Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pemikiran Aswaja KH. Hasyim Asy’ari

Pemikiran Aswaja KH. Hasyim Asy’ari

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 22 Nov 2017
  • visibility 587
  • comment 0 komentar

Beberapa waktu yang lalu di beberapa media online muncul berita, bahwa kitab karya KH. Hasyim Asy’ari yang berjudul “Risalatu Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah: Fi Haditsi al-mauta Wa Asyaratu al-Sa’ah Wa Bayanu mafhumi al-Sunnah Wa al-Bid’ah” berusaha dirubah oleh oknum tertentu. Bagian isi kitab yang dirubah berkaitan dengan penjelasan KH. Hasyim Asy’ari atas bolehnya atau anjuran ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, yang kemudian diganti dengan penjelasan dianjurkannya ziarah ke Madinah munawwarah, dan mengganti kalimat Rafidlah menjadi kalimat Syi’ah yang memiliki pengertian umum.
            Peristiwa di atas merupakan salah satu strategi dan propaganda kelompok-kelompok yang anti ziarah untuk merubah dan merusak pemahaman masyarakat di dalam memahami ajaran Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah. Sebagai paham mayoritas masyarakat Indonesia, ASWAJA memang tak bisa lepas dari berbagai usaha musuh yang ingin melemahkannya. Masyarakat diseru untuk selalu waspada terhadap berbagai buku dan kitab-kitab klasik atau kontemporer yang telah banyak dijadikan sebagai media pelemahan paham ASWAJA dari dalam dengan merubah sebagian isi kitab. Apalagi sekarang banyak muncul buku bacaan benbentuk e-book atau kitab-kitab digital dan online. Kemajuan demikian disamping memudahkan masyarakat dalam mengakses referensi, tapi juga membahayakan jika kitab atau buku yang diterbitkan tersebut mengalami perubahan yang krusial dalam bagian tertentu, sehingga bisa menyesatkan pemahaman masyarakat terhadap agama.

            Kitab Risalatu Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah adalah karya Kiai Hasyim yang menjadi salah satu kitab pegangan mayarakat Nahdliyin dan menjadi salah satu kitab bacaan wajib di pesantren, yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang ASWAJA , dan membentengi mereka dari berbagai aliran sesat, terutama menangkal gerakan Wahabisme. Kitab ini ditulis sekitar tahun 1330 H, atau 180 tahun paska berdirinya Wahhabisme di Saudi. Wahhabisme yang berhasil melakukan kontrak politik dengan Raja Saud berpengaruh cukup luas hingga ke tanah air. Dan puncak dari gerakan Wahhabisme masuk ke Indonesia sekitar tahun 50-60 an, tidak lama setelah wafatnya Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun 1947 H.
Kitab ini secara khusus menjelaskan tentang paham Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah yang berkaitan dengan beberapa pokok pembahasan, yaitu penjelasan terkait pemahaman yang benar tentang sunnah dan bid’ah, madzhab mayoritas yang diikuti masyarakat Jawa, khittah ulama salaf, keharusan taqlid bagi yang tidak mempunyai kemampuan ijtihad, keharusan hati-hati di dalam menerima pemahaman agama, peringatan atas orang yang membuat-buat tradisi yang buruk, penjelasan tentang pecahnya umat Nabi Muhammad Saw, menjadi 73 golongan, tanda-tanda datangnya hari kiamat, dan penjelasan tentang hadits-hadits yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan tentang orang yang telah meninggal.
Diantara kandungan dari kitab ini yang penting diketahui oleh masyarakat umum, terutama masyarakat Nahdliyin adalah peringatan Kiai Hasyim Asy’ari terhadap bahaya beberapa kelompok Islam yang muncul sekitar tahun 1330 hingga sekarang. Mereka adalah kaum modernis pengikut Muhamad Abduh dan Rasyid Ridla, yang sedikit banyak terpengaruh oleh konsep bid’ah yang dikembangkan Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim. Ada juga kelompok Syiah yang fanatik pada Ali bin Abu Thalib. Ada lagi kelompok Ibahiyyun yang membolehkan pengikutnya lepas dari ikatan syariat tatkala sampai pada makrifat. Begitu juga kelompok yang meyakini reinkarnasi ruh dan oknum-oknum kaum sufi yang mengaku menyatu (Itthad, Hulul, Wahdatu al-Wujud) dengan Tuhan atau yang populer dalam bahasa Jawa dengan manunggaling kawulo gusti.
Menurut Kiayi Hasyim Asya’ari, kelompok di atas tersebut semuanya dianggap sesat. Kelompok yang selamat dan seharusnya diikuti oleh masyarakat adalah kelompok Salafisme, yaitu kelompok yang mengikuti tuntunan ulama salaf dengan mengkaji kitab-kitab yang dianggap mu’tabarah, mencintai ahlu al-bait, para wali dan kaum shaleh, mau ber-tabarruk, ziarah kubur, meyakini syafaat dan lain sebagainya. Sebab, menurut penuturan Kiai Hasyim pada masa lalu Umat Islam di Jawa memang telah sepakat untuk bermadzhab dengan satu rujukan dan pegangan, yaitu dalam bidang fiqih mengikuti kepada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dalam masalah ushuluddin mengikuti kepada madzhab Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, dan dalam bidang tasawuf mengikuti kepada Imam Al-Ghozali dan Imam Abul Hasan Asy-Syadzili.
Dalam kaitan ini, masyarakat Nahdliyin seyogyanya senantiasa mau belajar agama Islam dengan para ulama, kiayi, dan ustadz yang benar-benar memahami ajaran Islam (ASWAJA). Kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap berbagai gerakan dan propaganda pelemahan terhadap ajaran ASWAJA harus dilakukan oleh semua masyarakat, yaitu memalui kesadaran dan kemauan untuk menerima ajaran agama dari ahlinya. (Andi Syarqowi Penulis Adalah Ketua LAKPESDAM NU Pati)
.
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muslimat NU Dukuhseti Semangat Bagikan Takjil

    Muslimat NU Dukuhseti Semangat Bagikan Takjil

    • calendar_month Sel, 19 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    DUKUHSETI – Ada banyak cara untuk mengisi Bulan Ramadhan. Salah satunya adalah dengan memperbanyak sedekah dan ibadah. Kaum ibu-ibu PAC Muslimat NU Dukuhseti pun memiliki cara tersendiri untuk memeriahkan agungnya Bulan Ramadhan. Pada Senin (18/4) kemarin, emak-emak tersebut berkumpul di depan Gedung MWC NU Dukuhseti untuk membagi-bagikan takjil. Hal ini dituturkan oleh Ketua PAC Muslimat […]

  • LPBI NU Pusat Dan PC Ansor Pati Salurkan Air Bersih

    LPBI NU Pusat Dan PC Ansor Pati Salurkan Air Bersih

    • calendar_month Jum, 6 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Menyikapi kemarau panjang dan melihat kondisi beberapa daerah di wilayah Kabupaten Pati yang mengalami kekeringan, Pengurus Cabang  GP Ansor Pati mendatangi sejumlah titik terparah bencana kekeringan di kabupaten Pati, Senin (2/11). Mereka mendatangkan pasokan air bersih untuk menutupi kekeringan yang melanda sumur-sumur warga. Gerakan sosial yang terselenggara atas kerja sama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim […]

  • Seminar Kesehatan PC Fatayat NU

    Seminar Kesehatan PC Fatayat NU

    • calendar_month Jum, 20 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

    Pati. Bertempat di Pendopo Kabupaten Pati, jajaran Pengurus Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Pati mengadakan seminar kesehatan, 3/9 kemarin. Kegiatan yang dibuka oleh Bupati Pati H. Haryanto. SH, MM, M.Si, dengan mengundang 21 PAC Fatayat  se Kabupaten Pati kurang lebihnya peserta sebanyak 450 orang, dengan menghadirkan narasumber  BALKESMAS Pati dr. Aviani Tri Tanti Venusia, MM kepala […]

  • Catcalling

    Catcalling

    • calendar_month Jum, 1 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Senja kala itu, saat perjalanan pulang dari bekerja. Saya mendapati hal yang tak seharusnya terjadi. Saya naik motor dengan pelan karena melewati jalan persawahan yang tak seberapa lebar. Maklum desa saya dikelilingi oleh banyak sawah. Barangkali jika dilihat dari atas terlihat seperti pulau. Waktu itu saya mengenakan helm, masker, jilbab, jaket, dan celana panjang. Saat […]

  • PCNU-PATI Photo by NASA Hubble Space Telescope

    Pahala

    • calendar_month Rab, 20 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Bulan puasa sudah memasuki pekan kedua. Tentu kita sudah merasakan tentang dahaga dan lapar; menahan emosi dan lain seterusnya. Bulan penuh berkah katanya para pemuka agama; bulan penuh pahala yang mengalahkan seribu bulan. Dan pada bulan ini semua orang telah menobatkan apabila dirinya adalah yang mendapatkan banyak pahala. Bahkan banyak […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan: Bulan Tata-tata

    • calendar_month Sel, 26 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda*  Iki arep ning omahe mbahe, awakmu wes tata-tata durung, Nduk? Ya, saya ingat almarhum mertua saya ketika tanya kepada istriku. “Ini mau pergi ke rumah si mbah, kamu sudah siap-siap belum, Nduk?” Ya, begitu artinya. Kata “tata” sesuai KBBI (2024) berarti aturan, hukum, kaidah, susunan, cara menyusun, sistem. Kalau dalam bahasa Jawa, […]

expand_less