Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Suluk Maleman, Menyoal Kita, Agama dan Kuasa

Suluk Maleman, Menyoal Kita, Agama dan Kuasa

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 24 Mei 2026
  • visibility 15.361
  • comment 0 komentar

Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini. Persoalan itu menjadi bahasan dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (23/5) malam.

Anis Sholeh Ba’asyin menyebut kasus dugaan pelecehan santriwati di Pati menjadi salah satu bentuk dari penyimpangan relasi kuasa. Dimana seorang dukun atau ada yang menganggap kiyai atau tokoh, telah menyalahgunakan wewenangnya.
Sejumlah sumber menyatakan bahwa tersangka dalam dugaan pelecehan tersebut bukanlah kiyai, melainkan dukun yang kemudian membuat lembaga pendidikan berbentuk pesantren. Hal itu yang kemudian membuat Anis kembali teringat pesan gurunya.
“Saya teringat pesan guru saya, Mbah Dullah Salam. Beliau pernah mengatakan bahwa banyak yang dianggap kiyai tapi sebenarnya dukun. Banyak dukun yang berpakaian kiyai,” ujar dia.

Istilah dukun bagi Anis sendiri telah mengalami pergeseran makna. Dalam istilah Jawa, dukun identik dengan orang yang dianggap punya keahlian tertentu, dan tidak serta merta berkonotasi klenik.
“Kalau diingat dulu itu ada dukun bayi, dukun pijat, dukun sunat. Artinya bukan soal klenik, tapi penyebut bagi orang yang dianggap pintar atau cerdas. Namun ironisnya sekarang muatan maknanya lebih bergeser ke hal klenik,” imbuh dia,
Begitu pula dengan istilah kiyai yang berasal dari “ki” dan “yai”. Dalam pemahaman Jawa, “ki” merupakan istilah lelaki yang dihormati sementara “yai” menunjukkan sesuatu yang terhormat, besar dan agung.
“Kalau diingat Kiyai di Jawa, penyebutannya tidak hanya untuk manusia. Tapi bisa juga untuk keris atau pusaka hingga kerbau yang dihormati,” imbuh dia.

Kalangan ulama kemudian mendefinisikan kiyai sebagai orang yang punya ilmu kegamaan lengkap dan mampu mengaplikasikan pada dirinya. Sehingga ilmu itu selain untuk diajarkan juga diaplikasikan ke diri agar dapat menjadi teladan di sekitarnya.
“Karena akhlak dan adab jadi dihormati dan dituakan di lingkungan,” tambah dia.

Dalam kesempatan itu dia juga mengingatkan kembali adanya perbedaan antara mistika dan magi. Dalam tasawuf lebih dekat dengan hal yang disebut mistika, yakni perjalanan orang yang menempuh sisi rohani untuk melakukan pendekatan pada Allah.
“Saat itu, biasanya dia akan mendapatkan semacam kemampuan. Itu sebenarnya godaan bukan kelebihan bahkan bisa berbahaya,” ucap dia.
Selain kemampuan, dalam tasawuf juga disebutkan di tingkatan mendekati kebenaran atau membersihkan diri biasanya justru ada fase yang berbahaya terkait godaan syahwat. Maka disitulah harus belajar bagaimana menahan nafsu dan syahwat.
“Maka dalam toriqoh, pengawasan guru atau mursyid terhadap murid sangat ketat,” tambah dia

Hal itu sangat berbeda dengan magi, yang lebih dekat dengan pengertian sihir. Salah satu pengertian magi menurut Anis, adalah bentuk pemanfaatan kekuatan alam atau supra natural untuk kepentingan manusia. Berbeda dengan sains, masyarakat yang cara berpikirnya masih dikuasai magi secara gaib, akan lebih mengandalkan jalan pintas, dengan memotong proses dalam menjalani hidupnya.
“Saat masyarakat umum masih dikuasi cara berpikir magis, maka biasanya akan muncul orang yang memanfaatkannya. Mereka memanfaatkan secara psikologis kemampuan maginya untuk membuat takut, waswas dan lainnya. Menjajah pihak lain karena punya kemampuan tertentu, itu sihir namanya,” imbuh dia.

Di situlah terjadi penyalahgunaan relasi kuasa. Tak hanya soal dukun atau oknum kyai, namun bisa terjadi dimana saja saat satu pihak punya kekuasaan lebih dibanding lainnya. Bisa bapak-anak, guru-murid, atasan-bawahan, pemimpin-rakyat. Penyalahgunaannya juga tak hanya seksual tapi bisa dalam bentuk apa saja,” imbuh dia.

“Agama, politik, budaya pasti melahirkan kuasa. Masalah, apakah digunakan ke arah positif atau negatif? Mari jernihkan cara berfikir. Kalau ada oknum kiai jangan salahkan sistemnya tapi personalnya. Kita juga harus ingat, barokah juga bukan seperti yang dipahami saat ini. Barokah itu saat silaturahmi pada kiyai atau orangtua kemudian kita ditambah ilmu dan didoakan,” imbuh dia.

Hanya saja masyarakat saat ini seolah ingin terburu-buru. Baik untuk menjadi kaya, mencari jodoh dan lainnya kemudian datang ke dukun dengan pendekatan magi atau sihir tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat kekacauan serta memunculkan potensi terjadinya penyalahgunaan relasi kuasa tersebut.

“Logika magi itu cirinya biar cepat mencapai hasil. Lebih mengandalkan jalan pintas, dengan memotong proses Berbeda dengan agama yang mengajarkan istiqomah,” tambah dia.
Anis juga menekankan betapa pentingnya bertanya dalam belajar agama. Bahkan dalam belajar ilmu syariat diwajibkan bertanya sampai tuntas.
“Masyarakat kita sebenarnya masyarakat yang taqdim begitu pula dalam tradisi pesantren. Hal itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah dan berbeda dengan sistem feodal. Kelemahannya terkadang kita hanya takut bertanya,” imbuh dia.

Sementara itu KH. A. Nawawi Cholil dari Rembang menyebut prihatin peristiwa dugaan pelecehan santriwati di Pati berdampak pembullyan pesantren secara menyeluruh. Dimana hal itu dilakukan oleh seorang oknum yang berdampak begitu luas.
“Jangan sampai memvonis seluruh pondok. Indonesia dianggap kuat justru karena pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU). Banyak negara besar yang kemudian pecah. Tapi alhamdulillah Indonesia tak mengalaminya. Salah satunya berkat adanya jaringan pondok pesantren,” ujar dia.
Dia menyebut terjadinya penyalah-gunaan kuasa adalah lantaran ilmu tidak didasarkan pada hati. Meski alim, namun jika ilmu hanya ada di otak, maka yang terjadi hanyalah nafsu.

“Maka rezeki yang paling nikmat itu adalah ilmu yang letaknya di dada. Sementara yang paling rendah itu materi di atasnya itu kesehatan. Ilmu yang hanya di otak hanya akan melahirkan hitung-hitungan saja. Saat bersedekah saya bisa dapat apa?” imbuh dia.
Kyai Nawawi juga kembali mengingatkan pesan dari Mbah Maimoen Zubair. Dalam pesannya, disebutkan ada empat kunci agar hidup dapat mulia. Diantaranya yakni punya pekerjaan, punya wiridan, punya tabungan untuk akhirat serta punya ilmu menahan diri.
“Punya ilmu ngempet baik nafsu, atau bahkan dalam mengkritik pemerintah juga harus ngempet. Boleh mengkritik tapi tetap ada tatanannya,” ujar dia.

Topik yang begitu hangat itu mampu membuat ratusan orang menyaksikan baik datang langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal media sosial Suluk Maleman, mampu bertahan sampai akhir kajian. Iringan dari musik Sampak GusUran juga kian menghangatkan jalannya ngaji budaya tersebut.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Matsna Ajak Kader IPNU Sambut Bulan Ramadan dengan Kegiatan Positif

    Matsna Ajak Kader IPNU Sambut Bulan Ramadan dengan Kegiatan Positif

    • calendar_month Sel, 5 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Pati, Matsna Zakiyyatus Salwa mengajak seluruh kader mengadakan kegiatan positif dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan. “Sebagai pelajar mari kita lebih kokohkan semangat dalam belajar berjuang dan bertaqwa yang merupakan perinsip perjuangan dan jati diri seorang pelajar,” ungkapnya. Ia mencontohkan, kegiatan yang dapat […]

  • Belajar Nasionalisme Dengan Para Ulama

    Belajar Nasionalisme Dengan Para Ulama

    • calendar_month Sel, 30 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 447
    • 0Komentar

    Pati. Berdirinya NU tidak bisa lepas dari peran ulama sebagai pendiri, penggerak, dan pengembang organisasi. Kader-kader muda NU harus belajar kepada para ulama NU supaya mampu mengembangkan NU di masa depan. Demikian paparan KH. Abdul Majid, Wakil Rais Syuriyah MWC NU Trangkil dan Ustadz Muhammad Hambali, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dalam acara Orientasi Aswaja […]

  • Sumbang Kurungan untuk Ikut Atasi Corona

    Sumbang Kurungan untuk Ikut Atasi Corona

    • calendar_month Sab, 18 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 439
    • 0Komentar

    Kurungan burung sumbangan Imam Muslih untuk warga terdampak corona PATI-Unik, begitu kata yang muncul pertama kali saat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Joyo Kesumo Pati menerima kiriman tak lazim. Bingkisan tersebut berupa sebuah kurungan burung berukuran 30 cm × 50 cm. Benda tersebut merupakan pemberian dari seorang pengrajin kurungan burung asal Desa Ranggah Metaraman […]

  • Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

    Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

    • calendar_month Kam, 16 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.803
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Semarak bola Indonesia tengah gundah gulana. Kisah-kisah manis Shin Tae-yong terpaksa harus segera menjadi kenangan. Sedangkan nakhoda baru, Patrick Kluivert datang berlapis tuxedo dan berjalan diatas karpet merah bermerk PSSI dengan penuh kepercayaan diri. Self confident seorang Kluivert jelas nampak saat berhadapan dengan Najwa Shihab dalam sebuah wawancara. Meski sesekali […]

  • KH. Idris Kamali, salah satu menantu Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari

    Kyai Idris Kamali, Menantu Kyai Hasyim yang Jika Namanya Disebut, Jin Lari Tunggang Langgang.

    • calendar_month Sen, 25 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 674
    • 0Komentar

    KH. Idris Kamali, salah satu menantu Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari KH. Idris Kamali adalah sepupu ibu saya, Afifah binti Harun bin Abdul Jalil. Kalau KH. Idris bin Kamali bin Abdul Jalil. Kiai Abdul Jalil berasal dari Ndoro, Pekalongan. Pergi ke Kedondong Cirebon, mendirikan pondok di Kedondong. Kini pondok tersebut sudah tidak ada. Punya anak namanya […]

  • Utamakan Etikabilitas Ketimbang Elektabilitas

    Utamakan Etikabilitas Ketimbang Elektabilitas

    • calendar_month Jum, 28 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 688
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id- Membincang moral atau etika memang saat ini menjadi perhatian bersama. Banyak sekali kasus dimedia massa yang berdedar berkaitan dengan degradasi moral anak bangsa ini. Salah satu kasus amoral yang sempat viral pertengahan februari lalu misalnya. Dimana terdapat 4 pelajar yang yang berasal dari salah satu sekolah di Kabupaten Grobogan, melakukan rudapaksa terhadap siswi […]

expand_less