Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Suluk Maleman Pekan Ini Membahas Masyarat Paria

Suluk Maleman Pekan Ini Membahas Masyarat Paria

  • account_circle admin
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 16.743
  • comment 0 komentar

Sebuah pertanyaan satir menyeruak saat Budayawan Anis Sholeh Ba’asyin membuka NgAllah Suluk Maleman pada Sabtu (18/7) malam. Dia melempar pertanyaan tentang apa sebenarnya yang dicari manusia di dunia ini.
Meski terasa sederhana, namun pertanyaan ini merupakan upaya eksplorasi filosofis mengenai sifat manusia, keberadaan, dan kondisi manusia di era modern.
Anis Sholeh Ba’asyin menantang para hadirin untuk merenungkan apakah apa yang sejatinya mereka kejar. Apakah kekayaan, kekuasaan, atau status merupakan kebutuhan sejati atau pengaruh yang didorong oleh tekanan eksternal, budaya, dan kekuatan sistemik modern?
Menurut Anis, manusia seolah-olah dikejar-kejar oleh kebutuhan; padahal seringkali itu bukan kebutuhan melainkan keinginan.
“Sekarang ini batas antara keinginan dan apa yang benar-benar kebutuhan menjadi bias. Kita menganggap semua keinginan harus terpenuhi sehingga memosisikan kita sebagai pengemis dunia. Pada dasarnya kita memang dikondisikan menjadi paria, menjadi masyarakat faqir yang setiap hari dipaksa mengemis dunia,” ucap Anis satir.
Anis menyebut bahwa saat ini orang dikondisikan untuk tidak pernah merasa puas terhadap apa pun yang sudah dia dapat. Dan pada tahap tertentu, ini merupakan sumber lahirnya kriminalitas.
“Jika dirunut, perampokan, korupsi sampai penghancuran alam secara membabi buta pada dasarnya berawal dari kontruksi yang sama, yaitu dari kondisi tidak pernah puas. Kondisi yang telah menjadi standar baru gaya hidup,” imbuh dia.
Anis mencatat bagaimana orang sering merasa dipaksa untuk mengadopsi gaya hidup modern, mulai dari kebutuhan akan listrik sampai dengan konektivitas terus-menerus melalui ponsel pintar misalnya, yang setahap demi setahap mengubah pola perilaku, harapan dan kecemasannya.
Anis menceritakan, dulu para petani memiliki peradaban yang tampak berjalan lebih lambat namun terasa menenangkan. Mereka hanya bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Sehingga memiliki waktu yang cukup untuk merenung, mencari makna dan nilai kerohanian.
“Kebutuhan hidup mereka belum terlalu kompleks, sehingga punya banyak waktu untuk menghayati dan merenungi kehidupan; tanpa merasa dikejar-kejar sesuatu,” imbuh dia.
Manusia saat ini, lanjut Anis, terus menerus disuguhi fatamorgana air di tengah gurun. Kita dikondisikan untuk terus mengejar, meski tak akan pernah menemukan. Kita hanya hanya terus berlari meski sebenarnya tanpa pencapaian apa pun.
Anis juga menyinggung narasi modern tentang kelangsungan hidup dan mengkritik pola pikir berdasar hukum seleksi alam yang diimpor dari ideologi Barat. Kecuali menyuguhkan fatamorgana, modernitas juga menanam pola pikir yang menciptakan keadaan konflik dan persaingan yang tak berkesudahan dan tidak perlu. Kombinasi kedua hal ini mengekploitasi sifat-sifat buruk manusia.
“Hidup kita dikondisikan terus saling berkejaran dan saling membinasakan untuk mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa memuaskan kita. Itu yang merangsang orang berebut kekuasaan dan menghancurkan bumi tanpa pernah berfikir tentang nasib anak cucunya. Lalu apa yang dicari?” ucap dia.
“Karena peradaban kita dikendalikan oleh sifat tamak, maka yang paling beruntung adalah yang mampu mensucikan hatinya. Membersihkan hati supaya tidak terkontaminasi oleh sifat-sifat tersebut. Kita diberi Allah kemampuan untuk mengolah hal negatif dari luar menjadi positif di dalam diri. Seburuk-buruk diluar tidak meracuni diri kita jika punya filter yang canggih, yakni hati kita,” ingat Anis.
Oleh karena itu Anis mengingatkan jika saat ini harus memiliki pijakan dan ukuran yang kuat. Mencari apa yang ada di dunia harus direnungkan setiap hari agar tidak salah arah. Orang yang tak punya pijakan bisa salah menempatkan sesuatu yang tidak penting menjadi penting, begitu pula sebaliknya.
Untuk mengatasi kegelisahan dalam kehidupan modern, Anis menekankan pentingnya dzikir, mengingat Allah. Dzikir bukan sekadar ritual, melainkan sebagai cara untuk menemukan keridhaan, kepuasan, penerimaan dan kedamaian di dalam hati, yang menghubungkan diri manusia kembali ke asal-usulnya.
“Maka salat lima waktu dan membaca Qur’an mengingatkan kita kembali ke jalan itu. Seolah-olah sedang bercakap dengan Allah. Allah itu guru, maka setiap saat kita butuh dibimbingnya. Karena tujuan hidup kita hanyalah dari Allah menuju Allah,” imbuh dia.
Sementara itu budayawan, Nur Cahyo juga menyebut di Jawa ada istilah “ndok amun-amun”. Istilah itu juga mengingatkan pada sesuatu yang bersifat fatamorgana. Sekencang apapun orang mengejar maka tidak akan terkejar.
“Dunia ini bagai ndok amun-amun, kemana kita kejar tetap tidak akan terkejar,” imbuh dia.
Topik bahasan yang begitu menyentil itu membuat ratusan masyarakat antusias menyaksikan baik datang secara langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal media sosial Suluk Maleman. Suasana kian hangat dengan iringan musik Sampak GusUran dan Hadrah Syubbanul Muttaqin.

Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Apa Yang Kau Cari?” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (18/7).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Pancasila dan Tiga Model Ukhuwah

    • calendar_month Sab, 19 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Oleh: Siwanto, MA Dalam perjalanan ‘melahirkan’ Indonesia, penetapan Pancasila sebagai dasar Negara merupakan suatu model penting. Sebab, penetapan Pancasila juga merupakan suatu trasformasi budaya yang tidak mudah untuk memadupadankan sekaligus menyatukan adanya kepelbagian. Bahkan jika melihat fakta-fakta historis, bangsa Nusantara telah memiliki modal sosial yang sangat berharga, suatu karakter kepribadian yang khas. Karakter itu tercermin […]

  • Ketua PWNU Jateng Akan Beri Sambutan Sosialisasi Majalah Ma’arif

    Ketua PWNU Jateng Akan Beri Sambutan Sosialisasi Majalah Ma’arif

    • calendar_month Sel, 17 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 557
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah akan menggelar Sosialisasi Majalah Ma’arif / Majalah Mopdik edisi Tahun Pelajaran 2025/2026 pada Rabu, 18 Juni 2025 pukul 08.30 WIB melalui platform Zoom Meeting. Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa kegiatan […]

  • Nalar Kritis Abu Bakar ash Shiddiq

    Nalar Kritis Abu Bakar ash Shiddiq

    • calendar_month Kam, 23 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq selalu menjadi trending topik di kalangan da’i terutama menjelang peringatan hari agung isro’ mi’roj. Pasalnya, dialah tokoh islam yang seketika membenarkan klaim Nabi Muhammad yang menyatakan telah mengunjungi Palestina lalu naik menuju langit ke-tujuh dalam waktu semalam. Sebagai catatan, Nabi melaksanakan kegiatan luar biasa tersebut […]

  • Unik! Ditengah Ramadhan, Pelajar NU Margoyoso Gelar Ngaji Budaya

    Unik! Ditengah Ramadhan, Pelajar NU Margoyoso Gelar Ngaji Budaya

    • calendar_month Sen, 25 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 371
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Margoyoso menggelar Gebyar Ramadan dan Workshop Kebudayaan. “Ngaji Budaya” bersama sejarawan muda Pati ini bertempat di Aula Serbaguna Kecamatan Margoyoso, Minggu (24/4/2022) Puluhan delegasi dari pimpinan ranting sekecamatan Margoyoso memadati lokasi dengan penuh antusias. Acara tersebut diisi […]

  • PCNU-PATI

    Rumi

    • calendar_month Sen, 24 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Oleh: M Iqbal Dawami Mungkin ada yang belum tahu Jalaluddin Rumi. Ia adalah sufi cum penyair yang terkenal. Ia berasal dari Balkh, Afghanistan. ia belajar tasawuf kepada beberapa guru, tapi yang paling mempengaruhinya adalah Syamsuddin al-Tabrizi atau Syamsi Tabriz. Sebelum tampil menjadi ahli tasawuf Rumi adalah seorang guru yang memiliki banyak murid. Sekian lama mengajar, […]

  • PCNU-PATI Photo by Leo Sagala

    Jalan Kaki

    • calendar_month Sen, 19 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Dear kawan. Ada sebuah buku yang menurut saya layak Anda baca. Judulnya A Philosophy of Walking karya Frederic Gros. Jangan-jangan Anda sudah membacanya? Syukurlah jika sudah baca. Tapi anggap saja Anda belum membacanya biar saya punya alasan untuk menulis ini. Buku ini sudah diterjemahkan oleh penerbit Renebook dan terbit pada […]

expand_less