Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tradisi Gotong Royong

Tradisi Gotong Royong

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
  • visibility 340
  • comment 0 komentar


Oleh Hamidulloh Ibda
Dosen dan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiwaan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung

Kita tidak bisa membayangkan jika manusia di Indonesia ini tidak kenal lagi dengan gotong-royong. Tentu bubar. Jauh-jauh hari, Nasida Ria telah meramal kehidupan tahun 2000 dengan apik dalam lagu Tahun 2000. Tahun dua ribu tahun harapan//Yang penuh tantangan dan mencemaskan//Wahai pemuda dan para remaja//Ayo siapkan dirimu//Siapkan dirimu, siap ilmu siap iman//Siap. Wahai pemuda remaja sambutlah//Tahun 2000 penuh semangat//Dengan bekal keterampilan//Serta ilmu dan iman Bekal ilmu dan iman.

Selain itu, Bang Haji Rhoma Irama tahun 1993 telah merillis lagu Ibukota yang mengilustrasikan betapa ironisnya masyarakat di ibukota yang tidak mengenal lagi tepa selira, subasita, unggah-ungguh, dan gotong-royong. Setahun sekali belum tentu//Dengan tetangga bisa bertemu//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Pagar rumahnya pun tinggi-tinggi//Hidupnya pun sudah nafsi-nafsi//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Berbagai macam kebutuhan//Meliputi warganya//Hingga sedikit kesempatan//Untuk berbagi rasa. Menipis sudah tali jiwa//Yang mengikat warganya//Berkurang sudah tenggang rasa//Di antara sesama. Rasa perseorangan sikap warga ibukota//Rasa kebersamaan sudah memprihatinkan. Hidup selalu terburu-buru//Seakan-akan dikejar waktu//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Mereka bersaing dan berlomba//Saling membanggakan harta benda//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Di ibukota, di ibukota, di ibukota//Di ibukota. Lirik Bang Haji ini menarik, mengilustrasikan fakta sosial di Jakarta, bahkan mungkin saat ini hampir di semua tempat.

Munculnya perumahan menjadi salah satu akibat gotong-royong mulai terkikis. Meski tidak semua perumahan demikian, namun fakta sosialnya memang demikian. Mereka berangkat pagi, pulang petang. Bahkan dengan tetangganya sendiri saja tidak kenal. Bisa jadi, hanya setahun sekali mereka bertegur sapa. La bagaimana mana mau menghidupkan tradisi gotong-royong, ketika bertemu saja tidak pernah. Paling-paling, ketemunya dengan satpam perumahan dan petugas kebersihan. Duh!

Kearifan Islam dan Indonesia
Islam dari dulu selalu menekankan pentingnya tolong-menolong, gotong-royong, bantu-membantu, atau istilah lain. Sebab, tidak mungkin makhluk sosial tidak bantu-membantu, karena ketika masih manusia, pasti membutuhkan manusia lain, bahkan hewan pun demikian. Gotong-royong dalam konteks ini bisa berasal dari kata ta’awun yang berasal dari kata dasarnya berasal dari ta‘awana-yata’awanu yang mempunyai konotasi saling menolong. Jika ada timbal balik berarti tolong-menolong, gotong-royong. Begitu!

Allah Swt berfirman “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolonglah dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2). Hal ini menegaskan, umat Islam wajib menolong ke semua makhluk, tidak terbatas pada manusia saja, jenis kelamin, suku, agama, bahkan budaya. Menolong bukan soal kenal dan tidak kenal, dekat dan tidak dekat, namun memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

Dalam Islam, spirit gotong royong itu rahmatallillamin, atau memberikan kasih sayang untuk semua alam. Semua umat Islam wajib hukumnya memberikan pertolongan kepada semua makhluk, tidak terbatas identitas dan primordialitas. Jika belum menjalankan amanat tersebut, berarti ia belum Islam sepenuhnya.

Orang Kristen memiliki kearifan bahwa gotong royong itu semangat kasih. Maka doktrin saudara kita yang beragama Kristen adalah “cintaulah saudaramu, cintailah Tuhanmu, sebagaimana engkang mencintai dirimu sendiri”. Begitu pula dengan orang Hindu yang memiliki ajaran tat twam asi, yang berarti kamu (semua makhluk hidup) dan dia Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah sama. Aku adalah engkau, engkau adalah aku. Begitu kearifan orang Hindu, sehingga semua masyarakat yang beragama Hindu tentu wajib menjaga tradisi gotong-royong.

Spirit Budhisme juga sama mendukung gotong-royong. Maka ketika dalam suatu acara ritual keagamaan mereka, biasanya ditutup dengan doa semoga semua makhluk bahagia. Kebahagiaan tak mungkin didapat ketika manusia hidup individual. Simpulannya berat sama dipukul dan ringan sama dijinjing.

Yudi Latief (2021) menyebut manusia Indonesia memiliki kearifan dalam menjaga tradisi gotong-royong. Orang Sunda memiliki falsafah hidup “silih asah, silih asih, silih asuh”. Hal ini menegaskan, semua orang Sunda wajib saling asah (belajar), asih (peduli), dan asuh (menyayangi). Pepatah Melayu menyebut “asam di gunung, garam di laut, bersatu dalam satu belanga” yang artinya jodoh seseorang bisa saja berasal dari tempat yang jauh, tetapi bertemu juga. Dalam konteks sosial, orang tidak bisa berjodoh, bermasyarakat, bersosial ketika tidak bersatu atau melebur ke dalam tradisi tolong-menolong.

Orang Papua atau Maluku memiliki falsafah bahwa gotong royong itu semangat basudara (bersaudara). Bersaudar dari kata seudara, artinya semua orang boleh beragama apa saja, namun yang dihirup adalah satu oksigen yang sama maka masih bersaudara. Ketika bersaudara, maka tidak ada alasan untuk tidak saling membantu, tolong-menolong, dan gotong-royong.

Pepatah Jawa juga demikian, karena orang Jawa pasti pernah mendengar istilah memayu hayuning bawana. Di dalamBahasa Indonesia menjadi memperindah keindahan dunia. Orang Jawa, wajib hukumnya memercantik bukan merusak. Memercantik di sini tentu melalui perbuatan dan tradisi baik, ya tepa selira, suba sita, tolong-menolong, dan berbuat baik lebih banyak lagi kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

Sastrawan Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya berjudul “Satu” juga menegaskan “yang tertusuk padamu, berdarah padaku”. Petikan puisi ini tentu mengajarkan kita untuk bergotong royong.

Satu
kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu
daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku
Puisi tersebut mengajarkan kita bukan hanya menolong, bergotong-royong pada kekasih atau orang yang dicintai saja, melainkan dengan semua makhluk. Tentu wajib kita lakukan sebuah tradisi tolong-menolong, gotong-royong kepada semua makhluk.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (Raden Mas Said) atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa yang juga pahlawan nasional memiliki ajaran Tridharma, yaitu Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi. Ajaran ini sangat agung karena berisi ajakan untuk gotong-royong.

Mulat Sarira Hangrasa Wani berarti berani berintrospeksi/mawas diri. Orang yang mau dan berani introspeksi adalah orang yang akan selamat. Rumangsa Melu Handarbeni yang berarti merasa ikut memiliki. Orang yang merasa ikut memiliki tidak mungkin berani meninggalkan tradisi gotong-royong. Wajib Melu Hangrungkebi atau Wajib Melu Hanggondheli berarti berkewajiban ikut membela/mempertahankan. Sudah jelas, hanya orang yang memegang teguh tradisi gotong-royonglah yang berani membela dan mempertahankan apa-apa yang baik, dan apa-apa yang lebih baru yang lebih baik.

Semua kearifan-kearifan di atas sangat berat kita lakukan. Tentu, spirit ini harus kita lakukan dengan doktrin “satu untuk semua, semua untuk satu” sebisa kita, sesuai tugas, proporsi, dan kewenangan kita. Yang paling penting kita harus gotong-royong, bukan gotong-nyolong. Lebih penting lagi, kita mulai dari hal-hal kecil dan kita mulai sekarang juga. Sebab, sesuai yang besar pasti dimulai dari hal-hal kecil. Pertanyaannya, kapan kita bergotong-royong?

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by vihaels

    Pohon

    • calendar_month Rab, 21 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Air, tanah, angin dan pohon adalah satu dari kesatuan. Mereka komponen saling mengisi satu dengan lainnya. Jika salah satunya ada yang lebih dominan atau pun ada ketimpangan, maka kondisi alam menjadi tak stabil. Saat angin puting beliung hadir, menunjukkan keeksistensinnya; maka pohon menjadi pemecah angin tersebut agar tak bergerombol. Dengan […]

  • Sujudnya Orang yang Tidak Menampelkan Jari Kaki

    Sujudnya Orang yang Tidak Menampelkan Jari Kaki

    • calendar_month Ming, 18 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 512
    • 0Komentar

      Pertanyaan : Apa hukumnya sholatnya seseorang yang ketika sujud tidak menempelkan jari-jari kakinya pada lantai ? Jawaban :Salah satu rukun sholat adalah sujud,dan sujud itu sendiri mempunyai syarat-syarat  yang harus dipenuhi agar sujud itu bisa sah,bila sujud tidak sah maka sholatnya juga tidak sah,oleh karena itu menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk mengetahui tata […]

  • Konferensi Gabus Ketua Lama Memimpin Kembali

    Konferensi Gabus Ketua Lama Memimpin Kembali

    • calendar_month Sen, 7 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Senin, 30/11/15 Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Gabus mengadakan Konferensi hal tersebut di lakukan sesuai dengan ketentuan dalam organisasi Nahdlatul Ulama apabila sudah berakhir masa jabatan maka akan di lakukan reorganisi.             Setelah ketua lama Saifullah memberikan laporan pertanggung jawaban baik secara administrasi atau pun yang lainnya, maka selanjutnya sidang akan di pimpin oleh […]

  • YPMNU Kumpulkan Guru-Guru PAUD, Ini Tujuannya

    YPMNU Kumpulkan Guru-Guru PAUD, Ini Tujuannya

    • calendar_month Ming, 6 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Agenda dengan tajuk ‘Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Loose Part bagi Guru PAUD (KB-TK-RA) tersebut diikuti oleh puluhan guru PAUD Muslimat NU dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Pati. “Masing-masing kecamatan delegasinya tiga orang,” terang Nur Laeli, Ketua YPMNU Pati. Nur Laeli juga memastikan bahwa workshop yang ia gagas benar-benar serius. Ia berharap, […]

  • PCNU-PATI

    Dalam Mihrab Cinta

    • calendar_month Ming, 13 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Syamsul, pemuda 20 tahun-an yang bertekad menuntut ilmu di sebuah pesantren di Kediri, meninggalkan kehidupannya yang cukup nyaman. Di pesantren tersebut, ia bertemu dengan Zizi, putri pemilik pesantren yang pernah ditolongnya. Suatu ketika, Syamsul terusir dari pesantren karena dituduh mencuri akibat fitnah sahabatnya sendiri, Burhan. Keluarganya sendiri pun tidak mempercayainya. Hal ini membuat Syamsul akhirnya […]

  • INISNU Gelar Workshop Peningkatan Mutu Akademik melalui Penyelenggaraan RPL

    INISNU Gelar Workshop Peningkatan Mutu Akademik melalui Penyelenggaraan RPL

    • calendar_month Jum, 6 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.214
    • 0Komentar

    INISNU Gelar Workshop Peningkatan Mutu Akademik melalui Penyelenggaraan RPL Temanggung – Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menyelenggarakan Workshop Peningkatan Mutu Akademik Melalui Penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat Lantai 2. Workshop menghadirkan dua narasumber dari Universitas Wahid […]

expand_less