Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
  • visibility 209
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Setiap tahun kaum muslim melakukan ibadah puasa wajib satu bulan penuh di bulan ramadhan. Bulan ramadhan memang bulan yang istimewa, bulan yang suasananya begitu berbeda. Kebersamaan dalam keluarga, kebersamaan dalam masyarakat begitu melekat. Misalnya, buka puasa bersama, tarawih bersama, dan sahur bersama. Dan, bulan puasa juga diawali dengan rame-rame hiruk-pikuk dalam penentuan tanggal 1 ramadhan, antara penganut rukyah dan hisab. Maka sering terjadi perdebatan yang tidak jelas juntrungnya.

Muncul pula anekdot-anekdot yang ramai di dunia maya. Misalnya, “Lha, pantes gak bisa melihat hilal, wong alatnya dikorupsi kok!” Atau kisah dialog antara laki-laki dan perempuan. “Mbak, bapaknya orang NU ya? Lha kok tau? Soalnya aku melihat hilal 4 derajat di matamu!”

Seorang penulis barat yang terkenal dengan karyanya berjudul The Oldman and The Sea yaitu bernama Ernest Hemingway menulis sebuah esai berjudul “Lapar adalah Disiplin yang Baik”. Dalam esai tersebut dia mengisahkan dirinya saat berada di Paris. Banyak di sepanjang jalan di Paris memamerkan makanan lezat. Baunya sungguh menggoda. Nah, saat selesai melakukan pekerjaan jurnalistik, Hemingway selalu tergoda untuk nongkrong di bangku-bangku yang banyak makanan itu, tapi nahasnya dia tidak punya uang.

Waktu itu, dia masih kere. Dia sering kelaparan. Pagi sampai sore seringkali belum makan. Demi menghindari godaan dan menghilangkan rasa lapar itu dia sering jalan-jalan di taman Luxemburg dan museum. Dia mengatakan, “Lukisan-lukisan jadi tampak lebih tajam, lebih jelas, dan lebih cantik, jika aku mengamatinya dengan perut kosong.”

Dia juga sering berpikir saat memerhatikan lukisan itu, ‘apakah pelukis lukisan itu juga sering mengalami kelaparan saat mengerjakan lukisannya?’ Lantas dia membuat pernyataan “Lapar adalah disiplin yang baik, dan kita bisa belajar banyak darinya.”

Pembaca yang budiman, saya ingin menarik kepada konteks kita saat ini, bahwa orang yang berpuasa ternyata tidak mengurangi produktivitas dalam bekerja, dan tidak pula mengalami sakit. Kita semua mungkin sudah membuktikan hal itu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Saya pernah setiap hari pulang pergi ke tempat saya bekerja naik sepeda ontel. Jaraknya cukup jauh. Kurang lebih 4 Kilo Meter. Tapi, saya tidak semaput begitu. Biasa saja.

Hal ini juga yang dialami para pemain sepakbola muslim di Eropa. Mereka tetap melakukan puasa di bulan ramadhan saat mereka bertanding. Salah satunya Frederic Kanoute, mantan pemain Sevilla, dia mengatakan: “Puasa Ramadhan membuatku semakin kuat.” Nabi Muhammad Saw. pernah mengatakan: “Suumuu, tasihhuu…, berpuasalah niscaya kamu akan sehat.”

Itu hikmah puasa dari segi fisik, belum dari segi sosial dan spiritual. Dari segi sosial misalnya, orang berpuasa itu akan memunculkan kepekaan sosial. Dia merasakan, beginilah orang yang kelaparan. Sehingga menggerakkan kita untuk beramal. Dari segi spiritual, misalnya, dia akan mampu menjaga diri dari hawa nafsu. Karena sejatinya orang berpuasa tidak hanya memuasakan perut, tetapi juga tangan, kaki, mata, telinga, dan lain-lain, menjaga dari hal-hal negatif. Kualitas fisikal, sosial, dan spiritual inilah yang akan membedakan masing-masing orang yang berpuasa.  

Apabila kita renungkan ayat tentang puasa, ternyata ada benang merah dengan kisah-kisah tadi, yang bisa kita ambil. Firman Allah:

            Ya ayyuhalladzina amanu kutiba alaikumu siyam… (Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa…)

Dari redaksi ayat tersebut ada kata ‘diwajibkan’. Di situ disembunyikan fa’ilnya, atau subjeknya. Siapa yang mewajibkan? Tentu saja Tuhan, tapi uniknya kenapa Tuhan tidak menyebutkan diri-Nya, misalnya ‘Alllah mewajibkan kalian berpuasa’. Tapi ini tidak. Rahasianya menurut Quraish Shihab, seorang pakar Al-Quran, adalah bahwa sudah semestinya manusia itu sendiri mewajibkan dirinya untuk berpuasa, tidak perlu disuruh-suruh, karena manfaatnya sudah jelas, dan akan dirasakan sendiri oleh yang bersangkutan. 

            Ada puisi Jalaluddin Rumi perihal keistimewaan puasa:

            Ada kebahagiaan rahasia bersama perut yang kosong

Kita cuma alat musik kecapi, tak lebih, tak kurang

Ketika kotak suara penuh, maka musik pun hilang

Bakar habis segala yang mengisi kepala dan perut dengan menahan lapar

Maka setiap saat irama baru akan keluar dari api kelaparan yang nyala berkobar

Ketika hijab habis terbakar

Keperkasaan baru akan membuatmu melejit berlari mendaki setiap anak tangga di depanmu yang digelar[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jangan Mereduksi Kesakralan Tauhid

    Jangan Mereduksi Kesakralan Tauhid

    • calendar_month Kam, 15 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Foto : NU online Filsafat mengajari tentang beberapa aliran, salah satunya empirisme. Aliran yang mengandalkan empiris-inderawi atau pengalaman langsung sebagai dasar kebenarannya. Contohnya api diakui kalau panas tatkala indera kita terkena api dan terasa benar-benar panas. Kali ini saya tidak akan membahas filsafat, tetapi tentang bagaimana pandangan empiris itu menjadi bagian penting pengambilan keputusan dan […]

  • Wujud Kepedulian, Artha Bahana Syariah Salurkan Bantuan Logistik Banjir Melalui Posko Induk PCNU Pati Peduli Bencana

    Wujud Kepedulian, Artha Bahana Syariah Salurkan Bantuan Logistik Banjir Melalui Posko Induk PCNU Pati Peduli Bencana

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.824
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – KSPPS Artha Bahana Syariah (ABS) Pati menunjukkan komitmen sosialnya dengan menyalurkan bantuan logistik untuk warga terdampak banjir di Kabupaten Pati. Bantuan tersebut diserahkan langsung melalui Posko Induk PCNU Kabupaten Pati Peduli Bencana untuk segera didistribusikan ke titik-titik terdampak paling parah. Dalam aksi kemanusiaan ini, ABS menyalurkan sejumlah bahan pokok penting, di antaranya […]

  • NU Jangan Hanya Bicara Potensi

    NU Jangan Hanya Bicara Potensi

    • calendar_month Kam, 8 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 144
    • 0Komentar

    KH Lukman Hakim Syaifuddin, selaku Menteri Agama dalam Silaturrahim NU se-Dunia di Hotel Taisir Mekah (Kamis, 7 Dzulhijjah 1440 H./8 Agustus 2019) menyatakan, membicarakan NU jangan hanya potensi. Semua pihak sudah paham bahwa potensi NU di semua bidang sangat besar. Diamnya NU sudah merupakan potensi. Namun potensi saja tidak cukup. Potensi besar NU harus digerakkan […]

  • Menuju Amil Lazisnu yang Profesional dan Kreatif

    Menuju Amil Lazisnu yang Profesional dan Kreatif

    • calendar_month Ming, 1 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 141
    • 0Komentar

      KH MA Sahal Mahfudh (Mbah Sahal) dikenal berhasil dalam mengembangkan zakat, infaq serta sedekah yang berhasil membangun ekonomi warga Kajen, Pati dan sekitarnya. Hal itu menjadi salah satu alasan dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Pati, Jawa Tengah untuk menyelenggarakan pelatihan Madrasah Amil pada Ahad (1/11).     “Keberhasilan Mbah […]

  • PCNU-PATI

    Habis Gelap Terbitlah Terang

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, sedangkan penerjemahannya (dari versi bahasa Belanda ke bahasa Melayu) pertama kali dilakukan pada 1922 oleh Bagindo Dahlan Abdullah, Zainudin Rasad, Sutan Muhammad Zain, dan Djamaloedin Rasad (mereka menyebut diri Empat Saudara).[1] Proses pengumpulan surat-surat yang pernah dikirimkan […]

  • Photo by Taliwang Mengaji

    80/20

    • calendar_month Sen, 10 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Minggu pagi biasanya saya sepedahan ke sawah atau tambak. Atau keliling kampung. Tapi minggu pagi itu saya tidak kemana-mana. Saya ingin membaca dan menikmati secangkir kopi. Pilihan saya jatuh pada buku Strawberry Generation karya Rhenald Kasali. Saya membeli buku ini sebulan sebelumnya. Baru beberapa bab saja saya baca pas ada waktu […]

expand_less