Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kalau Ada Fetish, Jangan Digeneralisasi

Kalau Ada Fetish, Jangan Digeneralisasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
  • visibility 1.875
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Shalikhin*

“Wow, coba lihat, susunya besar dan kencang,” kata seorang pria yang fetish pada payudara. Setiap melihat wanita dengan body montok, dia selalu berseloroh soal susu kepada siapapun yang berada di dekatnya. Dirinya beranggapan bahwa, semua lelaki sama, fetish pada susu. Ini namanya generalisasi.

Padahal kenyataannya kan tidak demikian. Ada lelaki yang ‘fetish’ pada intelektualitas daripaada sekadar body. Adapula yang senang kalau melihat wanita keibuan. Tidak semua ketertarikan itu sama. Ini namanya diferensiasi.

‘Oknum’ di Trans7 barang kali sedang mengalami hal yang pertama tadi. Mereka mungkin terlalu birahi terhadap popularitas, kemewahan, harta benda, sensasi dan narsisme. Ga masalah. Tapi problemnya ada pada kecenderungan berasumsi menyamakan apa yang ada di otakku dan otakmu.

Kalau kalian fetish pada kemewahan, bukan berarti orang lain juga begitu lepas syahwat pada hal-hal serupa. Kalau kalian susah payah, jungkir balik cari pinjaman demi membeli kendaraan impian, sementara di luar sana ada orang yang justru menerima hadiah mobil mewah dari muhibbin (fans) secara cuma-cuma, lantas, apakah si penerima hadiah itu salah?.

Di satu sisi, ada yang begitu kesengsem dengan sesuatu, di sisi lainnya, ada sosok yang bahkan tidak menginginkan namun justru mendapatkannya dengan ‘mudah’. Sekali lagi, apakah jenis ke dua ini salah? Jawabannya tidak. Hanya kebencian, kedengkian dan ketidaktahuan–untuk tidak menyebut: kebodohan–lah yang mengecam ‘penikmat’ reward.

Mungkin pembaca sudah mengetahui bahwa konteks tulisan ini terkait dengan tayangan di Trans7 yang mengolok-olok para ulama’. Oke, kita kupas satu per satu.

Di mulai dari amplop yang diterima oleh para kiai. Sebenarnya hal ini wajar dan hampir di lakukan oleh siapa saja. Ibu memberi rendang kepada tetangga sebelah, karena beberapa hari lalu, ibu menerima semur jengkol darinya.

Konteksnya adalah, kebaikan dibalas kebaikan. Semur jengkol saja dibalas dengan rendang, apalagi pengetahuan dan hikmah yang telah dicurahkan oleh kiai kepada santri. Amplop yang mereka berikan jelas tak sebanding dengan ilmu dan jasa.

Toh, misal seorang kiai mendapat banyak amplop, penulis yakin, maslahatnya akan jauh lebih besar daripada (amplop itu) diberikan kepada orang-orang fasik. Membangun pesantren, membuka lapangan pekerjaan, menyubsidi santri yang tidak mampu, bahkan mengecor jalan, misalnya.

Ke dua, soal mobil mewah. Misal ada seorang kiai membeli ataupun menerima hadiah kendaraan miliaran rupiah, juga mereka gunakan untuk berdakwah, menebar hikmah dari satu tempat ke tempat lain. Apakah kendaraan yang kalian miliki itu lebih berfaedah daripada mobil mewah para kiai Sehingga kalian sampai hati mengolok-olok tunggangan mereka?. Sebut saja Kiai Anwar Zahid, Gus Iqdam dan ustadz-ustadz terkenal di TV lainnya juga menggunakan mobil mewah bukan untuk kebutuhan prestisius seperti kita. Lebih jauh, dalam safari dakwah yang menembus ratusan kilo meter setiap hari, tentu membutuhkan kendaraan yang nyaman dan aman.

Kalau dalam sehari mereka melakukan dakwah di lima tempat, apakah harus mengendarai Honda Beat? Tentu tidak. Minimal Innova, kalaupun ada kiai yang memakai Alphard, Lexus LM, atau kendaraan apapun, itu hanyalah sebatas merk dan angka, selebihnya kenyamanan, keselamatan dan yang terpenting, bukan atas nama gengsi.

Lagipula banyak ulama’ yang mendapatkan mobil-mobil itu sebagai hadiah, mereka tidak membeli dari kantongnya sendiri yang berarti ada kemungkinan para kiai tidak terlalu kepincut dengan barang mewah itu. Sebagai referensi saja, Gus Mus pernah dihadiahi Kijang Innova dari seorang muhibbin. Gus Dur, bahkan bahkan menerima Mercy S-class dan masih banyak lagi kasus-kasus seperti itu.

Ke tiga, Sarung mahal yang mereka kenakan juga belum tentu mereka beli sendiri, lhoh. Banyak muhibbin yang mengirim hadiah semacam itu. Kalau muhibbin-nya macam saya, ya paling mentok menghadiahi doa, tapi kalau muhibbinnya pengusaha-pengusaha besar, ya pasti hadiahnya besar juga. Stop-lah menyamakan standar hidup kalian dengan para ulama. Kalau kalian membeli sepatu kets branded ori untuk flexing atau demi fomo, monggo. Tapi kiai sejati tidak akan terpengaruh hanya dengan price tag selembar sarung.

Mau wadimor, cendana, Ketjubung atau BHS, tidak memberi pengaruh apa-apa, sebab–tidak seperti kalian oknum Trans7– kualitas ulama’ kami ada pada intelektualitas dan spiritualitas, bukan pada syahwat narsis dan fetish akan sensasi.

Intinya, kalau kalian naksir abis dengan kemewahan tapi belum berkesempatan mendapatkannya, ga perlu mengambinghitamkan kiai, yang tidak menginginkan tapi justru mendapatkan. Akhirul kalam, dibalik tembok-tembok pesantren, ada berjuta anomali yang tidak kalian ketahui. Jika ingin tahu, ya mondok (titik).

boikottrans7

*penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Fadi Xd

    Apa Kabar Cinta?

    • calendar_month Sen, 28 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Sudahkah kita bersyukur hari ini? Setiap nafas yang kita hirup adalah karunia-Nya. Tanpa bernafas kita tak bisa berbuat apa-apa. Sudahkah kita bersyukur atas apa yang kita makan dan minum hari ini? Tanpa rezeki-Nya kita mungkin sudah kelaparan dan kehausan. Sudahkah kita berbuat baik kepada orang lain? Tanpa orang lain kita […]

  • 114 Santri se-Nusantara Jalani Persiapan Keberangkatan Beasiswa LPDP

    114 Santri se-Nusantara Jalani Persiapan Keberangkatan Beasiswa LPDP

    • calendar_month Sab, 27 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    JAKARTA-Ada yang istimewa dari Persiapan Keberangkatan (PK) awardee beasiswa LPDP angkatan 144 kali ini. Para awardee LPDP yang merupakan para santri dari berbagai pelosok negeri menjadi keunikan tersendiri. Mereka adalah para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Program Afirmasi Santri LPDP. Wajah-wajah semangat santri penerima beasiswa LPDP. Sumber gambar : IG @lpdp_ri Para santri yang nantinya akan […]

  • PCNU PATI - Peserta Mengeluh, Proses Registrasi Kongres IPNU Dinilai Amburadul

    Peserta Mengeluh, Proses Registrasi Kongres IPNU Dinilai Amburadul

    • calendar_month Jum, 12 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 431
    • 0Komentar

    JAKARTA – Panitia Pelaksana Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNI) ke-XX dinilai kurang persiapan. Sehingga, selama proses registrasi terkesan ambiradul. Diketahui, panitia mengumumkan peserta kongres diwajibkan registrasi ulang pada hari kamis (11/8) malam setelah tiba di lokasi kongres di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Namun, realita di lapangan registrasi peserta baru dibuka pada jum’at […]

  • Gandeng PC IPNU IPPNU Pati, Tim PKM IPMAFA Sukses Adakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual Perdana di Kawedanan Pati Kota

    Gandeng PC IPNU IPPNU Pati, Tim PKM IPMAFA Sukses Adakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual Perdana di Kawedanan Pati Kota

    • calendar_month Sel, 19 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Gembong – Sosialisasi perdana dalam rangka bimbingan remaja guna mencegah kekerasan seksual di Kabupaten Pati yang dilakukan oleh TIM PKM IPMAFA dan PC IPNU IPPNU PATI sukses digelar pada Ahad, 17 November 2024. Dengan target remaja yang tergabung dalam jaringan IPNU/IPPNU dan GKMNU Kabupaten Pati, kegiatan sosialisasi ini nantinya akan diadakan 4 kali dengan peserta […]

  • Terinspirasi Meriam Kekaisaran Ottoman Turki, Siswa MTs Salafiyah Kajen Ciptakan Robot Basilica

    Terinspirasi Meriam Kekaisaran Ottoman Turki, Siswa MTs Salafiyah Kajen Ciptakan Robot Basilica

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 575
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Memanfaatkan sejumlah barang bekas, Siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, berhasil menciptakan sebuah robot yang  dinamakan Basilica.  Siswa itu adalah Muhammad Ridwan Arsyad dan Anargya Fahmi Ilmi Nugraha. Keduanya dibimbing oleh Angelia, guru MTs Salafiyah dan tim Madrasah Robotic Competition (MRC).  Bahkan, berkat ketelatenan dari kedua siswa itu, mereka […]

  • Dua Ranting IPNU IPPNU Adakan Zibar

    Dua Ranting IPNU IPPNU Adakan Zibar

    • calendar_month Sel, 7 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 674
    • 0Komentar

      Para pengurus Rantinf IPNU IPPNU Sukolilo dan Kuwawur melakukan foto bersama di depan makam Syeikh Ahmad Mutamakkin, Kajen setelah berziarah di sana. SUKOLILO – PR IPNU IPPNU Sukolilo bersama dengan PR IPNU IPPNU Kuwawur mengadakan acara “Zibar” (Ziarah Bareng) pada Ahad (5/9). Mereka melakukan ziarah di sejumlah tempat. Diantaranya di  Makam Syekh Ahmad Shodiq, […]

expand_less