Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » FOMO Ramadan

FOMO Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 4 Mar 2026
  • visibility 9.893
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ramadan sering melahirkan nafsu konsumtif berlebihan. Mbuh kenapa. Saya juga nggak paham. Seolah, ada dorongan kuat untuk beli, beli, beli, check out di Shoope, Lazada, Tokopedia, dan jalan-jalan ke pasar, mall, atau swalayan untuk beli, dan beli. Bahkan ada teman berkata “Wes, rasah nunggu paketan ning Shoope, marakke mumet, soale suwe ra tekan-tekan”. Hahaha

 

Dalam momentum kegembiraan menyambut Lebaran Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi, tentu sering muncul fenomena yang makin terasa dalam masyarakat modern, yaitu FOMO Ramadan. Apa itu? FOMO atau fear of missing out secara simpel adalah kondisi takut, atau rasa takut tertinggal dari orang lain dalam merayakan Ramadan. Entah hanya soal sirup, baju, hampers, atau bentuk lain. Mbuh kuwi!

 

Seolah, FOMO kini menjadi ritual sosial baru tiap tahun pada saat Ramadan dan Lebaran Idulfitri. Apa buktinya? Ya, okeh wong merasa perlu membeli sarung baru, baju baru, jam baru, tas baru, sepatu baru, kerudung baru, bahkan gawai baru dalam menyambut Idulfitri. Bagi saya, atau pendapat saya, sebagian melakukan kegiatan itu tak sekadar soal kebutuhan, namun semacam motivasi agar tak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya, teman ghibah, atau rekan kerja sekantor. Saat orang lain memamerkan asesoris lebaran terbaru, gawai baru, misalnya, atau hanya kerudung baru, maka lahir dorongan psikologis untuk melakukan hal yang sama. Kan aneh!

 

Pada momentum ini, saya memaknai bahwa Ramadan justru tercerabut dari ruang religius, namun bergantung atau bermigrasi menjadi arena pamer konsumsi. Hahaha

 

Bahasa Sosial Konsumsi

Soal konsumsi, hakikatnya tak sebatas kegiatan ekonomi. Akan tetapi, menurut pandangan sosiologi, menurut Thorstein Bunde Veblen, dalam buku The Theory of the Leisure Class (1899), ini disebut sebagai “bahasa simbolik” masyarakat. Veblen menyebut dalam buku ini sebagai conspicuous consumption, yaitu ketika konsumsi dilakukan dalam rangka menunjukkan status sosial. Sok yes lah. Artinya, manusia membeli benda tidak sekadar soal fungsinya, namun juga karena nilai simboliknya di mata masyarakat.

 

Konsep ini bisa untuk menganalisis fenomena Ramadan dan Idulfitri ketika umat Islam membeli, dan mengonsumsi semua benda yang serba baru, dari mulai peci, sajarah, kerudung, baju, makanan, sampai gawai batu. Seolah, umat Islam ingin tampil “sing paling keren dewe dibandingke liyane” di mata tetangga, teman ghibah, atau teman di media sosial. Hehehe

 

Fenomena ini sudah lama, dan hakikatnya mempunyai akar kultur yang panjang sekali. Dalam konteks masyarakat kota dan modern, fenomena ini mengalami pergeseran dari “simbol kebahagiaan” menjadi “kompetisi simbolik.”

 

Dinamika ini diperkuat dan didukung adanya intensitasi unggah mengunggah di medsos. Misal saja, foto bersama keluarga dengan sarung baru, kerudung baru, gawai baru seolah menjadi representasi identitas agar “divalidasi publik” iki lo kelurgaku nganyari klambi.

Pierre Bourdieu jauh-jauh dari telah memberikan padangan melalui buku Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1984). Bourdieu menyebut bahwa pilihan konsumsi sering berkorelasi dengan “modal simbolik”, yaitu sebuah metode manusia dalam menampilkan pilihan hidup, kelas sosial, selera, gaya, dan identitas mereka di hadapan publik, apalagi sekarang didukung adanya medsos yang membahana.

 

Nah, simpulannya di sini, bulan suci Ramadan telah bergeser dan berkamuflase menjadi panggung identitas sosial ditonjolkan lewat barang-barang konsumsi yang serba baru dan kekinian agar tidak disebut katrok dan ketinggalan zaman. Jan!

 

FOMO di Media Sosial

Fear of Missing Out dalam sejarahnya ditemukan oleh periset Andrew Przybylski, dkk., lewat publikasi berjudul Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out (2013). Di sini, FOMO diidentikkan pada rasa cemas manusia ketika ia tak punya pengalaman atau memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Wedi ketinggalan lah intinya.

 

Algoritma medsos mendukung perkembangan FOMO, khsusunya di bulan suci Ramadan. Uploadan teman di medsos berisi baju baru, gawai baru, sajarah baru jelang Idulfitri, melahirkan rasa cemas ketika mereka tak melakukan hal serupa. Seolah, jika tidak seperti itu mereka ketinggalan zaman bahkan ketinggalan hidup. Hehe

 

Apa dampaknya? Jelas, konsumsi bukan lagi soal kebutuhan, namun validasi sosial, rekognisi publik, dan legitimasi masyarakat di sekitarnya.

 

Dalam buku The Consumer Society (1970), Jean Baudrillard berpendapat bahwa manusia modern adalah “manusia konsumtif.” Maksudnya bagaimana? Manusia membeli makna dan simbol, bukan membeli sebuah benda atau barang yang sesuai kebutuhannya. Sebut saja baju, gawai, tas, sarung, kerudung, dalam kajian ini tak sekadar menjadi barang belaki, melainkan menjadi simbol gaya hidup, kemapanan, bahkan kekayaan.

 

Membeli barang baru menjelang Lebaran bukan salah 100 persen. Namun, dalam tradisi Islam, alangah bijaksananya mengenakan pakaian terbaik (bukan yang terbaru) saat umat Islam merayakan hari raya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan umat manusia tampil rapi dan bersih pada hari besar, bukan klomprot lan badheg.

 

Ironisnya, kebiasaan ini seolah menjadi “tekanan sosial”. Seolah, nek ora nganyari ora sah. Padahal, mereka membeli bukan berdasarkan kebutuhan, namun lebih pada validasi sosial belaka. Bahkan, tak sedikit umat Islam demi validasi itu, direwangi utang-utang dulure. Kan repot!

 

Dalam buku The Overspent American: Why We Want What We Don’t Need (1998), Juliet Schor berpesan fenomena competitive consumption atau kecenderungan publik tuku-tuku barang disebabkan oleh standar atau gaya hidup orang lain. Saat gaya hidup atau standar terus naik, mereka pun ikut terdorong untuk terus mengejar. Sampai tekan ndi wae dikejar.

 

Dalam tulisan ini, saya berpesan pada diri saya pribadi, keluarga, dan pembaca, mari kita kembalikan makna Ramadan sebagai latihan spiritual. Ibadah puasa Ramadan hakikatnya mengedukasi kita untuk mengendalikan nafsu, termasuk nafsu konsumtif yang sering kebablasan. Di sini, Ramadan malah menjadi kritik pada budaya israf alias berlebih-lebihan. Al-Qur’an juga telah berpesan “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

 

Apakah kita tergolong orang yang FOMO dan suka berlebih-lebihan?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pakaian Terbaik Era 4.0

    Pakaian Terbaik Era 4.0

    • calendar_month Rab, 4 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 378
    • 0Komentar

     Oleh : Maulana Karim Shalihin* Tren busana muslim di Indonesia akhir akhir ini memang sedang hangat-hangatnya. Khusus  dalam urusan pakaian muslimah, peminatnya membludak hebat. Menurut asumsi Penulis, demam baju muslim ini bukan hanya urusan menjalankan syariat, tapi juga fesyen dan gaya hidup. Saking hebohnya jagat per-fesyen-an muslimah saat ini, hampir seluruh Ibu muda Nusantara memiliki […]

  • PCNU - PATI Photo by Utsman Media

    Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

    • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 513
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Rasulullah SAW bersabda, “Ahabbul a’mali illallahi adwamuha wa in qalla—Amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin, meski hanya sedikit.” Hadis tersebut mengisyaratkan satu hal, yakni tentang kebiasaan (habits). Kebiasaan adalah hal yang penting dalam melakukan sesuatu sehingga menjadi konsisten. Namun, kebiasaan itu mempunyai posisi yang netral. Artinya, ia […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Please Forgive me. Photo by Brett Jordan on Unsplash.

    Maaf dan Terima Kasih

    • calendar_month Jum, 13 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 381
    • 0Komentar

    Hidup tak luput dari perselisihan. Bagaimanapun jalannya disana pasti akan berjumpa dengan perselisihan. Salah paham, lebih mengedepankan ego dan sengaja melukai merupakan bibit awal timbulnya perselisihan. Dari perselisihan kita bisa belajar dewasa, sekaligus bijaksana, dalam berbicara dan bertindak. Beberapa waktu lalu saya tengah menghadapi perselisihan dengan seorang kawan. Salah paham dan mengedepankan ego lah penyebabnya. […]

  • ‎Naharul Ijtima', Awali Harlah NU ke-100 Masehi di Temanggung

    ‎Naharul Ijtima’, Awali Harlah NU ke-100 Masehi di Temanggung

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.203
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Bertempat di aula KBIHU Babussalam NU Temanggung, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Temanggung menggelar Naharul Ijtima’ bertajuk “Ngawiji Kinabekten, Mituhu Ing Kapesten” pada Selasa (27/1/2026). ‎ ‎Selain jajaran PCNU, kegiatan itu diikuti ratusan peserta dari unsur MWC NU, Lembaga dan Badan Otonom PCNU Kabupaten Temanggung, BPP INISNU, INISNU Temanggung, […]

  • Pengurus MWCNU Jakenan di Lantik

    Pengurus MWCNU Jakenan di Lantik

    • calendar_month Sen, 10 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Pati, Jajaran Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Masa Khidmat 2017-2022 di lantik secara resmi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, beberapa waktu yang lalu. Menjadi pengurus NU adalah tabungan di akhirat, kita berdakwah harus melalui niat yang ikhlas mengabdi sepenunya terhadap masyarakat, baik melalui agama, sosial dan penguatan ekonomi,             “Jajaran pengurus setelah kami lantik, […]

  • Masjid Harus Ramah Anak

    Masjid Harus Ramah Anak

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Masjid adalah bangunan pertama Nabi pasca hijrah. Masjid berfungsi sebagai pusat penyucian hati, pendalaman ilmu dan kaderisasi. Jamaah shalat lima waktu, termasuk shalat jumat, pengajian ilmu, dan mendidik kader-kader muda Islam sejak dini tentang akidah, ilmu Al Qur’an, dan syariat Islam adalah sebagian kegiatan masjid. Era Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, masjid benar-benar tempat yang ramah […]

expand_less