Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Parodi » Ber (makan)an

Ber (makan)an

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 1 Jun 2022
  • visibility 327
  • comment 0 komentar

Syawal adalah musim halal. Dalam hal ini banyak orang mengadakan hajatan, nikahan, tasyakuran dan lainnya. Banyak yang percaya jika mengadakan tasyakuran baik pernikahan atau pun sunatan di bulan syawal penuh keberkahan. Penuh keberkahan bagi yang mengadakan, akan tetapi lain lagi buat tetangga dan saudara; syawal adalah bulan nyumbang dan nikah secara nasional.

Saya mengamini hal tersebut, kemarin saat saya bertemu teman lama di sebuah kedai kopi ia bercerita banyak hal, apabila bulan ini pengeluarannya banyak sekali. Karena menghadiri undangan tasyakuran dari tetangga, saudara dan kolega.

“Coba kau bayangkan, coba kau pikirkan, coba kau renungkan dalam satu bulan ada tiga puluh hari, lha saya dapat undangan sampai empat puluh tempat. Jika undangannya hanya sebatas selembar kertas atau via pesan whatsapp tak apa, lha ini undanganya ada roti dan bingkisan lainnya yang dikirimkan kerumah. Apabila tak menghadiri undangannya sudah dinikmati. Jadi saya posisi seperti makan buah belimbing wuluh, tak di makan pengen; di makan asamnya tak bisa diantisipasi” celetuk teman saya tersebut.

Itu seklumit cerita perihal kisah nyumbang dan uleman yang dialami teman saya tersebut. Akan tetapi disini saya akan ngunduh rasa, bukan ngunduh mantu lho ya… terkait makan dan makanan yang tersaji dalam acara resepsi atau pesta pesta lainya.

Kemarin saat menghadiri undangan acara pernikahan saya satu meja dengan seorang, sebut saja Bandir bukan nama samaran; dia orang dipandang dalam lingkungannya, tokoh yang di masyarakatkan; setiap dia lagi berbicara lagi menasehati, berpetuah, banyak yang mendengarkan meski tanpa menjalankan. Malam ini saya berkesempatan satu meja dengan Bandir, antara sungkan dan kerikuhan bertabrakan.

Sudah menjadi ilmu pasti; apabila acara pernikahan, tasyakuran. Makan adalah  kewajiban yang tak dapat di tinggalkan atau hindarkan. Setiap meja telah ada menu makan disiapkan, akan tetapi nasi ambil sendiri. Prasmanan kebanyakan orang bilang. Tinggal pilih sesuai selera dan keyakinan sendiri. Saya mengambil sesuai porsi saya, begitu pula dengan Bandir di samping saya. Sesaat kemudian porsi makan saya sudah habis. Dan orang di samping saya tak menghabiskan porsinya.

“Lho kok tak di habiskan makannya Pak? ” tanya saya

Dengan sigap dan cepat dia menjawab dengan enteng dan percaya diri.

“Sudah kenyang Mas”

Mendengar jawaban tersebut saya heran bukan kepalang. Membatin tanpa ada suara yang saya lontarkan. Dia ambil sendiri nasinya, lauknya ambil sendiri, kenapa pada akhirnya tak dihabiskan? Jika pada akhirnya tak dihabiskan kenapa ambilnya banyak? Atau apabila masih kenyang tak usah ambil sekalian. Apakah memang sifat aslinya manusia seperti itu? Pengen yang banyak akan tetapi pada akhirnya dimubandirkan.

Malam itu, sepulang dari acara pernikahan sesampai dirumah. Sambil ditemani secangkir kopi saya merenungkan dan menerka nerka perihal kejadian tadi. Disaat diluar sana banyak orang yang kekurangan makan, mencari sesuap nasi saja bisa siang malam, dan malam dibuat siang. Namun kenapa disini masih saja ada manusia yang menyia-nyiakan rejeki, yaitu rejeki bisa makan.

Belum selesai saya melamun dan menerka kejadian tersebut saya mendapatkan link berita dari kompas.id yang menjelaskan dan menerangkan secara gamblang apabila Indonesia negara tercinta ini dengan beraneka ragam corak dan warnanya, adalah penyumbang sampah makanan terbesar di dunia. Dibuang orang di cari orang buat makan. Sungguh tragis dan ironis sekali bukan. Setiap orang Indonesia rata-rata membuang makanan setara Rp 2,1 juta pertahun. Hasil analisis “Kompas” menemukan, nilai sampah makanan di Indonesia mencapai Rp 330 triliun pertahun. Sungguh tragis dan menangis. Sekarang kembali pada diri sendiri, masihkah saat kita makan ingin menyisakan?

(Niam At Majha)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manusia Bukan Sumber Kebenaran

    Manusia Bukan Sumber Kebenaran

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.479
    • 0Komentar

      Munculnya fenomena mengumbar kebencian terutama di media sosial rupanya menjadi keresahan tersendiri saat digelarnya Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke- 167 pada Sabtu (15/11). Penggagas Suluk Maleman mengajak semua masyarakat untuk sama-sama bermuhasabah. Terlebih dengan banyaknya perubahan luar biasa di kalangan masyarakat. “Seperti bagaimana kita melihat pesantren dipojokkan begitu rupa. Orang tak melihat apa […]

  • Jangan Mereduksi Kesakralan Tauhid

    Jangan Mereduksi Kesakralan Tauhid

    • calendar_month Kam, 15 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Foto : NU online Filsafat mengajari tentang beberapa aliran, salah satunya empirisme. Aliran yang mengandalkan empiris-inderawi atau pengalaman langsung sebagai dasar kebenarannya. Contohnya api diakui kalau panas tatkala indera kita terkena api dan terasa benar-benar panas. Kali ini saya tidak akan membahas filsafat, tetapi tentang bagaimana pandangan empiris itu menjadi bagian penting pengambilan keputusan dan […]

  • PCNU-PATI Photo by Marcel Strauß

    Pesantren sebagai Agen Perubahan Sosial Masyarakat

    • calendar_month Sab, 20 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Pondok pesantren sebagaimana kita ketahui merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang ada dalam masyarakat dan mempunyai peran yang sangat urgent dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena di dalam pesantren tidak hanya memberikan pengetahuan dan ketrampilan teknis kepada santri, melainkan yang lebih penting adalah menanamkan nilai-nilai […]

  • H. Dr. Ahmad Choiron, M.Ag : Tidak Perlu Program Muluk-Muluk

    H. Dr. Ahmad Choiron, M.Ag : Tidak Perlu Program Muluk-Muluk

    • calendar_month Ming, 8 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 740
    • 0Komentar

    WINONG – H. Dr. Ahmad Choiron, M.Ag, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pati menyampaikan bahwa MWC tidak perlu membuat program yang muluk-muluk. Harapan ini disampaikan dalam sambutannya saat mewakili Ketua PCNU Kab. Pati dalam acara Konferensi MWC NU dan PAC Muslimat NU Kecamatan Winong, Ahad (08/09) pagi ini. H. Dr. Ahmad Choiron, M.Ag, mewakili Ketua PCNU Pati […]

  • Gong Cik: Seni Tradisi Pati yang Menyulam Silat, Seni, dan Filosofi Hidup

    Gong Cik: Seni Tradisi Pati yang Menyulam Silat, Seni, dan Filosofi Hidup

    • calendar_month Sel, 22 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 915
    • 0Komentar

    ditulis: Arif Khilwa (Ketua Lesbumi PCNU Pati) Seni tradisi bukan sekadar pertunjukan warisan masa silam. Ia adalah cermin nilai-nilai luhur, identitas kolektif, sekaligus denyut kebudayaan yang senantiasa hidup di tengah masyarakat. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kita menjumpai sebuah bentuk seni tradisi yang unik dan sarat makna: Gong Cik, sebuah ekspresi kebudayaan yang memadukan seni […]

  • Habib Syech Tampil Lagi di Kudus

    Habib Syech Tampil Lagi di Kudus

    • calendar_month Kam, 18 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 408
    • 0Komentar

    KUDUS-Kerinduan warga Kudus akan sosok Habib Syech bin Abdul Qodir as Segaf agaknya akan segera terobati. Habib pemilik suara merdu itu kabarnya akan tampil di alun-alun simpang tujuh Kabupaten Kudus Kamis (18/7) malam. Setelah sekian lama absen dari Kudus, kehadiran Habib asal Solo ini diperkirakan akan menarik lebih banyak jama’ah untuk hadir. Habib Syech Bin […]

expand_less