Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Fenomena FOMO Ramadan

Fenomena FOMO Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 23 Mar 2025
  • visibility 372
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Apa to sakjane FOMO kuwi? Fear of Missing Out atau FOMO pada intinya perasaan cemas ketinggalan pengalaman atau aktivitas tertentu yang sering muncul saat Rmadan. Fenomena Ramadan intinya perasaan cemas atau takut ketinggalan momen-momen berharga selama bulan Ramadan. Fenomena ini seringkali dipicu oleh media sosial, ya Facebook, Instagram, TikTok, X, di mana orang-orang membagikan aktivitas Ramadan mereka, seperti buka bersama, tarawih berjemaah, atau kegiatan sosial lainnya.

 

FOMO merupakan sebuah istilah psikologis yang menggambarkan perasaan cemas atau takut akan kehilangan sesuatu yang penting atau berharga. Di bulan Ramadan, FOMO muncul ketika seseorang merasa khawatir tidak dapat memaksimalkan ibadah mereka atau merasa tidak cukup beramal shalih dibandingkan dengan orang lain. Misalnya, merasa cemas karena tidak bisa mengaji sebanyak teman-teman, tidak bisa berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang berkaitan dengan ibadah, atau merasa kurang khusyuk dalam shalat dibandingkan dengan yang lain.

 

Ramadan harus dinikmati sebagai bulan yang penuh berkah, rahmat, dan pengampunan. Namun, di tengah keistimewaan bulan suci ini, kita sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan dan perasaan yang mengganggu kualitas ibadah kita. Salah satu fenomena yang kini semakin umum terjadi adalah “FOMO Ramadan” yaitu rasa khawatir atau cemas karena merasa ketinggalan kesempatan untuk meraih pahala yang berlimpah di bulan Ramadan. Fenomena ini bisa memengaruhi banyak orang, terutama dengan adanya tekanan sosial, ekspektasi yang tinggi, dan perbandingan dengan orang lain dalam hal ibadah.

 

Penyebab FOMO Ramadan

Fenomena ini seringkali diperburuk dengan hadirnya media sosial, di mana kita sering melihat berbagai postingan tentang orang yang tampaknya bisa memaksimalkan ibadah mereka dengan sempurna. Teman-teman kita mungkin berbagi foto saat sahur bersama keluarga, gambar mereka yang sedang khusyuk membaca Al-Qur’an, atau cerita tentang sedekah yang mereka berikan. Semua ini dapat memunculkan rasa khawatir bahwa kita tidak melakukan yang terbaik, atau bahkan takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang maksimal di bulan Ramadan.

 

Setidaknya, beberapa penyebab menjadikan lahirnya FOMO Ramadan. Pertama, perbandingan sosial, kalau bahasa orang Pati adalah tangeh nganggo lamun. Salah satu faktor utama munculnya FOMO Ramadan adalah perbandingan sosial. Di zaman sekarang, media sosial memberi kita akses untuk melihat apa yang orang lain lakukan setiap saat. Melihat orang lain lebih aktif beribadah, misalnya, dapat memunculkan perasaan bahwa kita tidak cukup melakukan hal yang sama, meskipun kenyataannya setiap individu memiliki kemampuan dan cara yang berbeda dalam beribadah.

 

Kedua, keterbatasan waktu dan energi. Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan berbagai ibadah, tetapi juga bulan dengan banyak aktivitas, mulai dari puasa, shalat, zakat, sedekah, hingga acara berbuka puasa bersama. Terkadang, dengan jadwal yang padat dan keterbatasan waktu, kita merasa kesulitan untuk memaksimalkan setiap ibadah, yang pada gilirannya memunculkan rasa FOMO, seolah-olah ada banyak kesempatan yang terlewatkan.

 

Ketiga, tekanan ekspektasi. Kokean ngelamun jika saya membahasakan lah. Ramadan sering kali dilihat sebagai bulan untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah. Tekanan ini dapat berasal dari dalam diri sendiri atau dari lingkungan sosial. Banyak yang merasa perlu untuk memenuhi ekspektasi tinggi, baik itu dalam hal puasa yang sempurna, shalat malam (tahajud) yang panjang, atau membaca Al-Qur’an setiap hari. Ketika seseorang merasa tidak dapat memenuhi harapan tersebut, perasaan cemas dan tidak cukup baik bisa timbul.

 

Dampak Negatif dari FOMO Ramadan

Meskipun FOMO dapat memotivasi beberapa orang untuk lebih banyak beribadah, dalam banyak kasus, fenomena ini justru membawa dampak negatif. Pertama, stres dan kecemasan. Terus-menerus merasa cemas tentang kurangnya ibadah atau ketidakmampuan untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh diri sendiri atau orang lain dapat menyebabkan stres. Perasaan tersebut bisa mengganggu fokus dan ketenangan dalam beribadah, yang seharusnya menjadi tujuan utama Ramadan. Iki dimbar-mbarke isa marakke gendeng tenan!

 

Kedua, mengurangi kualitas ibadah. FOMO sering kali menyebabkan kita terlalu terfokus pada kuantitas ibadah (seberapa banyak yang bisa kita lakukan) daripada kualitas ibadah itu sendiri. Alih-alih melaksanakan ibadah dengan penuh khusyuk dan penghayatan, kita justru terjebak dalam perasaan harus memenuhi target-target tertentu, yang akhirnya malah mengurangi kesungguhan dalam ibadah.

 

Ketiga, mengabaikan keikhlasan. Salah satu hal yang terpenting dalam beribadah adalah keikhlasan. Ketika seseorang terjebak dalam FOMO Ramadan, ibadah bisa dilakukan hanya demi pencitraan atau untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Hal ini bertentangan dengan inti dari ibadah yang seharusnya dilaksanakan semata-mata untuk meraih keridaan Allah.

 

Solusi

Secara garis besar, fenomena FOMO Ramadan merupakan sebuah hal yang dapat mengganggu kekhusyuan dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga niat dan fokus dalam beribadah, serta menghindari perasaan cemas atau takut ketinggalan momen-momen yang tidak esensial. Maka kita harus menawarkan sejumlah solusi.

 

Pertama, fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Alih-alih khawatir tentang seberapa banyak ibadah yang bisa dilakukan, kita perlu fokus pada kualitas ibadah kita. Setiap amalan, meskipun sedikit, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan penuh penghayatan, akan lebih bernilai di sisi Allah. Usahakan untuk melaksanakan ibadah dengan penuh hati, meskipun hanya shalat lima waktu atau membaca Al-Qur’an beberapa ayat.

 

Kedua, hapuskan perbandingan sosial. Ojo kokean ngelamun keduwuren. Media sosial bisa menjadi penyebab utama FOMO. Cobalah untuk mengurangi konsumsi media sosial selama Ramadan dan fokus pada diri sendiri. Ingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan ibadah yang berbeda-beda, dan yang terpenting adalah apa yang kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan bagaimana kita terlihat di mata orang lain.

 

Ketiga, atur waktu dengan bijak. Salah satu cara untuk mengurangi rasa FOMO adalah dengan mengelola waktu secara efektif. Prioritaskan ibadah yang paling penting, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Jangan terlalu terbebani dengan kegiatan lain yang mungkin menambah stres, seperti mengikuti acara buka puasa bersama yang terlalu sering atau memaksakan diri untuk mengikuti segala aktivitas sosial.

 

Keempat, tetap bersyukur dan berikhtiar. Ramadan adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan yang terpenting adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan penuh syukur. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, dan jangan biarkan perasaan FOMO merusak niat baik Anda. Berusaha yang terbaik untuk beribadah adalah yang terpenting, dan Allah Maha Mengetahui usaha kita.

 

Fenomena FOMO Ramadan adalah tantangan yang banyak dihadapi oleh umat Islam di zaman sekarang, terutama dengan pengaruh media sosial yang besar. Namun, kita harus ingat bahwa Ramadan adalah waktu yang sangat pribadi untuk kita berhubungan dengan Allah, bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Dengan menjaga fokus pada kualitas ibadah, mengurangi tekanan sosial, dan lebih banyak bersyukur, kita dapat menghindari perasaan FOMO dan memanfaatkan bulan Ramadan dengan lebih baik.

 

Semoga Ramadan ini menjadi kesempatan yang penuh berkah untuk kita semua, dan semoga kita dapat menghidupkan setiap detiknya dengan ibadah yang ikhlas dan penuh penghayatan.

 

Apakah dirimu juga kena FOMO Ramadan?

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Hidupkan Tradisi Barikan guna Hentikan Covid-19

    Warga Hidupkan Tradisi Barikan guna Hentikan Covid-19

    • calendar_month Jum, 2 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Warga Dukuh Sentul Melaksanakan Tradisi Barikan Kamis (1/7) malam. Acara ini ditujukan untuk tolak balak, terutama Covid-19 GEMBONG-Sudah setahun lebih, warga dunia hidup berdampingan dengan Virus Corona. Tidak terkecuali warga Jawa Tengah. Merebaknya kasus Covid-19 di Kabupaten Pati, membuat beberapa elemen masyarakat berupaya maksimal untuk menghentikan laju penularan virus ini.  Mulai usaha lahiriyah seperti mengenakan […]

  • PCNU-PATI Photo by Bimbingan Islam

    Buku yang Memilih Aku

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Ada seorang petinju yang dihukum seumur hidup, karena dituduh membunuh beberapa orang secara brutal. Meski hal itu tidak terbukti, karena tidak ada bukti yang mengarah ke dirinya. Satu-satunya yang menguatkan dia bersalah adalah kesaksian beberapa orang. Dan rupanya itu adalah kesaksian palsu, karena di bawah ancaman. Maka dijebloskanlah si petinju itu […]

  • PCNU-PATI Photo by Gabor Kozmon

    Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Setiap tahun kaum muslim melakukan ibadah puasa wajib satu bulan penuh di bulan ramadhan. Bulan ramadhan memang bulan yang istimewa, bulan yang suasananya begitu berbeda. Kebersamaan dalam keluarga, kebersamaan dalam masyarakat begitu melekat. Misalnya, buka puasa bersama, tarawih bersama, dan sahur bersama. Dan, bulan puasa juga diawali dengan rame-rame hiruk-pikuk […]

  • Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Penguatan Inklusi dan Bahasa Inggris di Sekolah Ma’arif Jateng

    Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Penguatan Inklusi dan Bahasa Inggris di Sekolah Ma’arif Jateng

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.073
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar satu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Berbasis Cinta (PM KBC) An-Nahdliyyah, Program Pendampingan Bahasa Inggris Berstandar Internasional Pearson, serta penyelesaian Modul Pendidikan Inklusi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026, di Hotel Muria, Kota Semarang. […]

  • PCNU-PATI

    Fundrising Koin NU Pelan Tapi Pasti

    • calendar_month Rab, 25 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id– Manager Fundrising PC Lazisnu Pati kembali melaksanakan tugasnya mengambil kotak koin NU di empat titik, senin (24/01). Kegiatan ini ia lakukan rutin setiap satu bulan sekali. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan Fundrising koin NU agar semakin baik.  “Pengambilan kotak hari ini ada di 4 titik, ada di kantor Satpol PP, Kantor Yamaha Mataram […]

  • PCNU-PATI

    PC Lazisnu Pati – Lazisnu Mwcnu Cluwak Bantu Korban Rumah Roboh

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PC Lazisnu Pati bersama Lazisnu MWC Cluwak hadir memberikan bantuan kepada Sanah, selasa (07/03). Sanah merupakan warga desa Sirahan, Rt 03 Rw 02 Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati yang mengalami musibah rumah roboh.  Sebelumnya, Lazisnu Pati mendapatkan informasi bahwa ada salah seorang warga yang rumahnya roboh akibat intensitas hujan yang terus menerus. Pihak Lazisnu Pati […]

expand_less