Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Takbiran: Suara Tak Bersuara

Takbiran: Suara Tak Bersuara

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
  • visibility 672
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Selama ini, budaya takbiran, takbir keliling di malam hari Lebaran Idulfitri selalu menggema. Namun, teknologi menggesernya. Jika dulu takbirannya adalah suara manusia, anak-anak, ibu dan bapak, kini digantikan dengan suara sound system, bahkan takbiran koplo dengan versi DJ. Ini kan Namanya “suara tak bersuara”. Rodo angel iki.

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam dalam konteks keagamaan dan sosial budaya umat Islam. Unik dan menarik. Sebab, setahu saya Cuma hanya ada di Nusantara. Secara keseluruhan, tradisi takbiran bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang penting bagi umat Islam.

 

Hakikat Takbiran

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya. Takbiran bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan ekspresi kemenangan dan rasa syukur umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Gema takbir yang berkumandang dari masjid-masjid, mushala, dan jalanan menciptakan suasana khusyuk yang mengingatkan setiap Muslim akan kebesaran Allah SWT serta anugerah-Nya.

Secara spiritual, takbiran adalah bentuk pengagungan kepada Allah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Melalui lantunan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa segala pencapaian, termasuk keberhasilan menunaikan ibadah Ramadan, hanyalah karena pertolongan Allah. Ini juga menjadi momen refleksi diri, mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan menuju keabadian di sisi-Nya.

Dari sisi sosial, takbiran menjadi perekat kebersamaan. Tradisi ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu irama yang sama, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau perbedaan lainnya. Suara takbir yang dilantunkan bersama-sama menguatkan rasa persaudaraan, menciptakan atmosfer kehangatan, serta mempererat tali silaturahmi di antara sesama muslim.

Selain itu, takbiran juga memiliki nilai budaya yang khas dalam tradisi Islam di Indonesia. Dari dulu, takbir keliling menjadi simbol perayaan Idulfitri yang sarat dengan nuansa lokal. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur, membawa obor (oncor), bedug, dan lampion, menelusuri jalanan desa atau kota dengan penuh suka cita. Tradisi ini memberikan warna tersendiri dalam perayaan Lebaran yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal.

Namun, dalam perkembangan zaman, makna takbiran menghadapi tantangan. Pengaruh teknologi dan modernisasi menggeser tradisi takbiran yang dahulu dilantunkan langsung oleh suara manusia menjadi sekadar rekaman yang diputar lewat pengeras suara. Hal ini berisiko mengurangi nilai kebersamaan dan kehangatan yang seharusnya hadir dalam perayaan takbiran.

Oleh karena itu, mempertahankan tradisi takbiran yang sarat makna menjadi suatu keharusan. Takbiran bukan sekadar ritual, tetapi warisan yang menghubungkan generasi dengan nilai-nilai Islam yang luhur. Dengan menghayati dan melaksanakan takbiran dengan penuh kesadaran, umat Islam dapat merasakan esensi sejati dari kemenangan di hari yang fitri, yakni kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan dalam memperkuat iman, serta kemenangan dalam menjalin kebersamaan sebagai satu umat yang bertakwa.

Takbiran: Suara Tak Bersuara

Malam takbiran selalu menjadi momen yang dinantikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Dulu, gema takbir menggema dari suara manusia—anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak—yang dengan penuh semangat melantunkan kalimat tahlil dan tahmid. Suara itu bukan sekadar lantunan, tetapi juga cerminan rasa syukur, kebersamaan, dan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, kini semua berubah. Takbir yang dulu begitu khas dengan suara manusia, perlahan tergeser oleh dentuman sound system, irama koplo, dan bahkan versi DJ.

Takbir keliling yang dahulu menghadirkan suasana khusyuk kini berubah menjadi ajang hiburan. Kendaraan dengan pengeras suara besar melintas, memainkan takbiran dalam berbagai versi modern yang lebih mirip dengan konser musik. Anak-anak tidak lagi berbaris rapi sambil membawa obor atau lampu hias, melainkan sibuk merekam dan berswafoto untuk media sosial. Tradisi yang dulunya penuh dengan kekhidmatan kini terasa kehilangan makna spiritualnya.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia berinteraksi dengan tradisi. Di satu sisi, teknologi mempermudah penyebaran gema takbir, tetapi di sisi lain, ia juga menghilangkan esensi kebersamaan yang muncul dari suara-suara asli manusia. Takbiran bukan hanya soal mengumandangkan kalimat Allahu Akbar, tetapi juga tentang merasakan kekhusyukan, kebersamaan, dan kebanggaan atas ibadah yang telah dijalani.

Jika suara manusia tergantikan oleh mesin, maka esensi takbiran pun semakin terkikis. Gema takbir seharusnya lahir dari hati, bukan sekadar dari speaker yang diputar otomatis. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia yang hanya mengutamakan kemeriahan, tetapi melupakan substansi. Sebab, takbir sejatinya adalah suara iman yang menggetarkan jiwa, bukan sekadar suara yang menggema tanpa makna.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Organisasi Siswa MAN 1 Pati adakan Bagi Takjil, Bukber hingga Santunan Anak Yatim di Bulan Ramadhan

    Organisasi Siswa MAN 1 Pati adakan Bagi Takjil, Bukber hingga Santunan Anak Yatim di Bulan Ramadhan

    • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.725
    • 0Komentar

      PATI, pcnupati.or.id – Mengisi kegiatan bulan Suci Ramadhan, MAN 1 Pati mengajak siswa-siswi dalam kegiatan berbagi pada Jumat, (6/3/2026). Sekitar seratusan siswa yang diinisiasi oleh Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) bersama dengan perwakilan organisasi lain hingga Duta Genre dilibatkan dalam kegiatan itu. Berbagai kegiatan digelar mulai Bakti Sosial bersih-bersih masjid dan dilanjut bagi takjil […]

  • PCNU-PATI

    Ma’had Jamiyyah Ipmafa Selenggarakan Workshop Kepenulisan

    • calendar_month Sel, 5 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pati- Divisi jurnalistik pengurus Keluarga KIP-K Institut Pesantren Matholi’ul Falah (IPMAFA) mengadakan Pelatihan Jurnalistik Teknik Dasar (PJTD) yang diperuntukan bagi mahasiswa IPMAFA penerima KIP-K Matholi’ul Falah, Kamis (30/11/23). Bertempat di Aula Ma’had Putra Jami’ah segenap mahasiswa KIP-K mengikuti pelatihan literasi. Dimana tujuan diadakan pelatihan PJTD adalah untuk membekali para mahasiswa melek literasi (baca-tulis) dan […]

  • Naharul Ijtima’ di “Kampung Ace” Cabak Tlogowungu

    Naharul Ijtima’ di “Kampung Ace” Cabak Tlogowungu

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Warta NU; Sehabis sholat Jum’at,6 Maret 2015 Pengurus Harian PCNU Pati bergegas menuju kantor untuk Turba ke ranting dan MWC se-kab. Pati. Kebetulan pada acara Naharul Ijtima’ yang pada jum’at kali ini giliran di MWC Tlogowungu. Masjid yang dipilih sebagai tempat pertemuan adalah Masjid Al Ikhlas Ds. Cabak Kec. Tlogowungu yg merupakan desa penghasil buah […]

  • PCNU - PATI Photo by Brett Jordan

    Me (maaf) kan

    • calendar_month Rab, 3 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Minggu lalu,  saya sempat berbeda pendapat dengan perempuan yang saya sayangi. Sebab ketika saya menemukan sesuatu saya tak langsung bilang. Dengan alasan agar saya sedikit bisa meredam emosi agar supaya tak langsung tersalurkan. Diam sejenak, ambil nafas dalam dalam. Sebuah  metode yang seringkali saya jalani.  Saya dibilang sering mudah marah; […]

  • Pati Targetkan Juara Umum Porseni Jawa Tengah 2025

    Pati Targetkan Juara Umum Porseni Jawa Tengah 2025

    • calendar_month Sen, 28 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Pcnupati.or id – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati, Ahmad Syaiku, menargetkan kontingen dari Bumi Mina Tani menjadi Juara Umum pada ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Tingkat Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di Kabupaten Banyumas pada tanggal 27 hingga 30 Juli 2025. “Para peserta Ahad kemarin kami lepas dari pendopo kabupaten. Harapan kami Pati mendapat […]

  • Bebas Buta Huruf Al Qur’an Diterapkan Mahasiswa KKN IPMAFA di Sentul

    Bebas Buta Huruf Al Qur’an Diterapkan Mahasiswa KKN IPMAFA di Sentul

    • calendar_month Jum, 26 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 452
    • 0Komentar

    CLUWAK-Masih adanya beberapa warga Desa Sentul, Cluwak terutama kalangan lansia membuat mahasiswa KKN IPMAFA tancap gas memberikan wadah pembelajaran al-quran. Hal ini senada dengan tema KKN 2019, ‘Optimalisasi Peran Komunitas Menuju Masyarakat yang Berdaya, Berbudaya dan Religius’. Kegiatan tersebut bernama : #2019 bebas buta huruf al Qur’an. Banyaknya kalangan lansia yang ikut disebabkan mahalnya biaya […]

expand_less