Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ngabuburit: Religiusitas dan Budaya Mbadog

Ngabuburit: Religiusitas dan Budaya Mbadog

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 6 Mar 2025
  • visibility 406
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Saya tidak tahu, sejak kapan ada tradisi ngabuburit. Namun, sebenarnya tradisi ini makin populer ketika sejumlah televisi menjadikannya sebagai acara tiap menjelang berbuka puasa saat Ramadan. Akhirnya, tradisi ini membudaya di kalangan remaja muslim dengan beragam ekspresi.

 

Ngabuburit merupakan istilah khas dalam budaya Sunda yang bermakna “ngalantung ngadagoan burit,” atau bersantai-santai menunggu waktu sore. Kata “burit” sendiri berarti senja, waktu yang dimaksud dalam konteks Ramadan adalah selepas salat Asar hingga menjelang Magrib. Waktu ini biasanya antara usai salat Asar hingga sebelum matahari terbenam. Ngabuburit menurut bahasa adalah menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Namun, kebanyakan budaya makan (mbadog) itu berlebihan saat berbuka puasa.

 

Dalam budaya masyarakat Indonesia, ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi tradisi sosial yang memperkuat kebersamaan, refleksi spiritual, dan sayangnya, dalam beberapa kasus, diwarnai oleh budaya makan berlebihan atau “mbadog” saat berbuka puasa.

 

Ngabuburit dan Religiusitas

Secara esensial, ngabuburit adalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Waktu menjelang berbuka seharusnya dimanfaatkan dengan kegiatan positif seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, mendengarkan kajian agama, atau berbuat kebajikan. Tradisi ini selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat.

 

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ngabuburit sering kali dijadikan momen untuk sekadar berjalan-jalan, nongkrong di tempat keramaian, atau bahkan sekadar berburu takjil tanpa menambah aspek ibadah di dalamnya. Padahal, Nabi Muhammad saw. menganjurkan agar umatnya memaksimalkan ibadah di waktu-waktu yang penuh berkah ini.

 

Secara etimologis, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu sore. Dalam konteks Ramadan, ngabuburit diartikan sebagai kegiatan menunggu azan Magrib untuk berbuka puasa. Namun, ngabuburit tidak hanya sekadar menunggu waktu. Lebih dari itu, ngabuburit dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Beberapa kegiatan ngabuburit yang bernilai religius sangat melimpah. Pertama, membaca, tadarus atau nderes Al-Quran. Mengisi waktu ngabuburit dengan membaca Al-Quran dapat menenangkan hati dan pikiran. Selain itu, membaca Al-Quran juga dapat menambah pahala di bulan Ramadan. Kedua, mengikuti kajian, entah bersifat bandongan atau sorogan. Saat ini, banyak sekali kajian yang diadakan secara daring maupun luring, termasuk saat ngabuburit. Mengikuti kajian dapat menambah wawasan keagamaan dan memperkuat keimanan. Ketiga, berzikir dan berdoa. Waktu ngabuburit adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Perbanyaklah berzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.

 

Budaya Mbadog: Euforia Berbuka yang Berlebihan

Ironisnya, setelah seharian berpuasa menahan lapar dan haus, sebagian masyarakat justru terjebak dalam budaya “mbadog,” atau makan secara berlebihan saat berbuka. Fenomena ini terlihat dari beragam menu berbuka yang tersaji dalam jumlah berlebih, serta kebiasaan membeli makanan dalam porsi besar tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh. Islam sendiri mengajarkan prinsip keseimbangan dalam makan dan minum. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Berbuka dengan sederhana sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. justru lebih menyehatkan dan mengajarkan kontrol diri. Rasulullah hanya berbuka dengan kurma dan air sebelum melanjutkan makan malam dengan porsi yang wajar. Hal ini menandakan bahwa esensi puasa bukanlah menahan lapar semata, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu, termasuk dalam urusan konsumsi.

 

Salah satu tradisi yang seringkali menyertai ngabuburit adalah berburu takjil dan makanan untuk berbuka puasa. Namun, tak jarang budaya mbadog atau makan berlebihan saat berbuka puasa menjadi sebuah kebiasaan yang kurang baik. Padahal, makan berlebihan dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (waktu dan tempat) kamu salat, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap menjaga pola makan yang sehat dan tidak berlebihan saat berbuka puasa.

 

Mengembalikan Makna Ngabuburit yang Sejati

Agar ngabuburit lebih bermakna, perlu ada upaya untuk mengarahkan tradisi ini kembali ke jalurnya. Ngabuburit dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat jika diisi dengan kegiatan yang positif. Banyak cara yang bisa dilakukan agar ngabuburit tetap religius dan tidak berujung pada budaya mbadog. Pertama, mengisi waktu dengan ibadah. Daripada sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan, gunakan waktu menjelang berbuka untuk membaca Al-Qur’an, mendengar ceramah agama, atau berdiskusi tentang ilmu Islam.

 

Kedua, berburu takjil dengan bijak. Jika ingin membeli makanan berbuka, pilihlah dengan porsi yang cukup dan tidak berlebihan agar tidak terjebak dalam konsumsi yang berlebihan. Ketiga, berbuka secara sederhana. Mulailah berbuka dengan kurma dan air putih, lalu makan dengan porsi secukupnya setelah salat Magrib. Keempat, meningkatkan kepedulian sosial. Memanfaatkan ngabuburit untuk berbagi dengan sesama, misalnya dengan ikut serta dalam kegiatan berbagi takjil gratis atau memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan.

 

Kelima, berolahraga ringan. Sambil menunggu waktu berbuka, Anda bisa melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Keenam, menulis atau menggambar. Jika Anda memiliki hobi menulis atau menggambar, ngabuburit bisa menjadi waktu yang tepat untuk menyalurkan kreativitas Anda. Saya sendiri pun konsisten menulis artikel di pcnupati.or.id untuk mengisi waktu luang selama Ramadan. Ketujuh, berkebun. Bagi Anda yang memiliki halaman rumah, berkebun bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat saat ngabuburit.

 

Ngabuburit adalah tradisi yang memiliki nilai-nilai religius dan sosial yang kuat. Namun, kita juga perlu bijak dalam menyikapi budaya mbadog yang berlebihan. Mari jadikan ngabuburit sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan mengisi waktu dengan kegiatan yang sehat dan produktif.

 

Ngabuburit seharusnya menjadi momen untuk memperkuat spiritualitas dan menyiapkan diri menyambut berbuka dengan penuh kesadaran. Sayangnya, tradisi ini kerap berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan yang bertolak belakang dengan nilai utama puasa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengembalikan makna ngabuburit yang sesungguhnya: bukan sekadar menunggu berbuka dengan aktivitas hiburan semata, tetapi juga memperbanyak ibadah dan menjaga keseimbangan dalam pola makan. Dengan demikian, Ramadan benar-benar menjadi bulan penuh berkah yang membawa perubahan positif dalam kehidupan kita

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    NU Jepara Bantu Korban Bencana Pati, Ketua LAZISNU Pati Terharu

    • calendar_month Jum, 16 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Kerja sama antara lembaga bahkan antar kabupaten dalam ruang lingkup NU memang sudah seharusnya terjadi. Terutama dalam situasi dan kondisi yang serba krusial seperti dialami oleh para korban bencana alam di Kabupaten Pati. Hal inilah yang diungkapkan oleh Niam sutaman, Ketua Lazisnu PCNU Pati.  Ia menyebut, banjir yang datang di beberapa wilayah di […]

  • PCNU - PATI

    Usai Ikuti Diklat Persidangan, PC Imbau Seluruh PAC Turba ke Ranting

    • calendar_month Sab, 11 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 293
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Pati mengimbau seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) mengadakan follow up setelah mengikuti kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Persidangan. Wakil Ketua I PC IPNU Pati, Rekan Ahmad Khoirul Anam mengatakan bahwa imbauan ini bertujuan agar pengetahuan yang didapat dari Diklat Persidangan dapat tersampaikan ke Pimpinan Ranting. “Ilmu Diklat persidangan […]

  • Kak Shobirin Pimpin Sakomanu Jateng 2024-2029

    Kak Shobirin Pimpin Sakomanu Jateng 2024-2029

    • calendar_month Sab, 26 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Semarang – Kakak H. Shobirin secara resmi terpilih menjadi Ketua Satuan Komunitas Pramuka Pandu Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029 dalam Musyawarah Daerah (Musda) II Sakomanu Jateng di Hotel Muria Semarang, Sabtu (26/10/2024). Terpilihnya Ketua Sakomanu Jateng dituangkan dalam Surat Keputusan Sidang Pleno Musyawarah Daerah (Musda) II Sakomanu Jawa Tengah Nomor: 005/MUSDA.SAKOMANU JTG/2024 tentang […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Alquran: Kitab Suci STEM

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.091
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Dalam ruang badan riset, lembaga penelitian, atau lorong-lorong kampus, laboratorium modern, atau kelas santifik, idiom Science, Technology, Engineering, and Mathematics alias STEM akrab dinilai sebagai simbol kemajuan peradaban Barat. Kayake memang ngono! Jadi, banyak orang menilai bahwa STEM adalah produk murni modernitas yang lahir dari revolusi ilmiah Eropa, taka da […]

  • PCNU-PATI Photo by Pawel Czerwinski

    Kecerdasan Sayyidina Hasan Ar-Ridho

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Oleh : Muhammad Rofiq Dikisahkan bahwa Abu Hayyan merupakan seorang guru dalam Ilmu Nahwu.Pada suatu malam, Abu Hayyan bermimpi melihat Sayyidah Fatimah Az-Zahra memenggam tangan kedua putranya yang masih kecil, yaitu Sayyidina Hasan Ar-Ridho dan Sayyidina Husein Al-Murtadho. Kemudian Sayyidah Fatimah Az-Zahra berkata kepadanya : “ Wahai Abu Hayyan, Tolong ajarilah kedua putraku ini tentang […]

  • LP Ma'arif NU PCNU Kudus Siapkan Program Peningkatan Kompetensi Jurnalistik bagi Guru

    LP Ma’arif NU PCNU Kudus Siapkan Program Peningkatan Kompetensi Jurnalistik bagi Guru

    • calendar_month Sen, 28 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 354
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama LP Ma’arif NU PCNU Kudus tengah menyiapkan program penguatan literasi bagi guru tingkat SMA/MA/SMK. Tim pengabdian terdiri atas tujuh orang, yaitu Abdul Arif, Edi Subkhan, Muhammad Nazil Iqdami dari Prodi Teknologi Pendidikan UNNES. Lalu Farida Rachmawati dari Prodi KPI UIN Walisongo. Serta tiga mahasiswa UNNES, […]

expand_less