Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pingin Syahid kok Pakai Syahwat

Pingin Syahid kok Pakai Syahwat

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 8 Des 2022
  • visibility 328
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Agama mana yang memperbolehkan pertumpahan darah sebagai media syiar? Pertanyaan ini tampak klise, tapi nyatanya hingga sekarang, masih banyak kekerasan atas nama agama.

Syi’ar katanya! Memusuhi para pembangkang agama. Lantas seperti apa kriteria pembangkang yang dimaksud? Apa itu thaghut? Apakah semua kafir layak dibunuh? Semua serba abu-abu.

Aksi terorisme dengan kedok agama layaknya roda yang bergulir di medan turun. Penegak hukum, tokoh agama yang penuh kesejukan bak batu kecil yang sedikit saja menghambat lajunya. 

Nyatanya, di tahun 2022 ini, masih ada, lho manusia-manusia lugu yang begitu mudahnya terkena pengaruh bahkan terinternalisasi nilai-nilai radikalis dan teroris.

Penulis cukup heran dengan mereka yang gampang diojok-ojoki untuk melakukan jihad serupa serangan senjata atau bahkan bomb bunuh diri. Padahal, nabi sudah memberi ancer-ancer bahwa ahli ibadah yang dangkal pengetahuannya kalah hebat dengan ahli ilmu. Ini kode keras!

Sampai-sampai, iblis lebih anti dengan ahli ilmu daripada kepada mereka yang mengaku cinta islam, rutin berjamaah, shalat dhuha everyday, takbir everywhere, pakaian sunnah, namun pemahaman agamanya nol besar.

Penulis tidak sedang mendiskreditkan kawan-kawan yang nilai ujian agamanya merah, toh penulis juga ndak pakar-pakar amat soal islam. Tapi mbok ya dalam beragama, selain perbanyak referensi dan belajar, logikanya juga dipakai. Sebab apapun argumennya, islam adalah agama yang logis.

Kalau si guru memerintah bunuh diri untuk memcapai surga dan kekal bersama bidadari, mengapa ia tidak melakukannya duluan?. Aneh sekali bukan?

Lagipula ini juga ajaran yang kurang pas. Pertama, ummat diajari untuk nguber surga. “Jihadlah kalian, bunuh kafir laknat dan antek-antek pemerintah thaghut, niscaya kalian akan memperoleh syurga dan dikudang oleh bidadari di sana. Takbiiirr…,” begitu kata ustadznya.

Lhoh, tuhannya kan Allah, kok yang diburu malah surga plus bidadari yang celong matanya lagi bohay body-nya. Hina sekali pemikiran semacam ini. Rendah sekali makna jihad!. Pengen jadi syahid kok masih pakai syahwat.

Kedua, doktrinasi yang sifatnya radikal integral dengan perasaan paling benar. Begini, tindakan mengintimidasi, melukai atau menghabisi orang yang tidak sejalan, biasanya didasari dua pemikiran, takut tersaingi atau perasaan benar sendiri.

Dua tukang sate yang bersebelahan, bisa jadi saling teror satu sama lain karena persaingan bisnis, soal cuan. Namun kalau sudah terlontar, “sate saya paling enak, sate kamu tidak enak, jadi gerobak kamu harus saya robohkan, Allahu akbar.” Ini adalah perasaan paling benar sendiri bahkan terkesan memaksakan selera semua orang. Padahal lidah punya interest masing-masing. Begitu pula ‘selera’ spiritual.

Kalau sudah begini, saatnya kembali pada nalar fitrah. Manusia pada umumnya tidak suka kekerasan. Ketika Nabi Muhammad mendapatkan perlakukan kasar dari penduduk kafir Quraisy, beliau tidak membalasnya saat peristiwa fathu Makkah yang agung itu. Sebab, Nabi tahu rasanya disakiti, maka beliau lebih memilih memaafkan daripada melukai.

Bibarkati amnesti ini, akhirnya banyak warga Kafir Quraisy yang simpati dan masuk islam. Bayangkan jika nabi memasuki Makkah dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Selamanya islam akan mendapatkan label agama anti kemanusiaan, agama jahat dan lain sebagainya.

Penulis jadi teringat sebuah ayat dalam kita suci al-Qur’an, “jika engkau berhati keras lagi kasar, niscaya orang-orang akan menjauh dari sekelilingmu,”.[]

*Penulis adalah Pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahas Perda Pesantren, RMI NU Pati Undang Para Pengurus Ponpes

    Bahas Perda Pesantren, RMI NU Pati Undang Para Pengurus Ponpes

    • calendar_month Jum, 18 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 361
    • 0Komentar

    Para pengasuh pesantren membahas Perda Pesantren di aula PCNU Pati PATI – Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati menggelar Halaqoh dengan para pengasuh pesantren yang ada di Pati, Kamis (17/2) siang, di kantor PCNU. Selain itu, RMI juga mengundang seluruh anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) di semua tingkatan.  Ketua PCNU […]

  • Terinspirasi Meriam Kekaisaran Ottoman Turki, Siswa MTs Salafiyah Kajen Ciptakan Robot Basilica

    Terinspirasi Meriam Kekaisaran Ottoman Turki, Siswa MTs Salafiyah Kajen Ciptakan Robot Basilica

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 438
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Memanfaatkan sejumlah barang bekas, Siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, berhasil menciptakan sebuah robot yang  dinamakan Basilica.  Siswa itu adalah Muhammad Ridwan Arsyad dan Anargya Fahmi Ilmi Nugraha. Keduanya dibimbing oleh Angelia, guru MTs Salafiyah dan tim Madrasah Robotic Competition (MRC).  Bahkan, berkat ketelatenan dari kedua siswa itu, mereka […]

  • Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

    Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

    • calendar_month Kam, 2 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo. […]

  • Kemesraan Bung Karno & Mbah Wahab Hasbullah

    Kemesraan Bung Karno & Mbah Wahab Hasbullah

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 501
    • 0Komentar

     Strategi Diplomasi Fathul Qarib Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Bung Karno menanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat? Kiai Wahab menjawab tegas,”Hukumnya sama dengan orang yang ghasab.” “Apa artinya ghasab, kiai?” Tanya Bung […]

  • MWCNU Batangan Gelar Pengajian Akbar

    MWCNU Batangan Gelar Pengajian Akbar

    • calendar_month Sen, 17 Jul 2017
    • account_circle admin
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Pati, Pengurus Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Batangan mengadakan Pengajian Akbar dalam Rangka Halal bi halal, pengajian bertempat di Desa Klayusiwalan Batangan dengan pembicara KH. Abdul Wahid dari Cluwaki, 11/7 kemarin.             KH. Abdul Mukhid Syuriah MWCNU Bantangan mengemukakan untuk menjalin silaturahmi yang baik, antara  pengurus wakil Cabang dan pengurus Ranting, tidak ada salahnya apabila […]

  • Tiga Video Terbaik Menang Lomba FKPT Jateng 2025, Ketua FKPT: Kreativitas Anak Muda Luar Biasa!

    Tiga Video Terbaik Menang Lomba FKPT Jateng 2025, Ketua FKPT: Kreativitas Anak Muda Luar Biasa!

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 362
    • 0Komentar

      Semarang – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah mengumumkan para pemenang lomba pembuatan video pendek bertema “Pitutur Cinta: Implementasi Ajaran Agama dalam Bingkai NKRI dengan Semangat Cinta Kasih” tahun 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya edukatif FKPT dalam membumikan nilai-nilai moderasi beragama di kalangan generasi muda. Tiga video terbaik berhasil menyita perhatian […]

expand_less