Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » “Wuih Kompak Amat”

“Wuih Kompak Amat”

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
  • visibility 362
  • comment 0 komentar

Oleh : M Iqbal Dawami

Cerita lucu ini berawal ketika menjelang Isya beberapa warga bergegas ke masjid untuk azan. Belum lagi sampai masjid terlihat seorang pemuda dengan tampang klimis dan dihiasi jenggot sedang menyapu di lantai masjid. Azan dimulai, jamaah pun berdatangan dan siap mendirikan shalat Isya berjamaah.

Sang pemuda yang tadi menyapu segera saja mendapat tempat terhormat di shaf terdepan, alasannya karena dia datang lebih awal dari jamaah yang lain. Penghargaan warga kampung terhadap sang pemuda tidak berhenti sampai di situ. Meskipun mereka tidak begitu mengenal sang pemuda, karena bukan warga kampung tersebut, tetapi sikapnya yang kalem dan kelihatan khusuk membuat warga tak ragu meminta sang pemuda menjadi imam shalat.

Di sinilah cerita lucu dimulai. Saat dimulai takbir tidak ada masalah, aman-aman saja. Baca Al-fatihah juga lancar, no problem. Setelah bacaan Al-fatihah selesai, jamaah pun menyambut dengan “Amin”, layaknya memang kewajiban makmum. Namun saat mendengar “amin” tersebut tiba-tiba sang imam berkomentar keras, “Wuihh kompak baaaanget”.

Jamaah yang berjumlah puluhan orang tersebut terkaget-kaget dan sontak menghentikan shalatnya. Mereka memandangi sang imam yang masih cengar-cengir. Dan dari deretan makmum paling belakang tiba-tiba terdengar suara, “Oh, itu pemuda kampung sebelah, dia memang kena gangguan jiwa, durung mari tiba’e (ternyata belum sembuh).”

Gemuruh tawa jamaah pun memecah, dan sang imam pun segera “dievakuasi” pulang.[1] Mendengar kisah di atas kita semua mungkin bisa tersenyum bahkan sampai tertawa. Bisa kita bayangkan betapa lucunya apabila ada jamaah yang hendak mendirikan shalat di sebuah masjid ternyata diimami oleh orang yang majnun, alias gila. Hal itu sebagaimana kisah di atas. Mengapa orang gila tersebut bisa menjadi imam? Rupanya jamaah di situ tertipu oleh penampilan orang tersebut yang terlihat alim dan pintar. Dan ternyata orang itu mempunyai pikiran yang tidak waras dan mengalami gangguan jiwa.

Kisah di atas seolah menyentil kita yang sering kali terpesona secara “buta” kepada seseorang lantaran penampilannya yang meyakinkan. Penampilan itu bisa berupa wajah yang artistik, pakaian yang simpatik, pembawaan yang menarik, maupun kata-kata yang menukik (ke dalam jiwa).  Dan masih banyak lagi penampilan lainnya yang sungguh menggugah rasa keterpesonaan kita. Nahasnya, seringkali kita kecele gara-gara akibat keterpesonaan kita itu.

Tentu saja kita menilai sesuatu atau seseorang memulai dari penampilannya, dari luarnya. Karena itu yang paling dekat untuk kita percayai atau tidak. Misalnya saja ada orang yang belum kita kenal hendak meminta atau pun memberi bantuan kepada kita, apa respons kita? Kemungkinan kita akan melihat dulu orangnya seperti apa. Kita akan menilainya terlebih dahulu penampilannya meyakinkan atau tidak. Setelah kita menganggap orang tersebut meyakinkan (secara penampilan) maka barulah kita memberi respons positif. Nah, di sinilah, banyak di antara kita yang tertipu gara-gara penampilan tersebut.

Seseorang pernah menuliskan:

Rumah yang megah nan mewah bukan jaminan keluarga hidup bahagia

Makanan yang enak dan kemasan menarik, belum tentu bernilai gizi tinggi

Jabatan tinggi belum tentu mempunyai pengabdian dan etos kerja yang sesuai dengan jabatan tersebut

Kasur mewah yang empuk, tidak menjamin kita bisa tidur nyenyak

***

Mungkin Anda pernah mendengar penipuan berkedok investasi dengan iming-iming keuntungan per bulan yang menggiurkan. Tidak sekali-dua kali saya mendengar penipuan model ini. Banyak terpedaya dengan bisnis semacam ini. Betapa tidak, kita “hanya” memberikan modal berupa uang—tidak perlu bekerja—tapi setiap bulannya uang dari hasil investasi itu akan mengalir ke kita dengan berlipat-lipat. Iming-iming itu sungguh menggiurkan dan meninabobokan naluri kesadaran kita.

 Satu hal yang membuat saya terperangah dan “kagum” adalah betapa hebatnya orang yang bisa membujuk sekian banyak manusia untuk menginvestasikan uangnya ke dalam perusahaan si pemiliknya. Betapa dahsyatnya ia bisa meyakinkan orang. Betapa mumpuninya ia membujuk orang agar menggelontorkan sekian banyak uangnya untuk diinvestasikan. Sungguh hebat. Pasti kata-kata maupun perilakunya sangat simpatik dan mempunyai daya gugah, karena buktinya banyak orang tergugah. Di sinilah, sekali lagi, banyak di antara kita yang tertipu gara-gara penampilan tersebut.

Tentu tidak salah untuk mengikuti bisnis semacam itu. Namun, sebelum kita melangkah ada baiknya kita melakukan cross-check terlebih dahulu, mencari informasi sebanyak-banyaknya, bertanya kepada orang yang dianggap kompeten soal itu, dan seterusnya. Dari situ kita akan mendapat pandangan secara menyeluruh perihal tersebut.

Hal ini berlaku dalam segala hal, termasuk dalam hal agama. Kita kerap kali mudah terpesona oleh simbol-simbol agama yang dikenakan seseorang, padahal simbol-simbol tersebut tidak secara otomatis melekat begitu saja kepada si pemakai simbol. Simbol jubah, jenggot, dan dahi hitam, bukanlah simbol ketaatan, kesalehan, apalagi kepintaran. Siapa saja bisa melakukannya. Orang gila yang menjadi imam shalat isya dalam kisah di atas sungguh pas dalam menggambarkan hal ini.  

Seperti halnya dalam kasus investasi di atas, persoalan agama pun demikian. Banyak sekali fenomena keberagamaan yang kita jumpai dalam keseharian kita. Sebelum kita menilai seseorang—bahkan menerima mentah-mentah—berpendapat soal agama, kita harus melakukan cross-check terlebih dahulu, atau dalam agama diistilahkan dengan tabayyun. Tabayyun artinya mencari kejelasan suatu masalah hingga tersingkap dengan jelas kondisi yang sebenarnya, atau sikap hati-hati terhadap sesuatu dan tidak tergesa-gesa.

Tabayyun merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan agar tidak dihinggapi prasangka-prasangka yang tidak bertanggungjawab sehingga menimbulkan fitnah bahkan kekerasan. Dikatakan penting, karena seringkali kita melihat orang berprasangka tanpa men-tabayyun terlebih dahulu. Mereka malas untuk melakukannya, tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi, sehingga yang timbul adalah apriori dan mencap dengan stempel keburukan.  

Hal ini sudah diterangkan dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat: 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Dalam surat lainnya, An-Nisa 94 sebutkan pula perihal tabayyun, yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi di jalan Allah, maka lakukanlah tabayyun.” Jelas dalam kedua ayat ini bahwa tabayyun adalah perintah Allah untuk kita lakukan dalam laku kehidupan sehari-hari, agar tidak terjadi tindakan-tindakan yang merugikan dan membuat kita menyesal di kemudian hari. Kita tidak boleh tergesa-gesa menilai orang lain dengan menuduh dengan tuduhan buruk, apalagi disertai dengan tindakan yang bersifat merusak atau kekerasan.

Mari kita biasakan ber-tabayyun dalam segala hal. 


                [1] Dikutip dari http://blog-syariah.blogspot.com/2012/08/cerita-humor-ramadhan.html

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa: Konsepe Ora Ngono!

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.279
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Sore itu ruang tengah rumah terasa hangat oleh aktivitas kecil menjelang berbuka. Istri saya bergegas menyiapkan hidangan sambil sesekali merapikan diri. Ia meraih botol parfum dan menyemprotkannya dengan cukup bersemangat. Namun mungkin karena tergesa, arah semprotannya mengenai bagian yang tidak semestinya.   Anak kami yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba berkomentar […]

  • PCNU-PATI

    Muncul Gerakan Dukungan Calon Bupati Pati dari Kalangan NU, Ini Kata ketua PCNU

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Pcnupati.or id – Menjelang Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) Pati 2024, muncul gerakan dukungan terhadap Calon Bupati maupun Wakil Bupati dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Gerakan ini bertagar “2024 Wayahe Wong NU Mimpin Pati”. Rokib Ismail, inisiator gerakan tersebut mengatakan, sudah saatnya Kabupaten Pati ini dipimpin oleh warga Nahdliyin.   “Sudah saatnya Pati dipimpin oleh orang NU. […]

  • Menjaga Kekhusu’an Sholat

    Menjaga Kekhusu’an Sholat

    • calendar_month Rab, 7 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Seorang yang khusyuk dalam menjalankan sholat, maka orang tersebut akan menemukan kenikmatan yang tak bisa diuraikan melalui kata-kata. Sebab hanya dia dan Allah sajalah yang mengetahui hal tersebut. Karena sholat mampu menyejukkan hati bagi mereka yang mencintai Allah dengan sungguh-sungguh dan menjahui segala laranganya. Yaitu bagi mereka ketika melakukan sholat dengan penuh ke khusyukan. Lebih dari […]

  • PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking

    PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking

    • calendar_month Jum, 12 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 325
    • 0Komentar

    PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking Pati, 13 Maret 2021 PR IPNU IPPNU gelar pelatihan Public Speaking guna untuk menambah mental dan wawasan anggota. Kegiatan yang di gelar pada 12 Maret 2021 berlangsung selama 1 jam. Berlokasi di Madrasah Mansyaul Ulum Kadilangu melibatkan kurang lebi 30 anggota sebagi peserta kegiatan. dengan […]

  • Menggali Potensi Lokal

    Menggali Potensi Lokal

    • calendar_month Jum, 28 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Juwana mengadakan Konferensi, hal tersebut di lakukan sesuai dengan ketentuan dalam organisasi Nahdlatul Ulama apabila sudah berakhir masa jabatan maka akan di lakukan reorganisasi. bertempat di Kantor MWCNU Juwana Jl. Juwana Tayu Km 2 Dukutalit Juwana, akhir-akhir ini. Setelah Ketua Siswoyo memberikan laporan pertanggung jawaban perjalanan […]

  • ‎Ma’arif Jateng Libatkan 19 Media Mitra untuk Perkuat Publikasi

    ‎Ma’arif Jateng Libatkan 19 Media Mitra untuk Perkuat Publikasi

    • calendar_month Rab, 4 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.771
    • 0Komentar

    ‎SEMARANG – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Media Ma’arif Kuat, Nusantara Hebat” di Kantor LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Semarang, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi publikasi bersama media massa guna mendukung pendidikan karakter berbasis digital di lingkungan satuan pendidikan Ma’arif. […]

expand_less