Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
  • visibility 548
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Setiap tahun kaum muslim melakukan ibadah puasa wajib satu bulan penuh di bulan ramadhan. Bulan ramadhan memang bulan yang istimewa, bulan yang suasananya begitu berbeda. Kebersamaan dalam keluarga, kebersamaan dalam masyarakat begitu melekat. Misalnya, buka puasa bersama, tarawih bersama, dan sahur bersama. Dan, bulan puasa juga diawali dengan rame-rame hiruk-pikuk dalam penentuan tanggal 1 ramadhan, antara penganut rukyah dan hisab. Maka sering terjadi perdebatan yang tidak jelas juntrungnya.

Muncul pula anekdot-anekdot yang ramai di dunia maya. Misalnya, “Lha, pantes gak bisa melihat hilal, wong alatnya dikorupsi kok!” Atau kisah dialog antara laki-laki dan perempuan. “Mbak, bapaknya orang NU ya? Lha kok tau? Soalnya aku melihat hilal 4 derajat di matamu!”

Seorang penulis barat yang terkenal dengan karyanya berjudul The Oldman and The Sea yaitu bernama Ernest Hemingway menulis sebuah esai berjudul “Lapar adalah Disiplin yang Baik”. Dalam esai tersebut dia mengisahkan dirinya saat berada di Paris. Banyak di sepanjang jalan di Paris memamerkan makanan lezat. Baunya sungguh menggoda. Nah, saat selesai melakukan pekerjaan jurnalistik, Hemingway selalu tergoda untuk nongkrong di bangku-bangku yang banyak makanan itu, tapi nahasnya dia tidak punya uang.

Waktu itu, dia masih kere. Dia sering kelaparan. Pagi sampai sore seringkali belum makan. Demi menghindari godaan dan menghilangkan rasa lapar itu dia sering jalan-jalan di taman Luxemburg dan museum. Dia mengatakan, “Lukisan-lukisan jadi tampak lebih tajam, lebih jelas, dan lebih cantik, jika aku mengamatinya dengan perut kosong.”

Dia juga sering berpikir saat memerhatikan lukisan itu, ‘apakah pelukis lukisan itu juga sering mengalami kelaparan saat mengerjakan lukisannya?’ Lantas dia membuat pernyataan “Lapar adalah disiplin yang baik, dan kita bisa belajar banyak darinya.”

Pembaca yang budiman, saya ingin menarik kepada konteks kita saat ini, bahwa orang yang berpuasa ternyata tidak mengurangi produktivitas dalam bekerja, dan tidak pula mengalami sakit. Kita semua mungkin sudah membuktikan hal itu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Saya pernah setiap hari pulang pergi ke tempat saya bekerja naik sepeda ontel. Jaraknya cukup jauh. Kurang lebih 4 Kilo Meter. Tapi, saya tidak semaput begitu. Biasa saja.

Hal ini juga yang dialami para pemain sepakbola muslim di Eropa. Mereka tetap melakukan puasa di bulan ramadhan saat mereka bertanding. Salah satunya Frederic Kanoute, mantan pemain Sevilla, dia mengatakan: “Puasa Ramadhan membuatku semakin kuat.” Nabi Muhammad Saw. pernah mengatakan: “Suumuu, tasihhuu…, berpuasalah niscaya kamu akan sehat.”

Itu hikmah puasa dari segi fisik, belum dari segi sosial dan spiritual. Dari segi sosial misalnya, orang berpuasa itu akan memunculkan kepekaan sosial. Dia merasakan, beginilah orang yang kelaparan. Sehingga menggerakkan kita untuk beramal. Dari segi spiritual, misalnya, dia akan mampu menjaga diri dari hawa nafsu. Karena sejatinya orang berpuasa tidak hanya memuasakan perut, tetapi juga tangan, kaki, mata, telinga, dan lain-lain, menjaga dari hal-hal negatif. Kualitas fisikal, sosial, dan spiritual inilah yang akan membedakan masing-masing orang yang berpuasa.  

Apabila kita renungkan ayat tentang puasa, ternyata ada benang merah dengan kisah-kisah tadi, yang bisa kita ambil. Firman Allah:

            Ya ayyuhalladzina amanu kutiba alaikumu siyam… (Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa…)

Dari redaksi ayat tersebut ada kata ‘diwajibkan’. Di situ disembunyikan fa’ilnya, atau subjeknya. Siapa yang mewajibkan? Tentu saja Tuhan, tapi uniknya kenapa Tuhan tidak menyebutkan diri-Nya, misalnya ‘Alllah mewajibkan kalian berpuasa’. Tapi ini tidak. Rahasianya menurut Quraish Shihab, seorang pakar Al-Quran, adalah bahwa sudah semestinya manusia itu sendiri mewajibkan dirinya untuk berpuasa, tidak perlu disuruh-suruh, karena manfaatnya sudah jelas, dan akan dirasakan sendiri oleh yang bersangkutan. 

            Ada puisi Jalaluddin Rumi perihal keistimewaan puasa:

            Ada kebahagiaan rahasia bersama perut yang kosong

Kita cuma alat musik kecapi, tak lebih, tak kurang

Ketika kotak suara penuh, maka musik pun hilang

Bakar habis segala yang mengisi kepala dan perut dengan menahan lapar

Maka setiap saat irama baru akan keluar dari api kelaparan yang nyala berkobar

Ketika hijab habis terbakar

Keperkasaan baru akan membuatmu melejit berlari mendaki setiap anak tangga di depanmu yang digelar[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Sarbumusi Sebut Sejumlah Perusahaan Tak Bayar Penuh UMK

    • calendar_month Rab, 30 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Pati Husaini menyebut masih ada sejumlah perusahaan di Pati yang belum penuhi Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) para buruh. Ia menyebutkan ada 5 hingga 10 perusahaan di Pati yang belum memenuhi tanggung jawab tersebut. Namun, ia tidak menyebutkan secara detail nama perusahaan yang dimaksud. Pernyataan […]

  • LSP P2 Ma’arif Jateng Gelar Upgrading Asesor: Menyempurnakan MUK Sesuai Standar BNSP

    LSP P2 Ma’arif Jateng Gelar Upgrading Asesor: Menyempurnakan MUK Sesuai Standar BNSP

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 618
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id- Kudus, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2 Ma’arif Jateng telah sukses menggelar Upgrading Materi Uji Kompetensi (MUK) versi 2023 yang berlangsung pada 10-12 Februari 2025 di SMK Ma’arif Kudus, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi asesor dalam melaksanakan uji sertifikasi berbasis standar terbaru. Dalam sambutannya, Arif […]

  • PCNU - PATI

    PCNU Pati Donasi Uang Tunai Rp. 300 Juta Korban Semeru 

    • calendar_month Sel, 19 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    PCNU Kabupaten Pati berkunjung ke PCNU Kabupaten Lumajang pada sabtu (16/7) lalu. Maksud kunjungan ini adalah untuk menyerahkan donasi bagi warga yang terdampak erupsi Semeru akhir tahun 2021.  Pihak PCNU Kabupaten Pati terdiri dari Dr. Choiron selaku wakil ketua, Maskan selaku sekretaris, Dr. Qosim selaku ketua LKNU dan ketua NU Peduli Pati, serta perwakilan LAZISNU […]

  • Ulama Suu' dan Suu' Saja. Photo by Anna Jahn on Unsplash.

    Ulama Suu’ dan Suu’ Saja

    • calendar_month Kam, 11 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 687
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Di dunia ini, banyak sekali kisah ulama suu’ (ulama jahat). Sebut saja Barseso, ulama ribuan santri yang kepincut wedok-an akibat percaya ahli dzikir yang sebenarnya adalah syaithon. Atau Bal’am, seorang alim nan selalu kabul doanya, namun ia rela mengusik perjuangan Nabi Musa dan Harun AS akibat takut digantung Raja Balqa, musuh […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Mengenalkan Sikap Consent Ke Anak

    • calendar_month Jum, 30 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 541
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Konsep consent memiliki arti pemberian persetujuan tanpa sebuah paksaan. Hal ini sangat penting kita terapkan dalam keseharian berkehidupan. Tanpa adanya sebuah persetujuan, maka akan menimbulkan berbagai masalah dan kerusakan. Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, sebaiknya kita terbiasa dan membiasakan diri meminta izin dalam hal apapun. Bukan hanya soal yang berkaitan dengan seksual […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Ramadan dan Perjumpaan Budaya Lokal

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.123
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ada banyak perjumpaan budaya lokal sebelum, saat, dan setelah Ramadan alias Lebaran Idulfitri. Saya saja banyak menulis soal nyadran, dugeran, dandangan, seperti Penguatan Tasawuf Sosial Lewat Nyadrani (2018), Nyadran dan Penguatan Nasionalisme (2018), Nyadran Jelang Ramadan, Bukan Kemusyrikan (2018), Penguatan Nilai-Nilai Sufisme dalam Nyadran sebagai Khazanah Islam Nusantara (2018), Dugderan: Ekspresi Warga Semarang Sambut Ramadan (2025), dan Nyadran, Dugeran, […]

expand_less