Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Makna Transformatif Kelahiran NU

Makna Transformatif Kelahiran NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
  • visibility 8.316
  • comment 0 komentar
Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
Dosen IPMAFA Pati, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning Pati
Sabtu, 31 Januari 2026 adalah momentum peringatan 1 abad NU versi Masehi karena NU dilahirkan pada 31 Januari 1926. Dalam momentum 1 abad ini, sudah seharusnya seluruh elemen NU mengingat dan merevitalisasi dimensi spiritualitas transformatif berdirinya NU. Napak tilas sejarah berdirinya NU sudah  dimulai dari Bangkalan sampai Tebuireng pada hari Ahad, 4 Januari 2025 lalu. Maka, napak tilas ini  harus menjadi momentum refleksi, restrospeksi dan proyeksi ke depan supaya NU selalu relevan di tengah tantangan zaman yang terus berjalan secara dinamis dan kompetitif.
Nahdlatul Ulama tidak hanya organisasi yang lahir dari tuntutan sosial dan intelektual, tapi organisasi ini juga lahir dari dimensi spiritual transendental yang sangat kuat dan dalam. Ide pendirian NU sudah sejak tahun 1924 disampaikan KH. Abdul Wahab Hazbullah kepada Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Namun, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim belum menyetujui ide tersebut sebelum melakukan munajat dan muraqabah kepada Allah untuk mendapat petunjukNya. Ternyata petunjuk yang ditunggu-tunggu datang dari Syaikhana Muhammad Khalil bin Abdul Lathif Bangkalan Madura yang merupakan guru Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hazbullah.
Petunjuk pertama terjadi pada akhir tahun 1924 ketika Syaikhana Muhammad Khalil mengutus santrinya, KH. Raden As’ad Syamsul Arifin untuk mengantar tongkat dan Q.S. Thaha ayat 17-23 kepada Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Petunjuk kedua terjadi pada akhir tahun 1925 ketika Syaikhana Muhammad Khalil mengutus santri yang sama, yaitu KH. Raden As’ad Syamsul Arifin untuk mengantar tasbih dengan bacaan asmaul husna (Yaa Jabbar Yaa Qahhar, Tuhan Yang Maha Perkasa Maha Mengalahkan) kepada Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Ketika sampai di Tebuireng, Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengambil sendiri tasbih dari leher Kiai As’ad. Setelah itu, Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari bertanya kepada Kiai As’ad; “Apa tidak ada pesan lain dari Bangkalan ?”, Kiai As’ad menjawab: Yaa Jabbar Yaa Qahhar yang diulang tiga kali sesuai pesan Syaikhana Muhammad Khalil. Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari lalu berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperbolehkan kita mendirikan jam’iyah”.
Setelah proses spiritual yang sangat sakral-transendental inilah, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari memperkenankan Kiai Wahab Hazbullah membentuk ‘Komite Hijaz’ yang kemudian melahirkan organisasi besar ‘Nahdlatul Ulama’ (Choirul Anam, 2010: 71-73).
Kisah ini menunjukkan dimensi spiritual yang sangat dalam dari berdirinya NU. NU adalah organisasi yang didirikan oleh para ulama yang direstui para auliya’ karena mendapat restu langit. Oleh sebab itu, NU merupakan organisasi diniyyah (keagamaan) yang dalam pemikiran dan gerak langkahnya selalu merujuk kepada landasan keagamaan. Menurut KH. MA. Sahal Mahfudh (1992), NU didirikan ulama pengasuh pesantren yang mempunyai kesamaan wawasan, pandangan, sikap dan tata cara pemahaman, penghayatan dan pengajaran ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah demi izzul Islam wal muslimin.
Makna Transformatif
Dua petunjuk berdirinya NU di atas menarik diungkap makna esensial transformatifnya supaya generasi penerus NU sekarang dan akan datang selalu memahami latar historis berdirinya NU.
Tongkat adalah simbol komando yang harus dioptimalkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan sebagaimana tujuan utama agama Islam sebagai pembawa kasih sayang (rahmat) bagi seluruh alam. Tongkat adalah simbol koherensi, kepatuhan, dan kolektivitas yang sangat dibutuhkan dalam menggerakkan organisasi demi kemaslahatan umum.
Sedangkan Q.S. Thaha ayat 17-23 adalah sebagai berikut:
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa:”Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang alin padanya”. Allah berfirman:”Lemparkanlah ia, hai Musa!), Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman:”Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaanya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu’jizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.
Banyak pelajaran berharga dari ayat ini. Pertama, manusia sempurna adalah orang yang menyatukan aspek rohani dan jasmani, materi dan immateri, sehingga ia tidak seperti malaikat dan binatang. Manusia tidak boleh tenggelam dalam aspek rohani dengan melupakan pijakannya di muka bumi. Kedua, mukjizat disesuaikan dengan konteks masyarakat. Tongkat berubah menjadi ular menyesuaikan era raja Fir’aun yang banyak tukang sihirnya yang mengelabuhi orang dengan ular. Ketiga, kesungguhan dan kekuatan dalam menegakkan kebenaran akan melahirkan kehebatan yang disimbolkan dengan keluarnya putih cemerlang tanpa cacat seperti sinar matahari yang menyilaukan dan menarik perhatian dan menakjubkan bagi yang melihatnya (M. Quraish Shihab, 2021:7:572-576).
Adapun makna Yaa Jabbar adalah Wahai Allah Yang Maha Perkasa yang kehendaknya tidak bisa diingkari siapapun. Allah berkuasa memberikan kekayaan kepada orang miskin, membebaskan orang teraniaya, menyembuhkan orang sakit, dan lain-lain. Makna Jabbar ini banyak sekali dalam kehidupan. Antara lain: menjadi teladan dalam kebaikan dan menggunakan kewenangan dengan benar. Ia tidak hanya melakukan kebaikan, tapi mengajak orang lain melakukan kebaikan. Ia menjadi pelopor kebaikan. Ia juga menggunakan kewenangan secara benar (M. Syafii Antonio, 2013:76-79).
Sedangkan makna Yaa Qahhar adalah Wahai Allah Yang Maha Mengalahkan yang menunjukkan ketinggian dan keperkasaan. Imam Az-Zujaz memaknai al-Qahhar adalah Allah yang menjinakkan penentangNya dengan memaparkan bukti keesaanNya dan menundukkan pembangkangNya dengan kekuasaanNya serta mengalahkan semua makhluk dengan mencabut nyawanya. Dalam konteks kehidupan, makna Al-Qahhar antara lain: menundukkan egoisme dan mengalahkan kecintaan dunia dengan menjadikan dunia sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (M. Syafii Antonio, 2013:101-104).
Adapun makna tasbih adalah isyarat sifat kesempurnaan keagungan Allah yang meneguhkan bahwa Allah dibersihkan dari segala kekurangan (Muhammad Muhajirin Amsar, 2018:4:402).
Dari semua isyarah yang diberikan Syaikhana Muhammad Khalil kepada Hadlratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di atas menunjukkan keistimewaan dan kekuatan besar yang ada pada NU.
Nahdlatul Ulama mempunyai energi transformasi yang sangat dahsyat. Menurut KH. Abdul Wahab Hazbullah, NU adalah meriam yang bisa menghancurkan musuh. Namun para musuh melemahkan mental pengurus dan warga NU dengan mengatakan bahwa NU hanya gelugu yang tidak bermakna. Inilah yang harus disadari seluruh komunitas NU di semua tingkatan. Sejarah membuktikan kebenaran dawuh KH. Abdul Wahab Hazbullah di atas.
Tongkat Nabi Musa pada masanya mampu menghancurkan kemungkaran dan kebatilan di muka bumi. Maka, tongkat Syaikhana Muhammad Khalil yang berwujud organisasi Nahdlatul Ulama mampu menumpas kebatilan dan kemungkaran. Sejak berdirinya sampai sekarang tidak terhitung kekuatan yang ditunjukkan NU untuk memberantas kemungkaran dan kebatilan. Antara lain: menumpas kaum penjajah yang sudah mengeksploitasi bumi Indonesia selama 3.5 abad; mengeluarkan fatwa resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan yang menginspirasi perang besar pada tanggal 10 Nopember 1945 yang dikenal Hari Pahlawan; menumpas aksi PKI yang kejam; menegakkan stabilitas politik nasional dengan memberikan gelar waliyyul amri al-dlaruri bisy-syaukah kepada Presiden Ir. Soekarno; menetapkan Pancasila sebagai dasar bernegara; dan lain-lain.
Napak tilas sejarah berdirinya NU ini menjadi cambuk yang sangat berharga bagi seluruh komunitas NU untuk meneguhkan dimensi spiritualitas dalam organisasi NU dalam rangka menggapai ridlo Allah. Dimensi spiritualitas ini harus menggugah komunitas NU pada momentum 1 abad masehi ini untuk melakukan kontekstualisasi gerakan dakwah amar ma’ruf nahyi mungkar dengan program visioner produktif sehingga kehadiran NU senantiasa menebarkan kasih sayang, keadilan, kemanusiaan dan kemaslahatan lahir batin dari dunia hingga akhirat, amiin
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pentingnya Mengawal Kader NU Sejak Usia Dini

    Pentingnya Mengawal Kader NU Sejak Usia Dini

    • calendar_month Rab, 17 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

    Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) MTs Bustanul Ulum bersama PAC IPNU Wedarijaksa WEDARIJAKSA-Mengenal NU sejak dini sangat penting apalagi bagi masyarakat sudah berdomisili di tengah-tengah warga yang mayoritas Nahdliyyin. Tentu, mau tidak mau, kesadaran untuk membiasakan diri menjadi NU harus ditanamkan sejak kecil. MTs Bustanul Ulum Wedarijaksa, Pati adalah salah satu lembaga pendidikan yang sadar […]

  • YPMNU Pati Gelar Lomba Membatik untuk Anak-Anak

    YPMNU Pati Gelar Lomba Membatik untuk Anak-Anak

    • calendar_month Kam, 2 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Pncupati – Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) Kabupaten Pati mengadakan lomba membatik untuk anak-anak PAUD, Raudhatul Athfal (RA) dan Taman Kanak-Kanak (TK), di pendopo kabupaten, Kamis (2/10/2025). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional. Ketua YPMNU Kabupaten Pati, Nur Laili, mengatakan bahwa perlombaan membatik bagi anak-anak ini dilakukan secara serentak se-Jawa Tengah. […]

  • Sang Syaikh Sufi YANG SELALU BERSEMBUNYI Kisah-Kisah di sekitar kehidupan KH.Abdullah Salam

    Sang Syaikh Sufi YANG SELALU BERSEMBUNYI Kisah-Kisah di sekitar kehidupan KH.Abdullah Salam

    • calendar_month Jum, 9 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    C.Tawadlu’       Tawadlu’adalah sikap mbah dullah yang juga menonjol.Konon,saat fisiknya masih kuat,setiap bulan  ramadan sesekali beliau menghidangkan santapan sahur hasil masakan sendiri dan tak mau dibantu.Ketika masih sehat,beliau memang terbiasa mengerjakan sendiri semua kebutuhan sehari-harinya : mulai menyiapkan makanan,minuman sampai dengan mencuci barang pecah belah dan pakaiannya sendiri.Bahkan bagi sebagian tamu-tamunya,sering kali beliau sendiri tak […]

  • Yayasan PIM Mujahidin Bageng Kukuhkan Pengurus Baru, Bertekad Kembalikan Kejayaan

    Yayasan PIM Mujahidin Bageng Kukuhkan Pengurus Baru, Bertekad Kembalikan Kejayaan

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.332
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Jajaran Pengurus Yayasan Perguruan Islam Monumen (PIM) Mujahidin Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengukuhkan pengurus baru untuk masa khidmah 2025-2030. Pengukuhan dan serah amanah dilaksanakan di Pusat Kegiatan (Pusgia) PIM Mujahidin, Ahad (19/10/2025). Kegiatan ini ditandai secara simbolis dengan pengambilan ikrar pengurus yang dipimpin oleh Ketua Pembina Yayasan, H. Wahuri Muchtar. “Mudah-mudahan […]

  • Jakenan; Pelaksanaan PKPNU Pertama Tingkat MWCNU

    Jakenan; Pelaksanaan PKPNU Pertama Tingkat MWCNU

    • calendar_month Sel, 8 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Warta MWC NU: Jakenan Pada hari sabtu s/d Ahad tanggal 5-6 September 2015 MWCNU Kec Jakenan mengadakan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU). Jakenan menjadi MWC NU pertama yang telah melakukan PKPNU ini. “Dari panitia sangat bersyukur sekali dengan terlaksananya PKPNU ini, persiapannya bisa di bilang sangat cepat hanya dalam kurun waktu satu minggu saja, […]

  • Ahwa, K. Ahmad Syarwo Pimpin NU Tayu hingga 2024

    Ahwa, K. Ahmad Syarwo Pimpin NU Tayu hingga 2024

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    TAYU-Agenda Konferensi pengurus NU merupakan kegiatan wajib yang dijalankan lima tahun sekali oleh pengurus NU di betbagai tingkatan. Kali ini, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tayu Menggelar konferensinya untuk memilih pimpinan baru. Para pengurus baru MWC NU Tayu berpose bersama pengurus PCNU Pati usai konferensi.  “Tertib mrlakukan reotganisasi adalah bukti bahwa organisasi masih […]

expand_less