Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
  • visibility 670
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Setiap memasuki bulan Sya’ban masyarakat desa pada umumnya melanggengkan tradisi kirim doa yang ditujukan kepada para leluruh dan kerabat yang sudah meninggal. Tradisi ini sudah berjalan dari dulu sampai sekarang. Tradisi ruwahan ini juga biasanya dilakukan baik di masjid, mushola dan makam. Hal ini dilakukan masyarakat tidak lain adalah karena adanya nilai sakral, selain itu juga diyakini doanya bisa tersampaikan kepada para leluhurnya.

Pada umumnya tradisi ruwahan atau nyadran di bulan Sya’ban dilakukan setiap mendekati bulan Ramadan. Dimana pada tradisi ruwahan ini, selain masyarakat memanjatkan doa dan kirim doa pada leluruhnya yang sudah meninggal dunia. Mereka juga ikut nyadong berkah dengan adanya tradisi tersebut.

Tradisi ruwahan ini juga dapat diartikan sebagai sarana untuk menjaga sifat gotong-royong masyarakat sekaligus sebagai upaya masyarakat dalam menjaga keharmonisasian masyarakat melalui kegiatan kumpul bersama dalam satu majlis. Dan bersama-sama ikut makan bersama setelah ritual ruwahan selesai. Di sinilah pentingnya sifat kebersamaan dan saling menghormati satu sama lain dalam satu majlis yang dikemas dalam tradisi ruwahan.

Selain sebagai sarana untuk merajut kebersamaan, tradisi ini juga sebagai wahana untuk meningatkan kita kepada Sang Khaliq, bahwa hidup di dunia ini pada saatnya juga ada akhirnya. Maka, media ritual ruwahan ini bisa diartikan banyak hal sebagai bentuk cara kita mengekspresikan diri kita di bulan tersebut. Dan tentunya ritual ini dari pelbagai daerah berbeda-beda implementasinya serta cara masyarakat mengekspresinya juga berbeda-beda. Ada juga yang melakukannya melalui kirab, melakukan besik (kerja bakti desa), kirim doa, zikir, khataman Alquran, dan tasyakuran.

Ini semua dilakukan masyarakat tujuannya adalah untuk menjaga bentuk kearifan lokal (local wisdom) juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat diekspresikan dalam bentuk syukuran maupun sedekah kepada tetangga maupun masyarakat pada umumnya.

Karena Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Sehingga apabila ada budaya yang tidak tepat dan menyimpang dari ajaran agama Islam, maka agama akan meluruskan bentuk-bentuk kebudayaan yang menyimpang menjadi benar dan lurus dengan menyesuaikan aspek budaya lokal sekiranya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Demikian juga kehadiran Islam di Indonesia yang sangat mudah diterima oleh masyarakat secara luas. Karena disampaikan secara harmonis dan dinamis, sehingga masyarakat merasa nyaman dan menerima Islam sebagai agamanya.

Budaya ruwahan sebagai salah satu budaya masyarakat bukan hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga dipahami sebagai budaya keagamaan dan bukan sebagai ajaran mendasar agama itu sendiri. Demikian pula sebaliknya, jika budaya tersebut tidak dilakukan oleh masyarakat juga tidak mengapa, kalau toh dilaksanakan dan dapat mewarnai budaya tersebut secara Islam justru bisa menambahkan syiar. Sikap yang bijaksana perlu dilakukan untuk menghadapi hal tersebut.

Kehidupan keberagamaan tidak bisa berjalan dengan harmoni di masyarakat jika tidak menampung berbagai budaya yang baik di masyarakat. Dalam kaidah ushul ada istilah al-muhafadhatu ‘ala qadimis shalih wa al-akhdzu bil jadidil ashlah yakni memelihara khazanah lama yang baik dan mengambil pembaharuan yang baik.

Selain itu, juga memberlakukan kaidah ‘al ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah yakni melakukan perbaikan umat pada kondisi yang lebih baik, agar semakin baik dan semakin baik lagi. Kaidah ini lebih bersifat mendorong adanya kreatifitas dan inovasi terhadap apa yang ada. Karena selalu berusaha untuk mencari dan menemukan sesuatu yang ada menjadi lebih baik dan terus disempurnakan menjadi lebih baik.

Dengan demikian, adanya tradisi ruwahan merupakan sebuah akulturasi budaya yang sudah ada sejak era zaman wali songo yang dikemas melalui ritual adat-istiadat masyarakat setempat dan disisipi dengan kajian keislaman yang membuat masyarakat mudah menerima dan berjalan hingga sekarang ini.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berbagi dan Bersyukur

    Berbagi dan Bersyukur

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Saya menonton kiriman video dari Pak Djoko Kusumowidagdo tentang Harjanto Halim yang menceritakan perayaan ulang tahun ayah mertuanya yang ke-88. Begitu mengesankan saya menontonnya. Tampak suasana yang sangat hangat. Meskipun acara berlangsung meriah, dengan banyak tamu yang hadir, yang paling mencuri perhatian adalah pesan yang disampaikan oleh sang ayah yang sedang […]

  • Hadapi Era VUCA, Rektor INISNU Temanggung Bekali Peserta Yudisium FTK Strategi 3C dan Pilihan Karier

    Hadapi Era VUCA, Rektor INISNU Temanggung Bekali Peserta Yudisium FTK Strategi 3C dan Pilihan Karier

    • calendar_month Sab, 27 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.191
    • 0Komentar

      TEMANGGUNG – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar prosesi Yudisium dan Seminar Karier bagi para calon lulusannya. Acara strategis ini dihadiri langsung oleh Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., yang memberikan arahan penting terkait tantangan dunia kerja modern. Hal itu disampaikan usai pembacaan Surat Keputusan oleh Dekan […]

  • PCNU-PATI Photo by Andrei Slobtsov

    Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 4

    • calendar_month Ming, 30 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 482
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin “Salmaaan … come on. Kamu ngapain sih?” Fix, suara itu semakin membuat Salman ge-er. Ditambah provokasi dari sana sini membuatnya ingin mengangkat pantat dan memenuhi panggilan itu sesegera mungkin. Tapi ia sempat ragu saat meneliti ekspresi wajah para pengurus bagian keamanan, Kang Frans, Kang Husni, dan Kang Rif’al. Ada senyum berbau […]

  • Dari Kuli Bangunan Hijrah ke ‘Peng-Anggur-an’

    Dari Kuli Bangunan Hijrah ke ‘Peng-Anggur-an’

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 529
    • 0Komentar

    Juliono dan anggur-anggur hasil budi dayanya PATI – Berbagai cara ditempuh masyarakat Kabupaten Pati untuk bertahan hidup di masa pandemi ini. Tak terkecuali Juliono (25), pemuda asal Desa Sokopuluhan, Kecamatan Pucakwangi yang memilih banting setir dari pekeja proyek bangunan menjadi pembudidaya tanaman anggur.  Pria yang merupakan anggota Barisan Ansor Sebaguna (Banser) sekaligus staf Lembaga Amil […]

  • Islam Manusia di Zaman Kegalauan

    Islam Manusia di Zaman Kegalauan

    • calendar_month Sen, 15 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 624
    • 0Komentar

    Zaman kita adalah zaman berkelimpahan. Tapi, pada saat yang sama, inilah zaman kegalauan. Kata pujangga kita, Ranggawarsita, inilah zaman kalabendu. Jangankan bagi orang yang hidupnya susah secara ekonomi, bahkan bagi orang-orang yang hidupnya berkecukupan, tekanan hidup makin keras: tuntutan kebutuhan artificial yang terus muncul, beban pekerjaan yang overwhelming, lingkungan hidup yang kurang bersahabat dan cenderung […]

  • LazizNU Pati selalu hadir - PCNU PATI

    LAZISNU Pati Selalu Hadir

    • calendar_month Jum, 8 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Pati. PC Lazisnu Pati didatangi oleh seorang pemuda dengan maksud ingin meminta bantuan. Pemuda tersebut bernama Chandra Hasudungan Panggabean. Chandra merupakan warga Desa Cimekar Rt 01 Rw 07 Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Kamis 31 Maret 2022 beberapa hari lalu “Ia bercerita mulanya berangkat dari Surabaya, sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan yang ada disana. Karena […]

expand_less