Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
  • visibility 651
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Setiap memasuki bulan Sya’ban masyarakat desa pada umumnya melanggengkan tradisi kirim doa yang ditujukan kepada para leluruh dan kerabat yang sudah meninggal. Tradisi ini sudah berjalan dari dulu sampai sekarang. Tradisi ruwahan ini juga biasanya dilakukan baik di masjid, mushola dan makam. Hal ini dilakukan masyarakat tidak lain adalah karena adanya nilai sakral, selain itu juga diyakini doanya bisa tersampaikan kepada para leluhurnya.

Pada umumnya tradisi ruwahan atau nyadran di bulan Sya’ban dilakukan setiap mendekati bulan Ramadan. Dimana pada tradisi ruwahan ini, selain masyarakat memanjatkan doa dan kirim doa pada leluruhnya yang sudah meninggal dunia. Mereka juga ikut nyadong berkah dengan adanya tradisi tersebut.

Tradisi ruwahan ini juga dapat diartikan sebagai sarana untuk menjaga sifat gotong-royong masyarakat sekaligus sebagai upaya masyarakat dalam menjaga keharmonisasian masyarakat melalui kegiatan kumpul bersama dalam satu majlis. Dan bersama-sama ikut makan bersama setelah ritual ruwahan selesai. Di sinilah pentingnya sifat kebersamaan dan saling menghormati satu sama lain dalam satu majlis yang dikemas dalam tradisi ruwahan.

Selain sebagai sarana untuk merajut kebersamaan, tradisi ini juga sebagai wahana untuk meningatkan kita kepada Sang Khaliq, bahwa hidup di dunia ini pada saatnya juga ada akhirnya. Maka, media ritual ruwahan ini bisa diartikan banyak hal sebagai bentuk cara kita mengekspresikan diri kita di bulan tersebut. Dan tentunya ritual ini dari pelbagai daerah berbeda-beda implementasinya serta cara masyarakat mengekspresinya juga berbeda-beda. Ada juga yang melakukannya melalui kirab, melakukan besik (kerja bakti desa), kirim doa, zikir, khataman Alquran, dan tasyakuran.

Ini semua dilakukan masyarakat tujuannya adalah untuk menjaga bentuk kearifan lokal (local wisdom) juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat diekspresikan dalam bentuk syukuran maupun sedekah kepada tetangga maupun masyarakat pada umumnya.

Karena Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Sehingga apabila ada budaya yang tidak tepat dan menyimpang dari ajaran agama Islam, maka agama akan meluruskan bentuk-bentuk kebudayaan yang menyimpang menjadi benar dan lurus dengan menyesuaikan aspek budaya lokal sekiranya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Demikian juga kehadiran Islam di Indonesia yang sangat mudah diterima oleh masyarakat secara luas. Karena disampaikan secara harmonis dan dinamis, sehingga masyarakat merasa nyaman dan menerima Islam sebagai agamanya.

Budaya ruwahan sebagai salah satu budaya masyarakat bukan hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga dipahami sebagai budaya keagamaan dan bukan sebagai ajaran mendasar agama itu sendiri. Demikian pula sebaliknya, jika budaya tersebut tidak dilakukan oleh masyarakat juga tidak mengapa, kalau toh dilaksanakan dan dapat mewarnai budaya tersebut secara Islam justru bisa menambahkan syiar. Sikap yang bijaksana perlu dilakukan untuk menghadapi hal tersebut.

Kehidupan keberagamaan tidak bisa berjalan dengan harmoni di masyarakat jika tidak menampung berbagai budaya yang baik di masyarakat. Dalam kaidah ushul ada istilah al-muhafadhatu ‘ala qadimis shalih wa al-akhdzu bil jadidil ashlah yakni memelihara khazanah lama yang baik dan mengambil pembaharuan yang baik.

Selain itu, juga memberlakukan kaidah ‘al ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah yakni melakukan perbaikan umat pada kondisi yang lebih baik, agar semakin baik dan semakin baik lagi. Kaidah ini lebih bersifat mendorong adanya kreatifitas dan inovasi terhadap apa yang ada. Karena selalu berusaha untuk mencari dan menemukan sesuatu yang ada menjadi lebih baik dan terus disempurnakan menjadi lebih baik.

Dengan demikian, adanya tradisi ruwahan merupakan sebuah akulturasi budaya yang sudah ada sejak era zaman wali songo yang dikemas melalui ritual adat-istiadat masyarakat setempat dan disisipi dengan kajian keislaman yang membuat masyarakat mudah menerima dan berjalan hingga sekarang ini.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lewati Proses Panjang, Tanah Wahid Hasyim Resmi Milik NU Lagi

    Lewati Proses Panjang, Tanah Wahid Hasyim Resmi Milik NU Lagi

    • calendar_month Sab, 11 Jul 2020
    • account_circle admin
    • visibility 499
    • 0Komentar

    PATI-Sabtu (11/7) menjadi hari bahagia bagi PCNU Pati. Pasalnya, bukan hanya para pengurus harian yang berjumpa dengan pengurus MWC-NU untuk pertama kali selama pandemi, namun pertemuan yang berlangsung mulai pukul 13.30 sampai 16.30 WIB. tersebut memiliki makna tersendiri. Penyerahan verkas secara simbolis oleh tim ad hoc advokasi kasus tanah Wahid Hasyim yang diwakili oleh sekretaris […]

  • Pelajar Berkolaborasi, Mandiri dan Berkarya

    Pelajar Berkolaborasi, Mandiri dan Berkarya

    • calendar_month Sel, 23 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Oleh : Miftah Iam*   Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (PC IPNU-IPPNU) Kabupaten Pati periode 2021-2023 telah resmi dilantik. Semua pengurus disumpah dan mengucapkan janji untuk menjalankan amanah organisasi. Hal ini menandakan dimulainya perjuangan selama satu periode. Mengusung tema “Pelajar Berkolaborasi, Mandiri dan Berkarya”. Tema ini tidak hanya sebatas omong kosong […]

  • POTRET SANTRI IDEAL DI ERA GLOBAL

    POTRET SANTRI IDEAL DI ERA GLOBAL

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Era sekarang terkenal dengan nama globalisasi. Globalisasi adalah sistem ‘kesejagatan’. Artinya, tidak ada batas-batas yang menganggu interaksi, komunikasi, dan aktualisasi. Dalam hitungan detik, peristiwa yang terjadi di Afghanistan, Libya, Amerika Serikat, apalagi Jakarta dapat disebarkan ke seluruh dunia. Internet, hand phone, televisi, radio, dan lain-lain menjadi media informasi efektif di era global. Ada dampak positif […]

  • Keluarga Denanyar Hadiri Haul KH. Syansuri Tayu

    Keluarga Denanyar Hadiri Haul KH. Syansuri Tayu

    • calendar_month Sab, 14 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    TAYU-Tidak banyak yang tahu bahwa KH. Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU merupakan pria asal Pati, kota kecil yang berada di pantai utara Jawa Tengah. Ayahnya benama KH. Syansuri merupakan salah satu ulama besar yang tinggal di Tayu, salah satu kota kecamatan di ujung utara Kabupaten Pati. KH. Ahmad Asnawi memberikan tausyiyah dalam acara Haul […]

  • Di Balik Pencopetan Kyai Arwani Kudus

    Di Balik Pencopetan Kyai Arwani Kudus

    • calendar_month Kam, 29 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 523
    • 0Komentar

    Sebuah kisah nyata yang dapat kita ambil hikmahnya datang dari seorang kyai Arwani (alm. Allahummaghfirullah).Beliau merupakan sosok kyai kharismatik yang terkenal dengan hafalan Qur’annya. Pesantren yang diasuhnya adalah Yanbuul Qur’an di Kudus, merupakan salah satu pesantren yang menjadi kiblat para hafidz dan hafidzah di Indonesia. Suatu hari, beliau bepergian bersama santrinya. Ketika beliau sampai di […]

  • Kak Shobirin Pimpin Sakomanu Jateng 2024-2029

    Kak Shobirin Pimpin Sakomanu Jateng 2024-2029

    • calendar_month Sab, 26 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Semarang – Kakak H. Shobirin secara resmi terpilih menjadi Ketua Satuan Komunitas Pramuka Pandu Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029 dalam Musyawarah Daerah (Musda) II Sakomanu Jateng di Hotel Muria Semarang, Sabtu (26/10/2024). Terpilihnya Ketua Sakomanu Jateng dituangkan dalam Surat Keputusan Sidang Pleno Musyawarah Daerah (Musda) II Sakomanu Jawa Tengah Nomor: 005/MUSDA.SAKOMANU JTG/2024 tentang […]

expand_less