Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan dan Perjumpaan Budaya Lokal

Ramadan dan Perjumpaan Budaya Lokal

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
  • visibility 9.961
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ada banyak perjumpaan budaya lokal sebelum, saat, dan setelah Ramadan alias Lebaran Idulfitri. Saya saja banyak menulis soal nyadran, dugeran, dandangan, seperti Penguatan Tasawuf Sosial Lewat Nyadrani (2018), Nyadran dan Penguatan Nasionalisme (2018), Nyadran Jelang Ramadan, Bukan Kemusyrikan (2018), Penguatan Nilai-Nilai Sufisme dalam Nyadran sebagai Khazanah Islam Nusantara (2018), Dugderan: Ekspresi Warga Semarang Sambut Ramadan (2025), dan Nyadran, Dugeran, Dandangan (2025).

 

Sebenarnya, judul ini dari tindak lanjut saya Ketika diskusi dan buka bersama Prof Syamsul Ma’arif kemarin. Jika ditinjau mendalam, teori perjumpaan budaya itu beragam. Ada dalam landscape teori akulturasi, asimilasi, sinkretisme, difusi kebudayaan, atau great tradition dan little tradition.

 

Kembali ke judul, sebenarnya kondisi kehidupan umat Islam saat Ramadan hampir selalu mengalami transformasi radikal. Apa bentuknya? Ritme aktivitas sosial berubah, ruang-ruang ibadah dipenuhi kemaah, masjid penuh, jalanan bagi-bagi takjil, waktu makan bergeser, dan bentu lain. Dalam konteks Indonesia, Ramadan bukan sekadar tampil sebagai praktik keagamaan universal yang kaku. Ramadan datang dengan wajah dekat dengan denyut nadi budaya lokal.

 

Dinamika tersebut menjadi bukti Islam mempunyai kemampuan luar biasa dalam berkelindan dengan struktur sosial setempat tanpa kehilangan esensi teologisnya. Hal ini sudah dikonsepkan Mark R. Woodward lewat bukunya Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (1991). Perjumpaan ini di Jawa bahkan pra hilal Ramadan tampak dan diperdebatkan yaitu lewat tradisi apitan, tradisi nyadran dan budaya megengan.

 

Apitan melibatkan sedekah, berdoa, dan kirab di tiap desa dan kelurahan, seperti apitan di Kelurahan Sampangan, Kota Semarang. Nyadran melibatkan rentetan kegiatan ziarah kubur dan sedekah makanan khas hasil bumi sampai modern yang menjadi refleksi dari teori Robert Redfield mengenai hubungan antara great tradition (Islam universal) dan little tradition (budaya lokal) dalam buku Peasant Society And Culture; An Anthropological Approach To Civilization (1897). Tradis nyadran menjadi bukti terdapat “titik temu” doa-doa islami dipanjatkan dalam bingkai penghormatan terhadap leluhur yang sangat dekat dengan alam.

 

Megengan dan dugderan di Kota Semarang memiliki fungsi sebagai rites of passage (ritus peralihan). Apa maksude, Bro? Dalam buku The Rites of Passage (1909), Arnold van Gennep mengungkapkan masyarakat membutuhkan fase ambang pintu atau liminalitas sebelum mereka memasuki waktu sakral. Bunyi bedug, mercon, kentongan dalam dugderan tak sebatas sebagai penanda waktu, namun menjadi simbol sosiologis bahwa struktur keseharian di Kota Semarang akan segera berganti menjadi ruang suci Ramadan selama sebulan penuh.

 

Fenomena perjumpaan dalam tulisan ini makin kental pada tradisi dandangan di Kudus (Kota Kretek) yang secara onomatope (serangkaian kata yang menirukan bunyi-bunyi) menirukan bunyi bedug dang-dang-dang. Bukti tradisi tersebut menguatkan pandangan Clifford Geertz lewat karyanya The Interpretation of Cultures (1973) yang mengungkap agama merupakan sistem simbol yang memberikan makna bagi kehidupan.

 

Apa maksud Geertz? Di sini, bedug tak hanya alat musik, namun menjadi simbol otoritas keagamaan yang sekaligus menggerakkan roda ekonomi dan sosial masyarakat Kota Semarang utamanya di dekat Pasar Johar. Tradisi tongklek atau tong-tongklek yang merupakan aktivitas warga membangunkan orang Islam untuk sahur dengan alat musik bambu hanya saat malam Ramadan. Tradisi ini merupakan wujud solidaritas mekanik dalam pandangan sosiologis, seperti yang dipaparkan oleh Emile Durkheim lewat buku The Division of Labour in Society (1997). Dalam konteks ini, Durkheim menganggap bahwa tongklek merupakan mekanisme komunitas untuk menegaskan eksistensi kolektif dan menjaga ritme kehidupan berjemaah dalam kebersamaan yang harmonis selama Ramadan.

 

Apakah hanya tradisi-tradisi di atas? Tidak! Perayaan Nuzulul Quran dan budaya tadarusan berjemaah di masjid/musala dalam dimensi intelektual dan spiritual, menjadi bukti bahwa teks suci menjadi milik publik dan membentuk identitas sosial. Peter L. Berger lewat bukunya The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1990) mengenalkan kepada kita untuk memahami aktivitas tersebut membangun kanopi makna yang melindungi individu di bawah naungan komunitasnya (agama/ormas).

 

Tadarusan tak sekadar kegiatan membaca teks, namun menjadi proses social bonding atau penguatan ikatan sosial yang mengubah masjid/musala menjadi pusat interaksi kultural yang hangat dan harmoni. Edward Burnett Tylor dalam Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Art, and Custom (1871) memiliki pandangan bahwa budaya merupakan keseluruhan kompleksitas yang mencakup pengetahuan (knowledge) dan kebiasaan (habituation) yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

 

Oke kita lanjut. Perjumpaan agama dan budaya akan mencapai puncaknya, yaitu saat perayaan pasca-Ramadan melalui Lebaran Idulfitri, juga ada Lomban Kupatan seperti di Tayu, Pati, Juwana, dan daerah pesisir lain. Tradisi melarung sedekah laut dan makan ketupat bersama di tengah laut merupakan bentuk akulturasi budaya perspektif Melville J. Herskovits dalam Cultural Anthropology (1955). Islam di sini memberikan nilai syukur, budaya pesisir panturanan menyediakan medium ekspresinya.

 

Makna lain, ketupat sendiri dijadikan simbol resolusi konflik sosial melalui filosofi mengakui kesalahan (ngaku lepat). Rentenan proses tersebut membuktikan Islam dan budaya tak berada dalam posisi bertentangan (paradoks), namun justru menjalin relasi dialogis bahkan harmonis yang saling memperkaya, yaitu Islam memberi arah moral, budaya menyediakan bahasa sosial yang membuatnya dapat dipraktikkan.

 

Keharmonisan ini tentu menjadi bukti warisan dari metode dakwah para Walisongo di tanah Jawa yang tidak menolak budaya secara frontal dan radikal. Walisongo justru menerapkan simbol lokal untuk media transmisi nilai-nilai Islam, yaitu pendekatan yang dalam sosiologi agama sering disebut inkulturasi. Model seperti gambaran tersebut menjadikan Islam mudah diterima semua kalangan karena bersifat inklusif.

 

Akhirnya, bisa kita maknai bahwa Ramadan tak sekadar milik ruang ibadah saja, namun menjadi milik kampung, memori kolektif masyarakat, tradisi keluarga, dan lainnya. Di situ bisa kita membaca kekayaan Islam menjadi agama yang hidup. Apa bentuknya? Pesan wahyu yang universal, umum, dan luas dapat bernapas secara organik dan otentik pada ragam budaya lokal yang unik dan beradab di Nusantara.

 

Ada perjumpaan budaya lokal apa saja di tempatmu?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selapanan dan Syukuran Garasi Om Second Semarang Digelar Bersama Jamaah Rabu Legi

    Selapanan dan Syukuran Garasi Om Second Semarang Digelar Bersama Jamaah Rabu Legi

    • calendar_month Rab, 14 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.122
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Tradisi keagamaan yang sarat nilai spiritual kembali dihidupkan melalui kegiatan Selapanan sekaligus Syukuran Garasi Om Second yang digelar pada Selasa malam Rabu Legi, 13 Januari 2026, bertempat di Garasi Om Second, Blok A.5 Perum Graha Mandiri Residence Patemon, Kecamatan Gunungpati, Semarang. ‎ ‎Kegiatan ini menjadi momentum rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus […]

  • PCNU-PATI

    PBNU berikan Penghargaan kepada 56 Ponpes, Satu di Antaranya Pesantren Maslakul Huda Kajen

    • calendar_month Sel, 31 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 583
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berikan penghargaan kepada 56 pondok pesantren (Ponpes) di Indonesia, selasa (31/1/2023). Kegiatan yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta ini merupakan acara Anugerah Satu Abad NU.  Adapun puluhan ponpes yang mendapatkan penghargaan tersebut merupakan yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Dari daftar penerima penghargaan tersebut, terdapat […]

  • ‎INISNU Temanggung Teken MoU dengan Pemprov Jateng

    ‎INISNU Temanggung Teken MoU dengan Pemprov Jateng

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.471
    • 0Komentar

    ‎ ‎SEMARANG – Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) Temanggung resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangkaian kegiatan Collaborative Awards Jawa Tengah Tahun 2026. ‎ ‎Penandatanganan dilaksanakan pada Jumat, 20 Februari 2026, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang lalu yang merupakan kerjasama 73 perguruan tinggi swasta […]

  • PCNU - PATI

    Dari Rumah Ke Rumah

    • calendar_month Rab, 24 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Tiga Minggu telah berlalu. Kegiatan pengajian akbar dengan tema santunan dengan para Yatama telah berlalu. Dan setiap bulan Muharram kegiatan tersebut telah menjadi sebuah rutinitas lazim dan lumrah. Agenda pengajian santunan yang abadi. Rutinan tahunan dengan berburu pahala dengan janji surga. Melalui iming iming surga dan berlimpah pahala. Memburu baik […]

  • INISNU Resmi Teken MoU dengan Kanwil DJP Jawa Tengah II

    INISNU Resmi Teken MoU dengan Kanwil DJP Jawa Tengah II

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.329
    • 0Komentar

      Temanggung – Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II pada Jumat (27/2/2026). Penandatanganan dilaksanakan di Aula Lantai II INISNU Temanggung sebagai langkah strategis memperkuat sinergi pendidikan tinggi dan otoritas perpajakan. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat […]

  • PCNU-PATI Photo by Visual Karsa

    Perpustakaan

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Perpustakaan merupakan tempat disimpannya berbagai macam jenis buku. Menurut UU perpustakaan pada bab I pasal 1 menyatakan perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan. Namun siapa sangka sih ternyata masih ada anak-anak yang tak […]

expand_less