Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
  • visibility 487
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id- Secara medis, sistem imun dikenal sebagai mekanisme pertahanan untuk menangkal masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh. Sistem imun akan mendeteksi zat asing yang masuk ke dalam tubuh, dan memproduksi antibodi untuk melawannya.
Persoalan muncul bilamana yang terjadi adalah autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan justru menjadi senjata makan tuan. Antibodi yang diproduksi justru menyerang tubuh manusia sendiri.
Fenomena medis ini yang kemudian digunakan sebagai pisau analisa untuk membedah fenomena serupa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 161 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (17/5) mengangkatnya dengan tajuk Dongeng Peradaban Autoimun.
Menurut penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, sistem imun sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sosial, berupa reaksi spontan penolakan setiap ada unsur asing yang masuk. Tapi, sama seperti dalam fenomena medis, munculnya gejala autoimun bisa menjadi ancaman yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ambil contoh,” jelas Anis, “ketika tentara yang harusnya menjadi antibodi yang menjaga masyarakat dari ancaman yang datang dari luar; tiba-tiba malah memosisikan masyarakat yang harus dijaganya sebagai ancaman misalnya. Atau penegak hukum, yang harusnya menjaga masyarakat dari para pelanggar hukum, tiba-tiba menggeneralisasi masyarakat sebagai pelanggar hukum. Atau ketika para politisi yang seharusnya manyalurkan aspirasi, justru memanipulasi masyarakat dan menindas kepentingannya. Atau ASN yang seharusnya melayani, justru menggeroti kehidupan masyarakat. Baik terjadi secara terpisah, apalagi bila berlangsung secara bersamaan; maka bisa dipastikan ini akan melumpuhkan kehidupan masyakat”
Kecuali elemen-elemen di atas, Anis juga menyebut adanya gejala autoimun lain yang muncul, baik secara organik mau pun hasil rekayasa, dalam kehidupan masyarakat. Ini seringkali bermula dari kebencian dan permusuhan antar atau inter kelompok maupun golongan. Gejala semacam ini tentu akan melemahkan kohesifitas ‘tubuh’ masyarakat itu sendiri. Apalagi ketika eskalasinya meningkat dan melahirkan konflik horizontal.
“Dengan beragam cara, kekuasaan, apalagi kekuasaan modern, cenderung menciptakan autoimun jenis ini demi menjaga dan melanggengkan kekuasaannya. Mereka sengaja merekayasa dan memprovokasi konflik yang secara potensial ada di masyarakat, atau menaman potensi konflik baru; agar masyarakat terpecah belah dan saling berhadapan satu dengan lain. Dengan demikian lebih mudah dikuasai,” jelas Anis.
Anis kemudian mengambil dua contoh terbaru untuk menjelaskannya. Pertama isu nasab sebagai contoh dari rekayasa potensi konflik yang memang secara laten ada di masyarakat. Yang kedua, isu cebong dan kampret yang sengaja ditanam untuk membelah masyarakat berdasar perbedaan aspirasi politik. Ironisnya kadang dendam akibat perseteruan macam ini justru diestafetkan dari generasi ke genarasi.
“Kalau hal seperti ini terus dikembangkan, maka kita sedang menanam bom waktu bagi masa depan,” tegasnya.
Dengan mengutip hadits Nabi, Anis menawarkan cara untuk menghindar dari fenomena autoimun sosial.
“Ada hadits menarik, mencintailah secukupnya dan membencilah secukupnya. Jangan terlalu mencintai, karena siapa tahu yang kamu cintai suatu saat menjadi musuhmu. Jangan pula terlalu membenci, karena mungkin yang kamu benci suatu saat bisa jadi sahabatmu,” ujarnya.
Dalam Islam, mencintai dan membenci harus karena Allah. Allah harus menjadi pusat yang menghubungkan antar mahluk. Kalau posisi Allah disingkirkan, maka baik hubungan cinta mau pun benci bisa menjadi destruktif; karena semua manusia pasti punya4 kelemahan dan kekurangan yang bisa menjadi amunisi lahirnya konflik.
Oleh sebab itu Anis mengritik penggunaan istilah muhibbin, karena menurutnya itu hanya adopsi dari istilah fans atau follower dalam dunia selebritas modern. Anis menyebut tidak ada model penggemar fanatik dalam Islam, di mana seseorang mencintai junjungannya secara fanatik dan satu arah.
“Dalam Islam yang dikenal adalah saling menyayangi. Bukan hanya satu arah tapi dua arah.Istilah thogut itu ketika kita memberhalakan sesuatu. Memuja sesuatu dengan berlebihan. Kalau seperti itu pasti ditindas,” ucapnya.
Pria yang juga mengasuh Sampak GusUran itu juga mengingatkan pentingnya berkumpul dengan orang sholeh. Menurutnya tataran sholeh adalah orang yang terus bertumbuh kebaikannya.
“Sholeh itu tidak statis, tapi dinamis. Bukan hanya selalu ke masjid, namun yang terus berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya.
Saling mencinta dan menyayangi adalah metode inter personal terbaik untuk menghindari munculnya gejala autoimun dalam relasi sosial. Sementara sebagai sebuah tananan, masyarakat butuh sosok-sosok terpercaya untuk membimbing mereka. Baik sosok tokoh masyarakat mau pun tokoh agama.
“Adam bisa disebut kholifah setelah tidak terikat dengan kepentingan duniawi. Nah dalam sebuah komunitas sosial tentu penting hadirnya sosok dalam tingkat tertentu sudah terbebas dari ikatan dunia. Mereka inilah yang mampu memilah dan memilih secara tepat, sehingga bisa menuntun masyarakat,” ucapnya.
“Celakanya,” lanjut Anis, “dalam proses menuju autoimun, sosok-sosok semacam ini justru menjadi sasaran pertama untuk dibunuh karakternya; sehingga masyarakat kehilangan sumber utama pemroduksi dan pengendali antibodi sosial.”
Anis menyebut bangsa Indonesia memiliki banyak nilai positif. Nilai positif itu bisa menjadi sistem imun dalam menangkal hal buruk.
“Bangsa ini disebut berada di deretan ke empat negara paling miskin di dunia. Anehnya, penelitian lain menyebut sebagai bangsa yang ada di deretan kedua bangsa paling bahagia di dunia. Hal itu bisa terjadi karena kuatnya interaksi dan saling bantu di masyarakat kita. Bahkan nongkrong di pos ronda saja sudah bisa membuat kita bahagia. Saya harap nilai semacam itu jangan sampai dihancurkan.Tak perlu silau budaya luar namun justru merusak tradisi luhur bangsa kita,” ujar Anis penutup Suluk Maleman.(*)

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dongeng Peradaban Autoimun’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (17/5).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harlah Ke-20 Almadina, Wujud Syukur Dua Dekade Mengabdi untuk Pendidikan

    Harlah Ke-20 Almadina, Wujud Syukur Dua Dekade Mengabdi untuk Pendidikan

    • calendar_month Sab, 20 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.866
    • 0Komentar

    WONOSOBO – Yayasan Almadina Wonosobo memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-20 dengan menggelar kegiatan Almadina On The Road (OTR) di Alun-Alun Wonosobo, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum syukur atas perjalanan dua dekade Almadina dalam berkontribusi membangun pendidikan dan mencetak generasi berkarakter. Ribuan peserta yang terdiri atas pengurus yayasan, dewan guru, tenaga kependidikan, wali murid, serta […]

  • PCNU - PATI

    PCNU Pati Konsolidasi Ke MWCNU Tayu

    • calendar_month Rab, 27 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Tayu. Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pati bersilaturahmi ke MWCNU Kecamatan Tayu,bertempat diSekretariat MWC NU Tayu Jl Ratu Kalinyamat Tayu Wetan, Rabu 22/7 kemarin. “Dalam penguatan organisasi kita harus mengoptimalkan, simpul simpul penting yaitu ranting, sebab apabila ranting berjalan maka dengan sendirinya MWCNU dan PCNU ikut berjalan,” jelas Maskan selaku Sekretaris PCNU Kab Pati […]

  • Awali Semester Genap, Ratusan Siswa YPI Monumen Mujahidin Bageng Ikuti Istigasah

    Awali Semester Genap, Ratusan Siswa YPI Monumen Mujahidin Bageng Ikuti Istigasah

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.800
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Yayasan Perguruan Islam (YPI) Monumen Mujahidin Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengadakan istigasah dalam mengawali semester genap tahun ajaran 2025/2026, Ahad (4/1/2026). Kegiatan ini berlangsung di Masjid Al-Masyhur Desa Bageng dan diikuti oleh seluruh elemen yayasan. Mulai dari jajaran pengurus, guru, hingga ratusan murid dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), […]

  • PCNU Pati Raih Penghargaan Ke-3 Penanggulangan HIV dan AIDS se-Jawa Tengah

    PCNU Pati Raih Penghargaan Ke-3 Penanggulangan HIV dan AIDS se-Jawa Tengah

    • calendar_month Kam, 25 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 453
    • 0Komentar

     Kabar NU. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  Pati meraih penghargaan ke tiga sebagai pengurus cabang yang aktif dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan PWNU Jawa Tengah. Penghargaan diberikan oleh perwakilan tim penanggulangan HIV dan AIDS (Sub Recipient/SR) PWNU Jawa Tengah, Tedi Kholiludin. H.Saalamun,  sekretaris SR  PCNU Pati yang hadir dan menerima penghargaan tersebut […]

  • LP Ma'arif NU Pati Gelar Rakerda dan Tanyakuran Harlah ke-96

    LP Ma’arif NU Pati Gelar Rakerda dan Tasyakuran Harlah ke-96

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pati, mengadakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang diikuti oleh kepala madrasah tingkat MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK, di Hotel New Merdeka, Rabu (17/9/2025). Kegiatan tersebut juga dalam rangka tasyakuran dan peringatan Hari Lahir (Harlah) LP Ma’arif NU yang ke-96 tahun, dengan tema “bermutu dalam ilmu, […]

  • Pesta Demokrasi MWC NU : Petahana Bangkit Kembali

    Pesta Demokrasi MWC NU : Petahana Bangkit Kembali

    • calendar_month Sab, 28 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 447
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Konferensi MWC NU Kecamatan Tayu Kembali digelar. Kali ini, pemilihan ketua NU di tingkat kecamatan tersebut dilaksanakan di MTs. Miftahul Huda, Tayu. Agenda yang berlangsung Jumat (28/12) tersebut mengukuhkan kembali kepemimpinan K. Ahmad Sarwo sebagai orang nomor satu di jajaran Tanfidziyah MWCNU Tayu. “Saya sampaikan terimakasih atas kepercayaannya kembali, dan saya mohon dukungan […]

expand_less