Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Makna Transformatif Kelahiran NU

Makna Transformatif Kelahiran NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
  • visibility 8.447
  • comment 0 komentar
Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
Dosen IPMAFA Pati, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning Pati
Sabtu, 31 Januari 2026 adalah momentum peringatan 1 abad NU versi Masehi karena NU dilahirkan pada 31 Januari 1926. Dalam momentum 1 abad ini, sudah seharusnya seluruh elemen NU mengingat dan merevitalisasi dimensi spiritualitas transformatif berdirinya NU. Napak tilas sejarah berdirinya NU sudah  dimulai dari Bangkalan sampai Tebuireng pada hari Ahad, 4 Januari 2025 lalu. Maka, napak tilas ini  harus menjadi momentum refleksi, restrospeksi dan proyeksi ke depan supaya NU selalu relevan di tengah tantangan zaman yang terus berjalan secara dinamis dan kompetitif.
Nahdlatul Ulama tidak hanya organisasi yang lahir dari tuntutan sosial dan intelektual, tapi organisasi ini juga lahir dari dimensi spiritual transendental yang sangat kuat dan dalam. Ide pendirian NU sudah sejak tahun 1924 disampaikan KH. Abdul Wahab Hazbullah kepada Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Namun, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim belum menyetujui ide tersebut sebelum melakukan munajat dan muraqabah kepada Allah untuk mendapat petunjukNya. Ternyata petunjuk yang ditunggu-tunggu datang dari Syaikhana Muhammad Khalil bin Abdul Lathif Bangkalan Madura yang merupakan guru Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hazbullah.
Petunjuk pertama terjadi pada akhir tahun 1924 ketika Syaikhana Muhammad Khalil mengutus santrinya, KH. Raden As’ad Syamsul Arifin untuk mengantar tongkat dan Q.S. Thaha ayat 17-23 kepada Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Petunjuk kedua terjadi pada akhir tahun 1925 ketika Syaikhana Muhammad Khalil mengutus santri yang sama, yaitu KH. Raden As’ad Syamsul Arifin untuk mengantar tasbih dengan bacaan asmaul husna (Yaa Jabbar Yaa Qahhar, Tuhan Yang Maha Perkasa Maha Mengalahkan) kepada Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Ketika sampai di Tebuireng, Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengambil sendiri tasbih dari leher Kiai As’ad. Setelah itu, Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari bertanya kepada Kiai As’ad; “Apa tidak ada pesan lain dari Bangkalan ?”, Kiai As’ad menjawab: Yaa Jabbar Yaa Qahhar yang diulang tiga kali sesuai pesan Syaikhana Muhammad Khalil. Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari lalu berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperbolehkan kita mendirikan jam’iyah”.
Setelah proses spiritual yang sangat sakral-transendental inilah, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari memperkenankan Kiai Wahab Hazbullah membentuk ‘Komite Hijaz’ yang kemudian melahirkan organisasi besar ‘Nahdlatul Ulama’ (Choirul Anam, 2010: 71-73).
Kisah ini menunjukkan dimensi spiritual yang sangat dalam dari berdirinya NU. NU adalah organisasi yang didirikan oleh para ulama yang direstui para auliya’ karena mendapat restu langit. Oleh sebab itu, NU merupakan organisasi diniyyah (keagamaan) yang dalam pemikiran dan gerak langkahnya selalu merujuk kepada landasan keagamaan. Menurut KH. MA. Sahal Mahfudh (1992), NU didirikan ulama pengasuh pesantren yang mempunyai kesamaan wawasan, pandangan, sikap dan tata cara pemahaman, penghayatan dan pengajaran ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah demi izzul Islam wal muslimin.
Makna Transformatif
Dua petunjuk berdirinya NU di atas menarik diungkap makna esensial transformatifnya supaya generasi penerus NU sekarang dan akan datang selalu memahami latar historis berdirinya NU.
Tongkat adalah simbol komando yang harus dioptimalkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan sebagaimana tujuan utama agama Islam sebagai pembawa kasih sayang (rahmat) bagi seluruh alam. Tongkat adalah simbol koherensi, kepatuhan, dan kolektivitas yang sangat dibutuhkan dalam menggerakkan organisasi demi kemaslahatan umum.
Sedangkan Q.S. Thaha ayat 17-23 adalah sebagai berikut:
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa:”Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang alin padanya”. Allah berfirman:”Lemparkanlah ia, hai Musa!), Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman:”Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaanya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu’jizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.
Banyak pelajaran berharga dari ayat ini. Pertama, manusia sempurna adalah orang yang menyatukan aspek rohani dan jasmani, materi dan immateri, sehingga ia tidak seperti malaikat dan binatang. Manusia tidak boleh tenggelam dalam aspek rohani dengan melupakan pijakannya di muka bumi. Kedua, mukjizat disesuaikan dengan konteks masyarakat. Tongkat berubah menjadi ular menyesuaikan era raja Fir’aun yang banyak tukang sihirnya yang mengelabuhi orang dengan ular. Ketiga, kesungguhan dan kekuatan dalam menegakkan kebenaran akan melahirkan kehebatan yang disimbolkan dengan keluarnya putih cemerlang tanpa cacat seperti sinar matahari yang menyilaukan dan menarik perhatian dan menakjubkan bagi yang melihatnya (M. Quraish Shihab, 2021:7:572-576).
Adapun makna Yaa Jabbar adalah Wahai Allah Yang Maha Perkasa yang kehendaknya tidak bisa diingkari siapapun. Allah berkuasa memberikan kekayaan kepada orang miskin, membebaskan orang teraniaya, menyembuhkan orang sakit, dan lain-lain. Makna Jabbar ini banyak sekali dalam kehidupan. Antara lain: menjadi teladan dalam kebaikan dan menggunakan kewenangan dengan benar. Ia tidak hanya melakukan kebaikan, tapi mengajak orang lain melakukan kebaikan. Ia menjadi pelopor kebaikan. Ia juga menggunakan kewenangan secara benar (M. Syafii Antonio, 2013:76-79).
Sedangkan makna Yaa Qahhar adalah Wahai Allah Yang Maha Mengalahkan yang menunjukkan ketinggian dan keperkasaan. Imam Az-Zujaz memaknai al-Qahhar adalah Allah yang menjinakkan penentangNya dengan memaparkan bukti keesaanNya dan menundukkan pembangkangNya dengan kekuasaanNya serta mengalahkan semua makhluk dengan mencabut nyawanya. Dalam konteks kehidupan, makna Al-Qahhar antara lain: menundukkan egoisme dan mengalahkan kecintaan dunia dengan menjadikan dunia sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (M. Syafii Antonio, 2013:101-104).
Adapun makna tasbih adalah isyarat sifat kesempurnaan keagungan Allah yang meneguhkan bahwa Allah dibersihkan dari segala kekurangan (Muhammad Muhajirin Amsar, 2018:4:402).
Dari semua isyarah yang diberikan Syaikhana Muhammad Khalil kepada Hadlratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di atas menunjukkan keistimewaan dan kekuatan besar yang ada pada NU.
Nahdlatul Ulama mempunyai energi transformasi yang sangat dahsyat. Menurut KH. Abdul Wahab Hazbullah, NU adalah meriam yang bisa menghancurkan musuh. Namun para musuh melemahkan mental pengurus dan warga NU dengan mengatakan bahwa NU hanya gelugu yang tidak bermakna. Inilah yang harus disadari seluruh komunitas NU di semua tingkatan. Sejarah membuktikan kebenaran dawuh KH. Abdul Wahab Hazbullah di atas.
Tongkat Nabi Musa pada masanya mampu menghancurkan kemungkaran dan kebatilan di muka bumi. Maka, tongkat Syaikhana Muhammad Khalil yang berwujud organisasi Nahdlatul Ulama mampu menumpas kebatilan dan kemungkaran. Sejak berdirinya sampai sekarang tidak terhitung kekuatan yang ditunjukkan NU untuk memberantas kemungkaran dan kebatilan. Antara lain: menumpas kaum penjajah yang sudah mengeksploitasi bumi Indonesia selama 3.5 abad; mengeluarkan fatwa resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan yang menginspirasi perang besar pada tanggal 10 Nopember 1945 yang dikenal Hari Pahlawan; menumpas aksi PKI yang kejam; menegakkan stabilitas politik nasional dengan memberikan gelar waliyyul amri al-dlaruri bisy-syaukah kepada Presiden Ir. Soekarno; menetapkan Pancasila sebagai dasar bernegara; dan lain-lain.
Napak tilas sejarah berdirinya NU ini menjadi cambuk yang sangat berharga bagi seluruh komunitas NU untuk meneguhkan dimensi spiritualitas dalam organisasi NU dalam rangka menggapai ridlo Allah. Dimensi spiritualitas ini harus menggugah komunitas NU pada momentum 1 abad masehi ini untuk melakukan kontekstualisasi gerakan dakwah amar ma’ruf nahyi mungkar dengan program visioner produktif sehingga kehadiran NU senantiasa menebarkan kasih sayang, keadilan, kemanusiaan dan kemaslahatan lahir batin dari dunia hingga akhirat, amiin
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Enam Rumah di Godo Winong Hanyut Diterjang Banjir Bandang

    • calendar_month Jum, 2 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 478
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Banjir bandang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Rabu (30/11/2022) lalu. Camat Winong, Luky Pratugas Narimo mengatakan, ada enam desa yang diterjang banjir bandang di kecamatan tersebut. Di antaranya Desa Kropak, Padangan, Danyangmulyo, Kudur, Gunungpanti, dan Godo. Ketinggian air bervariasi, mulai 1 hingga hampir 3 meter. Desa Godo, Gunungpanti, dan Kropak […]

  • Dapat Tamu dari PWI, LPS Cendekia Manahijul Huda Diberikan Pemahaman Literasi Media

    Dapat Tamu dari PWI, LPS Cendekia Manahijul Huda Diberikan Pemahaman Literasi Media

    • calendar_month Ming, 6 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 367
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Madrasah Aliyah (MA) Manahijul Huda, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti didatangi sejumlah awak media dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Sabtu (5/11/2022) pagi. Kedatangan para anggota PWI di Madrasah ini dalam rangka Roadshow Jurnalistik.  Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya literasi media.  Adapun Manahijul Huda menjadi sekolah pertama yang mendapatkan kunjungan para wartawan dari […]

  • PCNU-PATI

    Daun Yang Jatuh Tak Membenci Angin

    • calendar_month Sab, 12 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    Kehadirannya bagai seorang malaikat bagi keluargaku, dimana dia merengkuh ibu dan juga adikku dari kehidupan kelam hidup di jalanan yang miskin dan nestapa. Dia memberikan kebutuhan yang kami butuhkan baik itu makan, tempat berteduh, sekolah, dan juga janji-janji di masa depan yang lebih baik. Sungguh merupakan malaikat yang diberikan langit untukku, juga memberikan kami kasih […]

  • PCNU - PATI

    Cara Hidup Islam

    • calendar_month Sel, 16 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Ciri utama dari Din Al-Islam ialah ia tidak membenarkan sesuatu pertentangan,juga pemisahan yang ketara antara kehidupan kerohanian dan kehidupan dunia.Islam tidak sekadar membataskan dirinya untuk membina ketinggian kerohaniandan akhlaq semata-mata. Ruang lingkup peraturan yang dikemukakannyamencakupi segenap bidang kehidupan insan. la hendak melahirkan bukan sahajaketertiban hidup diri perseorangan malah ketertiban hidup masyarakat manusiaseluruhnya ke dalam pola-pola […]

  • Siswa MA Manahijul Huda Sabet Tiga Juara di Ajang Porseni

    Siswa MA Manahijul Huda Sabet Tiga Juara di Ajang Porseni

    • calendar_month Sel, 17 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 542
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Siswa Madrasah Aliyah (MA) Manahijul Huda Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat kabupaten, yang berlangsung pada Sabtu (14/6/2025) di MAN 1 Pati. Dalam ajang ini, siswa MA Manahijul Huda berhasil meraih juara dalam tiga cabang yang diperlombakan. Antara lain Juara 1 Bulutangkis […]

  • Tingkatkan militansi Kader, PAC IPNU IPPNU Tambakromo Gelar Diklatama

    Tingkatkan militansi Kader, PAC IPNU IPPNU Tambakromo Gelar Diklatama

    • calendar_month Sen, 30 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 382
    • 0Komentar

    PATI – Dalam upaya peningkatan kapasitas dan militansi pelajar Nahdlatul Ulama’ (NU), PAC IPNU IPPNU Kecamatan Tambakromo menggelar Pendidikan dan Pelatihan Pertama (Diklatama) bagi  Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP). Acara yang dilaksanakan di TK IT Yadus Salaf Desa Sinomwidodo Kecamatan Tambakromo berlangsung selama tiga hari sejak jum’at (27/12/2019) sampai hari minggu (29/12/2019) […]

expand_less