Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » FOMO Ramadan

FOMO Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 4 Mar 2026
  • visibility 9.824
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ramadan sering melahirkan nafsu konsumtif berlebihan. Mbuh kenapa. Saya juga nggak paham. Seolah, ada dorongan kuat untuk beli, beli, beli, check out di Shoope, Lazada, Tokopedia, dan jalan-jalan ke pasar, mall, atau swalayan untuk beli, dan beli. Bahkan ada teman berkata “Wes, rasah nunggu paketan ning Shoope, marakke mumet, soale suwe ra tekan-tekan”. Hahaha

 

Dalam momentum kegembiraan menyambut Lebaran Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi, tentu sering muncul fenomena yang makin terasa dalam masyarakat modern, yaitu FOMO Ramadan. Apa itu? FOMO atau fear of missing out secara simpel adalah kondisi takut, atau rasa takut tertinggal dari orang lain dalam merayakan Ramadan. Entah hanya soal sirup, baju, hampers, atau bentuk lain. Mbuh kuwi!

 

Seolah, FOMO kini menjadi ritual sosial baru tiap tahun pada saat Ramadan dan Lebaran Idulfitri. Apa buktinya? Ya, okeh wong merasa perlu membeli sarung baru, baju baru, jam baru, tas baru, sepatu baru, kerudung baru, bahkan gawai baru dalam menyambut Idulfitri. Bagi saya, atau pendapat saya, sebagian melakukan kegiatan itu tak sekadar soal kebutuhan, namun semacam motivasi agar tak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya, teman ghibah, atau rekan kerja sekantor. Saat orang lain memamerkan asesoris lebaran terbaru, gawai baru, misalnya, atau hanya kerudung baru, maka lahir dorongan psikologis untuk melakukan hal yang sama. Kan aneh!

 

Pada momentum ini, saya memaknai bahwa Ramadan justru tercerabut dari ruang religius, namun bergantung atau bermigrasi menjadi arena pamer konsumsi. Hahaha

 

Bahasa Sosial Konsumsi

Soal konsumsi, hakikatnya tak sebatas kegiatan ekonomi. Akan tetapi, menurut pandangan sosiologi, menurut Thorstein Bunde Veblen, dalam buku The Theory of the Leisure Class (1899), ini disebut sebagai “bahasa simbolik” masyarakat. Veblen menyebut dalam buku ini sebagai conspicuous consumption, yaitu ketika konsumsi dilakukan dalam rangka menunjukkan status sosial. Sok yes lah. Artinya, manusia membeli benda tidak sekadar soal fungsinya, namun juga karena nilai simboliknya di mata masyarakat.

 

Konsep ini bisa untuk menganalisis fenomena Ramadan dan Idulfitri ketika umat Islam membeli, dan mengonsumsi semua benda yang serba baru, dari mulai peci, sajarah, kerudung, baju, makanan, sampai gawai batu. Seolah, umat Islam ingin tampil “sing paling keren dewe dibandingke liyane” di mata tetangga, teman ghibah, atau teman di media sosial. Hehehe

 

Fenomena ini sudah lama, dan hakikatnya mempunyai akar kultur yang panjang sekali. Dalam konteks masyarakat kota dan modern, fenomena ini mengalami pergeseran dari “simbol kebahagiaan” menjadi “kompetisi simbolik.”

 

Dinamika ini diperkuat dan didukung adanya intensitasi unggah mengunggah di medsos. Misal saja, foto bersama keluarga dengan sarung baru, kerudung baru, gawai baru seolah menjadi representasi identitas agar “divalidasi publik” iki lo kelurgaku nganyari klambi.

Pierre Bourdieu jauh-jauh dari telah memberikan padangan melalui buku Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1984). Bourdieu menyebut bahwa pilihan konsumsi sering berkorelasi dengan “modal simbolik”, yaitu sebuah metode manusia dalam menampilkan pilihan hidup, kelas sosial, selera, gaya, dan identitas mereka di hadapan publik, apalagi sekarang didukung adanya medsos yang membahana.

 

Nah, simpulannya di sini, bulan suci Ramadan telah bergeser dan berkamuflase menjadi panggung identitas sosial ditonjolkan lewat barang-barang konsumsi yang serba baru dan kekinian agar tidak disebut katrok dan ketinggalan zaman. Jan!

 

FOMO di Media Sosial

Fear of Missing Out dalam sejarahnya ditemukan oleh periset Andrew Przybylski, dkk., lewat publikasi berjudul Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out (2013). Di sini, FOMO diidentikkan pada rasa cemas manusia ketika ia tak punya pengalaman atau memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Wedi ketinggalan lah intinya.

 

Algoritma medsos mendukung perkembangan FOMO, khsusunya di bulan suci Ramadan. Uploadan teman di medsos berisi baju baru, gawai baru, sajarah baru jelang Idulfitri, melahirkan rasa cemas ketika mereka tak melakukan hal serupa. Seolah, jika tidak seperti itu mereka ketinggalan zaman bahkan ketinggalan hidup. Hehe

 

Apa dampaknya? Jelas, konsumsi bukan lagi soal kebutuhan, namun validasi sosial, rekognisi publik, dan legitimasi masyarakat di sekitarnya.

 

Dalam buku The Consumer Society (1970), Jean Baudrillard berpendapat bahwa manusia modern adalah “manusia konsumtif.” Maksudnya bagaimana? Manusia membeli makna dan simbol, bukan membeli sebuah benda atau barang yang sesuai kebutuhannya. Sebut saja baju, gawai, tas, sarung, kerudung, dalam kajian ini tak sekadar menjadi barang belaki, melainkan menjadi simbol gaya hidup, kemapanan, bahkan kekayaan.

 

Membeli barang baru menjelang Lebaran bukan salah 100 persen. Namun, dalam tradisi Islam, alangah bijaksananya mengenakan pakaian terbaik (bukan yang terbaru) saat umat Islam merayakan hari raya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan umat manusia tampil rapi dan bersih pada hari besar, bukan klomprot lan badheg.

 

Ironisnya, kebiasaan ini seolah menjadi “tekanan sosial”. Seolah, nek ora nganyari ora sah. Padahal, mereka membeli bukan berdasarkan kebutuhan, namun lebih pada validasi sosial belaka. Bahkan, tak sedikit umat Islam demi validasi itu, direwangi utang-utang dulure. Kan repot!

 

Dalam buku The Overspent American: Why We Want What We Don’t Need (1998), Juliet Schor berpesan fenomena competitive consumption atau kecenderungan publik tuku-tuku barang disebabkan oleh standar atau gaya hidup orang lain. Saat gaya hidup atau standar terus naik, mereka pun ikut terdorong untuk terus mengejar. Sampai tekan ndi wae dikejar.

 

Dalam tulisan ini, saya berpesan pada diri saya pribadi, keluarga, dan pembaca, mari kita kembalikan makna Ramadan sebagai latihan spiritual. Ibadah puasa Ramadan hakikatnya mengedukasi kita untuk mengendalikan nafsu, termasuk nafsu konsumtif yang sering kebablasan. Di sini, Ramadan malah menjadi kritik pada budaya israf alias berlebih-lebihan. Al-Qur’an juga telah berpesan “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

 

Apakah kita tergolong orang yang FOMO dan suka berlebih-lebihan?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemuda Adalah Ruh Perubahan

    Pemuda Adalah Ruh Perubahan

    • calendar_month Sen, 30 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Pati, – Wakil Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (PP LESBUMI) KH Agus Sunyoto mengatakan, bahwa pemuda adalah ruh dari berbagai perubahan. Menurutnya, sejarah agama dan bangsa adalah sejarah anak muda. Islam dapat berkembang berkat gerakan pemuda. “Awal Islam, para pemuda lah yang menjadi motor penggerak perkembangan Islam. Sahabat Ali bin Abu Thalib masuk Islam […]

  • PCNU-PATI

    Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee

    • calendar_month Sel, 5 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jakarta, Minggu, 3/12/2023,- Ketika memilih ruang puisi, sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya telah masuk ke dalam ruang yang begitu sunyi. “Puisi yang telah saya pilih, yang telah anda pilih, yang telah teman-teman semua pilih, yang telah kita semua pilih, adalah sebuah keniscayaan dari hati paling sepi, langkah paling sunyi dan kata tanpa suara paling […]

  • PCNU-PATI

    Moderasi Beragama

    • calendar_month Sab, 26 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Dalam bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata-rata), core (inti), standard (baku), atau non-aligned (tidak berpihak). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. Sedangkan dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padananmakna dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith.

  • PCNU-PATI

    Menjadi Perempuan; Itu Tak Mudah

    • calendar_month Jum, 3 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Mengapa hanya karena terlahir sebagai perempuan selalu dilemahkan? Mengapa ruang bicaranya selalu ditutup? Apakah dia tak berhak mendapatkan haknya sebagai manusia? Mengapa dan mengapa hal ini masih sering dan terus terjadi? Apakah jika perempuan mendapatkan haknya yang setara dengan laki-laki akan menimbulkan masalah? Dan segala pertanyaan lainnya. Saya akan bercerita perihal […]

  • KH Asmui Sadzali, Ulama, Politisi, dan Negarawan Pemberani

    KH Asmui Sadzali, Ulama, Politisi, dan Negarawan Pemberani

    • calendar_month Kam, 26 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 463
    • 0Komentar

    KH Asmui Sadzali dipanggil Yang Mahakuasa, Selasa, 24 September 2019/ 25 Muharram 1441 di Pati Jawa Tengah. Baca: KH. Asmu’i Sadzali, Musytasyar dan Mantan Rois PCNU Pati, Wafat Kiai Asmui adalah sosok organisator yang malang melintang di NU Pati. Ketika Penulis masih studi di PP Raudlatul Ulum Kajen, asuhan KH Ahmad Fayumi Munji, Penulis sering melihat […]

  • Malam di Bumi Tamiang: Langkah Awal Relawan NU Peduli Menyemai Harapan

    Malam di Bumi Tamiang: Langkah Awal Relawan NU Peduli Menyemai Harapan

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.160
    • 0Komentar

      Malam belum sepenuhnya usai ketika rombongan relawan NU Peduli PWNU Jawa Tengah akhirnya tiba di Bumi Tamiang pada pukul 20.30 WIB. Wajah-wajah lelah terlihat jelas setelah perjalanan panjang, namun semangat tetap terjaga. Di bawah langit Aceh yang tenang, langkah pertama misi kemanusiaan resmi dimulai. Tanpa banyak jeda, para relawan langsung mempersiapkan perjalanan lanjutan menuju […]

expand_less