Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Alquran: Kitab Suci STEM

Alquran: Kitab Suci STEM

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 16 Mar 2026
  • visibility 10.137
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Dalam ruang badan riset, lembaga penelitian, atau lorong-lorong kampus, laboratorium modern, atau kelas santifik, idiom Science, Technology, Engineering, and Mathematics alias STEM akrab dinilai sebagai simbol kemajuan peradaban Barat. Kayake memang ngono! Jadi, banyak orang menilai bahwa STEM adalah produk murni modernitas yang lahir dari revolusi ilmiah Eropa, taka da kaitannya dengan Islam.

 

Akan tetapi, ketika kita menengok kembali literatur-literatur, sumber-sumber pengetahuan pada tradisi Islam, kita menemukan fondasi epistemologis bagi cara berpikir ilmiah hakikatnya sudah lama disemai oleh wahyu juga al-kutub al-mu’tabarah yang mengembangkan ayat-ayat Quran. Di sini, Al-Quran memang bukan buku teks sains yang teknis implementatif, namun Al-Quran merupakan kitab penuh dengan isyarat ilmu pengetahuan yang mendorong umat manusia membaca alam secara logis, metodologis, dan rasional.

 

Kitab Suci STEM?

Kitab suci Al-Quran sebagai kitab petunjuk berulang kali mengajak umat manusia mengamati, melihat, dan menganalisis fenomena alam dengan penuh kesadaran intelektual. Misal dalam QS. Fussilat ayat 53 disebutkan:“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53).

 

Dalam ayat ini, Allah Swt akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap ufuk dan pada diri manusia sampai jelas kebenaran wahyu. Ayat ini tentu mengandung dorongan epistemologis yang sangat kuat, yaitu alam semesta merupakan “laboratorium terbuka” bagi manusia. Prinsip ini sangat kompatibel dengan spirit sains modern berbasis observasi empiris berbasis pengalaman. Membaca alam dalam tradisi Islam tak hanya aktivitas intelektual, namun juga bentuk sebuah ibadah karena lewat observasi itu, manusia makin mengenal kebesaran Allah Swt, Sang Pencipta.

 

Kitab suci Al-Quran dalam konteks sains menyampaikan beragam isyarat soal fenomena alam yang selanjutnya menjadi bahan refleksi ilmiah para sarjana/intelektual muslim. Di antara contoh yang sering dibahas yaitu deskripsi soal perkembangan embrio manusia terdapat dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 yang artinya:“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta. Kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati.” (QS. Al-Mu’minun: 12–14).

 

Ayat di atas ini mengilustrasikan sintak, urutan, atau tahapan penciptaan manusia secara bertahap yang detail, yaitu dimulai dari nutfah (نطفة) (tetesan kecil atau air yang sedikit), ‘alaqah (علقة) (sesuatu yang melekat, segumpal darah, atau menyerupai lintah (leech-like), mudhghah (مضغة) (sesuatu yang dikunyah atau segumpal daging yang seukuran satu kunyahan). Banyak ilmuwan modern terkesan dengan ketepatan narasi di Quran ini dalam menjelaskan proses embriologi. Ayat tersebut bagi umat Islam tentu bukan buku biologi, namun menjadi inspirasi untuk meriset, mengkaji, mendata, menganalisis dan memahami keajaiban penciptaan manusia secara lebih mendalam. Kueren sekali!

 

Sejak awal, tradisi keilmuan Islam melihat alam sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus diriset. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw menegaskan “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” Perintah Kanjeng Nabi Muhammad ini tak terbatas pada ilmu agama saja, melainkan juga mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahkan, Nabi Muhammad memerintahkan untuk menuntut ilmu meski sampai ke negeri Cina. Ini kan revolusioner namanya. Maka tak mengherankan dan takjub saat sejarah peradaban Islam lahir para ilmuwan besar, berpengaruh, dan momumental yang mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, pertanian, fisika, hingga teknik mesin dengan inspirasi dari nilai-nilai wahyu Al-Quran.

 

Selain sains, Al-Quran di dalamnya terdapat kisah-kisah inspirasi teknologi dan rekayasa teknik. Dalam Surat Al-Kahfi ayat 96 artinya: “Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulqarnain) berkata, “Tiuplah (api itu).” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (Q.S Al-Kahfi: 96).

 

Dalam ayat ini, kisah pembangunan dinding raksasa oleh Nabi Zulkarnain untuk menahan Yakjuj dan Makjuj, dinarasikan penggunaan potongan besi yang dipanaskan lalu dilapisi tembaga cair. Dalam pandangan teknik material modern, kisah ini mengilustrasikan konsep dasar rekayasa logam dan konstruksi struktur. Ibrahnya tak hanya cerita sejarah, namun motivasi bagi umat manusia untuk menggunakan ilmu teknik demi melindungi dan memakmurkan kehidupan.

 

Motivasi teknik seperti ayat tersebut melahirkan banyak perkembangan, dan ditulis lewat karya para ilmuwan Islam seperti Al-Jazari (1136–1206) dengan Kitab Al-Jami’ Bain al-‘Ilm wal-‘Amal al-Nafi’ fi Sina’at al-Hiyal pada abad ke-12. Lewat kitab ini, Abū al-‘Iz Ibn Ismā’īl ibn al-Razāz al-Jazarī mengungkap beragam mesin mekanik dan sistem otomatis yang sering dianggap sebagai cikal bakal robotika modern. Karya tokoh yang sering dijuluki sebagai Bapak Robotika ini menunjukkan spirit observasi pada keteraturan alam yang diinspirasi oleh Al-Quran bisa berkembang menjadi inovasi teknologi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat di dunia.

 

Dalam Al-Quran, matematika mempunyai posisi urgen dalam tradisi ilmiah Islam. Misalnya, pada QS. Ar-Rahman ayat 5 yaitu “Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.” Substansi ayat ini, menegaskan matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Ayat tersebut mempertegas alam semesta bergerak dalam keteraturan matematis yang presisi, bahkan sudah sesuai jadwal alam. Spirit ayat tersebut, kesadaran akan keteraturan tersebut memotivasi para ilmuwan Islam mengembangkan ilmu hitung, aljabar, dan astronomi dengan sistematis. Dalam pandangan ini, matematika menjadi bahasa universal dalam memahami struktur kosmos dan sebagai alat praktis dalam kehidupan sosial.

 

Di antara tokoh matematikawan muslim adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (780–850 M). Pada periode ini, bisa disebut perkembangan matematika Islam mencapai puncaknya. Tokoh yang sering disebut sebagai bapak aljabar. Melalui bukunya Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala atau dikenal di Barat sebagai Algebra al-Khwarizmi, Al-Khwarizmi mengembangkan metode aljabar yang menjadi fondasi bagi matematika modern.

 

Bahkan idiom algoritma dalam dunia komputasi saat ini berasal dari pelafalan nama Al-Khwarizmi dalam bahasa Latin. Artinya, teknologi digital yang kita gunakan untuk membaca Al-Quran di gawai saat ini memiliki akar historis dari tradisi matematika Islam. Lalu, mengapa masih ada yang ragu dalam Islam?

 

Quran, Etnosains, dan STEM

Integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai budaya dikenal dengan pendekatan etnosains, yaitu gabuangan enot dan sains. Dalam dunia pendidikan modern saat ini, pendekatan tersebut mempertegas ilmu tak lahir dalam ruang kosong, namun berkembang sesuai konteks budaya dan nilai tertentu. Al-Quran dengan perspektif ini bisa dimengerti sebagai sumber nilai yang menginspirasi metode berpikir ilmiah dalam umat Islam. Integrasi ini sangat penting dengan tujuan agar pembelajaran sains tak terlepas dari dimensi etika dan spiritual yang membimbing penggunaannya.

 

Apakah hanya berhenti di situ? Tidak. Pendekatan di atas kompatibel dengan teori konstruktivisme perspektif Jean Piaget. Lewat buku-buku Piaget, seperti The Origins of Intelligence in Children (1952), The Construction of Reality in the Child (1954), The Psychology of the Child (1969), dan To Understand Is To Invent: The Future of Education (1973), Piaget berpandangan bahwa proses belajar akan lebih efektif jika pengetahuan baru dihubungkan dengan pengalaman dan keyakinan yang telah dikantongi murid.

 

Artinya, dalam konteks pendidikan Islam, mengorelasikan konsep sains dengan ayat-ayat Al-Quran bisa membantu murid mengerti ilmu pengetahuan dengan lebih bermakna. Di sini, sains tak lagi dinilai sebagai pengetahuan asing, namun sains sebagai bagian dari proses memahami tanda-tanda kebesaran Allah Swt.

 

Dalam paradigma pendidikan modern seperti Outcome-Based Education (OBE), William G. Spady dalam buku Outcome-Based Education: Critical Issues and Answers (1994), mempertegas bahwa tujuan akhir pembelajaran bukan hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral. Dalam konteks ini, integrasi STEM dengan nilai-nilai Al-Quran bisa mencetak generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, namun mempunyai kesadaran etis dalam menggunakan pengetahuan. Tentunya, teknologi tanpa nilai moral bisa menjadi alat kerusakan. Sedangkan spiritualitas tanpa pengetahuan bisa membuat manusia tertinggal dalam menghadapi tantangan zaman. Bukankah demikian?

 

Intinya, di kolom yang agak panjang ini, Al-Quran sebagai “Kitab Suci STEM” tidaklah memaksakan tafsir ilmiah dengan isyraf alias berlebihan. Namun, hal ini menjadi wujud rekognisi wahyu Allah Swt sudah memberikan spirit epistemologis bagi umat manusia untuk berpikir, meriset, tadabbur, dan membangun peradaban dengan ruh Al-Quran. Kan sudah jelas, bahwa Al-Quran mengedukasi sumber ilmu berasal dari dua ayat, yaitu ayat yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran (qauliyah) dan ayat yang terbentang di alam semesta (kauniyah).

 

Problem penting untuk segera diselesaikan pendidik hari ini adalah bagaimana caranya membangun generasi ulul albab, yaitu generasi yang dapat mengintegrasikan zikir, pikir, dan amal saleh. Mereka tak sekadar pandai menggunakan teknologi, namun juga mendalami nilai spiritual yang mendasari penggunaannya.

 

Tanpa adanya nilai wahyu, STEM bisa kehilangan arah moral. Pemahaman Islam tanpa adanya penguasaan sains tentu akan kesulitan menjawab tantangan kehidupan. Ada pandangan lain?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MWC-NU Gembong Sowani Gus Muwaffiq, Apa Hasilnya?

    MWC-NU Gembong Sowani Gus Muwaffiq, Apa Hasilnya?

    • calendar_month Sel, 17 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 290
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA-Rombongan pengurus MWC-NU Gembong disambut hangat di kediaman KH. Ahmad Muwaffiq di Perum Jombor Pratama nomor 19, Mlati, Sleman, Yogyakarta. K. Sholihin, ketua MWC-NU Gembong beserta tamu-tamu lain menemui Gus Muwaffiq sekitar pukul 09.00 hingga pukul 10.00 WIB, Selasa (17/9). Gus Muwaffiq (tengah) sedang Bencanda dengan K. Sholikhin (kiri) dan M. Subhan (kanan) Dalam acara […]

  • Naharul Ijtima’ di “Kampung Ace” Cabak Tlogowungu

    Naharul Ijtima’ di “Kampung Ace” Cabak Tlogowungu

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Warta NU; Sehabis sholat Jum’at,6 Maret 2015 Pengurus Harian PCNU Pati bergegas menuju kantor untuk Turba ke ranting dan MWC se-kab. Pati. Kebetulan pada acara Naharul Ijtima’ yang pada jum’at kali ini giliran di MWC Tlogowungu. Masjid yang dipilih sebagai tempat pertemuan adalah Masjid Al Ikhlas Ds. Cabak Kec. Tlogowungu yg merupakan desa penghasil buah […]

  • Fatayat Sendangrejo Jalan Kaki Sambil Kumandangkan Takbir

    Fatayat Sendangrejo Jalan Kaki Sambil Kumandangkan Takbir

    • calendar_month Sel, 13 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 334
    • 0Komentar

    TAYU-Takbir kemenangan untuk merayakan Idul Adha berkumandang dimana-mana. Anak-anak hingga lansia mengumandangkannya dengan suka cita. Masing-masing daerah memiliki cara tersendiri untuk menyambut hari raya qurban tersebut. Peserta pawai takbir obor Ranting Fatayat Sendangrejo, Tayu. Di Tayu, ratusan ibu-ibu menggelar takbir obor Sabtu (10/8). Mereka adalah anggota Ranting Fatayat Desa Sendangrejo Kecamatan Tayu, Pati. Rute sejauh […]

  • PCNU - PATI

    Idaroh Selapanan Bahtsul Masail MWCNU Kec Dukuhseti

    • calendar_month Sab, 2 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Dukuhseti. Jajaran Pengurus LBMNU Kecamatan Dukuhseti mengadakan kegiatan Bahtsul Masa’il dalam rangka Idaroh Selapanan Bahtsul Masa’il LBM MWC NU Dukuhseti, bertempat di Masjid Al Ilham Desa Bakalan Kec. Dukuhseti, Jumat 25 Juni 2022, berapa waktu lalu. “Kegiatan ini bertujuan untuk membahas permasalahan agama yang sedang berkembang saat ini,”jelas Iklil Ma’ruf ketua LBM MWCNU Kec Dukuhseti. […]

  • Ekskul et-Diversity MA Salafiyah Gelar Pelatihan Jurnalistik

    Ekskul et-Diversity MA Salafiyah Gelar Pelatihan Jurnalistik

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 356
    • 0Komentar

      Angga, salah satu pemateri dari wartaphoto.com yang juga redaktur LTN NU Pati sedang semangat menyampaikan materi kepada para peserta pelatihan jurnalistik di MA Salafiyah Kajen MARGOYOSO – Ekstrakurikuler Jurnalistik Et-Diversity Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati adakan pelatihan jurnalistik dasar, Sabtu (30/10/2021) siang. Kegiatan itu bertempat di aula madrasah setempat.  Pada kesempatan […]

  • Ahwa, K. Ahmad Syarwo Pimpin NU Tayu hingga 2024

    Ahwa, K. Ahmad Syarwo Pimpin NU Tayu hingga 2024

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 318
    • 0Komentar

    TAYU-Agenda Konferensi pengurus NU merupakan kegiatan wajib yang dijalankan lima tahun sekali oleh pengurus NU di betbagai tingkatan. Kali ini, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tayu Menggelar konferensinya untuk memilih pimpinan baru. Para pengurus baru MWC NU Tayu berpose bersama pengurus PCNU Pati usai konferensi.  “Tertib mrlakukan reotganisasi adalah bukti bahwa organisasi masih […]

expand_less