Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Bapak Hamdi van Holland

Bapak Hamdi van Holland

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
  • visibility 96
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Hari itu adalah musim bunga bermekaran indah di halaman rumah. Keindahannya seolah hendak menyambut kedatangan kami yang tahun 2013 berlebaran di Bojong, Pandeglang. Ah, desa Bojong. Sebuah desa yang penuh dengan memori masa kecil dan remajaku. Kenanganku akan pasar Bojong, sawah Cijakan, dan sungai Cilemer tak lekang ditelan zaman.

Di teras halaman rumah kutatap semua hal yang ada di sekitarnya. Tak ada yang berubah. Aku berjalan menyusuri kebun yang letaknya di depan rumah. Kupandang setiap tanaman yang ada di situ. Kuperhatikan lebih lama bunga-bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Kuhirup dalam-dalam udara depan rumah itu. Sejuk dan syahdu.

Aku merasa lebaran kali itu terasa sungguh istimewa. Dan aku bersyukur kepada Allah SWT dapat berlebaran di kampung halaman. Karena momen ini sungguh langka, tidak hanya lebaran Idul Fitri yang hanya setahun sekali, tetapi juga dapat bertemu dengan seseorang yang sekian lama tidak bertemu, kecuali pada saat aku masih kanak-kanak.

Orang itu adalah Bapak Hamdi. Beliau adalah Pak Dhe’, kakak dari ibuku dan putra pertama dari kakek-nenekku. Kami biasa memanggilnya Bapak Bai. Itu menjadi panggilan akrab beliau. Aku belum sempat bertanya bagaimana sejarahnya beliau mendapat panggilan itu. Aku menduga nama ini panggilan yang dibuat oleh kakek dan nenekku, lalu semuanya pada ngikut.

Bersama istri dan putriku, di suatu sore kami hendak menemui beliau, sekaligus buka bersama dengan seluruh anggota keluarga di rumah mendiang kakek dan nenek. Alhamdulillah beliau masih ingat padaku. Kucium tangannya, kemudian kupeluk badannya. Aku merasa dipeluk kakek. Wajah dan perawakannya sungguh mirip dengan kakek. Kemiripan itu tidak hanya aku yang mengakuinya, tapi juga orang lain. Misalnya, pada saat sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri beliau diperkenankan untuk berdiri memperlihatkan diri sembari diperkenalkan oleh ketua takmir masjid Al-Hidayah, Bapak Haji Sidik. Melihat sosok beliau, sontak para jamaah kaget, karena beliau begitu mirip dengan almarhum kakek.

Sudah 13 tahun beliau tidak pulang ke Indonesia. Tentu banyak hal dan peristiwa penting yang terjadi dalam keluarga yang beliau lewatkan secara langsung. Di antaranya adalah wafatnya kakek dan nenek. Sebetulnya pada saat wafatnya nenek, beliau hendak pulang, tapi kakek melarangnya, tidak usah memaksakan diri apabila keadaannya tidak memungkinkan, ujar kakek. Kakek meyakinkankannya bahwa nenek wafat dengan begitu indah, tidak usah pulang, cukup doakan saja.

Selepas shalat Idul Fitri seluruh keluarga berziarah ke pusara kakek dan nenek yang letaknya di belakang mesjid. Setelah kami membaca surat yasin, tahlil, dan shalawat, beliau kemudian memimpin doa. Mendengar doa beliau, kami semua terisak. Sebuah doa yang menyentuh ke dalam relung hati kami. Doa yang begitu dimengerti sehingga air mata kami begitu deras membasahi pipi. Berikut doa yang masih kuingat:

“Ema, ibu, ieu anak-anak ema jeung ibu. Ieu incu-incu ema-ibu. Anak-anak, incu-incu ema-ibu nuju kumpul di boboran ieu… Ya Allah kami adalah anak-anak yang belum bisa berbakti pada kedua orangtua kami, tapi keduanya telah Engkau panggil. Jadikanlah doa kami untuk keduanya dapat diterima. Berilah cahaya (nur) di makam kedua orangtua kami, lapangkanlah dan berilah kebahagiaan untuk keduanya. Allahummajalhuma fi qobrihima addoyaau wannur walfushata wassuruur. Ya Allah maafkanlah dan ampunilah dosa kedua orangtua kami dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka berdua mengurus dan mendidik kami waktu kami masih kecil.”

Pada saat kami bersilaturahmi ke rumah adik kakek, yang biasa kami panggil Bapak Gunung, di Gunung Kencana, beliau memberi nasihat kepada kami semua. Beliau becerita panjang lebar tentang kakek dan nenek. Di sela-sela nasihatnya, beliau bercerita tentang kakek pada saat menunaikan ibadah haji. Cerita ini membuat semua kaget. Cerita ini tidak pernah kudengar sebelumnya, bahkan oleh orangtuaku sekalipun. Beliau merahasiakan cerita ini agar semuanya tidak panik, hingga pada waktunya bisa diceritakan. Dan pada saat itu ketika kami berkumpul di Gunung Kencana adalah waktu yang menurut beliau paling tepat untuk diceritakan.

Saya sedikit menyesal pada saat Bapak Bai memberi nasihatnya. Menyesal, mengapa pada waktu itu saya tidak merekamnya, sehingga saya bisa menyimpan nasihatnya itu lebih lengkap dan akan kutulis ulang untuk kuabadikan hingga semua keluarga dapat terus mengingatnya. Yang kuingat ada tiga poin dari nasihat beliau. Pertama, kudu inget ka ema jeung ibu. Kedua, ngalaksanakeun amanat ema jeung ibu. Ketiga, ngajaga silaturahmi

Di akhir nasihatnya, beliau menyitir doa yang begitu bagus yang belum pernah kudengar dari siapa pun dan dari kitab manapun: 


اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ
 
Ya Allah satukanlah hati kami dan perbaikilah hubungan kami, tunjukkanlah kami jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari jalan kegelapan kepada jalan yang terang, jauhkanlah kami dari keburukan baik yang nampak maupun yang tidak.”

Salah satu hal yang istimewa dan membawa berkah dengan kedatangan beliau adalah menghidupkan kembali antara silaturahmi dan piknik bersama sebagaimana yang sering kami lakukan pada saat kakek dan nenek masih ada. Ya, tatakala lebaran Idul Fitri tiba, kami semua berziarah ke orangtua kakek-nenek, bersilaturahmi, dan piknik.

Kurang lebih satu bulan setelah lebaran beliau kembali ke Belanda. Kenyataan itu sungguh membuat kami sedih. Tapi, soal kesedihan, beliau tidak kalah sedihnya dengan kami. Bahkan, mungkin beliau adalah orang yang paling sedih. Betapa tidak, beliau telah lama tidak bertemu, mencium tangan dan memeluk kakek dan nenek, sehingga yang ada adalah kerinduan. Namun, kerinduan itu tidak pernah terpenuhi karena keduanya sudah tiada. Bisa dibayangkan pada saat kakek dan nenek masih ada, tatkala Bapak Bai datang ke Bojong, di depan rumah, kakek dan nenek sudah menunggunya, berdiri dan menyapanya, “Anak aing, anak aing (anakku, anakku)…” Keduanya menyambut beliau dengan air mata berlinang, air mata bahagia karena rindu.

Saya teringat sebuah puisi yang ditulis Muhammad Iqbal, penyair dan filosof India, pada saat ia mengenang ibunya, dimana waktu itu Muhammad Iqbal sedang kuliah di Inggris. Begini puisinya: 

Siapakah itu, yang menungguku di rumah, berdoa untukku,

Dan merasa khawatir ketika surat-surat datang terlambat?

Pada pusaramu akan kutulis pertanyaan ini:

Siapa yang ingat kepadaku dalam salat malamnya?

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MMH Tayu Cetak 90 Calon Anggota IPNU-IPPNU

    MMH Tayu Cetak 90 Calon Anggota IPNU-IPPNU

    • calendar_month Sab, 4 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Suasana pembukaan Makesta IPNU IPPNU MMH Tayu, Kamis (2/9) TAYU – MA Miftahul Huda  mengadakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta merupakan tahap kaderisasi pertama dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Agenda ini diharapkan mampu mencetak kader yang mampu menjalankan tugas di tengah-tengah masyarakat dengan memegang ajaran Islam […]

  • Kader GP Ansor dan IPNU Tambakromo Dirikan Patitech Academy

    Kader GP Ansor dan IPNU Tambakromo Dirikan Patitech Academy

    • calendar_month Ming, 31 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 91
    • 0Komentar

      TAMBAKROMO -Patitech Academy Gelar kegiatan Gen Z Techno Camp, yang berlangsung pada tanggal 5 hingga 30 Desember 2023 di Yayasan Warna Bhakti, Desa Mangunrekso, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga mahasiswa. Gen Z Techno Camp merupakan salah […]

  • Meriah, Porsema Hadirkan Ekspo di Alun-Alun Wonosobo

    Meriah, Porsema Hadirkan Ekspo di Alun-Alun Wonosobo

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Wonosobo – Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII PWNU Jawa Tengah tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, seni, pertunjukan Seni Warok Lengger dan Tari Topeng, Porsema Bersholawat, tetapi juga diramaikan dengan ekspo dan bazar yang berpusat di Alun-Alun Wonosobo. Tahun ini, Porsema XIII diikuti oleh 5.577 peserta, 1.794 official, serta lebih dari 4.000 partisipan dari […]

  • PCNU - PATI

    Ayo Berdonasi Lewat LAZISNU Pati

    • calendar_month Jum, 15 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Pati- NU Care Lazisnu Pati terhitung mulai hari ini Kamis (14/7) melakukan penggalangan donasi untuk para korban banjir yang ada di beberapa wilayah kabupaten Pati. Intensitas hujan yang begitu deras membuat beberapa wilayah di kabupaten Pati terendam banjir. Banyak kerugian materiil maupun non materiil akibat banjir ini. Akses jalan tertutup dan bahkan ada beberapa rumah […]

  • PC IPNU Sowan ke MWC-NU Gembong

    PC IPNU Sowan ke MWC-NU Gembong

    • calendar_month Sel, 23 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 69
    • 0Komentar

    GEMBONG-Pengurus Cabang IPNU/IPPNU Pati secara masif menggalang keaktifan ditingkat bawah. Program utamanya adalah pembentukan pengurus sampai di tingkat ranting. Dari total 21 PAC di Kabupaten Pati, hanya Kecamatan Gembong yang belum memiliki Pengurus Anak Cabang IPNU/IPPNU. Koordinasi PC IPNU/IPPNU Pati dengan MWC-NU Gembong Oleh sebab itu, Selasa (23/7) sore, Pengurus Cabang IPNU/IPPNU melakukan silaturrohim di […]

  • Ribuan Emak-Emak Serbu Banyutowo

    Ribuan Emak-Emak Serbu Banyutowo

    • calendar_month Ming, 20 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Antusiasme 1500 emak dari Muslimat NU dan  Fatayat NU Dukuhseti dalam mengikuti Istighotsah dan gema sholawat   DUKUHSETI – Ribuan kaum emak memadati Desa Banyutowo. Mereka berbondong-bondong untuk menghadiri acara istighotsah dan sholawat bareng pada Sabtu (19/3) kemarin.  Ibu-ibu tersebut merupakan anggota Fatayat NU dan Muslimat NU se-Kecamatan Dukuhseti. Sedikitnya, 1500 orang yang mengikuti agenda […]

expand_less