Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Menikah?

Menikah?

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 3 Jul 2022
  • visibility 453
  • comment 0 komentar

Menikah? Ah, bukan hal baru di telinga Farhan. Sudah sejak lama Nyai Haniva–Mejedik-nya membahas hal itu, tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena ingin fokus dulu mematangkan ilmu serta hapalan Alqur’an selama di Tarim. Namun, sepertinya kali ini ia tak bisa lagi menganggap itu hal sepele. Nyai Haniva sudah membuatnya berhenti berpetualang dan membahas perjodohan itu kembali sejak ia menjejakkan kaki lagi di Bangkalan.

“Han, kamu satu-satunya Bani Baihaqi yang harus memenuhi wasiat Kaeh Abdullah untuk menikahi cucu sahabatnya. Lagipula kamu sudah matang dalam ilmu dan umur untuk segera menikah,” ucap Nyai Haniva kemarin malam.

“Bukannya aku tak mau, Mejedik. Aku sangat ingin menikah malah. Umurku sudah kelewat satu tahun dari umur Rasulullah ketika menikah dengan Sayyidah Khadijah.”

“Lalu?”

Sebuah helaan napas terdengar dari lelaki berperawakan jangkung dan kurus itu.

“Umurku memang sudah matang. Tapi gadis pilihan Mejedik itulah yang terlalu muda. Apa dia mau menikah denganku yang sudah tua?”

“Tua apanya. Umur 26 tahun itu masih sangat muda,” goda Nyai Haniva.

“Kami terpaut 10 tahun, Mejedik. Bagaimana kalau dia terpaksa?”

Pertanyaan yang masuk akal. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung. Berbicara via telepon saja tidak pernah apalagi mengobrol empat mata. Hanya saling tahu melalui mulut orang tua masing-masing. Tidak saling mengerti perasaan satu sama lain.

Bagaimana jika faktanya gadis itu terpaksa menerimanya. Tak pernah ia bayangkan jika harus menikahi gadis di bawah umur. Sepengetahuannya, gadis berusia di bawah tujuh belas tahun masih anak-anak dan pasti sangat manja. Ia hanya ingin menikah dan memiliki istri yang sepadan dan dewasa bukan malah mengasuh bocah.

“Witing tresno jalaran soko kulino. Mejedikrasa maqolah jawa ini patut dijadikan panutan. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”

Sudah ia duga nasehat itu yang akan keluar dari mulut Mejediknya. Nasehat kuno dalam dunia perjodohan. Atau dialog ampuh  yang sudah ada dalam novel-novel dengan tema perjodohan. Farhan tersenyum kecut. Benaknya diliputi kebimbangan.

“Bagaimana kalau ia menikah dengan Habib saja setelah Habib lulus kuliah? Umur mereka tidak terpaut jauh dan insyallah akan jadi pasangan yang cocok,” cetusnya memberi ide.

“Kau tahu aku hanya anak angkat Kaeh Abdullah, Han. Pesantren ini sepenuhnya milikmu. Hanya kamu yang berhak memenuhi wasiat Kaeh tentang perjodohan itu.”

Pandangan Mejedik Haniva menerawang. Sedangkan Farhan merasa bersalah tak sengaja membuat wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya mengingat statusnya lagi. Hal itu tak pelak juga membuatnya teringat lagi peristiwa nahas yang menimpa Abuya-nya. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk pada ulu hati Farhan. Perih. Tanpa Mejedik Haniva, entah bagaimana nasib dirinya dan pesantren Al-Ishlah. Pesantren yang sudah dibesarkan Kiai Abdullah, kakeknya.

“Tapi bagiku Mejedik bukan orang lain. Mejedik adalah ibu kami,” ujar Farhan kemudian. Membuat kedua mata wanita paru baya itu menghangat.

“Kalau kamu menganggap Mejedik adalah ibu kamu. Tolong penuhi permintaan Mejedik ini.”

Farhan kembali merenung. Pandangannya menyapu lantai. Lalu detik kemudian dengan sangat berat hati ia mengangguk.

“Tapi bolehkah aku menikah setelah mengabdi di pesantren Kiai Hamid Sampang, Mejedik? Aku hanya satu tahun di sana. Sekalian studi banding siapa tahu ada program bagus yang bisa diterapkan di sini.” Farhan meminta negoisasi sekali lagi.

“Baiklah kalau begitu.”

Satu tahun. Semoga cukup untuk mempersiapkan semuanya. Atau mungkin akan ada keajaiban yang bisa membuat perjodohan itu batal, pikir Farhan.

Farhan menoleh ke arah pintu. Sosok lelaki yang berdiri di sana membuyarkan lamunan panjangnya.

Raihan Habib Baihaqi atau biasa dipanggil Habib, menggeleng sambil berdecak ketika mendapati Farhan–sepupunya masih sibuk di depan koper. Memastikan kemeja dan sarung yang ia letakkan di sana semalam. Lalu lelaki berkulit sawo matang itu beralih memilah beberapa kitab klasik untuk dimasukkan ke dalam tas ransel.

Farhan memang sosok perfeksionis dan sangat menjaga penampilan. Baginya lebih baik tidak jadi mengisi ceramah tanpa muthola’ah matang terlebih dulu. Apalagi ini kali pertama ia diundang di acara besar setelah satu bulan sekembalinya dari bumi seribu wali, Tarim.

Berbanding terbalik dengan Habib yang cenderung cuek dan santai. Ia hanya perlu satu stel pakaian muslim, dua potong kaos dan satu celana jeans. Yang penting kamera DSLR dan i-phone sudah masuk ke dalam tas. Dua benda itu sudah seperti napasnya. Jauh-jauh hari ia mendengar bahwa Wonosobo memiliki panorama yang sangat memukau. Juga dataran tinggi Dieng yang menjadi ikon kota ini terdapat banyak objek wisata. Sebagai seorang yang cukup lama menekuni dunia photography, tentu ini momen penting untuk mengabadikan maha karya Sang Pencipta.

“Kita hanya akan pergi ke acara harlah. Bukan untuk untuk umroh, Bung,” ledek Habib. Namun Farhan tak menggubris. Ia tetap fokus pada setumpuk kitab di depannya.

“Kakeh nonggu urrok ah? (Kau yakin akan ikut?).”

Farhan menoleh pada sepupunya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia tahu pasti Gutteh Syuaib tak pernah setuju jika putra semata wayangnya itu ikut. Baginya, Habib hanya akan terlihat seperti kacung Farhan. Namun, ibunya bersikeras Habib harus ikut untuk menambah ilmu dan wawasan. Tidak melulu fokus dengan tugas kuliah yang memusingkan.

“Aku bukan anak kecil lagi, Han. Aku bersedia ikut untuk mencari angin segar. Urus saja nasibmu sendiri yang sebentar lagi akan menikah,” ejeknya lagi sambil terkekeh dan berlalu  dari hadapan Farhan.

Farhan menghela napas, berusaha menentramkan hati. Ia tak ingin disibukkan dengan memikirkan calon istrinya yang masih bocil itu. Lebih baik ia memikirkan materi mauidzoh hasanah di acara harlah besok. ( Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nilai-Nilai Islam Nusantara Satukan Keberagaman dalam Bingkai Pendidikan

    Nilai-Nilai Islam Nusantara Satukan Keberagaman dalam Bingkai Pendidikan

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.365
    • 0Komentar

      Semarang – Disertasi Fakhruddin Karmani menegaskan bahwa Islam Nusantara merupakan model keberagamaan yang relevan bagi Indonesia sebagai bangsa multikultural. Dalam pendahuluannya dijelaskan bahwa Islam Nusantara menekankan toleransi, komunikasi terbuka, serta penghormatan terhadap perbedaan sebagai kekuatan penyatu dalam bingkai NKRI. Nilai-nilai utama seperti tasāmuh (toleransi), musāwah (egaliter), insāniyyah (humanis), dimūqrāṭiyyah (demokratis), dan waṭaniyyah (nasionalis) menjadi […]

  • Workshop Public Speaking “Suarasa Papringan” Hadir untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan

    Workshop Public Speaking “Suarasa Papringan” Hadir untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.712
    • 0Komentar

    Temanggung — Workshop Public Speaking Remaja Papringan bertajuk “Suarasa Papringan: Berani Bersuara, Berani Berkarya!” akan diselenggarakan pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 08.00 WIB di Pasar Papringan. Kegiatan ini ditujukan bagi para remaja Pasar Papringan sebagai ruang pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi publik sekaligus membangun rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan masyarakat dan pengunjung. Workshop […]

  • Pengukuhan Pengurus IKA SMANTA masa bakti 2024-2029

    Pengukuhan Pengurus IKA SMANTA masa bakti 2024-2029

    • calendar_month Sen, 11 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Tayu.Dalam rangka meningkatkan jalinan silaturahim alumni antar angkatan telah di adakan pengukuhan Ikatan Keluarga Alumni SMA Negeri 1 Tayu (IKA SMANTA) Masa Bakti 2024-2029 bertempat di Aula SMA Negeri 1 Tayu Kamis, 7 November 2024 kemarin. Dalam sambutannya Setyo Haryono, S.Pd., M.Pd. selaku pembina IKA SMANTA menyatakan bahwa pengukuhan pengurus ini sebagai salah satu strategi […]

  • MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    • calendar_month Rab, 23 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 589
    • 0Komentar

    Warta MWC Gabus. Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Gabus mengadakan sholat Istisqo’ bersama Pagar Nusa, Ansor, Banser,Fatayat. Banser,IPNU-IPPNU. Dan sekolah-sekolah yang berada di Kec Gabus. Senin (21/9). Ribuan warga Nahdliyin  Kec Gabus mengikuti Shalat Istisqo’ yang dilaksanakan di Lapangan Desa Gabus.Hal ini dilakukan agar Tuhan memberikan berkah dan rahmat berupa hujan yang dinantikan kehadirannya. […]

  • MTs Banin Bakal Gelar Olimpiade, Pesertanya dari seluruh Indonesia

    MTs Banin Bakal Gelar Olimpiade, Pesertanya dari seluruh Indonesia

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 901
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Ajang Final Banin Olympiad of Science SD/MI Tingkat Nasional akan segera digelar secara offline Ahad (9/2) di MTs Tarbiyatul Banin Madrasah Tahfidz & Sains Boarding School, Jl. KH Hasyim Asy’ari KM 01, Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Sebelumnya, MTs Banin telah menggelar babak penyisihan secara Daring pada Kamis (6/2) lalu. Sedikitnya, […]

  • Photo by Colin Watts

    Ontran – Ontran

    • calendar_month Ming, 18 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Oleh : J. Intifada Resahku kali ini karena udah masuk musim pemilu. Gegeran di medsos sudah tidak bisa di filter lagi. Yang sana nyerang sini. Yang sini nyerang sana. Uwes gak tahu lagi mana yang benar. Ada yang bilang kejadian 98 itu bukan dalang si ini. ada yang bilang pengajuan MK karena awalnya dari itu. […]

expand_less