 14 Oktober mendatang.  “Tanggal 2 sampai 4 November kita pembahasan. […]

  • Ramadhan Berbagi, MAN 1 Pati Bagikan 300 Takjil dan Berikan Santunan Puluhan Anak Yatim

    Ramadhan Berbagi, MAN 1 Pati Bagikan 300 Takjil dan Berikan Santunan Puluhan Anak Yatim

    • calendar_month Sab, 15 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 218
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id- Dalam momen bulan Ramadhan 1446 Hijriyah MAN 1 Pati kembali melaksanakan kegiatan sosial pada Jumat, (14/3/2025). Kegiatan diisi dengan pembagian 300 takjil dan dilanjutkan pemberian santunan bagi anak yatim/piatu. Kegiatan dimulai dengan membagikan sekitar 300 takjil bagi pengguna jalan yang melintasi jalan Alun-alun Pati. Terlihat masyarakat sangat antusias untuk dapat menerima takjil. Tak […]

  • Sang Syaikh Sufi YANG SELALU BERSEMBUNYI Kisah-Kisah di sekitar kehidupan KH.Abdullah Salam

    Sang Syaikh Sufi YANG SELALU BERSEMBUNYI Kisah-Kisah di sekitar kehidupan KH.Abdullah Salam

    • calendar_month Rab, 29 Jul 2015
    • account_circle admin
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Beliau itu orangnya sangat serius,pendiam dan tak pernah basi-basi. (KH.SAHAL MAHFUDZ) Beliau memang layak di sebut sebagai apa yang dalam tradisi mistik islam dikenal sebagai ‘’Wali qutthb ’’ Seorang kekasih tuhan yang menjadi ‘’poros’’ Kehidupan sosial. (Ulil Abshar Abdalla)        Judul diatas meupakan gambaran tokoh KH. Abdullah Salam yang dalam hampir setiap kesempatan selalu berusaha […]

  • PMII Joyo Kesumo Ziarahi Makam-Makam Auliya’

    PMII Joyo Kesumo Ziarahi Makam-Makam Auliya’

    • calendar_month Sen, 29 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 184
    • 0Komentar

    PATI-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Joyo Kesumo Pati melakukan tour religi tiga wali di Pati dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung dari Hari Minggu (28/7) siang hingga malam. Belasan pengurus Komsat Joyo Kesumo membelah panasnya siang dan dinginnya malam untuk mengingat jasa para auliya’. Para Pengurus PMII Komsat Joyo Kesumo saat melaukan ziarah di makam […]

expand_less