Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tadarus Data dan Filter Bubble

Tadarus Data dan Filter Bubble

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Feb 2026
  • visibility 9.277
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Kadang, saat judeg ketika nguji tesis atau skripsi mahasiswa, mereka puyeng tak bisa jawab, saya sering iseng tanya dengan pertanyaan receh.

Apa yang Anda maksud dengan data? Atau data itu apa? Karena mungkin grogi, atau sudah pening, mahasiswa itu jawab ke mana-mana. Padahal jawabannya simpel, data itu ya informasi. Ya, data itu informasi.

Dalam KBBI (2026), data adalah keterangan yang benar dan nyata, keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau simpulan). Sakjane simpel kan?

Ramadan dan Data

Mengapa judul artikel ini tadarus data? Kok tidak tadarus Al-Quran. Ya, tadarus kita nggak cuma Al-Quran tok to ya, data juga perlu kita tadarusi. Ramadan sangat identik dengan data. Soalnya ada hitungan rakaat Salat Tarawih, Salat Witir, jumlah hari puasa, jumlah juz dalam tadarus Al-Quran, hingga hitungan puasa Ramadan. Ya, yang jelas Ramadan memang selalu identik dengan pembersihan diri atau jiwa umat Islam. Mereka melaksanakan aktivitas menahan lapar, haus, dan amarah.

Akan tetapi di era jempol yang tak pernah berhenti bergulir ini, terdapat hal urgen lagi yang mendesak untuk dipuasakan. Apa itu? Ya, konsumsi informasi yang membabi buta. Ayo sejenak merenung, ketika kita duduk dengan posisi melingkar melaksanakan tadarus Al-Qur’an, di saku kita, ponsel tak henti “bertadarus” versinya sendiri, atau mengaji data dan menyuapi kita dengan apa yang ingin kita dengarkan.

Demikianlah fenomena yang kita sebut sebagai tadarus data. Apa maksudnya? Suatu ritual digital di mana kita menjadi jemaah setia dari mazhab algoritma. Haha

Namun masalahnya, apakah kita yang seperti itu terjebak pada gelembung sendiri?

Terjebak dalam Filter Bubble

Diakui atau tidak, sadar atau tidak, medsos kini menjadi “imam” sangat subjektif. Apa maksudnya, Mas Bro? Eli Pariser (2011), dalam buku bertajuk The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You telah mengingatkan dengan tegas, algoritma dirancang menjadi pelayan yang terlalu rajin. Jika umat Islam menyukai konten politik X, algoritma akan terus menyuguhkan varian dari konten X. Begti kira-kira pemahaman saya!

Dalam konteks ini, ketika terlalu manja dengan aktivitas medos, lambat laun umat Islam akan terkurung dalam Filter Bubble atau gelembung filter. Artinya, umat Islam merasa sedang melihat dunia yang luas, padahal mereka (termasuk kita dan saya lah) hanya sedang melihat sebuah cermin.

Maksudnya, kita dalam konteks ini kehilangan cara atau sebuah kekuatan untuk melihat perspektif orang lain karena algoritma menganggap “perbedaan” sebagai gangguan yang harus disaring. Di Ramadan karim ini, bukankah salah satu esensi puasa adalah empati? Lalu, bagaimana kita dapat berempati ketika dunia digital telah steril dari pandangan orang yang berbeda?

Riuh Rendah Ruang Gema

Akibatnya, lebih jauh dari hanya sebuah pilihan konten. Cass R. Sunstein dalam karyanya #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media berusaha keras menyampaikan bahwa echo chamber (ruang gema) memiliki sebuah fenomena khusus. Di ruang gema ini, suara manusia yang terbatas dipantulkan kembali oleh orang-orang dengan pemikiran serupa hingga terdengar seperti kebenaran mutlak. Makanya dulu itu kumpul “kampret dengan kampret”, “cebong dengan cebong”, “termul dengan termul”, dan lainnya.

Sebuah hoaks dalam echo chamber tidak lagi butuh logika untuk dipercaya. Lo la terus? Ia hanya butuh “amin” dari jutaan manusia pengguna medsos (netizen) di lingkaran kita. Ketika semua orang di lini masa medsos Anda mengatakan hal sama, otak kita secara evolusioner akan menganggapnya sebagai konsensus. Haha pola kerjanya memang demikian to? Nah, di sini letak bahayanya. Artinya, kita merasa sedang membela kebenaran, padahal apa yang kita lakukan itu ibarat “kita hanya sedang merayakan prasangka”.

Tabayun Digital dan Puasanya Akal

Sekali tabayun harus menjadi budaya dan tradisi. Sebab, Ramadan hakikatnya menjadi momentum terbaik untuk melakukan upgrade sistem operasi batin umat Islam di dunia. Ketika tadarus Al-Quran memiliki tujuan mendekatkan muslim pada kebenaran Ilahi, maka “tadarus data” yang sehat dan bijak hakikatnya harus mendekatkan umat Islam pada kejujuran intelektual.

Islam tentu sangat menyarankan kita untuk bertabayun, klarifikasi, atau check dan re-check. Di era algoritma saat ini, tabayun tidak sekadar anjuran, melainkan kewajiban digital. Sekali lagi “kewajiban digital”. Kita perlu sesekali “keluar” dari gelembung kita (filter bubble) tadi, yaitu membaca opini/asumsi yang paradoks, dan menyadari “kebenaran seringkali berada di luar zona nyaman jempol kita”. Begitu!

Ramadan tahun ini, ayo bareng-bareng kita wujudkan atau realisasikan sebagai ajang “diet informasi”. Algoritma jangan sampai mendikte siapa yang harus kita benci atau apa yang harus kita maki. Hahaha

Riilnya, puasa Ramadan kali ini, mari kita coba untuk melakukan beberapa hal. Pertama, mandek membagikan informasi hanya karena judulnya memuaskan emosi kita (untuk meruntuhkan echo chamber). Kedua, mengembalikan kedaulatan akal di atas algoritma. Ketiga, kita follow satu akun yang pemikirannya berseberangan dengan kita (untuk memecah filter bubble). Bisakah? Ya, ayo kita coba.

Pada akhirnya, kesucian hati hanya dapat digapai ketika umat Islam menstop konsumsi kebencian yang dibungkus sebagai informasi. Selamat bertadarus, baik pada ayat-ayat-Nya, maupun pada data-data yang bertebaran di layar kita. Lalu, tadarus apa lagi yang harus kita lakukan?

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Santri 2025, NU Ranting Ngagel beserta Banom Gelar Selawatan

    Hari Santri 2025, NU Ranting Ngagel beserta Banom Gelar Selawatan

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 3.901
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, beserta badan otonom (banom) menggelar pengajian umum dan gema selawat, Jumat (24/10/2025) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW serta Hari Santri 2025. Meski sempat hujan deras, namun jemaah tetap antusias hadiri kegiatan yang digelar di sebelah barat […]

  • Masjid Harus Ramah Anak

    Masjid Harus Ramah Anak

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    Masjid adalah bangunan pertama Nabi pasca hijrah. Masjid berfungsi sebagai pusat penyucian hati, pendalaman ilmu dan kaderisasi. Jamaah shalat lima waktu, termasuk shalat jumat, pengajian ilmu, dan mendidik kader-kader muda Islam sejak dini tentang akidah, ilmu Al Qur’an, dan syariat Islam adalah sebagian kegiatan masjid. Era Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, masjid benar-benar tempat yang ramah […]

  • MENGHIDUPKAN KEMBALI SPIRIT TRILOGI GERAKAN EMBRIO NU

    MENGHIDUPKAN KEMBALI SPIRIT TRILOGI GERAKAN EMBRIO NU

    • calendar_month Sen, 12 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 576
    • 0Komentar

                         Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Dalam kaitan ini, NU memiliki dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab keagamaan, untuk melestarikan dan membumisasikan Islam paham Aswaja, dan tanggung jawab sosial, untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. Dua tanggung jawab tersebut terejawantahkan dalam ranah pendidikan, ekonomi, kesehatan dan budaya, yang menjadi fokus gerakan dan […]

  • Konferwil III, Bupati Pendekar Jadi Ketua Pagar Nusa Jateng

    Konferwil III, Bupati Pendekar Jadi Ketua Pagar Nusa Jateng

    • calendar_month Sen, 16 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Mimbar Konferwil III Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Jawa Tengah yang akhirnya memenangkan Arief Rahman, Bupati Blora sebagai ketua PW Pagar Nusa masa khidmat 2021-2026 UNGARAN-Konferwil (Konferensi Wilayah) III Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa dihelat di Wuji, Bregas, Ungaran. Kegiatan ini memang telah usai Minggu (15/8) lalu, namun kisah unik di […]

  • PCNU Pati Lantik Pengurus KBIH ZAM-ZAM NU

    PCNU Pati Lantik Pengurus KBIH ZAM-ZAM NU

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 574
    • 0Komentar

    Berdasarkan  hasil keputusan KBIH Zam-Zam NU Pati Pada 16 Oktober 2015 bertempat di Gemilang Resto Juwana yang telah menetapkan ketua terpilih mengantikan ketua lama yaitu H. Sa’dullah dengan menyusun Pengurus KBIH Zam-Zam NU yang baru Periode II Tahun 2015-2019, maka terpilihlah H. Mustamaji sebagai Ketua yang baru.             “Harapan saya ketua yang baru ini akan […]

  • Langkah Nyata Menuju Organisasi yang Berdaya dan Mandiri dari MKKS SMK Maarif Se Jateng

    Langkah Nyata Menuju Organisasi yang Berdaya dan Mandiri dari MKKS SMK Maarif Se Jateng

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.764
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Purworejo, 30 Oktober 2025, Sebagai wujud tanggungjawab dan bentuk dukungan konkret untuk mewujudkan visi organisasi yang berdaya dan mandiri, LP Ma’arif NU Jawa Tengah bersama Musyawaroh Kepala Sekolah (MKKS) SMK Ma’arif NU Jawa Tengah menggelar kegiatan Rapat Koordinasi. Kegiatan tersebut juga sekaligus penyerahan bantuan dana operasional kepada MKKS SMK Ma’arif NU Jawa Tengah. […]

expand_less