Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Mbah Reban

Mbah Reban

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 28 Sep 2023
  • visibility 751
  • comment 0 komentar

Oleh: Annisa Barokatus

Mbah Reban adalah seorang ulama yang lahir di Desa Tambahmulyo Dukuh Tambak Kapas sekitar tahun 1944 M pada hari Rabu dan meninggal pada hari Rabu pula di rumah beliau Desa Tambahmulyo, pada tanggal 15 Jumadil Ula 1431 H pada usia 65 tahun. Nama Mbah Reban diambil dari hari lahirnya yaitu Rabu.

Mbah Reban merupakan seorang alim yang berasal dari keturunan ulama. Mbah Reban lahir dari pasangan Mbah Marno dan Mbah Manirah. Mbah Marno memiliki ayah bernama Mbah Soto yang merupakan keturunan ke 15 dari Brawijaya V. Ibu dari Mbah Reban adalah Mbah Manirah binti Kyai Surat bin Kyai Yahya. Kyai Yahya inilah orang pertama yang menyebarkan Agama Islam di Desa Tambahmulyo. Kyai Yahya berhasil memenangkan sayembara menangkap perampok dan perusuh di Desa Tambahmulyo saat itu. Kyai Yahya merupakan orang pertama yang mendirikan musholla di Desa Tambahmulyo dan sekarang menjadi Masjid Jami’ Desa Tambahmulyo.

Mbah Reban adalah anak bungsu dan sepuluh bersaudara. Pada usia Mbah Reban 1 tahun sang Ibu meninggal dan sang ayahpun wafat pada usianya yang ke 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakak pertamanya yaitu Mbah Sarjan. Mbah Sarjan adalah seorang ulama penyebar agama Islam di Desa Tambahmulyo. Mbah Sarjan mendirikan Masjid Al Mubarokah Desa Tambahmulyo tepatnya di Dukuh Bangleyan.

Mbah Reban mengenyam pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) setara SD (Sekolah Dasar) dengan berbekal hasil penjualan tanah warisan dari orang tua. Kemudian beliau melanjutkan belajar ke sebuah pondok pesantren di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken. Mbah Reban belajar kepada K.H Syamsul Hadi, seorang ulama Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah pengasuh pondok pesantren tersebut. Mbah Reban muda bergelut dengan ilmu Syari’at dan Tarekat. Beliau mengambil baiat kepada Mbah Thohir, menantu K.H Syamsul Hadi. Mbah Reban juga mengambil baiat tabarruk kepada Mbah Dullah Salam Kajen dan dilanjutkan kepada K.H Rohmat Noor. Selanjutnya, Mbah Reban mengambil Baiat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kepada K.H Lutfi Hakim dari Mranggen Kabupaten Demak. Mbah Reban adalah sosok yang rajin mencari ilmu. Mbah Reban menjadi murid Maulana Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan dimana beliau selalu hadir di jama’ah taklim Jum’at Kliwon hingga akhir hayatnya.

Mbah Reban adalah seorang alim yang selalu melaksanakan salat 5 waktu berjama’ah dan tidak lupa dengan wiridannya. Beliau tidak hentinya membaca manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani pada tanggal 11 setiap bulan Hijriyah (dikenal dengan sebutan sewelasan). Mbah Reban melanggengkan selawat atas Nabi Muhammad saw setiap saat. Beliau mencintai Ulama dan Habib dengan meneladani ucapan, perilaku, amal saleh serta ibadahnya demi mendapat berkah.

Mbah Reban menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan. Beliau mengajarkan agama Islam melalui bidang perekonomian. Mbah Reban diperintahkan oleh sang guru K.H Syamsul Hadi untuk membeli mesin jahit dan mempelajari pola-pola jahitan secara autodidak mellaui pembedahan jahitan baju yang sudah jadi. Atas ijin Allah, Mbah Reban bisa menjahit dan mulai membuka jasa jahit. Beliau menjadi orang pertama di kecamatan Jakenan yang membuka jasa jahit sehingga dikenal sebagai Mbah Reban Jahit. Banyak orang yang akhirnya mengenal sosok Mbah Reban.

Mbah Reban berkesempatan untuk menyampaikan ajaran agama Islam secara damai. Murid pertama beliau bernama Mbak Ngas Jahit. Mbah Reban mengajar agama Islam bersamaan dengan mengajar cara menjahit. Murid berikutnya adalah anak dari Mbak Ngas Jahit yaitu Mbak Tun Jahit. Beberapa tukang jahit di kecamatan Jakenan adalah hasil didikan beliau seperti halnya Penjahit Maulana di Desa Sembaturagung Kecamatan Jakenan. Murid-murid Mbah Reban semakin banyak, tetapi Beliau tidak menarik upah atas jasa mengajarnya. Sering kali murid-murid menyodorkan amplop berisi uang dan selalu ditolak oleh Mbah Reban. Beliau sangat senang dapat mengajarkan ilmunya kepada semua orang.

Mbah Reban sering kali melakukan perjalanan untuk berziarah ke makam para waliullah. Pada suatu hari Mbah Reban berziarah bersama murid-muridnya, Mereka memperhatikan saku Mbah Reban hanya terdapat siwak, tasbih dan sedikit uang saja. Namun pada saat Beliau melintasi peminta sedekah, Mbah Reban merogoh sakunya dan dikeluarkannya uang untuk diberikan kepada peminta sedekah. Murid-murid yang mengetahui hal tersebut merasa aneh. Kejadian serupa terulang beberapa kali disetiap menemui peminta sedekah. Dengan bergegas Mbah Reban langsung merogoh saku dan memberi mereka uang. Saku Mbah Reban seperti menjadi sumber uang untuk disedekahkan.

Mbah Reban menjadi guru yang penuh tauladan; kehidupannya sederhana, perkataannya santun, perbuatan baik, amalannya istikamah dan ibadahnya khusyuk. Mbah Reban mendorong kepada semua murid tidak hanya untuk belajar ilmu agama Islam tetapi juga untuk belajar mandiri mencari pekerjaan. Beberapa murid Mbah Reban mulai merantau ke luar kota, ke luar pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Setiap kali murid-murid Mbah Reban hendak pergi merantau mereka meminta do’a restu dari sang guru. Pada hari wafatnya Mbah Reban, keluarga tidak dapat memberi kabar duka kepada murid-murid yang tempatnya jauh. Selang beberapa hari murid-murid tersebut menghubungi anak Mbah Reban. Mereka menanyakan kabar Beliau.

Kemudian anak Mbah Reban memberitahu berita duka kepada mereka. Mendengar hal tersebut mereka mengungkapkan bahwa tubuh mereka lemas beberapa hari terakhir padahal mereka sudah memeriksakan kesehatan ke dokter. Menurut dokter tidak ada gangguan pada tubuh mereka. Murid-murid Mbah Reban menyimpulkan bahwa lemasnya tubuh tanpa penyakit dikarenakan wafatnya sang guru. Mereka menjadi kuat karena penuh dengan do’a sang guru yang diijabah Allah Swt.

Setelah pemakaman Mbah Reban, anak Mbah Reban mendapat wasiat dari Beliau bahwa dalam mimpinya seolah-olah Mbah Reban masih hidup. Mbah Reban sebagai seorang alim mengajarkan agama Islam pada masa hidupnya dan memberi tauladan kepada keluarga, murid-murid, dan masyarakat sekitar untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. (MTs Tarbiyatul Islamiyah Jakenan)

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by stevepb

    Resep Rahasia Simbok

    • calendar_month Ming, 30 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 577
    • 0Komentar

    Oleh : Ismi Faizah “Bocah wadon kui kudu iso masak. Ora mung eroh e mangan tok. Iso-iso mbesok diclatu karo morotuo!” (anak perempuan itu harus bisa masak. Bukan cuma tahu makan saja. Bisa-bisa dimarahi mertua nanti). Kalimat yang sama. Diucap berulang kali. Entah kali keberapa sekarang, aku coba mengingat, kesepuluh jariku sampai habis ternyata belum […]

  • Membaca Peluang Usaha Ditengah Pandemi, PAC GP Ansor Winong Gelar Pelatihan Ternak Bebek

    Membaca Peluang Usaha Ditengah Pandemi, PAC GP Ansor Winong Gelar Pelatihan Ternak Bebek

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle admin
    • visibility 379
    • 0Komentar

    WINONG – PAC GP Ansor Kecamatan Winong semalam (Sabtu, 15/08/2020) melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Budidaya Bebek Hibrida, Peking dan Lokal di ikuti 35 orang dari Kader Ansor Banser Kecamatan Winong dan Masyarakat Umum. Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dalam bidang peternakan Mohammad Sholahuddin yang merupakan Peternak bebek, Pelaku Usaha mulai dari pengadaan bibit, pemeliharaan, hingga pemasaran […]

  • Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Kedai Nuk Inuk di Gerit Cluwak Tawarkan Konsep 'Kopi, Buku, Makan Enak'

    Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Kedai Nuk Inuk di Gerit Cluwak Tawarkan Konsep ‘Kopi, Buku, Makan Enak’

    • calendar_month Ming, 5 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 169
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Aroma kopi yang harum menyeruak di antara pilar-pilar kayu sebuah rumah tua di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati. Di sudut ruangan, sebuah radio kuno dan mesin ketik ditata apik, memberikan kesan vintage rustic yang kuat. Di sinilah Mirza (38), anggota Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Pati, menyemai mimpi […]

  • PCNU PATI. Ilustrasi Orang-orang Berkerumun.. Photo by Jacek Dylag on Unsplash

    Curah

    • calendar_month Jum, 29 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Uang bukanlah segala-galanya, tapi segalanya butuh uang. Siapa yang tidak tergiur dengan uang. Apalagi gratisan. Kali ini pemerintah kita kembali menggelontorkan uang BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada masyarakat pada situasi pandemi Covid-19. Sedikit cerita di desa tempat saya tinggal, ada salah satu warga yang mendapat bantuan. Sebut saja namanya Mbah Rah, sudah sepuh berjalan saja […]

  • Santri Mathali'ul Falah Kajen Raih Juara 1 Debat Bahasa Inggris MQK Nasional

    Santri Mathali’ul Falah Kajen Raih Juara 1 Debat Bahasa Inggris MQK Nasional

    • calendar_month Sel, 7 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 553
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Santri Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional Ke-8 yang berlangsung di Pondok Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan, pada 30 September–5 Oktober 2025. Tim yang terdiri atas Hilya Hilma, Viki Elok Sofyani, dan Najmah Ahlami Arwani ini mewakili […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi ber-empati. Photo by Europeana on Unsplash.

    Ber (empati) diri

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Hari ini masih suasana berkabung. Mendung menyelimuti. Sedih masih bersemayam dalam hati dan menelisik sanubari. Semua orang pasti suatu ketika akan mengalami, datang dan pergi. Kembali pada ilahi Robbi. Lahir dan mati. Itu pasti dan tak dapat di pungkiri. Tinggal bagaimna kita mampu mengelola hati dan empati. Dari Sabtu kemarin, saat Ibu mertua saya pergi […]

expand_less