Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Love Is Stupid Part 7

Love Is Stupid Part 7

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 26 Mar 2023
  • visibility 58
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

————-

Dengan wajah serius lelaki itu menyusuri koridor rumah sakit Sultan Hasanudin. Sorot matanya tak lepas dari layar ponsel. Sesekali ia berhenti lalu menempelkan ponsel pada telinga, beralih mengirim pesan dan kembali melangkah. Berkali-kali pasang netranya mencocokkan nama bagian rumah sakit dengan isi chat di aplikasi hijaunya. Ia lega saat menemukan tulisan pada papan di depan sebuah bangunan cukup besar. Bangsal Ibnu Sina.

(Kita ketemu di rumah sakit aja yang nggak mencurigakan. Kalau di luar takut jadi masalah. Mata-mata Romo ada dimana-mana. Nanti aku bisa buat alasan dapat tugas di RS. Temui aku jam sepuluh di bangsal Ibnu Sina. Miss you, Kak Nikhil. Semakin dekat dengan hari pernikahan, rasanya hidup bagai di neraka. Aku nggak bisa hidup tanpamu)

Nikhil kembali membaca chat itu. Sudah hampir satu jam ia menunggu di teras bangsal, tapi batang hidung kekasihnya tak kunjung nampak. Nikhil mematut kembali arlojinya dengan gelisah. Berkali-kali missed call-nya tak jua menuai respon. Tapi kemudian ia sedikit tersentak oleh sebuah getar. Ada satu pesan masuk. Nikhil buru-buru membukanya dan hatinya langsung mencelus.

(Kak, maaf hari ini aku dikurung, nggak boleh keluar. Pintu dikunci dan rumah dijaga ketat. Sepertinya mereka tahu kalau aku mau kabur).

Sabar … sabar ….

Nikhil menyemangati diri sendiri. Tak ia sangka bisa sesulit ini move on dari seorang perempuan. Baru kali ini ia seperti terombang-ambing dan kehilangan arah. Ia heran sendiri kenapa bisa sekuat itu pengaruh seorang Nyimas Ayu Safira padanya. Hingga ia bisa bertindak bodoh, dengan mudahnya menyetujui perjodohan lalu menikah dadakan. Apa itu semacam pelampiasan? Entahlah.

Nikhil berbalik dengan kecewa. Ia seperti pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan. Sampai ia menemukan perempuan itu di sisi koridor. Shanaya. Ia memicingkan mata sebentar dan menyorongkan wajah untuk memastikan penglihatannya.

“Shanaya?” sapanya setelah yakin perempuan yang berdiri sekitar lima langkah darinya adalah istri jadi-jadiannya.

“Alien?”

Pasang netra gadis itu melebar.

“Ngapain disini?” tanya Nikhil dengan masih menyimpan rasa terkejut. Langkahnya terayun ke arah Shanaya.

“Ada urusan,” jawab Shanaya lesu. Wajahnya terlihat kusut.

“Kamu sendiri ngapain disini?”

“Ada urusan juga,” jawab Nikhil.

“Idih copy paste. Dilarang plagiat!” Shanaya mendelik.

Nikhil tersenyum hingga deretan gigi putih itu nampak sempurna. Aura keruh  pada wajahnya sejenak sirna. Dua kali bertemu Shanaya setelah melihat foto gadis itu sudah cukup membuatnya percaya jika Ibunya benar—bahwa Shanaya cantik. Tapi cantik saja tak cukup melengserkan kedudukan Nyimas Ayu di hatinya.

“Galak amat. Pasti ada masalah nih? Apa sedang PMS?” tebak Nikhil bagai seorang guru BK yang sedang memberi konseling pada siswinya.

“Pakek nanya lagi. Masalah terbesarku ya kamu itu yang minta kawin harus segera diturutin,” sembur Shanaya. Pipinya merah mendengar kata “PMS” dari seorang laki-laki. Ia mundur selangkah, tampak betul sedang berusaha menjaga jarak dari Nikhil.

“Sssstttt … jangan keras-keras.” Nikhil menempelkan telunjuk pada tengah bibirnya.

“Ups.”

Shanaya spontan menutup mulutnya sambil memeriksa sekitar. Tidak menutup kemungkinan ada perawat atau mahasiswa SH yang mengenalnya, lalu tak sengaja mendengar apa yang barusan ia ucapkan. Untuk saat ini ia belum siap jadi artis dadakan akibat digosipkan sana sini.

 “Kamu itu kok vulgar sekali Shanaya.”

Shanaya mendadak bingung. “Vulgar? Vulgar sebelah mananya?”

Ia baru tahu semua yang ia pikirkan tak sejalan dengan Nikhil saat lelaki itu melanjutkan bicaranya.

“Emang kamu nggak tahu perbedaan nikah sama kawin?” tanya Nikhil dengan nada mengetes.

Seketika Shanaya mati gaya. Hawa panas merayap di wajahnya bersama semburat merah yang muncul di kedua pipi. Gelar seorang penulis serasa ternoda oleh komentar menyudutkan oleh Nikhil.

“Nih aku jelasin kalau belum tahu. Nikah itu ikatan sakral antara suami dan istri yang sah di mata agama, adat, dan negara. Sedangkan kawin itu hubungan biolo ….”

“Stop! Ngomong lagi aku gunting mulut kamu. Bisa nggak enyah dari hadapanku?”

Jika tidak tertutup jilbab, sudah pasti Nikhil bisa melihat betapa kerasnya rahang Shanaya saat ini. Dari sorot mata itu, Nikhil tahu Shanaya benar-benar marah. Tapi benarkah gadis itu marah hanya karena tegurannya tentang penjelasan nikah dan kawin?

Dengan segera Nikhil mengejar Shanaya saat gadis itu berbalik dan berlari meninggalkannya. Belum telat jika ia ingin meminta maaf.

“Shanaya … Nay … Shanaya … cepet juga larinya nih anak. Kayak kanguru,” desahnya dengan napas memburu. Ia tak mau menyerah seperti halnya Tom yang terus mengincar Jerry.

Nikhil mengerem kedua kakinya secara mendadak ketika Shanaya mendarat di pojok area parkir di sayap kanan rumah sakit. Napas mereka sama-sama tersengal.

“Aku minta maaf, Nay. Aku nggak bermaksud ….”

Nikhil urung menyentuh pundak Shanaya, ketika tahu perempuan itu tiba-tiba terisak. Shanaya menangis. Nikhil semakin disergap rasa bersalah.

“N-Nay ….” Hati-hati Nikhil mendekati Shanaya. Tangis Shanaya justru bertambah kencang. Hingga kedua bahunya berguncang.

“Nay … aku beneran minta maaf.” Dengan sisa-sisa nyali, Nikhil menyentuh pundak itu. Tempat parkir yang selalu ramai oleh pengunjung yang datang dan pergi membuat Nikhil terpaksa menahan tengsin.

“Masuk mobil yuk, malu dilihatin orang-orang,” bujuknya dengan berbisik. Untungnya tak berapa lama Shanaya setuju diajak masuk ke Avanza Veloz-nya. Setelah menghidupkan mesin mobil dan meningkatkan volume AC, ia kembali menatap Shanaya. Disodorkannya satu kotak tisu pada perempuan yang sedang sesenggukan itu. Nikhil masih tak percaya Shanaya menangis hanya gara-gara lelucon garingnya.

 “Aku beneran minta maaf, Naya,” ujarnya pelan. Shanaya menarik selembar tisu dari kotak. Lalu mengelap pipi dan hidungnya. Tangisnya sedikit reda tapi ia masih enggan membalas tatapan Nikhil.

“Mau kuantar pulang?”

Shanaya menggeleng. Ia masih sibuk merapikan wajahnya sambil menghela napas berkali-kali. Setelah benar-benar reda, ia bersiap keluar mobil.

“Loh mau kemana?” tanya Nikhil.

“Bukan urusan kamu!” semprot Shanaya. Wajahnya yang sembab terlihat sangat sebal.

“Naya … please!” Nikhil mencekal tangan Shanaya.

“Lepas!”

“Nggak … sebelum kamu maafin aku.”

“Jangan mentang-mentang udah akad kamu bisa megang aku seenaknya,” geram Shanaya.

“Aku hanya megang lengan kamu nggak lebih.”

“Ya Tuhan … aku nggak percaya punya suami macam dia,” gemas Shanaya. Nikhil menggaruk kepalanya sambil nyengir.

“Aku nggak bakal lepas sebelum dimaafin.”

Shanaya memutar bola mata. “Udah aku maafin.”

“Kok terpaksa gitu?”

“Oke … aku maafin. Dengan satu syarat. Kamu temeni aku minta maaf sama Bu Kurniasih,” ujar Shanaya setengah terpaksa. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu, tak ada salahnya juga mengajak Alien itu ke kamar dimana Bu Kurniasih dan bayinya dirawat. Toh, dia memang membutuhkan seorang teman.

“Siapa itu?” tanya Nikhil penasaran.

“Pasien di bangsal Ibnu Sina.” Pandangan mata Shanaya mengarah pada bangunan lantai tiga dekat pohon beringin tua.

“Ada masalah apa hingga kamu susah payah kesini untuk meminta maaf?”

“Dia … hampir terbunuh gara-gara aku.”

“Terbunuh?” Nikhil tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Jika sudah menyangkut nyawa, kedengarannya ini bukan masalah yang sepele.

“Nanti aja kuceritakan. Yang penting masalah ini cepat selesai dulu,” ucap Shanaya dengan tampang setengah berharap setengah putus asa. Kini Nikhil bisa berasumsi jika tangis Shanaya tadi bukan murni karena ulahnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Nikhil menerima syarat itu. “Oke. Cuma itu syaratnya? Apa nggak ada gitu syarat yang lebih menantang?” Dia mengiringi langkah Shanaya sambil pura-pura cuek saat ini sepasang mata tengah meliriknya dongkol.

“Kamu mau syarat yang lebih menantang? Gimana kalau jadi ketua salah satu komunitas di Gembiraloka? Mereka pasti seneng punya pemimpin kayak gini.”  Shanaya mengarahkan telunjuknya pada Nikhil.

“Gembiraloka?” Nikhil mengernyit. Rasa-rasanya tak asing dengan nama tempat itu.

“Bukankah itu kebun binatang? Komunitas apa itu?” tanyanya lebih lanjut.

“Komunitas buaya,” Shanaya reflek menyemburkan tawanya.

“Enak aja. Aku bukan cowok buaya,” tampik Nikhil dengan mimik serius tanpa menoleh ke arah Shanaya. Tiba-tiba saja suasana berubah beku. Shanaya segera menghentikan tawanya dan menutup rapat mulutnya. Ganti ia kini yang merasa bersalah.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 90
    • 0Komentar

    JAKARTA-Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) membuka tangan lebar-lebar bagi para pengelola pondok pesantren di seluruh Indonesia. Baru-baru ini, melalui Direktorat Pendidikan Islam Subdit Pendidikan Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI membuka penerimaan proposal bantuan.] Setidaknya ada tiga jenis peruntukan bantuan yang ditawarkan oleh Kemenag. Di antaranya, pendidikan lifeskill dan pengembangan ekonomi pesantren; bantuan pesantren […]

  • Potret praktik konseling pelajar, buah kerjasama IPNU-IPPNU Medani dan Posyandu remaja

    Gandeng Posyandu Remaja, IPNU IPPNU Medani Dirikan Lembaga Konseling

    • calendar_month Sab, 9 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 83
    • 0Komentar

    CLUWAK – Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PR IPNU IPPNU) Desa Medani, Kecamatan Cluwak mendirikan Lembaga Konseling Pelajar Putri (LKPP). Dalam pelaksanaannya, LKPP PR IPNU IPPNU Medani bakal menggandeng Posyandu Remaja (Posrem) desa setempat. Pendirian ini awalnya diinisiasi oleh Evi Lutfia Nur Jannah, Demisioner Ketua IPPNU Medani periode pertama, sekaligus […]

  • Langkah Nyata Menuju Organisasi yang Berdaya dan Mandiri dari MKKS SMK Maarif Se Jateng

    Langkah Nyata Menuju Organisasi yang Berdaya dan Mandiri dari MKKS SMK Maarif Se Jateng

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.221
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Purworejo, 30 Oktober 2025, Sebagai wujud tanggungjawab dan bentuk dukungan konkret untuk mewujudkan visi organisasi yang berdaya dan mandiri, LP Ma’arif NU Jawa Tengah bersama Musyawaroh Kepala Sekolah (MKKS) SMK Ma’arif NU Jawa Tengah menggelar kegiatan Rapat Koordinasi. Kegiatan tersebut juga sekaligus penyerahan bantuan dana operasional kepada MKKS SMK Ma’arif NU Jawa Tengah. […]

  • NU Peduli Bikin Dapur Umum untuk Bantu Korban Banjir

    NU Peduli Dirikan Dapur Umum untuk Bantu Korban Banjir

    • calendar_month Ming, 1 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 48
    • 0Komentar

    PATI – NU Peduli selenggarakan dapur umum untuk mensuplai makanan korban banjir. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad (1/1) pagi tadi di halaman PCNU Pati. Ahmad Qosim, ketua NU Peduli menyebut, agenda ini sebagai perwujudan kepedulian NU terhadap para korban bencana. Bantuan berupa nasi bungkus dikirim ke posko Mustokoharjo untuk kemudian disalurkan ke titik-titik yang membutuhkan. […]

  • Mahasiswa Akper Alkautsar Temanggung Lakukan Ikrar

    Mahasiswa Akper Alkautsar Temanggung Lakukan Ikrar

    • calendar_month Sab, 16 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Temanggung – Kegiatan iqrar merupakan kegiatan sumpah bagi mahasiswa Akper Alkautsar Temanggung yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun sekali. Agenda ini didasari dengan Peraturan Akademik Akper Alkautsar Temanggung, yang menyatakan bahwa sebelum mahasiswa melaksanakan praktik klinik keperawatan, mahasiswa harus menjalani iqrar atau sumpah. Peserta kegiatan adalah mahasiswa semester 3 Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung, yang telah […]

  • Ketua Lazisnu Ajak Warga Bantu Korban Puting Beliung

    Ketua Lazisnu Ajak Warga Bantu Korban Puting Beliung

    • calendar_month Rab, 1 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Ketua Lazisnu Ajak Warga Bantu Korban Puting Beliun   pcnupati.or.id – Musim penghujan di ujung tahun 2024 menjadi kenangan pahit bagi sebagian warga Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Pasalnya, 90 rumah dan sekolah di kecamatan tersebut mengalami rusak sedang hingga berat akibat terjangan angin puting beliung, Sabtu (28/12) lalu.   Total kerugian materiil yang diderita warga […]

expand_less