Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Empat Ibu Pengajian

Empat Ibu Pengajian

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 10 Okt 2022
  • visibility 376
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Empat ibu pengajian duduk sambil ngerumpi. Mereka sedang asyik saling membangga-banggakan anaknya masing-masing. Ibu pertama berkata, “Tahu tidak, anak saya sekarang sudah jadi ustad. Kalau dia masuk ruangan, orang akan menyapa, ‘Assalamu’alaikum, selamat pagi, Ustad.’”

Tak mau ketinggalan ibu kedua berkata, “Yah baru ustad, anak saya adalah seorang kyai. Orang-orang menyapanya, ‘Assalamu’alaikum, selamat pagi Kyai,’” ujar si ibu dengan bangga.

Tentu ibu ketiga tidak mau kalah dari dua ibu tadi. ”Sudah dech, anak kalian belum ada apa-apanya dibanding anakku. Anakku sudah jadi seorang syaikh. Ia disapa banyak orang, ‘Assalamu’alaikum, sobahul khair[1] ya Syaikh.’”

Ibu ketiga ini bangga bukan main dapat mengalahkan kedua ibu tadi yang membanggakan anak-anaknya. Ia merasa di atas angin.

Setelah diam sesaat, ibu keempat yang sadar bahwa anaknya sama sekali tak berada di ‘jalur’ keagamaan dan cari-cari akal agar anaknya bisa unggul. Sesaat dia tersenyum dan berkata, ”Anak saya tingginya dua meter, beratnya 100-an kg, otot semua, dan kalau ia masuk ruangan, orang-orang akan menyambutnya, ‘Oh Tuhan…!’”

Amboi. Ketiga ibu tersebut kalah telak oleh ibu keempat, karena anaknya lebih unggul dari julukan apa pun. Tidak tanggung-tanggung anaknya dianggap Tuhan oleh orang-orang, ketimbang lainnya yang hanya ustad, kyai, atau syaikh.

 Barangkali kita juga sering mendengar kisah yang senada dengan kisah atas. Sudah hal lumrah apabila orangtua yang bangga dengan anaknya. Orangtua mana yang tidak bangga dengan anaknya yang sukses? Tapi kisah di atas hanyalah sebuah parodi, lelucon belaka. Meski lelucon, kisah di atas sarat dengan makna.  Ada kandungan yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah perihal bangga.

Bangga pada dasarnya tidaklah dilarang, sah-sah saja. Mungkin sebuah hal yang normal. Namun, akan menjadi terlarang tatkala bangga sudah mencapai tahap sombong. Dalam arti, kebanggaan tersebut membutakan hati dan pikirannya, dimana seolah dirinya yang paling tinggi dan hebat dari yang lainnya sehingga lupa daratan.

Dalam hadis banyak disebutkan perihal bangga ini. Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, misalnya, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada di samping Nabi saw. Beliau kemudian bersabda, “Celakalah engkau. Kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah meggorok leher saudaramu!” Dalam hadis lain disebutkan pula, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan bahwa Nabi saw. mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Nabi saw. bersabda, “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Nabi melarang untuk memuji atau membanggakan seseorang secara berlebihan dengan pujian yang tidak layak dia terima. Hal itu dikhawatirkan akan menimbulkan rasa bangga diri berlebihan, karena orang yang dipuji mengira bahwa dia memang memiliki sifat atau kelebihan tersebut. Dan kelebihan semu tersebut akan membuat dirinya tidak bersemangat untuk menambah amal kebaikan karena dia sudah merasa yakin dengan pujian tersebut.

Lantas bagaimana pujian dan bangga yang diperbolehkan bahkan mungkin dianjurkan dalam Islam? Pujian dan kebanggaan yang diperbolehkan dalam Islam adalah yang tidak berlebihan dan tidak dikhawatirkan lupa diri. Dengan kata lain, pujian dan kebanggaan tersebut sewajarnya saja, tidak berlebihan dalam memuji, dan tidak berlebihan pula dalam membanggakan diri sendiri, sesuatu atau orang lain. Nabi saw. mengajarkan kepada kita apa yang harus dikatakan pada saat kita memuji. Beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” (HR Imam Malik dan Ibnu Majah).

Sungguh luar biasa. Betapa indahnya Rasulullah mengajarkan kepada kita perihal pujian dan kebanggaan. Sesuatu yang rentan disusupi kesombongan diubah menjadi keberkahan. Bisa kita bayangkan, saat kita memuji dengan mempraktikkan ajaran Rasulullah itu, bukan tidak mungkin orang yang kita puji akan termotivasi untuk senantiasa berbuat kebaikan, menambah amal kebaikan, dan memberikan teladan yang baik kepada orang lain. Kalau sudah begitu, yang timbul adalah kebaikan dan menimbulkan pahala.

Kini, orang menyebut “bangga secara berlebihan” lebih populer disebut narsis, yakni tindakan memuji diri sendiri secara berlebihan. Konon, istilah narsis diambil dari tokoh mitologi Yunani “Narcissus”, seorang pria yang sangat tampan, sehingga Dewa Apollo sampai jatuh cinta padanya. Bahkan Narcissus sendiri jatuh cinta pada dirinya. Dia terkesima dengan pantulan dirinya sendiri pada saat melihat melihat wajahnya di danau, dan terus mengaguminya hingga akhirnya ia berubah wujud menjadi bunga Narcissus.

Apabila seseorang dilanda narsis ‘stadium 4’ alias parah, maka itu bukan lagi dinamakan narsis, melainkan eksibisionis. Eksibisionis adalah nafsu pamer kehebatan diri yang berlebihan. Dalam ilmu psikologi, narsis dan eksibisionis adalah bentuk penyimpangan kejiwaan. Jadi, jika kita menemukan di sekeliling kita ada yang senang dengan memamerkan dari dirinya secara berlebihan, maka kita harus menyarankan dia ke dokter kejiwaan.

Narsis maupun eksibisionis dalam bahasa agama (Islam) dinamakan dengan ujub, karena secara bahasa ujub ialah merasa gembira dan merasa baik, menarik, mempesona dan merasa tinggi dan hebat. Sedang secara istilah ujub adalah perasaan senang, gembira dan bangga atas dirinya atau karena ucapan dan pekerjaan yang diikuti oleh perasaan lupa dan lalai atas nikmat Allah yang dia banggakan.

Wajah elok, fisik yang bagus, keturunan ningrat, jabatan prestise, kekayaan melimpah, prestasi dan karya berderet, itu semua adalah karunia Allah sekaligus ujian. Jika manusia lupa semua itu sebagai kenikmatan dari Allah dan membanggakan dirinya sampai lupa bahwa itu karunia Allah yang harus disyukuri maka itulah yang disebut ujub. Ujub adalah penyakit hati berbahaya karena memalingkan dari syukur. Ujub dilarang dalam Islam, dan dianggap sebagai salah satu penyakit hati yang disejajarkan dengan Riya’[2] dan Sum’ah[3].

Tentu bukan berarti kita tidak boleh berpenampilan baik dan memperlihatkan keunggulan kita. Semua itu dibolehkan, asal karena menjaga kebersihan, keindahan, dan kemanfaatan, yang dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Dan semua itu dilakukan atas dasar niat yang baik. Hanya Anda sendiri yang tahu  niat tersebut. Di situlah Allah akan menilai kualitas perilaku Anda, apakah murni niat untuk kebaikan atau sebaliknya untuk keburukan yang bertopeng kenarsisan dan keujuban. Hanya Anda yang tahu. 

Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan. Hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)[]


[1] Selamat pagi

                [2] Melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharapkan pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya.

[3] Menyebut-nyebut amal baiknya kepada orang lain supaya mendapat pujian/ keuntungan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aswaja: Manhaj Nahdlatul Ummah

    Aswaja: Manhaj Nahdlatul Ummah

    • calendar_month Ming, 15 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 376
    • 0Komentar

     Aswaja adalah golongan yang konsisten mengikuti tradisi dan metode yang dipraktekkan Nabi dan para sahabat (ma ana alaihi al-yauma wa ashhabi). Aswaja dalam konteks Indonesia adalah golongan yang secara mayoritas mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam bidang akidah, Imam Asy-Syafi’i dalam bidang fiqih, dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan Imam Abi al-Hasan Asy-Syadzili dalam bidang […]

  • Melacak Nasionalisme KH Maimun Zubair

    Melacak Nasionalisme KH Maimun Zubair

    • calendar_month Ming, 18 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani* Foto : Zahir Media Hari ini, Sabtu, 17 Agustus 2019 – 16 Dzulhijjah 1440 adalah Hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74. Usia yang tidak muda lagi untuk ukuran manusia. Diharapkan di usia 74 ini, Indonesia semakin matang demokrasinya, nasionalismenya, Dan mampu menegakkan sila ke 5 Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi […]

  • GP Ansor Pati dan Front Nelayan Bersatu Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    GP Ansor Pati dan Front Nelayan Bersatu Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    • calendar_month Sab, 14 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PATI – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati sumbangkan Sembako senilai jutaan rupiah untuk korban banjir. Aksi dilaksanakan atas kerja sama dengan Paguyuban Nelayan Juwana, yang tergabung dalam Front Nelayan Bersatu (FNB). Bantuan tersebut disalurkan langsung oleh Ketua GP Ansor Pati Abdullah Syafiq kepada NU Peduli di Gedung PCNU setempat, pada Jumat […]

  • PCNU-PATI

    Komet Miror

    • calendar_month Rab, 4 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Komet Minor sebagai novel keenam dari serial Bumi terbit pada tahun 2019, tak lama setelah Komet–novel sebelum ini–diterbitkan. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa Komet Minor merupakan lanjutan dari novel sebelumnya, yakni Komet, tetapi dalam novel ini petualangan Raib, Ali, dan Seli ditemani oleh Batozar. Bagi yang belum mengenali Batozar, barangkali kalian bisa membaca novel Ceros dan Batozar terlebih dahulu, yakni novel spin-off ke-4 ½ dari serial Bumi. Di novel […]

  • Lailatul Ijtima’ NU Wedarijaksa Berbuah Manis

    Lailatul Ijtima’ NU Wedarijaksa Berbuah Manis

    • calendar_month Sel, 31 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Pelaksanaan lailatul ijtima’ MWC NU Wedarijaksa PATI – Senin (30/8) kemarin, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Wedarijaksa menggelar Lailatul Ijtima’ pertama setelah masa PPKM, walaupun masa darurat tetap mengadakan pertemuan. Ketua Tanfidziyah NU Wedarijaksa, Kiai Nabhan Ulinnuha mengatakan lailatul ijtima digelar untuk konsolidasi antar pengurus dan antar Banom NU.  “Ini lailatul ijtima kembali digelar setelah […]

  • Bedah buku “Sing Penting Nulis Terus”

    Bedah buku “Sing Penting Nulis Terus”

    • calendar_month Sab, 25 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Pati. Serangkaian acara dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-85, Yayasan Pendidikan Islam Manahijul Huda (YAPIM) kemarin,  LPS Cendekia mengadakan acara bedah buku dengan judul “Sing Penting NUlis Terus” karya Hamidullah Ibda M.Pd. Acara ini dibuka resmi oleh H. Baidlowi Ahmad S. Pd.I dan ditutup dengan do’a oleh H. Ali Makhtum di Aula MA […]

expand_less