Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan dan Perjumpaan Budaya Lokal

Ramadan dan Perjumpaan Budaya Lokal

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
  • visibility 9.920
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ada banyak perjumpaan budaya lokal sebelum, saat, dan setelah Ramadan alias Lebaran Idulfitri. Saya saja banyak menulis soal nyadran, dugeran, dandangan, seperti Penguatan Tasawuf Sosial Lewat Nyadrani (2018), Nyadran dan Penguatan Nasionalisme (2018), Nyadran Jelang Ramadan, Bukan Kemusyrikan (2018), Penguatan Nilai-Nilai Sufisme dalam Nyadran sebagai Khazanah Islam Nusantara (2018), Dugderan: Ekspresi Warga Semarang Sambut Ramadan (2025), dan Nyadran, Dugeran, Dandangan (2025).

 

Sebenarnya, judul ini dari tindak lanjut saya Ketika diskusi dan buka bersama Prof Syamsul Ma’arif kemarin. Jika ditinjau mendalam, teori perjumpaan budaya itu beragam. Ada dalam landscape teori akulturasi, asimilasi, sinkretisme, difusi kebudayaan, atau great tradition dan little tradition.

 

Kembali ke judul, sebenarnya kondisi kehidupan umat Islam saat Ramadan hampir selalu mengalami transformasi radikal. Apa bentuknya? Ritme aktivitas sosial berubah, ruang-ruang ibadah dipenuhi kemaah, masjid penuh, jalanan bagi-bagi takjil, waktu makan bergeser, dan bentu lain. Dalam konteks Indonesia, Ramadan bukan sekadar tampil sebagai praktik keagamaan universal yang kaku. Ramadan datang dengan wajah dekat dengan denyut nadi budaya lokal.

 

Dinamika tersebut menjadi bukti Islam mempunyai kemampuan luar biasa dalam berkelindan dengan struktur sosial setempat tanpa kehilangan esensi teologisnya. Hal ini sudah dikonsepkan Mark R. Woodward lewat bukunya Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (1991). Perjumpaan ini di Jawa bahkan pra hilal Ramadan tampak dan diperdebatkan yaitu lewat tradisi apitan, tradisi nyadran dan budaya megengan.

 

Apitan melibatkan sedekah, berdoa, dan kirab di tiap desa dan kelurahan, seperti apitan di Kelurahan Sampangan, Kota Semarang. Nyadran melibatkan rentetan kegiatan ziarah kubur dan sedekah makanan khas hasil bumi sampai modern yang menjadi refleksi dari teori Robert Redfield mengenai hubungan antara great tradition (Islam universal) dan little tradition (budaya lokal) dalam buku Peasant Society And Culture; An Anthropological Approach To Civilization (1897). Tradis nyadran menjadi bukti terdapat “titik temu” doa-doa islami dipanjatkan dalam bingkai penghormatan terhadap leluhur yang sangat dekat dengan alam.

 

Megengan dan dugderan di Kota Semarang memiliki fungsi sebagai rites of passage (ritus peralihan). Apa maksude, Bro? Dalam buku The Rites of Passage (1909), Arnold van Gennep mengungkapkan masyarakat membutuhkan fase ambang pintu atau liminalitas sebelum mereka memasuki waktu sakral. Bunyi bedug, mercon, kentongan dalam dugderan tak sebatas sebagai penanda waktu, namun menjadi simbol sosiologis bahwa struktur keseharian di Kota Semarang akan segera berganti menjadi ruang suci Ramadan selama sebulan penuh.

 

Fenomena perjumpaan dalam tulisan ini makin kental pada tradisi dandangan di Kudus (Kota Kretek) yang secara onomatope (serangkaian kata yang menirukan bunyi-bunyi) menirukan bunyi bedug dang-dang-dang. Bukti tradisi tersebut menguatkan pandangan Clifford Geertz lewat karyanya The Interpretation of Cultures (1973) yang mengungkap agama merupakan sistem simbol yang memberikan makna bagi kehidupan.

 

Apa maksud Geertz? Di sini, bedug tak hanya alat musik, namun menjadi simbol otoritas keagamaan yang sekaligus menggerakkan roda ekonomi dan sosial masyarakat Kota Semarang utamanya di dekat Pasar Johar. Tradisi tongklek atau tong-tongklek yang merupakan aktivitas warga membangunkan orang Islam untuk sahur dengan alat musik bambu hanya saat malam Ramadan. Tradisi ini merupakan wujud solidaritas mekanik dalam pandangan sosiologis, seperti yang dipaparkan oleh Emile Durkheim lewat buku The Division of Labour in Society (1997). Dalam konteks ini, Durkheim menganggap bahwa tongklek merupakan mekanisme komunitas untuk menegaskan eksistensi kolektif dan menjaga ritme kehidupan berjemaah dalam kebersamaan yang harmonis selama Ramadan.

 

Apakah hanya tradisi-tradisi di atas? Tidak! Perayaan Nuzulul Quran dan budaya tadarusan berjemaah di masjid/musala dalam dimensi intelektual dan spiritual, menjadi bukti bahwa teks suci menjadi milik publik dan membentuk identitas sosial. Peter L. Berger lewat bukunya The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1990) mengenalkan kepada kita untuk memahami aktivitas tersebut membangun kanopi makna yang melindungi individu di bawah naungan komunitasnya (agama/ormas).

 

Tadarusan tak sekadar kegiatan membaca teks, namun menjadi proses social bonding atau penguatan ikatan sosial yang mengubah masjid/musala menjadi pusat interaksi kultural yang hangat dan harmoni. Edward Burnett Tylor dalam Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Art, and Custom (1871) memiliki pandangan bahwa budaya merupakan keseluruhan kompleksitas yang mencakup pengetahuan (knowledge) dan kebiasaan (habituation) yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

 

Oke kita lanjut. Perjumpaan agama dan budaya akan mencapai puncaknya, yaitu saat perayaan pasca-Ramadan melalui Lebaran Idulfitri, juga ada Lomban Kupatan seperti di Tayu, Pati, Juwana, dan daerah pesisir lain. Tradisi melarung sedekah laut dan makan ketupat bersama di tengah laut merupakan bentuk akulturasi budaya perspektif Melville J. Herskovits dalam Cultural Anthropology (1955). Islam di sini memberikan nilai syukur, budaya pesisir panturanan menyediakan medium ekspresinya.

 

Makna lain, ketupat sendiri dijadikan simbol resolusi konflik sosial melalui filosofi mengakui kesalahan (ngaku lepat). Rentenan proses tersebut membuktikan Islam dan budaya tak berada dalam posisi bertentangan (paradoks), namun justru menjalin relasi dialogis bahkan harmonis yang saling memperkaya, yaitu Islam memberi arah moral, budaya menyediakan bahasa sosial yang membuatnya dapat dipraktikkan.

 

Keharmonisan ini tentu menjadi bukti warisan dari metode dakwah para Walisongo di tanah Jawa yang tidak menolak budaya secara frontal dan radikal. Walisongo justru menerapkan simbol lokal untuk media transmisi nilai-nilai Islam, yaitu pendekatan yang dalam sosiologi agama sering disebut inkulturasi. Model seperti gambaran tersebut menjadikan Islam mudah diterima semua kalangan karena bersifat inklusif.

 

Akhirnya, bisa kita maknai bahwa Ramadan tak sekadar milik ruang ibadah saja, namun menjadi milik kampung, memori kolektif masyarakat, tradisi keluarga, dan lainnya. Di situ bisa kita membaca kekayaan Islam menjadi agama yang hidup. Apa bentuknya? Pesan wahyu yang universal, umum, dan luas dapat bernapas secara organik dan otentik pada ragam budaya lokal yang unik dan beradab di Nusantara.

 

Ada perjumpaan budaya lokal apa saja di tempatmu?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    PAC IPNU IPPNU se-Kawedanan Juwana Kompak Rayakan Harlah Bersama

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- TRANGKIL – PAC IPNU IPPNU se-Kawedanan Juwana, meliputi Trangkil, Wedarijaksa, Juwana, dan Batangan kompak mengadakan peringatan Harlah IPNU ke-69 dan Harlah IPPNU ke-68 bersama. Kegiatan dipusatkan di Pondok Tahfidz Darul Hikmah Usmaniyyah Kertomulyo, Trangkil, Pati, pada Minggu (5/3/2023). Acara dimulai dengan pemotongan tumpeng dan sarasehan bersama alumni pada siang hingga sore hari. Kemudian dilanjut […]

  • PCNU-PATI

    Dari Keyakinan Menjadi Pembelaan

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Oleh :  Niam At Majha Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai peran penting dalam pembentukan sejarah Indonesia. Termasuk pilar utama tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai saat ini. Sejarah NU adalah sejarah umat, sejak terbentuknya tahun 1926 NU telah menunjukkan kekuatan-kekuatannya dalam memadukan tradisi masyarakat dengan tradisi keagamaan. Karena tradisi Islam Indonesia adalah tradisi terhadap ulama, […]

  • PCNU-PATI

    Sekretaris PC GP Ansor Singgung Prinsip Menolong Kaum Anshor Yatsrib

    • calendar_month Jum, 30 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 297
    • 0Komentar

    GEMBONG – Konferensi Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Gembong dilaksanakan pada Jumat (30/9) siang. Pelaksanaannya dilakukan di Gedung MWC NU Kecamatan Gembong.  Dalam proses sakral tersebut, Sekretaris PC GP Ansor  Kabupaten Pati, Gus Muammar, memberikan sambutan singkat dan mendalam. Ia menyamakan GP Ansor dengan Kaum Anshor Yatsrib (Madinah).  “Prinsip utamanya adalah menolong,” tegas dia.  […]

  • PCNU-PATI

    Rangkul Komunitas Produsen Kopi, KKN Tempura IPMAFA Lakukan Pendampingan Marketing UMKM Kopi Desa Tempur

    • calendar_month Sel, 5 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 518
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Tempur, 01/09/2023. KKN Tempura melaksanakan program di bidang ekonomi yang berkaitan dengan pendampingan marketing kepada para pelaku usaha kopi. Kegiatan dikemas secara santai berupa kopdar, bersama dengan komunitas UMKM kopi desa Tempur bernama Klaster Kopi Tempur yang diketuai oleh Khusnul Ulum yang sekaligus pemilik The Real Kopi Tempur serta tim KKN Tempura IPMAFA. Klaster Kopi […]

  • MENGHIDUPKAN KEMBALI SPIRIT TRILOGI GERAKAN EMBRIO NU

    MENGHIDUPKAN KEMBALI SPIRIT TRILOGI GERAKAN EMBRIO NU

    • calendar_month Sen, 12 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

                         Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Dalam kaitan ini, NU memiliki dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab keagamaan, untuk melestarikan dan membumisasikan Islam paham Aswaja, dan tanggung jawab sosial, untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. Dua tanggung jawab tersebut terejawantahkan dalam ranah pendidikan, ekonomi, kesehatan dan budaya, yang menjadi fokus gerakan dan […]

  • PCNU-PATI Photo by Surface

    Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

    • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Oleh : M Iqbal Dawami Minggu, 6 oktober 2013, pukul 21.18 WIB. Sore itu saya janjian ketemuan dengan Pak Hendrik Lim, seorang penulis dan trainer, di Hotel Grand Zuri, Jl. Mangkubumi. Di sana saya dikenalkan dengan Pak Lintang, seorang pebisnis online. “Cerita perjalanan hidupnya sungguh menarik,” ujar Pak Lim. Dan saya sepakat. Ya, pengalaman hidupnya […]

expand_less