Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kalau Ada Fetish, Jangan Digeneralisasi

Kalau Ada Fetish, Jangan Digeneralisasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
  • visibility 1.432
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Shalikhin*

“Wow, coba lihat, susunya besar dan kencang,” kata seorang pria yang fetish pada payudara. Setiap melihat wanita dengan body montok, dia selalu berseloroh soal susu kepada siapapun yang berada di dekatnya. Dirinya beranggapan bahwa, semua lelaki sama, fetish pada susu. Ini namanya generalisasi.

Padahal kenyataannya kan tidak demikian. Ada lelaki yang ‘fetish’ pada intelektualitas daripaada sekadar body. Adapula yang senang kalau melihat wanita keibuan. Tidak semua ketertarikan itu sama. Ini namanya diferensiasi.

‘Oknum’ di Trans7 barang kali sedang mengalami hal yang pertama tadi. Mereka mungkin terlalu birahi terhadap popularitas, kemewahan, harta benda, sensasi dan narsisme. Ga masalah. Tapi problemnya ada pada kecenderungan berasumsi menyamakan apa yang ada di otakku dan otakmu.

Kalau kalian fetish pada kemewahan, bukan berarti orang lain juga begitu lepas syahwat pada hal-hal serupa. Kalau kalian susah payah, jungkir balik cari pinjaman demi membeli kendaraan impian, sementara di luar sana ada orang yang justru menerima hadiah mobil mewah dari muhibbin (fans) secara cuma-cuma, lantas, apakah si penerima hadiah itu salah?.

Di satu sisi, ada yang begitu kesengsem dengan sesuatu, di sisi lainnya, ada sosok yang bahkan tidak menginginkan namun justru mendapatkannya dengan ‘mudah’. Sekali lagi, apakah jenis ke dua ini salah? Jawabannya tidak. Hanya kebencian, kedengkian dan ketidaktahuan–untuk tidak menyebut: kebodohan–lah yang mengecam ‘penikmat’ reward.

Mungkin pembaca sudah mengetahui bahwa konteks tulisan ini terkait dengan tayangan di Trans7 yang mengolok-olok para ulama’. Oke, kita kupas satu per satu.

Di mulai dari amplop yang diterima oleh para kiai. Sebenarnya hal ini wajar dan hampir di lakukan oleh siapa saja. Ibu memberi rendang kepada tetangga sebelah, karena beberapa hari lalu, ibu menerima semur jengkol darinya.

Konteksnya adalah, kebaikan dibalas kebaikan. Semur jengkol saja dibalas dengan rendang, apalagi pengetahuan dan hikmah yang telah dicurahkan oleh kiai kepada santri. Amplop yang mereka berikan jelas tak sebanding dengan ilmu dan jasa.

Toh, misal seorang kiai mendapat banyak amplop, penulis yakin, maslahatnya akan jauh lebih besar daripada (amplop itu) diberikan kepada orang-orang fasik. Membangun pesantren, membuka lapangan pekerjaan, menyubsidi santri yang tidak mampu, bahkan mengecor jalan, misalnya.

Ke dua, soal mobil mewah. Misal ada seorang kiai membeli ataupun menerima hadiah kendaraan miliaran rupiah, juga mereka gunakan untuk berdakwah, menebar hikmah dari satu tempat ke tempat lain. Apakah kendaraan yang kalian miliki itu lebih berfaedah daripada mobil mewah para kiai Sehingga kalian sampai hati mengolok-olok tunggangan mereka?. Sebut saja Kiai Anwar Zahid, Gus Iqdam dan ustadz-ustadz terkenal di TV lainnya juga menggunakan mobil mewah bukan untuk kebutuhan prestisius seperti kita. Lebih jauh, dalam safari dakwah yang menembus ratusan kilo meter setiap hari, tentu membutuhkan kendaraan yang nyaman dan aman.

Kalau dalam sehari mereka melakukan dakwah di lima tempat, apakah harus mengendarai Honda Beat? Tentu tidak. Minimal Innova, kalaupun ada kiai yang memakai Alphard, Lexus LM, atau kendaraan apapun, itu hanyalah sebatas merk dan angka, selebihnya kenyamanan, keselamatan dan yang terpenting, bukan atas nama gengsi.

Lagipula banyak ulama’ yang mendapatkan mobil-mobil itu sebagai hadiah, mereka tidak membeli dari kantongnya sendiri yang berarti ada kemungkinan para kiai tidak terlalu kepincut dengan barang mewah itu. Sebagai referensi saja, Gus Mus pernah dihadiahi Kijang Innova dari seorang muhibbin. Gus Dur, bahkan bahkan menerima Mercy S-class dan masih banyak lagi kasus-kasus seperti itu.

Ke tiga, Sarung mahal yang mereka kenakan juga belum tentu mereka beli sendiri, lhoh. Banyak muhibbin yang mengirim hadiah semacam itu. Kalau muhibbin-nya macam saya, ya paling mentok menghadiahi doa, tapi kalau muhibbinnya pengusaha-pengusaha besar, ya pasti hadiahnya besar juga. Stop-lah menyamakan standar hidup kalian dengan para ulama. Kalau kalian membeli sepatu kets branded ori untuk flexing atau demi fomo, monggo. Tapi kiai sejati tidak akan terpengaruh hanya dengan price tag selembar sarung.

Mau wadimor, cendana, Ketjubung atau BHS, tidak memberi pengaruh apa-apa, sebab–tidak seperti kalian oknum Trans7– kualitas ulama’ kami ada pada intelektualitas dan spiritualitas, bukan pada syahwat narsis dan fetish akan sensasi.

Intinya, kalau kalian naksir abis dengan kemewahan tapi belum berkesempatan mendapatkannya, ga perlu mengambinghitamkan kiai, yang tidak menginginkan tapi justru mendapatkan. Akhirul kalam, dibalik tembok-tembok pesantren, ada berjuta anomali yang tidak kalian ketahui. Jika ingin tahu, ya mondok (titik).

boikottrans7

*penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU; Menjaga Tradisi, Membangun Peradaban

    NU; Menjaga Tradisi, Membangun Peradaban

    • calendar_month Sab, 14 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 742
    • 0Komentar

    Oleh. Siswanto, MA Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan ada yang menyebutnya sebagai yang terbesar di dunia. Sebagai organisasi yang telah berdiri lebih dari satu abad dalam kalender Hijriyah, NU memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga tradisi serta membangun peradaban bangsa Indonesia. Salah satu kontribusi utama NU adalah […]

  • Dua Ranting IPNU IPPNU Adakan Zibar

    Dua Ranting IPNU IPPNU Adakan Zibar

    • calendar_month Sel, 7 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 199
    • 0Komentar

      Para pengurus Rantinf IPNU IPPNU Sukolilo dan Kuwawur melakukan foto bersama di depan makam Syeikh Ahmad Mutamakkin, Kajen setelah berziarah di sana. SUKOLILO – PR IPNU IPPNU Sukolilo bersama dengan PR IPNU IPPNU Kuwawur mengadakan acara “Zibar” (Ziarah Bareng) pada Ahad (5/9). Mereka melakukan ziarah di sejumlah tempat. Diantaranya di  Makam Syekh Ahmad Shodiq, […]

  • PCNU-PATI

    Lama Vakum, Kiai Jalil Jadi Harapan Baru NU Jimbaran

    • calendar_month Kam, 20 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 186
    • 0Komentar

    MARGOREJO – Setelah sekian lama nonaktif, sekarang, Desa Jimbaran Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati memiliki Pengurus Ranting NU baru. Pengaktifan kembali ini sebagai bagian dari program kerja ketua MWC NU Margorejo, Mahfudz.  Dalam konferensi yang digelar pada Rabu (19/10) tersebut, Kiai Wagiman dan Kiai Abdul Jalil didapuk sebagai Ro’is Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Ranting NU Jimbaran.  […]

  • Photo by Mufid Majnun

    Zakat sebagai Solusi Kesejahteraan Masyarakat

    • calendar_month Sab, 6 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Zakat sebagaimana lazimnya merupakan pengeluaran sebagian harta yang diwajibkan oleh Allah Swt untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, atau mustahik, dengan syarat dan kadar tertentu. Zakat juga pada dasarnya merupakan bentuk ibadah yang tidak asing lagi bagi umat Muslim, karena sendiri merupakan salah satu rukun Islam, sehingga bagi mereka yang mampu, […]

  • Mahasiswa IAIN Kudus Kolaborasi Karang Taruna Bulumanis Kidul Tanam Pohon Mangrove

    Mahasiswa IAIN Kudus Kolaborasi Karang Taruna Bulumanis Kidul Tanam Pohon Mangrove

    • calendar_month Rab, 15 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Dua orang mahasiswi peserta KKN IAIN Kudus Margoyoso sedang menanam pohon mangrove di bibir pantai Bulumanis Kidul. MARGOYOSO – Untuk melestarikan ekosistem pantai, Karang Taruna Desa Bulumanis Kidul, Margoyoso Pati rutin seminggu sekali melaksanakan pembersihan sampah. Bukan hanya itu, para pemuda ini juga aktif malkukan pengecekan dan penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Bulumanis Kidul. […]

  • PCNU-PATI

    Tahlilan Wah Ala Kampung

    • calendar_month Kam, 13 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin*  Mengejutkan! Kata pertama yang terlontar saat mendengar bahwa ada sebuah desa yang mungkin belum dijamah Google Street View, biaya kematiannya begitu mahal. Bahkan bisa lebih mahal daripada di kota-kota besar.  Cerita ini bermula saat penulis mengantar seorang ustadz untuk mengisi ceramah dalam acara tujuh hari kematian. Tentu cuma orang NU yang […]

expand_less