Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
  • visibility 618
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id- Secara medis, sistem imun dikenal sebagai mekanisme pertahanan untuk menangkal masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh. Sistem imun akan mendeteksi zat asing yang masuk ke dalam tubuh, dan memproduksi antibodi untuk melawannya.
Persoalan muncul bilamana yang terjadi adalah autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan justru menjadi senjata makan tuan. Antibodi yang diproduksi justru menyerang tubuh manusia sendiri.
Fenomena medis ini yang kemudian digunakan sebagai pisau analisa untuk membedah fenomena serupa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 161 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (17/5) mengangkatnya dengan tajuk Dongeng Peradaban Autoimun.
Menurut penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, sistem imun sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sosial, berupa reaksi spontan penolakan setiap ada unsur asing yang masuk. Tapi, sama seperti dalam fenomena medis, munculnya gejala autoimun bisa menjadi ancaman yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ambil contoh,” jelas Anis, “ketika tentara yang harusnya menjadi antibodi yang menjaga masyarakat dari ancaman yang datang dari luar; tiba-tiba malah memosisikan masyarakat yang harus dijaganya sebagai ancaman misalnya. Atau penegak hukum, yang harusnya menjaga masyarakat dari para pelanggar hukum, tiba-tiba menggeneralisasi masyarakat sebagai pelanggar hukum. Atau ketika para politisi yang seharusnya manyalurkan aspirasi, justru memanipulasi masyarakat dan menindas kepentingannya. Atau ASN yang seharusnya melayani, justru menggeroti kehidupan masyarakat. Baik terjadi secara terpisah, apalagi bila berlangsung secara bersamaan; maka bisa dipastikan ini akan melumpuhkan kehidupan masyakat”
Kecuali elemen-elemen di atas, Anis juga menyebut adanya gejala autoimun lain yang muncul, baik secara organik mau pun hasil rekayasa, dalam kehidupan masyarakat. Ini seringkali bermula dari kebencian dan permusuhan antar atau inter kelompok maupun golongan. Gejala semacam ini tentu akan melemahkan kohesifitas ‘tubuh’ masyarakat itu sendiri. Apalagi ketika eskalasinya meningkat dan melahirkan konflik horizontal.
“Dengan beragam cara, kekuasaan, apalagi kekuasaan modern, cenderung menciptakan autoimun jenis ini demi menjaga dan melanggengkan kekuasaannya. Mereka sengaja merekayasa dan memprovokasi konflik yang secara potensial ada di masyarakat, atau menaman potensi konflik baru; agar masyarakat terpecah belah dan saling berhadapan satu dengan lain. Dengan demikian lebih mudah dikuasai,” jelas Anis.
Anis kemudian mengambil dua contoh terbaru untuk menjelaskannya. Pertama isu nasab sebagai contoh dari rekayasa potensi konflik yang memang secara laten ada di masyarakat. Yang kedua, isu cebong dan kampret yang sengaja ditanam untuk membelah masyarakat berdasar perbedaan aspirasi politik. Ironisnya kadang dendam akibat perseteruan macam ini justru diestafetkan dari generasi ke genarasi.
“Kalau hal seperti ini terus dikembangkan, maka kita sedang menanam bom waktu bagi masa depan,” tegasnya.
Dengan mengutip hadits Nabi, Anis menawarkan cara untuk menghindar dari fenomena autoimun sosial.
“Ada hadits menarik, mencintailah secukupnya dan membencilah secukupnya. Jangan terlalu mencintai, karena siapa tahu yang kamu cintai suatu saat menjadi musuhmu. Jangan pula terlalu membenci, karena mungkin yang kamu benci suatu saat bisa jadi sahabatmu,” ujarnya.
Dalam Islam, mencintai dan membenci harus karena Allah. Allah harus menjadi pusat yang menghubungkan antar mahluk. Kalau posisi Allah disingkirkan, maka baik hubungan cinta mau pun benci bisa menjadi destruktif; karena semua manusia pasti punya4 kelemahan dan kekurangan yang bisa menjadi amunisi lahirnya konflik.
Oleh sebab itu Anis mengritik penggunaan istilah muhibbin, karena menurutnya itu hanya adopsi dari istilah fans atau follower dalam dunia selebritas modern. Anis menyebut tidak ada model penggemar fanatik dalam Islam, di mana seseorang mencintai junjungannya secara fanatik dan satu arah.
“Dalam Islam yang dikenal adalah saling menyayangi. Bukan hanya satu arah tapi dua arah.Istilah thogut itu ketika kita memberhalakan sesuatu. Memuja sesuatu dengan berlebihan. Kalau seperti itu pasti ditindas,” ucapnya.
Pria yang juga mengasuh Sampak GusUran itu juga mengingatkan pentingnya berkumpul dengan orang sholeh. Menurutnya tataran sholeh adalah orang yang terus bertumbuh kebaikannya.
“Sholeh itu tidak statis, tapi dinamis. Bukan hanya selalu ke masjid, namun yang terus berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya.
Saling mencinta dan menyayangi adalah metode inter personal terbaik untuk menghindari munculnya gejala autoimun dalam relasi sosial. Sementara sebagai sebuah tananan, masyarakat butuh sosok-sosok terpercaya untuk membimbing mereka. Baik sosok tokoh masyarakat mau pun tokoh agama.
“Adam bisa disebut kholifah setelah tidak terikat dengan kepentingan duniawi. Nah dalam sebuah komunitas sosial tentu penting hadirnya sosok dalam tingkat tertentu sudah terbebas dari ikatan dunia. Mereka inilah yang mampu memilah dan memilih secara tepat, sehingga bisa menuntun masyarakat,” ucapnya.
“Celakanya,” lanjut Anis, “dalam proses menuju autoimun, sosok-sosok semacam ini justru menjadi sasaran pertama untuk dibunuh karakternya; sehingga masyarakat kehilangan sumber utama pemroduksi dan pengendali antibodi sosial.”
Anis menyebut bangsa Indonesia memiliki banyak nilai positif. Nilai positif itu bisa menjadi sistem imun dalam menangkal hal buruk.
“Bangsa ini disebut berada di deretan ke empat negara paling miskin di dunia. Anehnya, penelitian lain menyebut sebagai bangsa yang ada di deretan kedua bangsa paling bahagia di dunia. Hal itu bisa terjadi karena kuatnya interaksi dan saling bantu di masyarakat kita. Bahkan nongkrong di pos ronda saja sudah bisa membuat kita bahagia. Saya harap nilai semacam itu jangan sampai dihancurkan.Tak perlu silau budaya luar namun justru merusak tradisi luhur bangsa kita,” ujar Anis penutup Suluk Maleman.(*)

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dongeng Peradaban Autoimun’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (17/5).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gandeng Karang Taruna Mandala, LPBI NU Pati Gelar Pasar Murah di Desa Lahar

    Gandeng Karang Taruna Mandala, LPBI NU Pati Gelar Pasar Murah di Desa Lahar

    • calendar_month Ming, 16 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 462
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Pati, gelar pasar murah di Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Ahad (16/4/2023) sore. Kegiatan yang bertempat di musala Balai Desa Lahar itu terselenggara atas kerja sama dengan Karang Taruna Mandala desa setempat.  Adapun dalam pasar murah itu, menjajakkan berbagai bahan pokok masyarakat. Seperti beras, […]

  • PAC ISNU Tirto Gelar Webinar Pendidikan, Bahas Peran Pendidik di Era AI

    PAC ISNU Tirto Gelar Webinar Pendidikan, Bahas Peran Pendidik di Era AI

    • calendar_month Sab, 5 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 18.991
    • 0Komentar

      Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. AI kini tidak hanya mampu membantu menulis, tetapi juga menjelaskan materi, memberikan umpan balik, mempersonalisasi pembelajaran, hingga melakukan asesmen awal terhadap peserta didik. Fenomena tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Webinar Pendidikan yang diselenggarakan PAC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Kam, 7 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 711
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Saya mau membuka sebuah usaha, namun tetangga saya sudah ada yang menjalankan usaha yang serupa, saya kawatir jika saya menjalankan usaha tersebut tetangga saya akan merasa tersaingi, mohon dijelaskan bagaimana pandangan fiqih tentang usaha tersebut, apakah saya perlu meminta izin pada tetangga saya ?. Terima kasih. Wa’alaikum salam Wr Wb. Membuka usaha […]

  • Konfercab IPNU dan IPPNU

    Konfercab IPNU dan IPPNU

    • calendar_month Jum, 5 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama Kabupaten pati ini menggelar konferensi cabang ke XI  dilaksanakan di SMPNU Karaban. Sabtu 29/04 kemarin. “Kami Mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus PC IPNU IPPNU Masa Khidmah 2014-2016 yang sudah melaksanakan segala program kerja dan sudah meluangkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk […]

  • MA Salafiyah Kajen Pati Ajak Siswa Praktik Hisab dan Rukyat Hilal di UIN Walisongo

    MA Salafiyah Kajen Pati Ajak Siswa Praktik Hisab dan Rukyat Hilal di UIN Walisongo

    • calendar_month Sel, 13 Okt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20.338
    • 0Komentar

    ​Pcnupati.or.id – Memperdalam ilmu falak tidak cukup hanya melalui pembelajaran teori di ruang kelas. Guna memberikan pengalaman praktis, puluhan siswa kelas XII MA Salafiyah Kajen, Pati, Konsentrasi Kitab, diajak belajar langsung di Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang, Ahad (11/10/2026). ​Kunjungan edukatif ini menjadi sarana bagi para siswa untuk mempraktikkan ilmu […]

  • Polres Pati Sanika Satyawada Berikan Puluhan Paket Beras di Ponpes Al Akrom Banyuurip

    Polres Pati Sanika Satyawada Berikan Puluhan Paket Beras di Ponpes Al Akrom Banyuurip

    • calendar_month Kam, 26 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

    AKBP Christian Tobing (peci hitam) didampingi pengasuh PP Al Akrom, KH. Imam Al Mukromin (kiri) menyerahkan bantuan beras secara simbolik kepada salah satu santri Ponpes tersebut. MARGOREJO – Sebagai wujud kepedulian dengan sesama, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 2000 Batalyon Sanika Satyawada berikan bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat terdampak pandemi Covid-19.  Kegiatan dengan tema ‘Berbagi Senyum […]

expand_less