Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 7

Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 7

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 8 Okt 2023
  • visibility 383
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Apaan sih?” gumamnya tak sadar ketika baru saja sampai kamar. Sesaat setelah ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, wajah itu kembali membayang di pelupuk matanya. Wajah dengan sepasang mata sendu penuh tanya, hidung bangir, dagu terbelah, dan seulas senyum tipis dari balik partisi kaca pesarean. Wajah yang ia dapati saat baru saja membuka mata. Sejak kapan cowok gila itu menatapnya?

 Ia hanya tak habis pikir dengan santri baru itu. Tidakkah dia terlalu berani? Dan apa tadi? dia bahkan melayangkan senyum dengan sorot mata yang menatap lekat ke arahnya. Membuatnya bergidik dan sedikit panik, hingga menyusut air matanya cepat-cepat. Untung saja sesi ziarah sudah saatnya berakhir, jadi dia bisa segera pulang dan jauh-jauh dari jangkauan lelaki itu.

“Dasar santri gila,” gerutunya sambil meraup muka. Berharap bayangan tadi segera enyah. Tapi justru bayangan yang lain datang bersusul-susulan tanpa permisi.

“I LOVE YOU.”

Suara lantang itu berdengung di telinganya, membuatnya tertegun sejenak di depan pintu kamar. Mengingat itu, membuat wajahnya seketika seperti dikerubuti hawa panas. Ia coba abai dan melangkah menuju meja rias saat ponsel yang ia letakkan di sana tampak berpendar. Tadi ia sengaja meninggalkan benda itu waktu memimpin para santri berziarah di pesarean Sunan Nirboyo. Ia yakin pasti sudah ada beberapa pesan di aplikasi whatsapp-nya. Tapi ….

“I LOVE YOU. MAU NGGAK JADI PACAR AKU?”

Arrrghhhh … Ia tutup kedua daun telinganya rapat-rapat, berharap suara bersama wajah itu segera lenyap. Tapi percuma. Karena lagi dan lagi, insiden memalukan itu secara otomatis kembali terputar dalam benaknya. Termasuk ketika lelaki tak tahu diri itu tiba-tiba muncul di ruang tengah.

 “Ma-maaf, Bu Nyai. Saya hanya memenuhi panggilan.”

“Tadi … sampai beberapa kali. Salman … my sweety come here. Salman, kalau dipanggil tuh jangan diem aja.”

Sampai di kalimat itu, secara tak sadar senyum geli terbit di bibirnya. “Sinting emang,” gumamnya sebelum menyadari sesuatu … jika … umpatan itu lebih terdengar seperti dia tengah mengatai dirinya sendiri. Ah, bukan … bukan … santri baru itulah yang sinting. Bertahun-tahun hidup di pesantren, baru kali ini ia bertemu dengan lelaki model seperti itu. Gila, tidak tahu malu, nekat, berani, dan … sangat … ganteng?

Ah, apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Zoeya?

 “Astaghfirullah,” desahnya lirih dan segera berjalan menuju meja rias, menjangkau ponsel yang sejak tadi sudah merengek-rengek gaduh. Benar, ada beberapa chat yang masuk. Terutama dari grup SAEC. Tapi chat dari kontak bernama “My Iridessa” itu harus selalu ia prioritaskan.

(Mbak tuh egois dan nggak berguna banget ya, Za, jadi istri).

Segera ia mengetik sebuah balasan sambil menjatuhkan pantat di pinggir ranjang. Dahinya berkerut-kerut serius.

Zaima Zoeya Maryam

(Kenapa lagi? Mbak didesak lagi? Bukan Mbak yang egois. Tapi mereka)

Chat langsung terbaca. Mungkin si My Iridessa memang sedang tak ada kerjaan, atau memang sedang butuh seseorang yang bisa mendengarkan segala keluh kesahnya.

My Iridessa

(Nggak sih. Dia halus kok ngomongnya. Dia juga bilang kalau yang pertama itu nggak bakal tergantikan. Akan selalu mendapat porsi cinta yang lebih banyak)

Zaima Zoeya Maryam

(Bullshit. Dia egois, jahat, nggak punya ati. Dia hanya mikirin dirinya dan keluarganya. Kalau dia punya ati, dia nggak akan seperti ini. Dia nggak akan ada niat poligami. Menyerahlah kalau Mbak ingin menyerah. Tanpa dia, Mbak bisa hidup bahagia. Aku akan selalu ada untuk Mbak)

Satu tetes air mata meluncur dari tengah netranya. Ia banting ponselnya ke atas ranjang. Rasa nyeri merayap begitu cepat di dadanya setiap kali mendapat curhatan itu. Ingin rasanya ia mengumpat dan memaki lelaki yang sudah menyengsarakan Iridessa-nya. Kenapa lelaki itu begitu egois? Jika bisa memilih, tentu setiap perempuan ingin sehat dan normal. Ingin merasakan mengandung dan melahirkan.

 Setiap orang pasti akan menghadapi ujian dan masalah yang berbeda. Tapi seringnya, manusia tidak tahu dan tidak bisa memilih ujian seperti apa yang akan mereka hadapi. Seperti halnya dengan Irridessa—yang tidak pernah menduga jika miom sialan itu bersemayam di rahimnya dan membuatnya sulit memiliki keturunan. Membawanya ke dalam kondisi sulit dan terjepit sebagai menantu dari putra seorang Kiai besar. Dan Kiai besar itu tentu seperti orang tua yang lain, ingin tahu bagaimana rasanya menimang cucu.

Tanpa sadar, ia mengusap perutnya sendiri. Tak bisa ia bayangkan jika ia di posisi Iridessa. Ia tentu akan sangat dilema dan bingung sekali. Ah, dia mulai menyadari sesuatu. Tidakkah tadi ia berlebihan? Seharusnya tadi ia bisa memberi respon yang lebih baik. Respon yang menentramkan. Ia coba tarik napas dan meraih handphone itu lagi, lalu mengetikkan sebuah pesan.

Zaima Zoeya Maryam

(Nanti healing yuk. Jalan-jalan gitu sama shopping. Udah lama kan nggak ngemall bareng?)

Setelah itu ia letakkan kembali ponselnya di atas ranjang setelah mengecek beberapa pesan yang lain. Setengah jam lagi, tiba waktu dzuhur dan ia harus bersiap-siap ke kampus. Sebenarnya dia hanya ada satu jadwal kuliah—Semantic dengan Mr Retmono nanti bakda asar. Tapi dia sudah berjanji ikut rapat siang ini di SAEC untuk membahas acara EBT.

Zoeya, maksudnya Maryam, sempat mengamati wajahnya di depan kaca. Masih ada sisa-sisa sembab di sana. Ia kembali melenguh panjang. Pasti dia kelihatan menyedihkan tadi di depan lelaki tengik itu. Ya, dia memang menyedihkan bukan?  Dan demi apa dia masih memikirkan itu? Seharusnya dia masa bodoh saja. Seperti halnya saat dia melangkahkan kaki ke arah balkon untuk mengambil handuk, lalu mendapati seseorang sedang berjongkok di bawah sana. Di gang sempit yang juga sebagai jalan pintas menuju gedung pertemuan dan asrama putra. Gang itu jarang dilewati orang, jadi seringkali tampak sepi seperti saat ini.

Zoeya tertegun sejenak saat menyadari bahwa lelaki yang sedang berjongkok itu adalah lelaki yang menatapnya lekat di pesarean. Lelaki yang menyatakan cinta secara terang-terangan di halaman kemarin, dan lelaki yang secara kurang ajar masuk ke area privasinya. Dia … Salman Al-Farisi.

Salman ternyata benar-benar menjalankan takzirannya dengan baik. See, saat ini dia sedang memberi makan kucing kesayangannya dengan baik. Bagaimana ia menuangkan whiskas ke dalam stainless steel, juga menyiapkan wadah kecil berisi air berhasil menyita perhatian Zoeya. Hingga tak sadar kedua sudut bibirnya terangkat. Ia merasa takjub dengan keakraban duo Salman itu. Merasa geli juga melihat lelaki absurd seperti Salman mengelus-elus kucingnya penuh sayang.

“Pusss … empus … Pus apa yang bikin berkeringat?” tanya Salman mengajak komunikasi. Dan tentu saja kucing yang tengah makan dengan lahap itu tidak bisa menjawab. Kecuali dia kucing siluman.

“Push up. Hahaha.” Jawab-jawab sendiri. Ketawa-ketawa sendiri. Sinting emang.

“Pertanyaan selanjutnya. Kalau nggak bisa jawab, tak ubah ya nama kamu.”

Mendengar itu, Zoeya mengernyitkan dahi. Enak saja main ubah-ubah nama hewan peliharaan orang.

“Bayi… bayi apa yang dibakar?”

Kucing itu tetap diam. Hanya area keher dan punggungnya yang bergerak-gerak mengikuti aktivitas mengunyahnya.

“Bayigon… huahahaha.”

“Nggak lucu,” gerutu Zoeya, tapi ia masih betah berdiri di atas sana.

“Oke, karena nggak bisa jawab, namamu gue ganti Abu. Abu Abdullah. Itu juga nama lain Salman Al-Farisi kan? Biar kita juga nggak bingung kalau ada bidadari yang manggil. Oke?  Tos dulu dong, Bro.”

Zoeya geleng-geleng sambil tersenyum. Boleh juga Abu.

“Satu pertanyaan lagi nih.”

Hah? Lagi? Zoeya urung masuk ke dalam dan kembali menyimak.

“Buah, buah apa yang durhaka?”

“Melon kundang. Huahahaha.”

Zoeya terkikik lagi. Merasa terhibur dengan lelucon receh itu. Dasar sintiiiing … Emang sin … ting … dan senyum Zoeya mendadak surut. Tapi belum benar-benar surut saat kepala di bawah sana reflek mendongak ke arahnya. Membawa satu kesimpulan bahwa Salman tahu sejak tadi dia mengamatinya, bahkan ikut tertawa dengan lelucon-leluconnya. Benarkah? Apakah dia sedang tertangkap basah? Dan kenapa dia malah membalas senyum lelaki itu? Apa dia sudah ketularan sinting? Sadar, Zoeya … Sadar. Kamu tidak lupa dengan statusmu, kan, kalau kamu adalah Ratu keduanya Al-Amin? Bu Nyai Maryam?

“Micin … micin apa yang bikin deg-deggan?” Salman melemparkan pertanyaan lagi, dengan nada menggumam, tapi masih terdengar jelas oleh Nyai Maryam.

Nyai … ngapain kamu masih disitu? Kamu tidak sedang terbuai, kan?

“Micintaimu dengan sepenuh jiwa,” jawab Salman masih dengan mata terpaku pada bidadari di balkon sana.

Tidak … ini tidak benar. Dia tidak boleh menjadi bahan lelucon santri tak tahu diri itu lagi.

“Dasar gila,” geram Nyai Maryam sebelum berputar dan masuk ke dalam.

Setelah itu Salman merasa kesulitan menelan ludahnya sendiri. Kenapa, Salman? Apa ludahmu ada durinya? Tidak, dia hanya masih … terkejut. Dan merasa kaki-kakinya tidak menjejak bumi.

“Hey, Abu … gue tadi nggak salah lihat, kan? Majikanmu tersenyum, Abu. Maleficent ternyata bisa tersenyum,” ujarnya pada Abu dengan tersenyum lebar. Dan senyum itu bertambah lebar saat mendapat respon dari kembarannya. “Meooong…” Yang artinya kira-kira, “Wah, benarkah? Kalau begitu ini pertanda bahaya.”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 46 Santri Baru MI Hidayatul Islam Terima Edukasi dari Damkar

    46 Santri Baru MI Hidayatul Islam Terima Edukasi dari Damkar

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 663
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Puluhan peserta didik baru MI Hidayatul Islam (MHI) Gembong, Pati melakukan kunjungan di Kantor Pemadam Kebakaran Kabupaten Pati. Kegiatan ini dilakukan pada Kamis (17/7) pagi. Momen tersebut merupakan rangkaian Matsama (Masa Ta’aruf Siswa Madrasah) tahun pelajaran 2025/2026. Menurut Sumarni, kepala MHI, sedikitnya ada empat puluh enam siswa baru yang turut andil dalam […]

  • PCNU - PATI

    Ansor Banser Pati Lakukan Bersih Lingkungan Terdampak Banjir

    • calendar_month Sen, 18 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Pati. Pada rabu malam hujan deras, (13/7/2022) mengakibatkan jebolnya tanggul Sungai dan menyebabkan banjir bandang di dua desa Kecamatan Margoyoso. Dua desa itu adalah Bulumanis Kidul dan Tunjungrejo. Berdasarkan laporan di lapangan, total ada 22 rumah warga yang hanyut terbawa banjir dengan rincian 12 rumah di Bulumanis Kidul dan 10 sisanya di Tunjungrejo. Tidak hanya […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa Bukan Bulan Kapital

    • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.306
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ibadah yang hanya dipandang kayak dodolan, dagang, untung-rugi, oleh ganjaran pira, kayaknya itu menjadi bentuk riil cara berpikir kita itu kapitalistik. Maksude pimen? Ya, simpelnya kita beribadah hanya mengejar keuntungan pahala saja, tanpa memastikan puasa kita itu sakjane ya agar kita bertakwa dan menuju Allah Swt.   Realitas lain, tiap […]

  • Pelajar Islam Berbudaya untuk Toleransi dan Persatuan Bangsa  KONGRES XVII I  IPPNU

    Pelajar Islam Berbudaya untuk Toleransi dan Persatuan Bangsa KONGRES XVII I IPPNU

    • calendar_month Kam, 3 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Negara-negara berkembang hanya menjadi penonton bagi masuk dan berkembangnya nilai-nilai negara maju yang dianggap nilai-nilai global ke wilayah negaranya. Bagi Indonesia, merasuknya nilai-nilai Barat yang menumpang arus globalisasi ke kalangan masyarakat Indonesia merupakan ancaman bagi budaya asli yang mencitrakan lokalitas khas daerah di negeri ini. Kesenian-kesenian daerah seperti wayang, gamelan, dan tari menghadapi ancaman serius […]

  • Photo by Jubéo Hernandez

    Ketika Cinta Dipertanyakan

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Oleh : J. Intifada Namaku Gami. Aku tinggal di desa paling utara Kabupaten Gresik. Kota sebelum ibukota jawa timur ini tak lebih besar dan tak kurang maju dari Surabaya. Dari lahir hingga kini sudah beranjak dewasa. Aku punya dua sahabat. Namanya Kristal dan Banu. Mereka juga lahir dan tinggal di sini. Kami bersahabat sejak kecil. […]

  • MA BANIN; MADRASAH PLUS LIFE SKILL Dari Kitab Kuning Sampai Membatik

    MA BANIN; MADRASAH PLUS LIFE SKILL Dari Kitab Kuning Sampai Membatik

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Mentari di pagi itu begitu indah menampakkan wajahnya, mengiring kayuhan sepeda onthel yang sesekali menjerit-jerit karena usianya yang lapuk. Ya, pagi-pagi betul anak-anak harus sudah sampai di halaman Madrasah Tarbiyatul Banin. Tepat pukul 06.30 lantunan murotal ayat-ayat Alqur’anul Karim terdengar sayup-sayup dibacakan oleh siswa-siswi yang hari itu mendapat giliran mengiring mereka memasuki pintu gerbang madrasah. […]

expand_less