Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tradisi Gotong Royong

Tradisi Gotong Royong

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
  • visibility 202
  • comment 0 komentar


Oleh Hamidulloh Ibda
Dosen dan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiwaan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung

Kita tidak bisa membayangkan jika manusia di Indonesia ini tidak kenal lagi dengan gotong-royong. Tentu bubar. Jauh-jauh hari, Nasida Ria telah meramal kehidupan tahun 2000 dengan apik dalam lagu Tahun 2000. Tahun dua ribu tahun harapan//Yang penuh tantangan dan mencemaskan//Wahai pemuda dan para remaja//Ayo siapkan dirimu//Siapkan dirimu, siap ilmu siap iman//Siap. Wahai pemuda remaja sambutlah//Tahun 2000 penuh semangat//Dengan bekal keterampilan//Serta ilmu dan iman Bekal ilmu dan iman.

Selain itu, Bang Haji Rhoma Irama tahun 1993 telah merillis lagu Ibukota yang mengilustrasikan betapa ironisnya masyarakat di ibukota yang tidak mengenal lagi tepa selira, subasita, unggah-ungguh, dan gotong-royong. Setahun sekali belum tentu//Dengan tetangga bisa bertemu//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Pagar rumahnya pun tinggi-tinggi//Hidupnya pun sudah nafsi-nafsi//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Berbagai macam kebutuhan//Meliputi warganya//Hingga sedikit kesempatan//Untuk berbagi rasa. Menipis sudah tali jiwa//Yang mengikat warganya//Berkurang sudah tenggang rasa//Di antara sesama. Rasa perseorangan sikap warga ibukota//Rasa kebersamaan sudah memprihatinkan. Hidup selalu terburu-buru//Seakan-akan dikejar waktu//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Mereka bersaing dan berlomba//Saling membanggakan harta benda//Di ibukota, di ibukota, di ibukota. Di ibukota, di ibukota, di ibukota//Di ibukota. Lirik Bang Haji ini menarik, mengilustrasikan fakta sosial di Jakarta, bahkan mungkin saat ini hampir di semua tempat.

Munculnya perumahan menjadi salah satu akibat gotong-royong mulai terkikis. Meski tidak semua perumahan demikian, namun fakta sosialnya memang demikian. Mereka berangkat pagi, pulang petang. Bahkan dengan tetangganya sendiri saja tidak kenal. Bisa jadi, hanya setahun sekali mereka bertegur sapa. La bagaimana mana mau menghidupkan tradisi gotong-royong, ketika bertemu saja tidak pernah. Paling-paling, ketemunya dengan satpam perumahan dan petugas kebersihan. Duh!

Kearifan Islam dan Indonesia
Islam dari dulu selalu menekankan pentingnya tolong-menolong, gotong-royong, bantu-membantu, atau istilah lain. Sebab, tidak mungkin makhluk sosial tidak bantu-membantu, karena ketika masih manusia, pasti membutuhkan manusia lain, bahkan hewan pun demikian. Gotong-royong dalam konteks ini bisa berasal dari kata ta’awun yang berasal dari kata dasarnya berasal dari ta‘awana-yata’awanu yang mempunyai konotasi saling menolong. Jika ada timbal balik berarti tolong-menolong, gotong-royong. Begitu!

Allah Swt berfirman “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolonglah dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2). Hal ini menegaskan, umat Islam wajib menolong ke semua makhluk, tidak terbatas pada manusia saja, jenis kelamin, suku, agama, bahkan budaya. Menolong bukan soal kenal dan tidak kenal, dekat dan tidak dekat, namun memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

Dalam Islam, spirit gotong royong itu rahmatallillamin, atau memberikan kasih sayang untuk semua alam. Semua umat Islam wajib hukumnya memberikan pertolongan kepada semua makhluk, tidak terbatas identitas dan primordialitas. Jika belum menjalankan amanat tersebut, berarti ia belum Islam sepenuhnya.

Orang Kristen memiliki kearifan bahwa gotong royong itu semangat kasih. Maka doktrin saudara kita yang beragama Kristen adalah “cintaulah saudaramu, cintailah Tuhanmu, sebagaimana engkang mencintai dirimu sendiri”. Begitu pula dengan orang Hindu yang memiliki ajaran tat twam asi, yang berarti kamu (semua makhluk hidup) dan dia Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah sama. Aku adalah engkau, engkau adalah aku. Begitu kearifan orang Hindu, sehingga semua masyarakat yang beragama Hindu tentu wajib menjaga tradisi gotong-royong.

Spirit Budhisme juga sama mendukung gotong-royong. Maka ketika dalam suatu acara ritual keagamaan mereka, biasanya ditutup dengan doa semoga semua makhluk bahagia. Kebahagiaan tak mungkin didapat ketika manusia hidup individual. Simpulannya berat sama dipukul dan ringan sama dijinjing.

Yudi Latief (2021) menyebut manusia Indonesia memiliki kearifan dalam menjaga tradisi gotong-royong. Orang Sunda memiliki falsafah hidup “silih asah, silih asih, silih asuh”. Hal ini menegaskan, semua orang Sunda wajib saling asah (belajar), asih (peduli), dan asuh (menyayangi). Pepatah Melayu menyebut “asam di gunung, garam di laut, bersatu dalam satu belanga” yang artinya jodoh seseorang bisa saja berasal dari tempat yang jauh, tetapi bertemu juga. Dalam konteks sosial, orang tidak bisa berjodoh, bermasyarakat, bersosial ketika tidak bersatu atau melebur ke dalam tradisi tolong-menolong.

Orang Papua atau Maluku memiliki falsafah bahwa gotong royong itu semangat basudara (bersaudara). Bersaudar dari kata seudara, artinya semua orang boleh beragama apa saja, namun yang dihirup adalah satu oksigen yang sama maka masih bersaudara. Ketika bersaudara, maka tidak ada alasan untuk tidak saling membantu, tolong-menolong, dan gotong-royong.

Pepatah Jawa juga demikian, karena orang Jawa pasti pernah mendengar istilah memayu hayuning bawana. Di dalamBahasa Indonesia menjadi memperindah keindahan dunia. Orang Jawa, wajib hukumnya memercantik bukan merusak. Memercantik di sini tentu melalui perbuatan dan tradisi baik, ya tepa selira, suba sita, tolong-menolong, dan berbuat baik lebih banyak lagi kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

Sastrawan Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya berjudul “Satu” juga menegaskan “yang tertusuk padamu, berdarah padaku”. Petikan puisi ini tentu mengajarkan kita untuk bergotong royong.

Satu
kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu
daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku
Puisi tersebut mengajarkan kita bukan hanya menolong, bergotong-royong pada kekasih atau orang yang dicintai saja, melainkan dengan semua makhluk. Tentu wajib kita lakukan sebuah tradisi tolong-menolong, gotong-royong kepada semua makhluk.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (Raden Mas Said) atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa yang juga pahlawan nasional memiliki ajaran Tridharma, yaitu Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi. Ajaran ini sangat agung karena berisi ajakan untuk gotong-royong.

Mulat Sarira Hangrasa Wani berarti berani berintrospeksi/mawas diri. Orang yang mau dan berani introspeksi adalah orang yang akan selamat. Rumangsa Melu Handarbeni yang berarti merasa ikut memiliki. Orang yang merasa ikut memiliki tidak mungkin berani meninggalkan tradisi gotong-royong. Wajib Melu Hangrungkebi atau Wajib Melu Hanggondheli berarti berkewajiban ikut membela/mempertahankan. Sudah jelas, hanya orang yang memegang teguh tradisi gotong-royonglah yang berani membela dan mempertahankan apa-apa yang baik, dan apa-apa yang lebih baru yang lebih baik.

Semua kearifan-kearifan di atas sangat berat kita lakukan. Tentu, spirit ini harus kita lakukan dengan doktrin “satu untuk semua, semua untuk satu” sebisa kita, sesuai tugas, proporsi, dan kewenangan kita. Yang paling penting kita harus gotong-royong, bukan gotong-nyolong. Lebih penting lagi, kita mulai dari hal-hal kecil dan kita mulai sekarang juga. Sebab, sesuai yang besar pasti dimulai dari hal-hal kecil. Pertanyaannya, kapan kita bergotong-royong?

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MI Walisongo Kalangan Sukoharjo Gelar Market Day

    Market Day, Cara MI Walisongo Ajarkan Jiwa Wirausaha Islami

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 244
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Sukoharjo – Setelah absen beberapa tahun, MI Walisongo Kalangan Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo kembali menggelar kegiatan Market Day pada Jum’at, 21 Februari 2024 kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan mengajarkan konsep berwirausaha yang islami dan mengembangkan kreativitas siswa. Market Day sebagai salah satu kegiatan implementasi dari program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila […]

  • PCNU-PATI

    Misteri Lailatul Qadar

    • calendar_month Rab, 3 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Sejak 2008, saya rajin menulis artikel tentang Lailatul Qadar. Seingat saya di Koran Pagi Wawasan, Radar Lampung, Radar Tegal, NU Online, Alif.id, sejumlah koran cetak lain yang tidak terlacak termasuk di NU Online Pati (pcnupati.or.id) ini. Dari tulisan-tulisan itu, saya pribadi belum merasa pernah menemukan Lailatul Qadar. Mbuh ngopo. Hemat saya ini […]

  • PAC IPNU IPPNU Kayen Gelar Sosialisasi, Komisariat Pencetak Pelajar Hebat

    PAC IPNU IPPNU Kayen Gelar Sosialisasi, Komisariat Pencetak Pelajar Hebat

    • calendar_month Sel, 3 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 127
    • 0Komentar

    PATI, – Menghadiri Peringatan Maulid Yayasan Pendidikan Islam Asyariyah Miftahul Falah Desa Talun Kecamatan Kayen, PAC IPNU IPPNU Kecamatan Kayen mengadakan sosialisasi mengenai Ke-IPNU-IPPNU-an bertempat di Gedung yayasan tersebut. Minggu, (01/11/2020) “Saya berharap Madrasah Miftahul Falah dapat berdiri pimpinan komisariat IPNU IPPNU yang nantinya menjadi wadah pencetak generasi muda yang hebat dan unggul dalam agama […]

  • Perjuangan Setengah Dekade Lebih Akhirnya Berbuah Manis, Ini Hadiah Prabowo Buat Pesantren

    Perjuangan Setengah Dekade Lebih Akhirnya Berbuah Manis, Ini Hadiah Prabowo Buat Pesantren

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 3.292
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Hari Santri 22 Oktober 2025 menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi Menteri Agama dan kalangan pesantren. Sebab pada Rabu (22/10), Menag Nasaruddin Umar mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subiyanto telah resmi menyetujui Direktorat Jendral (Ditjen) Pesantren.   Hal ini juga diamini oleh Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama. Dirinya mengaku mendengar kabar […]

  • Puisi- Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

    Puisi- Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

    • calendar_month Ming, 20 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Lelaki Baya Berlemak lelaki baya berlemak setiap pagi menyodorkan berita ekonomi dan bisnis dengan kurva gratis dalam hamparan ladang minyak bumi harganya sangat mahal bisa bermimpi bersetubuh dengan gandum serta gas beracun “biarkan mata uang dolar terus bertempur dengan mata uang karet, tugasmu hanya menulis puisi bermata emas dan terus mempersiapkan perang nuklir supaya penyair […]

  • 1.442 Calon Jamaah Haji Pati Ikuti Manasik

    1.442 Calon Jamaah Haji Pati Ikuti Manasik

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 224
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id, Pati – Sebanyak 1.442 calon jemaah haji asal Kabupaten Pati mulai mengikuti manasik haji di Pendapa Kabupaten Pati, Rabu (26/2/2025). Mereka tampak khidmat mendengarkan arahan dan pembekalan dari para petugas. Wabup Pati, Risma Ardhi Chandra membuka secara resmi kegiatan Manasik Haji 2025 di Pendopo Kabupaten Pati. Dalam sambutannya, Chandra menyampaikan bahwa kegiatan manasik […]

expand_less