Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
  • visibility 9.314
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Tema tulisan seperti ini sudah banyak diketik banyak penulis. Diunggah banyak website. Dijelaskan pada Influecer dan Youtuber. Didakwahkan para pendakwah. Saya beberapa kali juga menulisnya di website resmi PCNU Pati. Namun, perlu ditegaskan lagi, mengapa etika bermedia sosial di bulan Ramadan menjadi penting untuk ditulis ulang di Pcnupati.or.id ini? Ya, jawab sak karep-karepem wes! Hehe

Perlu ditegaskan, Ramadan bagi saya adalah “bulan pendidikan etika”. Mengapa? Ya, karena Ramadan bukan sekadar mengatur hubungan manusia dengan badokan saja, namun juga membentuk sikap batin, lisan, dan perilaku sosial. Realitasnya, di era digital saat ini, ruang sosial manusia tak sekadar terbatas pada dunia fisik semata. Media sosial alias medsos sudah menjadi medan baru interaksi, ekspresi, bahkan konflik berkepanjangan. Maka dari itu, berbicara tentang Ramadan hari ini tidak bisa dilepaskan dari pembahasan etika bermedia sosial.

Parahnya lagi, ketika bulan yang seyogyanya dipenuhi usaha pengendalian diri, medsos justru sering menjadi ruang pelampiasan emosi. Ada perdebatan agama, ada “cebong”, ada “kampret”, ada “fufufafa”, ada ujaran kebencian, hoaks keagamaan, hingga pamer kesalehan dengan menujukkan bahwa gawainya adalah iPhone 17 dari Apple yang Cosmic Orange. Hahaha

Kondisi ini menunjukkan realitas, bahwa puasa sering berhenti pada dimensi ritual, sekadar bungkus dan ritus, belum sepenuhnya menjelma menjadi etika digital. Kok bisa ya?

Krisis Etika Kontemporer

Setahu saya, kerja medsos menggunakan logika kecepatan dan atensi. Edan tenan pancen. Unggahan konten yang memancing emosi berupa marah, takut, kontroversi, bahkan porno lebih cepat menyebar dibandingkan konten yang mendidik. Uangel pancen.

Tak heran, jika Sherry Turkle (2011) dalam buku Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less menegaskan bahwa teknologi digital menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering mengikis empati. Turkle berpendapat tegas demikian. Maka dalam konteks Ramadan 1447 H ini, kondisi seperti ungkapan Turkle tersebut sangat berbahaya karena ibadah yang seharusnya melatih kesabaran justru diiringi dengan perilaku reaktif di ruang digital lewat medsos waala alihi wasohbihi ajmain.

Dalam buku Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, Henry Jenkins (2006) berpendapat medsos bersifat partisipatoris. Apa maksudnya? Tiap pengguna tidak sekadar konsumen (konsumtif) belaka, namun juga produsen pesan bahkan produsen makna dan pengetahuan. Artinya, dosa dan pahala tak sekadar lahir dari apa yang kita lakukan secara fisik, tetapi juga dari apa yang kita unggah, komentari, dan sebarkan. Bahaya kan?

Maka saya menyebut, di sinilah bulan Ramadan hadir sebagai koreksi moral, introspkeis diri, sebab tidak semua yang bisa diunggah harus diunggah, dan tidak semua yang viral layak disebarkan. Semua yang sedang “memanas” kita bagikan. Lebih baik dihentikan deh!

Puasa: Fondasi Etika Digital

Dalam Islam, anak kecil pun tahu bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, menaham diri dari makan, minum, dan seks. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan puasa memiliki banyak kaliber, makam, kelas, derajat, atau tingkatan. Puasanya orang awam adalah sekadar menahan makan dan minum. Puasanya orang khusus adalah menjaga anggota tubuh dari maksiat. Sementara puasa orang yang sangat khusus adalah menjaga hati dari selain Allah. Jelas ya!

Jika konsep ini dibawa ke medsos, maka etika digital menuntut lebih dari sekadar tidak berkata kasar, saru, dan wagu. Lebih dari itu, puasa sangat menuntut kesadaran niat, dampak, dan tanggung jawab moral atas setiap aktivitas digital.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari No. 1903).

Dari Sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw di atas, intinya Beliau menegaskan bahwa puasa kehilangan makna ketika lisan dan perilaku termasuk di ruang digital tetap liar.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayah al-Hidayah, beliau menyampaikan pesan agar seorang umat Islam menjaga lisannya dari debat sia-sia, ghibah, dan menyakiti hati orang lain. Jika lisan di dunia nyata saja harus dijaga. Maka dari itu, “lisan digital” berupa status, caption, komentar, dan uploadan tentu lebih layak untuk dikendalikan, karena dampaknya bisa jauh lebih luas dan limitless alias tak terbatas.

Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, menegaskan adab berbicara dan menyampaikan ilmu haruslah dilandasi niat benar, kehati-hatian, dan kemaslahatan. Mbah Hasyim dalam kitab ini, menegaskan bahwa prinsip-prinsip tersebut relevan dalam konteks medsos, utamanya ketika menyebarkan konten keagamaan lewat beragam platform lah. Dakwah digital tanpa adab hanya akan melahirkan kegaduhan, bukan pencerahan.

Dalam kaidah Usul Fikih juga dikenal sebuah kaidah popular yaitu “Dar ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih” (درء المفاسد مقدم على جلب المصالح). Kaidah Ushul Fikih ini bermakna “Menghindar dari kerusakan/keburukan harus didahulukan daripada meraih kemaslahatan/ kebaikan.”

Dalam konteks Ramadan, mencegah kerusakan harus diprioritaskan daripada sekadar menarik kemaslahatan. Prinsip ini menjadi dasar etika bermedsos. Artinya. ketika suatu unggahan berpotensi menimbulkan konflik, bengkerengan, kisruh, perpecahan, atau kesalahpahaman, maka meninggalkannya lebih utama.

Tantangan dan Solusinya

Setidaknya, terdapat tiga tantangan utama etika bermedia sosial selama Ramadan era digital. Pertama, banjir konten keagamaan instan. Kedua, polarisasi dan debat keagamaan. Ketiga, riya dan eksibisionisme digital.

Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan? Pertama, menguatkan niat digital dalam menjalankan aktivitas digital selama bulan Ramadan. Tiap aktivitas bermedsos harus diawali dengan pertanyaan etis: untuk apa ini diunggah? Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menyerukan bahwa amal tanpa niat yang lurus tidak bernilai di sisi Allah Swt.

Kedua, menerapkan tabayun digital. Prinsip tabayun (QS. Al-Hujurat: 6) haruslah dijadikan dasar atau fondasi literasi digital. Jangan menyebarkan informasi sebelum jelas sumber dan dampaknya. Buku Media Ethics: Cases and Moral Reasoning tulisannya Clifford Christians, dkk., (2020) menekankan bahwa “kebenaran adalah pilar utama etika komunikasi”. Prinsip Islam juga menyerukan untuk menyampaikan yang benar meskipun itu pahit. Artinya, kaidah ini harusnya menjadikan dasar ketika bermedsos.

Ketiga, mengalihkan medsos menjadi ruang maslahat. Medsos bisa menjadi ladang pahala, bahkan ladang cuan, jika digunakan untuk edukasi, dakwah yang ramah, dan penguatan ukhuwah. Hal ini yang disebut para ulama sebagai amal jariyah dalam bentuk baru.

Keempat, membatasi konsumsi dan produksi konten. Puasa mengajarkan moderasi. Apapun itu bentuknya. Membatasi waktu scroll, memilih konten edukatif, dan menghindari debat sia-sia adalah bentuk “mujahadah digital” dan “riyadah digital”.

Ramadan dan etika bermedsos tidaklah dua hal yang terpisah. Ia jadi satu. Satu kesatuan. Justru, kualitas puasa Ramadan seorang muslim hari ini sangat tercermin dari perilakunya di ruang digital. Ruang maya atau ruang virtual. Menahan lapar tanpa menahan ujaran digital hanya akan melahirkan “kesalehan semu”.

Bulan Ramadan mengajarkan meneng (diam) sering lebih bernilai daripada “kokean cangkem”, dan tidak bereaksi menjadi wujud kedewasaan spiritual. Di tengah riuh medsos yang tak terbatas alias limitless, etika merupakan bentuk ibadah paling nyata dan paling mudah sebenarnya.

Dari situlah puasa Ramadan akan menemukan makna utuh, yaitu untuk membentuk manusia yang bertakwa, beradab, dan bertanggung jawab, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Apakah kita bisa mewujudkan hal itu? Mari kita mulai sekarang juga!

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Momen HSN, Santri RF Tuntaskan 100 Khataman al Qur’an

    Momen HSN, Santri RF Tuntaskan 100 Khataman al Qur’an

    • calendar_month Rab, 23 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 485
    • 0Komentar

    GEMBONG-Yayasan Pendidikan Islam Raudlatul Falah (RF) Desa Bermi Kecamatan Gembong menggelar khataman al qur’an untuk merayakan Hari Santri Nasional (HSN) 2019. bukan khataman biasa, namun sebanya seratus kali khataman al qur’an bin nadlor digelar oleh yayasan asuhan KH. Ahmad Djaelani Al Hafidz ini. Pidato Dewan Pengurus Yayasan Raudlatul Falah Bermi oleh Astadi Aslam dalam rangka […]

  • PMII Syekh Mutamakkin Warnai WCD di Tunggulsari

    PMII Syekh Mutamakkin Warnai WCD di Tunggulsari

    • calendar_month Sen, 23 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 649
    • 0Komentar

    TAYU-World Cleanup Day (WCD) merupakan agenda bersih-bersih yang dilakukan di setiap tanggal 21 September di seluruh dunia. Dalam meramaikan agenda ini, Pemprov Jawa Tengah membentuk even Jateng Kudu Resik yang tersebar hampir di seluruh wilayah Jateng. Para Kader PMII Syekh Mutamakkin berpose bersama para relawan WCD Jateng Kudu Resik usai melaksanakan bersih-bersih masal di Jalan […]

  • PCNU-PATI

    Sekolah sebagai Parenting Pembinaan Akhlak

    • calendar_month Sab, 2 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 499
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Sekolah pada dasaranya merupakan tempat untuk belajar-mngajar antara guru dan murid. Sehingga sekolah identik dengan tempat untuk menimba ilmu. Oleh karena itu, sudah semestinya sekolah menjadi tempat untuk mencari ilmu dan mengekspresikan segala sesuatu yang ada dalam benak pikiran peserta didik. Sedangkan proses pendidikan baik formal maupun non-formal pada dasarnya memiliki […]

  • 50 Paket Sembako untuk Peringati HUT Fatayat

    50 Paket Sembako untuk Peringati HUT Fatayat

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 383
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO – Dalam rangka memperingati 72 tahun lahirnya organisasi sayap pemudi NU, Fatayat NU, Pimpinan Fatayat NU Pati menggelar acara bhakti sosial. Kali ini PAC Fatayat NU Tambakromo menjadi tuan rumah peringatan HUT Fatayat NU. Berlangsung Minggu (24/4) pagi tadi, acara dilaksanakan di Gedung MWC NU Tambakromo, PC Fatayat NU Pati menyerahkan 50 paket sembako […]

  • Kuatkan Mutu, INISNU Siap Laksanakan Pancadharma Internasional di Tiga Negara

    Kuatkan Mutu, INISNU Siap Laksanakan Pancadharma Internasional di Tiga Negara

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 378
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Temanggung – Dalam rangka memperkuat mutu dan internasionalisasi, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung terus berupaya melaksanakan berbagai program. Salah satunya di tahun ini adalah kegiatan Pancadharma Internasional pada tiga negara yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand. Hal itu terungkap dalam sosialisasi oleh Panitia Pancadharma Internasional bersama travel pada Senin (28/4/2025) di aula lt.3 kampus […]

  • Retreat & Ma`arif Staff Meeting; Ketua Ma`arif NU Jateng “Aku, Kamu, Kita Setara”

    Retreat & Ma`arif Staff Meeting; Ketua Ma`arif NU Jateng “Aku, Kamu, Kita Setara”

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 594
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Membangun organisasi itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh seorang ketua, bahkan pengurus yang dianggap paling inti, pasti banyak keterbatasan dan juga banyak tantangan. Oleh karena itu siapapun yang ada di dalam organisasi harus dijadikan unsur penting jika sebuah organisasi ingin maju, berkembang dan tumbuh kuat. Seperti halnya posisi staff yang duduk di meja […]

expand_less