Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
  • visibility 544
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id- Secara medis, sistem imun dikenal sebagai mekanisme pertahanan untuk menangkal masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh. Sistem imun akan mendeteksi zat asing yang masuk ke dalam tubuh, dan memproduksi antibodi untuk melawannya.
Persoalan muncul bilamana yang terjadi adalah autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan justru menjadi senjata makan tuan. Antibodi yang diproduksi justru menyerang tubuh manusia sendiri.
Fenomena medis ini yang kemudian digunakan sebagai pisau analisa untuk membedah fenomena serupa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 161 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (17/5) mengangkatnya dengan tajuk Dongeng Peradaban Autoimun.
Menurut penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, sistem imun sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sosial, berupa reaksi spontan penolakan setiap ada unsur asing yang masuk. Tapi, sama seperti dalam fenomena medis, munculnya gejala autoimun bisa menjadi ancaman yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ambil contoh,” jelas Anis, “ketika tentara yang harusnya menjadi antibodi yang menjaga masyarakat dari ancaman yang datang dari luar; tiba-tiba malah memosisikan masyarakat yang harus dijaganya sebagai ancaman misalnya. Atau penegak hukum, yang harusnya menjaga masyarakat dari para pelanggar hukum, tiba-tiba menggeneralisasi masyarakat sebagai pelanggar hukum. Atau ketika para politisi yang seharusnya manyalurkan aspirasi, justru memanipulasi masyarakat dan menindas kepentingannya. Atau ASN yang seharusnya melayani, justru menggeroti kehidupan masyarakat. Baik terjadi secara terpisah, apalagi bila berlangsung secara bersamaan; maka bisa dipastikan ini akan melumpuhkan kehidupan masyakat”
Kecuali elemen-elemen di atas, Anis juga menyebut adanya gejala autoimun lain yang muncul, baik secara organik mau pun hasil rekayasa, dalam kehidupan masyarakat. Ini seringkali bermula dari kebencian dan permusuhan antar atau inter kelompok maupun golongan. Gejala semacam ini tentu akan melemahkan kohesifitas ‘tubuh’ masyarakat itu sendiri. Apalagi ketika eskalasinya meningkat dan melahirkan konflik horizontal.
“Dengan beragam cara, kekuasaan, apalagi kekuasaan modern, cenderung menciptakan autoimun jenis ini demi menjaga dan melanggengkan kekuasaannya. Mereka sengaja merekayasa dan memprovokasi konflik yang secara potensial ada di masyarakat, atau menaman potensi konflik baru; agar masyarakat terpecah belah dan saling berhadapan satu dengan lain. Dengan demikian lebih mudah dikuasai,” jelas Anis.
Anis kemudian mengambil dua contoh terbaru untuk menjelaskannya. Pertama isu nasab sebagai contoh dari rekayasa potensi konflik yang memang secara laten ada di masyarakat. Yang kedua, isu cebong dan kampret yang sengaja ditanam untuk membelah masyarakat berdasar perbedaan aspirasi politik. Ironisnya kadang dendam akibat perseteruan macam ini justru diestafetkan dari generasi ke genarasi.
“Kalau hal seperti ini terus dikembangkan, maka kita sedang menanam bom waktu bagi masa depan,” tegasnya.
Dengan mengutip hadits Nabi, Anis menawarkan cara untuk menghindar dari fenomena autoimun sosial.
“Ada hadits menarik, mencintailah secukupnya dan membencilah secukupnya. Jangan terlalu mencintai, karena siapa tahu yang kamu cintai suatu saat menjadi musuhmu. Jangan pula terlalu membenci, karena mungkin yang kamu benci suatu saat bisa jadi sahabatmu,” ujarnya.
Dalam Islam, mencintai dan membenci harus karena Allah. Allah harus menjadi pusat yang menghubungkan antar mahluk. Kalau posisi Allah disingkirkan, maka baik hubungan cinta mau pun benci bisa menjadi destruktif; karena semua manusia pasti punya4 kelemahan dan kekurangan yang bisa menjadi amunisi lahirnya konflik.
Oleh sebab itu Anis mengritik penggunaan istilah muhibbin, karena menurutnya itu hanya adopsi dari istilah fans atau follower dalam dunia selebritas modern. Anis menyebut tidak ada model penggemar fanatik dalam Islam, di mana seseorang mencintai junjungannya secara fanatik dan satu arah.
“Dalam Islam yang dikenal adalah saling menyayangi. Bukan hanya satu arah tapi dua arah.Istilah thogut itu ketika kita memberhalakan sesuatu. Memuja sesuatu dengan berlebihan. Kalau seperti itu pasti ditindas,” ucapnya.
Pria yang juga mengasuh Sampak GusUran itu juga mengingatkan pentingnya berkumpul dengan orang sholeh. Menurutnya tataran sholeh adalah orang yang terus bertumbuh kebaikannya.
“Sholeh itu tidak statis, tapi dinamis. Bukan hanya selalu ke masjid, namun yang terus berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya.
Saling mencinta dan menyayangi adalah metode inter personal terbaik untuk menghindari munculnya gejala autoimun dalam relasi sosial. Sementara sebagai sebuah tananan, masyarakat butuh sosok-sosok terpercaya untuk membimbing mereka. Baik sosok tokoh masyarakat mau pun tokoh agama.
“Adam bisa disebut kholifah setelah tidak terikat dengan kepentingan duniawi. Nah dalam sebuah komunitas sosial tentu penting hadirnya sosok dalam tingkat tertentu sudah terbebas dari ikatan dunia. Mereka inilah yang mampu memilah dan memilih secara tepat, sehingga bisa menuntun masyarakat,” ucapnya.
“Celakanya,” lanjut Anis, “dalam proses menuju autoimun, sosok-sosok semacam ini justru menjadi sasaran pertama untuk dibunuh karakternya; sehingga masyarakat kehilangan sumber utama pemroduksi dan pengendali antibodi sosial.”
Anis menyebut bangsa Indonesia memiliki banyak nilai positif. Nilai positif itu bisa menjadi sistem imun dalam menangkal hal buruk.
“Bangsa ini disebut berada di deretan ke empat negara paling miskin di dunia. Anehnya, penelitian lain menyebut sebagai bangsa yang ada di deretan kedua bangsa paling bahagia di dunia. Hal itu bisa terjadi karena kuatnya interaksi dan saling bantu di masyarakat kita. Bahkan nongkrong di pos ronda saja sudah bisa membuat kita bahagia. Saya harap nilai semacam itu jangan sampai dihancurkan.Tak perlu silau budaya luar namun justru merusak tradisi luhur bangsa kita,” ujar Anis penutup Suluk Maleman.(*)

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dongeng Peradaban Autoimun’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (17/5).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seminar Pendidikan: Telaah Kitab Karya KH. Muhibbi Hamzawi di Madrasah Salafiyah Kajen

    Seminar Pendidikan: Telaah Kitab Karya KH. Muhibbi Hamzawi di Madrasah Salafiyah Kajen

    • calendar_month Jum, 4 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 550
    • 0Komentar

      Pati – Dalam rangka Pekan Muharram, Reuni Akbar dan Hari Lahir (Harlah) ke-90 Madrasah Salafiyah, Ikatan Kelauarga Alumni Salafiyah (IKLAS) Kajen, Pati, menggelar Seminar Pendidikan Nasional bertajuk “Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Budaya Keilmuan di Pesantren”, Jumat (4/7/2025). Acara ini juga dirangkaikan dengan telaah dan bedah kitab Nihayatul Bidayah fil Akhlaqil Mardliyyah karya KH. […]

  • Tingkatkan Kemampuan Lapangan, Banser Pati Gelar Orientasi Kenal Medan

    Tingkatkan Kemampuan Lapangan, Banser Pati Gelar Orientasi Kenal Medan

    • calendar_month Sel, 11 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 404
    • 0Komentar

      Salah satu materi Orientasi Kenal Medan Banser Pati  PATI – Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pati menggelar Orientasi Kenal Medan (OKM) 2022 di kawasan pegunungan Desa Medani, Kecamatan Cluwak akhir pekan kemarin. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan anggota Banser yang merupakan perwakilan dari seluruh kecamatan. Adapun pembukaan kegiatan di Obyek Wisata […]

  • Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.674
    • 0Komentar

      Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah juga diisi dengan kegiatan kemah wisata ke kawasan Candi Gedong Songo, Bandungan, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (17/12/2025) sebagai bagian dari pembelajaran luar ruang bagi para peserta. Ratusan peserta tampak antusias mengikuti jelajah kawasan wisata sejarah tersebut. Selain mengenal situs cagar budaya, […]

  • Ulama dan Umaro' di Gembong Sambangi Nahdliyyin di Desa-Desa

    Ulama dan Umaro’ di Gembong Sambangi Nahdliyyin di Desa-Desa

    • calendar_month Sel, 11 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 495
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id. – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama’ (MWCNU) Kecamatan Gembong, menggandeng Forkopimcam dan KUA untuk menyapa warganya melalui kegiatan Tarawih Keliling Ulama-Umaro’ Kecamatan Gembong. Kegiatan ini dimulai Selasa (11/3) dan akan berakhir Rabu (19/3) mendatang. “Kami ambil lima ranting untuk kegiatan tarawih keliling ini,” terang K. Sholikhin, Ketua MWCNU Gembong. Rencananya agenda rutin ini […]

  • PCNU-PATI Photo by Nati Melnychuk

    Relasi Aman Tanpa Penundukan

    • calendar_month Jum, 7 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Kembali menulis soal perempuan. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah postingan dari pegiat dan aktivis gender ternama diakun sosial medianya. Ia menuliskan sebuah tanggapan atas sebuah cuitan seorang pria. Bukan cuitan, namun lebih tepatnya tentang curahan hati perihal hubungan dengan pasangannya. Pria ini menuliskan sebuah kalimat unek-unek tentang dirinya yang tak […]

  • LAZISNU Pati Luncurkan Program Berzakat untuk Mengurangi Penghasilan Wajib Pajak

    LAZISNU Pati Luncurkan Program Berzakat untuk Mengurangi Penghasilan Wajib Pajak

    • calendar_month Ming, 4 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 556
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (Lazisnu) Pati, Edi Kiswanto, mengumumkan peluncuran Program Berzakat di LAZISNU Kabupaten Pati yang dapat mengurangi penghasilan wajib pajak. Menurut Edi, program ini dapat memberikan solusi bagi masyarakat yang memiliki kewajiban zakat dan pajak. “Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan fasilitas pengurangan pajak dari sumbangan […]

expand_less