Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Pribadi Telaten KH. Muhammad Asmu’i Hasan

Pribadi Telaten KH. Muhammad Asmu’i Hasan

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 24 Mar 2023
  • visibility 261
  • comment 0 komentar

Oleh: Yumna Ulayya Ainun Nafidz

KH. Muhammad Asmu’i Hasan merupakan salah satu ulama yang dikenal pandai dalam bidang kajian kitab kuning di desa Kajen Pati, menjadi sosok pemimpin setiap kali bahtsul masail diadakan. Garis nasab Kiai Asmu’i jika ditarik ke atas, segaris lurus akan bertemu dengan nasab Kiai Khumaidi, Pundenrejo Pule Tayu, Pati.

KH. Muhammad Asmu’i Hasan memiliki ayah seorang muhibbin para ulama. Sejak kecil sering diajak ayahnya untuk sowan dan minta doa kepada para ulama. Mungkin sebab barokah doa-doa dan dari seringnya sowan kepada para ulama inilah yang membuat pribadi Kiai Asmu’i Hasan terbentuk, hingga pada akhirnya beliau memilih jalan untuk sepenuhnya mengabdikan diri bagi agama.

Selepas nyantri dan mengajar di Tanggir, beliau pulang ke Pati dan mengajar di Salafiyah, Kajen. Sampai akhir hayatnya beliau mengabdi di Madrasah Salafiyah. Selain sebagai Pengawas Yayasan, beliau juga dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren As-salafiyah peninggalan KH. Faqih Baedlowi.

Garis Nasab KH. Muhammad Asmu’i Hasan

Lahir pada hari Jumat, 11 Dzulqoidah 1374 H, atau tepatnya pada 1 Juli 1955, garis nasab KH. Muhammad Asmu’i Hasan dari jalur ayah memiliki bapak bernama Suradi, sehari-harinya berprofesi sebagai tukang kayu dan petani. Kakek beliau, bernama Ardono. Sementara dari jalur Ibu, Ibu beliau bernama Fathonah yang berasal dari kalangan santri. Nenek beliau bernama Arso Kadisah yang jika ditarik ke atas, garis nasabnya bertemu dengan Kiai Khumaidi, Pundenrejo Pule, Tayu, Pati.

Kiai yang Menyukai Kebersihan dan Pribadi Telaten

KH. Muhammad Asmu’i Hasan menyukai kebersihan. Setiap kali masuk ke kelas sebelum mengajar beliau mengingatkan kepada siswa-siswi madrasah agar menjaga kebersihan ruangan. Beliau selalu menghimbau bahwasannya kebersihan adalah sebagian dari iman.

Beliau merupakan sosok yang sangat menyukai pribadi santri telaten. Kesabaran, rajin, dan berjiwa besar menurut beliau adalah bekal utama ketika menuntut ilmu. Tidak jarang beliau ketika bertemu santri-santrinya selalu bertanya, sudahkah melaksanakan kewajiban salat?

Perjalanan Pendidikan dan Karir

Pendidikan KH. Muhammad Asmu’i Hasan, setelah bersekolah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di Miftahul Huda (MMH) Tayu, beliau melanjutkan ikhtiar nyantri ke Tanggir, Singgahan, Tuban, dididik langsung oleh K.H. Muslich Abdul Karim (Mbah Shoim). Selepas Mbah Shoim meninggal Kiai Asmu’i Hasan diminta mengajar oleh K.H. Abdullah Faqih, Langitan, untuk menggantikan posisi Mbah Shoim. Sebelum beliau menikah, kemudian pulang ke Pati dan mengajar di Kajen.

Petualangan ke Tanggir, Tuban, beliau mulai saat berusia 19 tahun, ketika di Tanggir beliau mondok kurang lebih 11 tahun. Karena cukup lama nyantri di Tanggir, beliau sampai diangkat menjadi lurah pondok pesantren beberapa tahun. Bisa dikatakan keilmuan beliau meningkat pesat ketika belajar di Tanggir.

Sejak di Tanggir pula Kiai Asmu’i Hasan aktif mengikuti forum bahtsul masail antar pondok pesantren se-Jawa dan Madura. Bahkan aktivitas tersebut rutin beliau ikuti hingga beliau bermukim di Kajen. Keaktifan beliau mengikuti bahtsul masail di Kajen sampai menarik perhatian KH. M.A. Sahal Mahfudh, akhirnya beliau dimintai Kiai Sahal untuk memimpin kegiatan musyawarah ketika bahtsul masail dilaksanakan di rumah Kiai Sahal.

Selepas nyantri dan mengajar di Tanggir, beliau pulang ke Pati dan mengajar di Salafiyah, Kajen. Sampai akhir hayatnya beliau mengabdi di Madrasah Salafiyah. Selain sebagai Pengawas Yayasan, beliau juga dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren As-salafiyah peninggalan KH. Faqih Baedlowi.

Karakter KH. Muhammad Asmu’i Hasan

KH. Muhammad Asmu’i Hasan populer sebagai kiai yang sangat mencintai ilmu. Kalau sudah mengaji, beliau kadang sampai lupa waktu. Satu hari mengaji, malam mengaji lagi, tidak punya rasa lelah. Begitu pun ketika beliau mengajar, sampai-sampai yang diajar tidak kuat mengikuti.

Pada waktu Kiai Ahmad Husain Muzakki, Gesing, Sidomukti, masih hidup dan sehat, seringnya mengajak Kiai Asmu’i Hasan untuk mengisi kajian-kajian kitab yang diajarkan Kiai Husain Muzakki karena kepandaian beliau. Meski bukan seorang putra Kiai, tetapi ilmunya dirasa mumpuni dari segi keilmuan kitab. Suatu ketika, K.H. Ahmad Nafi’ Abdillah dalam sebuah forum bahtsul masail bahkan tidak segan-segan bertanya ke Kiai Asmu’i Hasan tentang persoalan di ilmu kitab kajian yang dirasa beliau terlalu sulit dipahami. Kiai Asmu’i sendiri selepas acara mengemukakan bahwa itu sebagai bentuk keikhlasan hati dari Abah Nafe’.

Ketika forum bahtsul masail rutinan oleh para kiai Kajen diselenggarakan, Kiai Asmu’i Hasan selalu ditunjuk sebagai pemimpin (moderator), memimpin keberlangsungan acara musyawarah. Bahkan kalau Kiai Asmu’i Hasan tidak berangkat, KH. M.A. Sahal Mahfudh dengan sedikit bercanda mengatakan, lebih baik forum dibubarkan saja kalau Kiai Asmu’i Hasan tidak datang. Karena Kiai Asmu’i Hasan memang benar-benar ahli dalam bidang Ushul Fiqh, sedangkan Ushul Fiqh sendiri termasuk ilmu kitab yang sulit dipelajari. Tidak jarang beliau juga diminta secara khusus oleh para kiai dari Kudus untuk menerjemahkan makna dalam kitab yang dikaji.

KH. Asmu’i Hasan berasal dari keluarga yang kurang mampu dari segi ekonomi. Ketika beliau berangkat menuntut ilmu dari rumahnya di Bulungan sampai ke madrasah, yaitu MMH Tayu, ditekadi beliau dengan berjalan kaki. Pulang pergi, setiap hari. Ketika beliau sudah mondok di Tanggir, meninggalkan desanya, setiap satu bulan sekali beliau tetap menyempatkan untuk mengajar di Bulungan, Tayu, Pati.

Kiai Asmu’i Hasan sejak kecil terkenal bandel. Karena bukan dari kalangan berada, tentu masa kecil beliau juga diisi dengan membantu pekerjaan orang tua. Sejak kecil beliau sudah biasa membantu memikul karung berisi beras dengan berjalan kaki telanjang untuk dijual ke Pasar Tayu yang jaraknya kurang lebih sekitar 5 km dari rumah. Hal itu berlangsung hingga beliau menimba ilmu di MMH Tayu.

Kitab-kitab yang Diajarkan oleh KH. Muhammad Asmu’i Hasan

KH. Muhammad Asmu’i Hasan sudah mulai mengajar saat masih nyantri di Tanggir, Tuban. Banyak kitab-kitab yang diajarkan beliau, mulai dari kitab-kitab kecil sampai kitab-kitab besar yang berjilid-jilid. Menurut penuturan K.H. Chasan Bisri Syamsuri, Rengel, Tuban, yang merupakan salah satu murid Kiai Asmu’i ketika di Tanggir, Kiai Asmu’i Hasan menonjol dalam bidang Ushul Fiqh.

Untuk kajian-kajian Kiai Asmu’i Hasan saat sudah berada di Kajen, sebenarnya juga banyak kitab-kitab yang beliau ajarkan. Namun yang rutin beliau kaji saat di Kajen adalah kitab Kifayatul Akhyar, Adzkar Nawawi, Lubbul Ushul, Nashoihul Ibad, dan Ihya’ Ulumiddin. Kitab-kitab tersebut beliau kaji di Pondok Pesantren As-salafiyah asuhan K.H. Faqih Baedlowi, di Madrasah Salafiyah, dan di beberapa desa di luar Kajen, seperti di Masjid Sekarjalak, Sidomukti, dan lain-lain.

Wafatnya Kiai Alim

Sampai mendekati akhir hayat beliau tetap pada rutinitasnya, yaitu mengajar dan mengkaji kitab. Bahkan meski kesulitan dalam pengucapan, beliau masih sempatkan untuk mengajar kitab Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin. Sampai akhirnya beliau wafat pada Kamis, 16 Jumadil Awal 1441 H, tanggal 31 Desember tahun 2020 sekitar pukul 07.00 WIB.

Sumber:

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

Wawancara dengan Saudara Hazim Fikri/Gus Fikri (Putra K.H. Muhammad Asmu’i Hasan), 10 November 2022.

Wawancara dengan Bapak Akhmad Ashab, S.Pd.I (Pembina Yayasan Salafiyah dan Pengasuh Pondok Pesantren As-salafiyah 2), 10 November 2022

Wawancara dengan Bapak Musyafak (Santri K.H. Muhammad Asmu’i Hasan), 11 November 2022.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hukum Mengusap Tangan Setelah Berdoa

    Hukum Mengusap Tangan Setelah Berdoa

    • calendar_month Sen, 26 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Pertanyaan : Ada salah satu praktik orang – orang ketika berdoa mereka mengangkat kedua tangan dan setelah selesai, mereka mengusapkannya ke wajah. akan tetapi setelah doa qunut di saat sholat subuh mengapa ada yang mengusapkan tanganya ke wajah dan ada yang tidak, mohon dijelaskan cara yang benar itu bagaimana ?   Jawaban :Setelah berdo`a dianjurkan […]

  • Ini Sosok Adzkia, Murid Kelas 6 MI Ma’arif Gondang Juara I Karate Nasional Indikado 2025

    Ini Sosok Adzkia, Murid Kelas 6 MI Ma’arif Gondang Juara I Karate Nasional Indikado 2025

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 295
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Wonosobo – Pada ajang bergengsi Indonesia Karate-Do yang digelar di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta, pada tanggal 21 hingga 23 Februari 2025, murid kelas 6 Al A’la MI Ma’arif Gondang, Wonosobo Adzkia Zahra Althafunnisa, berhasil meraih Juara 1 SD Kelas 4-6 Kumite +30 KG Putri dalam Kejuaraan Karate Nasional Indikado 2025. Keberhasilannya ini tidak hanya […]

  • Ketua PCNU Datangi Pelantikan NU di Gembong

    Ketua PCNU Datangi Pelantikan NU di Gembong

    • calendar_month Ming, 19 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 158
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Pengurus MWC NU Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati resmi dilantik Ahad (19/5) malam. Selain pengurus MWC, sebanyak 13 Ranting juga dilantik dalam forum yang sama. Kegiatan yang diselenggarakan di Lapangan Joko Tingkir Gembong ini dihadiri langsung oleh Ketua dan sekretaris PCNU Pati, KH. Yusuf Hasyim dan H. Maskan. Sebagai pamungkas, agenda bertajuk MWC dan […]

  • PCNU-PATI Photo by Nick Agus Arya

    Negara Kesatuan Republik Indonesia

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Gerakan kemerdekaan Indonesia menunjukkan polarisasi bipolar.Gerakan nasional sekuler yang berdasarkan patriotisme ansih, dangerakan nasional Islam yang berdasarkan Islam dan patriotisme. Kedua ideologi ini mewarnai sidang pertama Badan PenyelidikUsaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yangberlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945.Ada demarkasi yang jelas antara mereka yang menginginkannegara sekuler dengan mereka yang menginginkan negara Islam.Kekuatan […]

  • Bedah Buku  “Menatap Massa Depan NU “

    Bedah Buku “Menatap Massa Depan NU “

    • calendar_month Kam, 18 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati hari jadi Ormas Islam Nahdlatul Ulama yang ke-90, LTN PCNU Kabupaten Pati bekerjasama dengan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), organisasi kemahasiswaan Library Coner serta BEM-Pro PMI Institut Pesantren Mathali’ul Falah menyelenggarakan event launching dan bedah buku “Menatap Masa Depan NU : Membangkitkan Spirit Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, dan Nahdlatut Tujjar” Karya Dr. […]

  • SMPQT  As Salafiyah di Resmikan

    SMPQT As Salafiyah di Resmikan

    • calendar_month Sel, 13 Apr 2021
    • account_circle admin
    • visibility 181
    • 0Komentar

      Pati, Jajaran Pengurus dan tenaga pendidik Yayasan As Salafiyah Bageng Gembong Pati, melakukan peresmian sekolah baru SMPQT As Salafiyah dengan dihadiri oleh Bupati Pati H. Haryanto, MM, MSI serta Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, Senin 12 April 2021             Meskipun terletak di desa akan tetapi kami selaku Pengurus Yayasan dan tenaga pendidik akan bekerja yang […]

expand_less