Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU Memang Asyik

NU Memang Asyik

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Jul 2019
  • visibility 316
  • comment 0 komentar
Aku, sama sekali tidak pernah mengetahui kapan aku secara resmi menjadi warga NU. Yang jelas konon aku dilahirkan di satu kampung yang masyarakatnya kuat memegang tradisi ke-Nu-anya, walaupun mereka sendiri tidak tahu tentang apa itu NU secara pasti. NU diterima karena warisan leluhur mereka.
Ayah, ibu, kakek, buyut dan semua keluargaku juga tidak begitu paham kalau ternyata mereka termasuk bagian dari orang NU. Mereka belum pernah melafadzkan syahadatnya NU, atau menerima Kartu Tanda Anggota NU, atau dibaiat, minimal sebagai Pengurus NU tingkat RT  (itu kalau itu ada).
Hanya yang aku ketahui, mereka rutin ziarah kubur  setiap malam jum’at atau kamis sore hanya  untuk sekedar membacakan Yasin, kalimat thoyyibah, atau tahlil yang dilanjutkan dengan mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal dengan harapan diberikan maghfirah oleh Allah SWT.
Sungguh asyik, menjadi orang yang mengikuti tradisinya NU,……..
NU Asyik
Kuburpun jadi punya kesan tersendiri, orang kebanyakan menyebutnya sebagai wisata relegi orang-orang khusyu’ berdoa kepada Allah, kuburpun jadi ramai dengan curahan kalimat thoyyibah, rumput-rumput kuburpun pertumbuhannya menjadi terkendali, orang-orang akan selalu mengingat dan mengenang jasa para leluhur mereka, para leluhur telah berjasa menjadi wasilah ( lantaran ) kemunculan mereka di alam dunia, atau mereka mungkin bisa bertafakkur bahwa mereka kelak akan berpulang kealam baqa’, sama seperti leluhur mereka, minimal mereka berusaha berperilaku menjahui hal-hal berbau maksiyat.
Tidak dapat kubayangkan bila penduduk kampungku sudah meninggalkan tradisi ziarah qubur, mungkin mereka akan lebih memilih ‘nonton bal’, sinetron-sinetron di stasiun televisi favourit atau sekedar ‘youtuban’ tiap-tiap kamis sore atau malam jum’at, maka tidak aneh bila kemudian perikehidupan mereka mirip Tom dan Jery yang suka tidak akur sesamanya, atau hidupnya yang penuh skandal, baik skandal asmara maupun jabatan, maka kemudian kebanyakan mereka lebih bangga dengan selusin selingkuhan atau meniru skandal-skandal yang menimpa orang-orang kota yang kebetulan sedang diberi amanat sebagai pejabat.
Orang tuaku mengkhabarkan, bahwa ketika aku di dalam kandungan ibuku, waktu umur kandungan antara empat sampai lima bulan kakekku menyelenggarakan acara tingkeban, yang di dalam acara tersebut ada acara membaca surat Yusuf atau surat Maryam, dengan niat bertabarrukan dengan washilah bacaan surat Yusuf atau Maryam dengan tetap berdoa kepada Allah semoga aku terlahir minimal ada hal-hal yang dipunyai Nabi Yusuf AS dan Maryam Ibunda Nabi Isa AS yang menurun kepada diriku. Walaupun sedikit. Al Hamdullillah ketika aku lahir dan beranjak dewasa aku tumbuh menjadi pemuda ganteng (minimal buat istri dan anak-anakku) layaknya Nabi Yusuf AS.
Aku tidak bisa membayangkan seandainya waktu aku di dalam kandungan, orang tuaku lebih memilih meyelenggarakan acara di café bersama teman-temannya dalam rangka menunjukkan keperkasaan ayahku yang telah berhasil menghamili ibuku, maka jadi apa aku. Mungkin saat ini aku akan lebih memilih mabuk bersama, sambil berkaraoke ria bersama perempuan-perempuan berpakaian ngirit. Terima kasih, buat Bapak dan Ibuku dan tak lupa kakekku yang masih sempat nyekoki aku dengan tradisi yang konon termasuk tradisinya NU ketika aku masih di dalam kandungan.
Ketika aku terlahir sebagai jabang bayi yang lucu, entah dengan dalil apa, ketika usiaku menginjak tujuh hari, mau-maunya ayahku dan ibuku atas saran kakekku, untuk mengundang para tetangga untuk membacakan dziba’ atau barjanji yang di dalamnya terdapat kisah-kisah keteladanan dan kemulyaan dari Junjungan Nabi Agung Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentunya tak terlupakan melaksanakan potong dua ekor kambing untuk aqiqah dan memilihkan nama yang teramat bagus untukku.
Prosesi ini jelas tidak ada dasar hukumnya baik dari Qur’an dan Hadits. Tapi dengan berani orang tuaku melaksanakannya tanpa takut dituduh sebagi ahl al bid’ah. Mereka paling tidak telah berwasilah kepada kemuliaan akhlaq Rasul, dengan harapan kelak bila aku dewasa menjadi pribadi yang berpegang teguh pada sunnah-sunnah Rasul. Aku benar-benar tersanjung, di saat aku pertama kali hadir di dunia yang kurasakan curahan alunan sholawat Nabi yang disertai dengan pembacaan kisah manusia panutan Rasulullah SAW. Setelah aku beranjak pada kedewasaan adalah keherananku yang sangat, ketika tradisi ini dibid’ahkan bahkan dianggap sesuatu yang syrik, lalu adakah alternatif lain yang pantas untuk menggantikannya?
Tradisi lain yang sangat aku rasakan keasyikannya adalah tradisi masyarakat kampungku yang suka mengadakan acara manaqiban setiap ada event-event yang dianggap penting, misalnya ketika akan mendirikan rumah, akan punya hajat menikahkan atau menghitankan anak mereka atau ketika ada kebutuhan-kebutuhan yang mereka anggap sangat penting. Atau minimal satu bulan sekali acara manaqiban ini digelar secara rutin, yaitu tiap-tiap tanggal sebelas tiap-tiap bulan qomariyyah. Mereka menyebutnya sebagai sewelasan. Oh asyiknya,…. Terlalu sering aku makan opor ayam secara gratis. Sebab di acara tersebut disertai dengan sedekah berupa berkat lengkap dengan lauk pauknya dan opor ayam serta buah berupa pisang raja. Dan ini sama sekali tidak ada dasar hukum serta dalilnya. Tapi terlalu sayang tradisi turun- temurun ini bila harus dihilangkan. Apa yang salah dengan pembacaan biografi seorang kekasih Allah, Syeh Abdul Qadir al Jailany, yang diakui keshalihannya.
Hal yang terlalu sayang untuk ditinggalkan adalah sebuah tradisi yang mempunyai nilai kemanusiaan yang tinggi, yaitu tradisi melaksanakan doa dan tahlil bersama untuk mendoakan ruh tetangga atau kerabat mereka yang kebetulan mendahului dipanggil oleh Allah SWT.
Tidak dapat aku bayangkan seandainya mereka penduduk kampungku sudah melupakannya, akan berat nilai musibah yang diterima keluarga mayyit apabila begitu kami selesai menguburkan si mayyit kemudian kita membiarkan mereka meratapi kepergian orang yang mereka cintai secara sendirian, minimal dengan tradisi tersebut, beban kesusahan keluarga mayyit akan terminimalisasi dengan kehadiran kami untuk kumpul bersama mendoakan si mayyit. Keluarga si mayyit akan merasa tidak sendirian menerima musibah. Akan sangat terasa kehadiran kami bagi mereka. Belum lagi manfaatnya bagi si mayyit, walaupun banyak orang lain yang mengingkari kemanfaatan doa dan bacaan kalimah thoyyibah tahlil yang kami panjatkan bagi si mayyit.
Suasana yang sangat mengasyikkan juga dapat kami rasakan ketika bulan rabi’ul awwal tiba, sebulan penuh tiap-tiap masjid atau musholla atau bahkan dari rumah ke rumah menyelenggarakan peringatan maulid dengan berbagai bentuk dan ragamnya, anak-anak jadi riang gembira, mereka minimal mendapat jajanan dengan gratis, ibu-ibu bahkan membawa semua anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan ini, seorang nenek yang mempunyai sepuluh cucupun harus bedol rumah untuk mengikuti perayaan maulid. Oh alangkah asyiknya,…begitulah mereka mencintai junjungannya. Suatu hal yang naif bila hal ini dilupakan. Mungkin nanti kami akan semakin melupakan Rasulullah, disaat tekanan tuntutan hidup semakin menghimpit. Aneh memang bila kita tiap-tiap tanggal 21 April memperingati Hari Kartini, untuk mengenang jasa RA Kartini sebagai seorang wanita yang telah mempu memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan kaum wanita di lain fihak dengan sengaja kita melupakan panutan yang banyak berjasa menyelamatkan kita dari jurang kesengsaraan.
Dalam kesempatan yang lain, sungguh unik dan asyik, ketika ribuan masyarakat berbondong-bondong untuk berziarah dalam tradisi haul salah satu wali Allah pada bulan Muharram, oh,… alangkah asyiknya ketika ratusan orang-orang yang kurang mampu, mereka berdagang seadanya, dengan tempat dan dagangan seadanya, di saat mereka tidak mampu mendirikan supermarket atau toko serba ada atau mengontrak toko-toko yang refresentatif. Dengan mereka berdagang seadanya dan serba dadakan ini mereka cukup tertolong kebutuhan ekonomi mereka setidaknya untuk sementara, mereka benar-benar tertolong dengan keasyikan ini. Banyak lagi hal-hal yang positif dari tradisi suronan ini. Yang sangat tidak memungkinkan untuk aku uraikan dalam uraian ini.
Banyak memang keasyikan-keasyikan yang aku temui, yang kata orang itu adalah sebagian dari tradisi NU. Yang aku sendiri tidak memahaminya. Yang jelas semuanya aku terima dari leluhur-leluhur kami sebagai nilai-nilai yang positif tanpa aku berani menbid’ahkannya.
Ternyata di dalam tradisi tahlil terdapat keasyikan, di dalam tradisi bertawashul ada keasyikan, di dalam tradisi ziarah qubur ada keasyikan, di dalam tradisi bermaulid ada keasyikan, di dalam tradisi beristighosah ada keasyikan, di dalam tradisi haul para auliya dan sholihin juga ada keasyikan.
Terserah mereka yang menganggap tidak asyik ……
Ditulis oleh: KH. Ahmad Suja’i
(Rois Syuriah MWC NU Kec. Jakenan)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Dakwah Menuju Kepada Allah dan Kasih Sayang Dalam Berdakwah

    Antara Dakwah Menuju Kepada Allah dan Kasih Sayang Dalam Berdakwah

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 367
    • 0Komentar

    الحمد لله ثم الحمد لله الحمد حمداً يوافي نعمه ويكافئ مزيده، يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك ولعظيم سلطانك، سبحانك اللهم لا أحصي ثناءاً عليك أنت كما أثنيت على نفسك، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله وصفيه وخليله خير نبي أرسله، أرسله […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa Bukan Bulan Kapital

    • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.127
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ibadah yang hanya dipandang kayak dodolan, dagang, untung-rugi, oleh ganjaran pira, kayaknya itu menjadi bentuk riil cara berpikir kita itu kapitalistik. Maksude pimen? Ya, simpelnya kita beribadah hanya mengejar keuntungan pahala saja, tanpa memastikan puasa kita itu sakjane ya agar kita bertakwa dan menuju Allah Swt.   Realitas lain, tiap […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2017
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Pak kiai, apa hukumnya sholatnya orang yang ketika sujud dia tidak menempelkan jari-jari kakinya pada lantai ? Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Salah satu rukun sholat adalah sujud,dan sujud itu sendiri mempunyai syarat-syarat  yang harus dipenuhi agar sujud itu bisa sah,bila sujud tidak sah maka sholatnya juga tidak sah,oleh karena itu menjadi sebuah […]

  • PCNU Pati Gelar Tasyakuran Hari Santri 2025, Ada Peluncuran Perbup Pesantren hingga Pemberian Beasiswa Santri

    PCNU Pati Gelar Tasyakuran Hari Santri 2025, Ada Peluncuran Perbup Pesantren hingga Pemberian Beasiswa Santri

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.985
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menggelar malam tasyakuran Hari Santri 2025 di halaman Kantor Bupati Pati, Kamis (30/10/2025) malam. Kegiatan ini dikemas dengan acara Istighotsah dan Gema Selawat. Pada kesempatan tesebut, juga dilaksanakan launching Peraturan Bupati (Perbup) Pesantren, penghargaan tokoh santri, serta pemberian beasiswa santri tahfidz. Ketua PCNU Pati, KH […]

  • PCNU - PATI

    7 Teladan Mbah Dimyati Rais

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 438
    • 0Komentar

    Membaca biografi KH. Dimyathi Rais yang baru saja wafat, ada beberapa teladan agung yang bisa dipetik. 1. Spirit thalabul ilmi Beliau adalah sosok pengelana pengetahuan yang haus ilmu. Pondok APIK, Lirboyo, Sarang, dan lain-lain menjadi destinasi keilmuan beliau. Dalam salah satu vidio youtube Beliau menjelaskan salah satu ulama hebat, yaitu Imam Syafii, sosok pengelana pengetahuan […]

  • Manajemen Eksekutif Lazisnu Pati Mulai Magang di UPZIS Winong

    Manajemen Eksekutif Lazisnu Pati Mulai Magang di UPZIS Winong

    • calendar_month Rab, 5 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 495
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id, Pati – Manajemen eksekutif baru di LazisNU PCNU Pati mengikuti magang di UPZIS MWCNU Winong. Proses magang ini bagian dari rangkaian masa training selama sebulan kedepan menjadi karyawan di LAZISNU Pati. Ketua LazisNU PCNU Pati, Edi Kiswanto mengatakan magang ini bertujuan untuk pengenalan dan membekali skil karyawan dalam mengelola dan menjalankan visi, misi […]

expand_less